Heliene

Heliene
Renata



 


 


Di sebuah ruangan yang sangat berantakan dengan


cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar yang


berada disamping ruangan membuat ruangan itu sangat terang dan sangat kelihatan


sekali betapa hancurnya ruangan itu.


Kertas-kertas berserkan, bermacam-macam jenis


kain, dari yang polos hingga bermotif memenuhi ruangan itu. Patung2 manusia


yang posisinya tak beraturan membuat ruangan ini terlihat sungguh sangat kacau.


Tetapi sepertinya, wanita yang kini tengah fokus menggoreskan pensilnya ke


selembar kertas putih itu tak peduli dengan kekacauan yang terjadi


disekitarnya.


Dirinya sangat fokus dengan kegiatan menggambar


desain baru untuk projectnya. Sakin fokusnya, hingga dering telfon yang sedari


tadi beruara tak ia hiraukan.


Kringg


Kringg.


Kringg


Wanita itu mengernyitkan dahinya. Ia merasa


terganggu dengan dering ponselnya. Membuat konsentrasinya sedikit kacau.


Kringg


Kringg.


Kringg


"Ck!"


Wanita itu berdecih kesal dan menyambar


ponselnya itu. Ia melihat ke layar ponselnya untuk mengecek siapakah yang


menelfonnya sedari tadi. Ternyata deretan angka-angka tak dikenalnya yang


sedari tadi mengganggunya.  Dengan kesal wanita itu menjawab panggilannya.


Ia bersumpah, jika yang menelfonnya ini orang iseng atau tak penting sama


sekali, ia akan menyumpahi orang ini.


"Siapa ini?" tanya Wanita itu.


"Kau lupa padaku? Apakah tinggal di Jepang


membuat kerja otakmu menurun sehingga kau melupakan sahabatmu ini?"


Wanita itu mengeryit bingung. Siapa pula orang


ini, baru berbicara sudah mengatainya. Meskipun tak tersirat. Wanita itu


berfikir lama hingga kemudian ia memutar bola matanya setelah mengetahui siapa


yang tengah menelfonnya.


"Rossa? Kau kah itu?"


Ya, sahabatnya. Memangnya siapa lagi yang


berani mengatainya jika bukan sahabatnya.


"Bukan. Aku adalah malaikat pencabut


nyawamu."


See? Tak salah lagi. Itu adalah sahabatnya.


Rossalia.


"Ya ya, terserahmu. Ada apa? Dan bagaimana


kau mendapat nomor baruku?"


Wanita itu menaruh ponselnya kembali dan


mengaktifkan loudspeaker. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kau lupa aku siapa? Mendapatkan nomor


barumu adalah hal mudah bagiku. Jangankan nomormu, alamat rumahmu saja aku tau


dimana."


Wanita itu tersenyum sekilas menanggapi


temannya.


"Ya ya ya. Kau memang hebat. Aku tak perlu


bertanya dimana kau mendapatkan nomorku. Jadi nyonya, ada apakah gerangan


engkau menelfonku? Aku sempat ingin menyumpahimu jika itu bukan kau yang


menelfon."


"HEI! SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK MENYUMPAHIKU?!


BIADAB SEKALI KAU JADI TEMAN!!"


Wanita itu mengelus dadanya pelan. Ia sedikit


terkejut dengan teriakan sahabatnya.


"Hei hei, aku kan bilang jika yang


menelfonku ini bukan dirimu, aku akan menyumpahinya. Nah karena ini dirimu,


sahabatku yang paling menawan diseluruh dunia dan tak ada tandingannya. Aku


tidak jadi mengumpat."


"Cih, alasan"


Wanita itu meletakan pensilnya. Ia melipat


"Uuuhh sayangku, jangan ngambek dong. Aku tidak


lagi di sana untuk bisa membelikan ice cream kesukaanmu saat


kau sedang merajuk seperti ini."


"Kalau begitu kembali kesini dan belikan


aku ice cream kesukaanku."


Wanit itu tersenyum.


"Aku pasti akan kembali. Tapi tidak dalam


waktu dekat ini. Ada project yang harus kuselesaikan bulan ini. Mungkin bulan


depan aku akan pulang."


"Lama sekali. Tinggalkam saja projectmu,


atau berikan saja pada pekerjamu. Lalu kau bisa pulang bulan ini."


Wanita itu kembali melakukan tugasnya. Ahh


sahabatnya ini, segitu rindukah ia sampai menyuruh dia untuk meninggalkan


project besar ini.


"Tidak bisa sayangku. Ini adalah project


besar. Mana mungkin aku melepas tanggung jawabku. Lagian sudah setengah jalan.


Tak mungkin bukan aku harus membatalkannya tiba-tiba."


"Tapi aku ingin kau pulang bulan ini. Aku


tak mau tau dan tak menerima alasan apapun. Pokoknya kau harus pulang bulan


ini. Titik."


Ahhh jika sudah seperti ini, sahabatnya itu


akan sangat susah untuk dibujuk.


"Memangnya ada apa? Kenapa kau sangat


memaksaku untuk pulang bulan ini?"


"Tentu saja kau harus pulang bulan ini.


Karena aku akan menikah dan aku ingin kau mendampingiku di acara pernikahanku


nanti."


"Oooh kau akan menikah." wanita itu


diam sebentar. Ia mencerna kembali kata-katanya. Setelahnya ia baru menyadari


maksud dari kata-katanya


"KAU AKAN MENIKAH?! KAPAN?! DENGAN SIAPA?!


KENAPA TAK MEMBERITAHUKU?!"


Saking syoknya, wanita itu sampai berdiri dari


duduknya.


"Tenang sahabat. Tak usah memakai tenaga


dalam bicaranya. Tarik nafas lalu buang. Lakukan itu 3 kali. Relax babe"


"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?! KAU AKAN


MENIKAH TAPI AKU TIDAK TAHU SAMA SEKALI!!"


"Kata siapa kau tidak tau? Kan sudah


kuberitahu tadi."


"Aku benar-benar ingin menyumpahimu


sekarang"


"kkkk. Baiklah maafkan aku tuan putri


Renata. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut. Tapi memang, aku baru


bisa menghubungimu sekarang. Salah siapa mengganti nomor seenaknya. Aku jadi


harus mencari tahu nomor barumu lebih dulu kan."


"Baiklah, maafkan aku. Aku juga salah tak


lansung menghubungimu saat mengganti nomor baru."


"Permintaan maaf di terima. Jadi Ren, bisa


kan kau pulan bulan ini? Akhir bulan ini adalah pernikahanku dan aku ingin ada


kau di hari bahagia ku."


Renata kembali duduk dan menenangkan diriya.


"Akan aku usahakan. Tau begini aku tak


akan mengambil project ini."


"Benar ya, Kau harus datang. Aku tak mau


tau"


"Iya princess, untukmu akan kulakukan


sebisaku."


"Aahh aku jadi semakin mencintaimu"


"Dan aku juga membencimu"


Yah, seperti itulah mereka berdua. Untuk


sahabatnya, Renata akan melakukan apapun yang terbaik. Karena Rossalia adalah


sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Dan juga, ia harus lembur hari ini agar ia bisa


cepat pulang dan hadir dalam acara pernikahan sahabatnya itu.