
Di sebuah ruangan yang sangat berantakan dengan
cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar yang
berada disamping ruangan membuat ruangan itu sangat terang dan sangat kelihatan
sekali betapa hancurnya ruangan itu.
Kertas-kertas berserkan, bermacam-macam jenis
kain, dari yang polos hingga bermotif memenuhi ruangan itu. Patung2 manusia
yang posisinya tak beraturan membuat ruangan ini terlihat sungguh sangat kacau.
Tetapi sepertinya, wanita yang kini tengah fokus menggoreskan pensilnya ke
selembar kertas putih itu tak peduli dengan kekacauan yang terjadi
disekitarnya.
Dirinya sangat fokus dengan kegiatan menggambar
desain baru untuk projectnya. Sakin fokusnya, hingga dering telfon yang sedari
tadi beruara tak ia hiraukan.
Kringg
Kringg.
Kringg
Wanita itu mengernyitkan dahinya. Ia merasa
terganggu dengan dering ponselnya. Membuat konsentrasinya sedikit kacau.
Kringg
Kringg.
Kringg
"Ck!"
Wanita itu berdecih kesal dan menyambar
ponselnya itu. Ia melihat ke layar ponselnya untuk mengecek siapakah yang
menelfonnya sedari tadi. Ternyata deretan angka-angka tak dikenalnya yang
sedari tadi mengganggunya. Dengan kesal wanita itu menjawab panggilannya.
Ia bersumpah, jika yang menelfonnya ini orang iseng atau tak penting sama
sekali, ia akan menyumpahi orang ini.
"Siapa ini?" tanya Wanita itu.
"Kau lupa padaku? Apakah tinggal di Jepang
membuat kerja otakmu menurun sehingga kau melupakan sahabatmu ini?"
Wanita itu mengeryit bingung. Siapa pula orang
ini, baru berbicara sudah mengatainya. Meskipun tak tersirat. Wanita itu
berfikir lama hingga kemudian ia memutar bola matanya setelah mengetahui siapa
yang tengah menelfonnya.
"Rossa? Kau kah itu?"
Ya, sahabatnya. Memangnya siapa lagi yang
berani mengatainya jika bukan sahabatnya.
"Bukan. Aku adalah malaikat pencabut
nyawamu."
See? Tak salah lagi. Itu adalah sahabatnya.
Rossalia.
"Ya ya, terserahmu. Ada apa? Dan bagaimana
kau mendapat nomor baruku?"
Wanita itu menaruh ponselnya kembali dan
mengaktifkan loudspeaker. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau lupa aku siapa? Mendapatkan nomor
barumu adalah hal mudah bagiku. Jangankan nomormu, alamat rumahmu saja aku tau
dimana."
Wanita itu tersenyum sekilas menanggapi
temannya.
"Ya ya ya. Kau memang hebat. Aku tak perlu
bertanya dimana kau mendapatkan nomorku. Jadi nyonya, ada apakah gerangan
engkau menelfonku? Aku sempat ingin menyumpahimu jika itu bukan kau yang
menelfon."
"HEI! SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK MENYUMPAHIKU?!
BIADAB SEKALI KAU JADI TEMAN!!"
Wanita itu mengelus dadanya pelan. Ia sedikit
terkejut dengan teriakan sahabatnya.
"Hei hei, aku kan bilang jika yang
menelfonku ini bukan dirimu, aku akan menyumpahinya. Nah karena ini dirimu,
sahabatku yang paling menawan diseluruh dunia dan tak ada tandingannya. Aku
tidak jadi mengumpat."
"Cih, alasan"
Wanita itu meletakan pensilnya. Ia melipat
"Uuuhh sayangku, jangan ngambek dong. Aku tidak
lagi di sana untuk bisa membelikan ice cream kesukaanmu saat
kau sedang merajuk seperti ini."
"Kalau begitu kembali kesini dan belikan
aku ice cream kesukaanku."
Wanit itu tersenyum.
"Aku pasti akan kembali. Tapi tidak dalam
waktu dekat ini. Ada project yang harus kuselesaikan bulan ini. Mungkin bulan
depan aku akan pulang."
"Lama sekali. Tinggalkam saja projectmu,
atau berikan saja pada pekerjamu. Lalu kau bisa pulang bulan ini."
Wanita itu kembali melakukan tugasnya. Ahh
sahabatnya ini, segitu rindukah ia sampai menyuruh dia untuk meninggalkan
project besar ini.
"Tidak bisa sayangku. Ini adalah project
besar. Mana mungkin aku melepas tanggung jawabku. Lagian sudah setengah jalan.
Tak mungkin bukan aku harus membatalkannya tiba-tiba."
"Tapi aku ingin kau pulang bulan ini. Aku
tak mau tau dan tak menerima alasan apapun. Pokoknya kau harus pulang bulan
ini. Titik."
Ahhh jika sudah seperti ini, sahabatnya itu
akan sangat susah untuk dibujuk.
"Memangnya ada apa? Kenapa kau sangat
memaksaku untuk pulang bulan ini?"
"Tentu saja kau harus pulang bulan ini.
Karena aku akan menikah dan aku ingin kau mendampingiku di acara pernikahanku
nanti."
"Oooh kau akan menikah." wanita itu
diam sebentar. Ia mencerna kembali kata-katanya. Setelahnya ia baru menyadari
maksud dari kata-katanya
"KAU AKAN MENIKAH?! KAPAN?! DENGAN SIAPA?!
KENAPA TAK MEMBERITAHUKU?!"
Saking syoknya, wanita itu sampai berdiri dari
duduknya.
"Tenang sahabat. Tak usah memakai tenaga
dalam bicaranya. Tarik nafas lalu buang. Lakukan itu 3 kali. Relax babe"
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?! KAU AKAN
MENIKAH TAPI AKU TIDAK TAHU SAMA SEKALI!!"
"Kata siapa kau tidak tau? Kan sudah
kuberitahu tadi."
"Aku benar-benar ingin menyumpahimu
sekarang"
"kkkk. Baiklah maafkan aku tuan putri
Renata. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut. Tapi memang, aku baru
bisa menghubungimu sekarang. Salah siapa mengganti nomor seenaknya. Aku jadi
harus mencari tahu nomor barumu lebih dulu kan."
"Baiklah, maafkan aku. Aku juga salah tak
lansung menghubungimu saat mengganti nomor baru."
"Permintaan maaf di terima. Jadi Ren, bisa
kan kau pulan bulan ini? Akhir bulan ini adalah pernikahanku dan aku ingin ada
kau di hari bahagia ku."
Renata kembali duduk dan menenangkan diriya.
"Akan aku usahakan. Tau begini aku tak
akan mengambil project ini."
"Benar ya, Kau harus datang. Aku tak mau
tau"
"Iya princess, untukmu akan kulakukan
sebisaku."
"Aahh aku jadi semakin mencintaimu"
"Dan aku juga membencimu"
Yah, seperti itulah mereka berdua. Untuk
sahabatnya, Renata akan melakukan apapun yang terbaik. Karena Rossalia adalah
sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Dan juga, ia harus lembur hari ini agar ia bisa
cepat pulang dan hadir dalam acara pernikahan sahabatnya itu.