
Siang itu, Valeria
duduk sendiri di dalam kelas. Ia ingin menghabiskan waktu istirahat pertama di
kelas. Sebenarnya ia ingin sekali makan siang di kantin, namun karena ia tidak
tau dimana kantin berada dan juga tidak ada seseorang yang mau mengajaknya,
Valeria putuskan untuk berdiam diri di dalam kelas saja. Valeria melihat
hamparan langit biru yang begitu luas diluar sana melalui jendela kelas. Siang
ini sangat terik, pasti sangat menyenangkan menghabiskan waktu istirahat sambil
bermain dengan teman-teman. Valeria menghela nafas, ia sadar diri bahwa ia tak
punya teman sekarang. Sepertinya harapannya untuk memiliki teman di hari
pertamanya harus pupus.
“Tidak ke kantin?”
Valeria terkejut mendengar suara seseorag yang ia reflex
menoleh kearah seseorang yang posisinya begitu dekat dengannya sekarang. Ia
melihat perempuan berkacamata bulat itu duduk di bagnku sebelahnya sambil
tersenyum kearahnya.
“Ah maaf, apa aku mengagetkanmu?” Tanya siswi itu sambil
menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ah… yaaa sedikit.” Jawab Valeria.
Keduanya kemudian terdiam. Situasi menjadi canggung
seketika. Valeria tak tau harus berbicara apa, karena ia sendiri tak tau
bagaimana memulai percakapan dengan orang lain. sedangkan perempuan itu sama
terdiamnya, ia juga bingung harus berbicara apalagi dengan Valeria. Tapi,
ketika mengingat tujuannya, perempuan itu mulai berbicara kembali dengan
Valeria.
“Mmm kau tidak ke kantin?” Tanya perempuan itu.
“Tidak, aku… aku tidak tau dimana letak kantin.” Jawab
Valeria.
Perempuan itu tersenyum sekilas kepada Valeria. “Mau ke
kantin bersama ku? Kita makan siang bersama, dan juga maukah kau berteman
denganku?”
Valeria sedikit terkejut dengan ajakan gadis itu. Ia
menatap gadis itu lama menyelamai bola mata gadis itu. Ia merasakan dadanya
berdetak kencang. Baru kali ini, ada seseorang yang mengajaknya berteman. Tak
bisa ia pungkiri, Valeria sangat senang.
Valeria tersenyum kearah gadis itu. “Tentu”
Gadis itu membalas senyuman Valeria, lalu ia menjulurkan
tangannya untuk berjabat tangan.
“Namaku Grisellia. Kau bisa memanggilku Sella. Mulai hari
ini kita berteman, oke”
Valeria menerima uluran tangan gadis itu. “Valeria,
Setelahnya Sella menarik lengan teman barunya itu dan
membawa Val keluar dari kelas. “Kau ingin makan apa Val? Di kantin banyak
sekali pilihan makannnya, tapi sayang tidak ada makanan junk food kesukaanku.
Kau mau mie goreng? Nasi goreng? Atau bakso?”
Val tersenyum melihat Sella. “Ternyata kau cerewet ya.
Kupikir kau anak yang pendiam.”
“Eyy, apa image polosku telah menipu dirimu? Jangan
terkejut nanti jika aku bisa lebih cerewet dari ini.” Sella merangkul lengan
Val dan berjalan bersama ke kantin.
“Baiklah, kalau begitu aku harus menyiapkan diriku untuk
itu.” Kata Valeria. Mendengar perkataan Val, Sella jadi bingung. “Kenapa kau
harus menyiapkan diri?”
Valeria mengangkat bahunya acuh “Jaga-jaga saja. Siapa
tau aku bisa menyumpal mulut cerewetmu dengan bakso yang akan kubeli, karena
terlalu jengah dengan ocehanmu.”
Sella menghentikan langkahnya dan menghadap kearah Val.
“Wahhh, tak kusangka kau begitu menyebalkan. Kupikir kau anak yang pendiam
juga.”
“Kalau begitu kita sama-sama tertipu dengan kesan pertama
kita.”
“Benar!!”
Selanjutnya mereka menertawakan kebodohan mereka. Sella
kembali menyeret Val untuk melanjutkan jalan mereka. Tak lupa di sepanjang
jalan menuju kantin, Sella memberitahu ruangan-ruangan yang ada di sekolahnya
itu.
Tanpa mereka ketahui, seorang laki-laki menatap mereka
berdua dari arah lapangan outdoor sekolah. Laki-laki itu memegang bola basket
di tangannya, matanya tak henti memperhatikan kedua gadis yang kini berjalan
bersama itu. Hingga kedua gadis yang ia perhatikan itu menghilang di ujung
belokan menuju kantin, laki-laki itu masih terus menatapi jalan yang kedua
gadis itu lalui tadi.
“Natan!!! Cepat kemari!! Sampai kapan kau akan berdiri
disitu? Kau ingin ikut bermain atau tidak?!” teriak murid lain memanggil
laki-laki itu.
“Iya aku ikut!! Tunggu aku!”
Laki-laki itu menghampiri teman-temannya untuk bermain
basket bersama. Tanpa orang-orang ketahui, laki-laki itu mengukir senyum di
bibirnya ketika melihat salah satu dari gadis yang ia perhatikan tadi.