Heliene

Heliene
Johnatan



            Val dan Sella menikmati makan siang mereka di kantin.


Mereka juga berbincang-bincang mengenai kehidupan satu sama lain. walau bisa


dibilang mereka baru berteman, tetapi mereka sudah sangat cepat untuk akrab.


            “Val, kau pindahan dari Jerman bukan?” Tanya Sella


            Val mengangguk seraya mengunyah bakso yang ia makan.


            “Kau asli sana?”


            Valeria menelan kunyahannya dan menaruh garpunya. Ia


melipat kedua tangannya di atas meja.


            “Tidak. Aku asli Indonesia, tetapi aku dibesarkan dan


dilahirkan di Jepang. Saat berumur 12 tahun aku dan mama pindah ke Jerman. Lalu


setelahnya kami pindah lagi ke Indonesia.” Jelas Val.


            “Lalu, warga kenegaraanmu?”


            “Indonesia dan Jepang.”


            “Eh? Memangnya bisa begitu?”


            “Begini,” Valeria menyamankan duduknya untuk menjelaskan


kepada Sella. Sella yang tertarik pun menaruh sendoknya dan memilih untuk fokus


mendengarkan penjelasan Val.


            “Sebelum mama mengandungku, dia sudah menetap di Jepang


selama 5 tahun. Tetapi, mama menikah dengan pria Indonesia yang juga menetap di


Jepang. Karena pekerjaan mereka yang mengharuskan mereka untuk tinggal lebih


lama di Jepang, jadi mereka mengubah kenegaraan mereka. Lalu, setelahnya mereka


memilikiku, dan otomatis warga kenegaraanku adalah Jepang. Berhuung kami pasti


akan kembali ke Indonesia dan aku murni anak dari pasangan WNI jadinya aku juga


menyandang kewarganegaraan Indonesia.” Jelas Valeria.


            Sella menatap Val dengan bingung. Ia mengerjapkan matanya


beberapa kali dan sesekali dahinya berkerut seperti orang yang sedang berfikir


keras. Val yang melihat respon Sella sangat menggemaskan tak bisa menahan


tawanya. Val tertawa gemas karena Sella.


            “Wajah bingungmu itu lucu sekali. Sayang sekali tidak ku


dokumentasikan tadi.” Kata Val.


            “Tetapi Val, apakah bisa kita memiliki dua


kewarganegaraan?” Tanya Sella


            Val menyantap baksonya kembali. Ia mengangkat bahunya


acuh. “Entahlah, akupun tak mengerti. Mungkin saja bisa atau mungkin saja


tidak.”


            “Jika misalnya tidak bisa, bagaimana?”


            “Gampang, aku tinggal mengubah kewarganegaraanku saja.”


            Sella yang melihat respon cuek Val merasa sedikit


jengkel. Tidak bisakah ia serius sebentar. Dirinya kan penasaran dengan


kehidupan Val. Sella memilih untuk tak menanyakan apa-apa lagi. Ia melanjutkan


makannya.


            “Lagipula, aku tidak terlalu mempermasalahkan


kewarganegaraanku. Selagi aku masih bisa menjalani hidup dan tidak menjadi


buronan Negara karena memiliki lebih dari satu kewarganegaraan, aku sih tak


masalah.”


            Sella mendecih mendengar perkataan Val.


            “Kudoakan kau di tendang oleh presiden karena tidak


memiliki pendirian seperti ini.” Kata Sella.


            Val tertawa keras mendengarnya. Saking kerasnya, ia


sampai tersedak baksonya sendiri dan meminum minumannya dengan rakus.


            “Rasakan itu.” Kata Sella.


***


            Val dan Sella berjalan menuju kelas mereka. Mereka


sengaja melewati lapangan outdoor sekolah, sekalian Sella ingin memperlihatkan


lapangan outdoor sekolah mereka.


            “Nah, ini adalah lapangan Outdoor sekolah. Disini kau


bisa bermain basket, sepak bola, bulu tangkis, tennis dan lain-lain. sedangkan


lapangan Indoor berada di gedung Barat. Disana juga terdapat kolam renang.


Besok aku akan membawamu kesana.” Jelas Sella.


            Val melihat keseluruh penjuru lapangan itu. Terdapat 3


lapangan besar di sekolah ini. Lapangan basket, bulu tangkis dan juga voli


menjadi satu. Sedangkan lapangan sepakbola berada di sisi kanan dan lapangan


Tennis berada di belakang lapangan basket. Di sekolah ini juga memiliki tribun


penonton yang tak kalah besarnya. Jika dilihat-lihat, lapangan sekolah ini tak


kalah dengan stadion Gelora Bung Karno yang berada di Jakarta Pusat. Untuk


sesaat Valeria merasa amaze dengan kemegahan sekolah ini. Ia tertipu oleh


tampilan luar sekolah ini. Ternyata sekolah ini sangat besar dan luas.


            “Ayo ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Aku tak


mau telat di kelas Pak Dimas. Akan sangat disayangkan bila kita melewatkan waktu


semenit saja kelas Pak Dimas.” Kata Sella membuyarkan pikiran Val.


            “Mengapa begitu?” Tanya Val


            Sella menundukkan kepalanya dan ternsenyum kecil. Ia


memukul bahu Val pelan sambil menutupi bibirnya yang sedang tersenyum. Seperti


sorang wanita yang malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.


            “Pak Dimas itu guru idola di sekolah ini. Sudah tampan,


baik, masih lajang lagi.nikmat mana lagi yang harus aku dustakan.” Kata Sella.


            Valeria menggelengkan kepalanya mendengar perkataan


Sella. Temannya ini ada-ada saja. Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan


tak sengaja menangkap sebuah bola basket terbang kearah mereka berdua. Maka


sebelum bola basket tersebut mengenai kepala Sella, Val memukul bola basket itu


agar tak mengenai Sella. Karena tindakan tiba-tibanya itu, membuat pergelangan


tangangnya terkilir. Ia merasa tulangnya seperti bergeser dari tempatnya.


            Sella yang melihat Val tiba-tiba memblokir dirinya


terkejut akan tindakan Val. Ia terdiam sesaat untuk memproses apa yang telah


terjadi. Setelah mendengar ringisan dari Val, barulah Sella menyadari apa yang


telah terjadi.


            “Ya tuhan Val!! Kau baik-baik saja? Tanganmu terluka?


Apakah terkilir? Sakitkah?” Tanya Sella tanpa jeda.


            Mendapati pertanyaan beruntun dari Sella, Val hanya


merespon dengan anggukan saja. Dirinya sibuk meringis dan memegangi pergelangan


tangannya. Melihat Val yang kesakitan membuat Sella kesal. Apalagi, yang


menyebabkan sakit di pergelangan tangan Val adalah dirinya. Ia jadi merasa


bersalah.


            “Mengapa kau memukul bola itu? Seharusnya kau membiarkan


bola itu menghantamku. Lihat, tanganmu jadi terkilir begini. Jika sudah begini,


siapa yang tidak khawatir.” Kata Sella


            “Jika aku membiarkan bola itu mengenai kepalamu, yang ada


kau akan pingsan dan bisa-bisa kau tidak masuk sekolah besok karena sakit


kepala. Kau sudah berjanji kepadaku untuk mengajakku keliling sekolah besok.”


Jelas Val


            “Ya tuhan, aku bisa mengajakmu kapan saja. Jika begini


aku jadi merasa bersalah padamu. Lagipula siapa sih yang melempar bola sialan


basket itu?!! Jika tak tau bermain basket, ya tidak usah bermain saja!!! Lihat


kan sekarang kau jadi begini!!!” kesal Sella.


            “Sudah tidak perlu marah-marah begitu. Tidak malu dilihat


oleh murid-murid lain?”


            “Aku tak peduli. Mana orang yang telah melempar bola itu.


Kumarahi dia, sekalian kulemparkan bola basket itu ke wajahnya!!”


            Sella melihat-lihat kepenjuru lapangan. Matanya mencari


sang pelaku yang telah membuat teman barunya itu kesakitan.


            “Ekhem!! Permisi..”


            Kedua gadis itu menoleh kearah kanan mereka dan mendapati


seorang murid laki-laki yang tadi pagi tak sengaja membuat mereka bertemu.


Laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya dan menatap kedua gadis di depannya


itu gugup.


            “Oh?! Kau bukannya murid laki-laki tadi pagi bukan? Yang


di koridor?” Tanya Sella.


            “Ah iya, itu.. aku.” Jawab laki-laki itu.


            “Lalu sedang apa kau disitu?”


            “Ahh… itu… aku… sebenarnya…hmm …. Begini… aku yang tak


sengaja melempar bola itu tadi.” Kata laki-laki itu.


            “Ohhh kau yang melemparnya…” Sella seketika menatap


laki-laki itu sengit. “Kau yang melemparnya?! Kau tidak bisa bermain basket?!


Kautaklihatgara-garadirimutemankujadikesakitanseperti ini,


pergelangantangannyaterkilirdaniajaditidakbisamenulisdanmengerjakansesuatukarenamu.jikatakbisabermaintakusahbermainsekahmmpt-“


            Valeria membekap mulut Sella agar mengehentikan ocehannya


itu yang terdengar seperti berkumur di telingan Val. Lidah temannya itu tidak


keseleo apa? Bagaimana bisa selancar itu dia berbicara.


            “Ah, maafkan temanku. Tidak usah mendengarkannya.


Tanganku baik-baik saja.” Kata Valeria. Sedangkan Sella mencoba melepaskan


tangan Valeria yang satunya yang berada di mulutnya.


            “Tetapi, tetap saja-“


            Valeria lansung melepaskan tangannya dari mulut Sella dan


mengibaskan tanganya itu kedepan wajah laki-laki itu.


“Ahh


tidak apa sungguh. Tak perlu merasa bersalah.”


            “Bagaimana bisa begitu?!” protes Sella.


            Valeria mendelik kearah Sella menyuruhnya untuk tak


melontarkan protes apapun.


            “Tetap saja, ini adalah salahku. Maafkan aku, lain kali


aku akan bermain dengan baik” kata laki-laki itu.


            “Ah iya, kalau begitu kami permisi” Valeria segera


menarik Sella untuk pergi. Tak lama mereka berjalan, laki-laki itu menghentikan


mereka.


            “Tunggu!!” cegah laki-laki itu.


            Valeria dan Sella menoleh kearah laki-laki itu. “Aku


Johnatan. Kalau kalian?” Tanya Laki-laki itu.


            Valeria dan Sella bertatapan sebentar, setelahnya Valeria


menjawab laki-laki itu.


            “Aku Valeria, dan dia Grisellia. Senang berkenalan


denganmu Johnatan. Kami permisi dulu.” Setelah mengatakan itu, Val dan Sella


benar-benar pergi menuju kelas mereka.


            Johnatan, laki-laki itu tersenyum menatap kepergian kedua


gadis tersebut.