
Val dan Sella menikmati makan siang mereka di kantin.
Mereka juga berbincang-bincang mengenai kehidupan satu sama lain. walau bisa
dibilang mereka baru berteman, tetapi mereka sudah sangat cepat untuk akrab.
“Val, kau pindahan dari Jerman bukan?” Tanya Sella
Val mengangguk seraya mengunyah bakso yang ia makan.
“Kau asli sana?”
Valeria menelan kunyahannya dan menaruh garpunya. Ia
melipat kedua tangannya di atas meja.
“Tidak. Aku asli Indonesia, tetapi aku dibesarkan dan
dilahirkan di Jepang. Saat berumur 12 tahun aku dan mama pindah ke Jerman. Lalu
setelahnya kami pindah lagi ke Indonesia.” Jelas Val.
“Lalu, warga kenegaraanmu?”
“Indonesia dan Jepang.”
“Eh? Memangnya bisa begitu?”
“Begini,” Valeria menyamankan duduknya untuk menjelaskan
kepada Sella. Sella yang tertarik pun menaruh sendoknya dan memilih untuk fokus
mendengarkan penjelasan Val.
“Sebelum mama mengandungku, dia sudah menetap di Jepang
selama 5 tahun. Tetapi, mama menikah dengan pria Indonesia yang juga menetap di
Jepang. Karena pekerjaan mereka yang mengharuskan mereka untuk tinggal lebih
lama di Jepang, jadi mereka mengubah kenegaraan mereka. Lalu, setelahnya mereka
memilikiku, dan otomatis warga kenegaraanku adalah Jepang. Berhuung kami pasti
akan kembali ke Indonesia dan aku murni anak dari pasangan WNI jadinya aku juga
menyandang kewarganegaraan Indonesia.” Jelas Valeria.
Sella menatap Val dengan bingung. Ia mengerjapkan matanya
beberapa kali dan sesekali dahinya berkerut seperti orang yang sedang berfikir
keras. Val yang melihat respon Sella sangat menggemaskan tak bisa menahan
tawanya. Val tertawa gemas karena Sella.
“Wajah bingungmu itu lucu sekali. Sayang sekali tidak ku
dokumentasikan tadi.” Kata Val.
“Tetapi Val, apakah bisa kita memiliki dua
kewarganegaraan?” Tanya Sella
Val menyantap baksonya kembali. Ia mengangkat bahunya
acuh. “Entahlah, akupun tak mengerti. Mungkin saja bisa atau mungkin saja
tidak.”
“Jika misalnya tidak bisa, bagaimana?”
“Gampang, aku tinggal mengubah kewarganegaraanku saja.”
Sella yang melihat respon cuek Val merasa sedikit
jengkel. Tidak bisakah ia serius sebentar. Dirinya kan penasaran dengan
kehidupan Val. Sella memilih untuk tak menanyakan apa-apa lagi. Ia melanjutkan
makannya.
“Lagipula, aku tidak terlalu mempermasalahkan
kewarganegaraanku. Selagi aku masih bisa menjalani hidup dan tidak menjadi
buronan Negara karena memiliki lebih dari satu kewarganegaraan, aku sih tak
masalah.”
Sella mendecih mendengar perkataan Val.
“Kudoakan kau di tendang oleh presiden karena tidak
memiliki pendirian seperti ini.” Kata Sella.
Val tertawa keras mendengarnya. Saking kerasnya, ia
sampai tersedak baksonya sendiri dan meminum minumannya dengan rakus.
“Rasakan itu.” Kata Sella.
***
Val dan Sella berjalan menuju kelas mereka. Mereka
sengaja melewati lapangan outdoor sekolah, sekalian Sella ingin memperlihatkan
lapangan outdoor sekolah mereka.
“Nah, ini adalah lapangan Outdoor sekolah. Disini kau
bisa bermain basket, sepak bola, bulu tangkis, tennis dan lain-lain. sedangkan
lapangan Indoor berada di gedung Barat. Disana juga terdapat kolam renang.
Besok aku akan membawamu kesana.” Jelas Sella.
Val melihat keseluruh penjuru lapangan itu. Terdapat 3
lapangan besar di sekolah ini. Lapangan basket, bulu tangkis dan juga voli
menjadi satu. Sedangkan lapangan sepakbola berada di sisi kanan dan lapangan
Tennis berada di belakang lapangan basket. Di sekolah ini juga memiliki tribun
penonton yang tak kalah besarnya. Jika dilihat-lihat, lapangan sekolah ini tak
kalah dengan stadion Gelora Bung Karno yang berada di Jakarta Pusat. Untuk
sesaat Valeria merasa amaze dengan kemegahan sekolah ini. Ia tertipu oleh
tampilan luar sekolah ini. Ternyata sekolah ini sangat besar dan luas.
“Ayo ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Aku tak
mau telat di kelas Pak Dimas. Akan sangat disayangkan bila kita melewatkan waktu
semenit saja kelas Pak Dimas.” Kata Sella membuyarkan pikiran Val.
“Mengapa begitu?” Tanya Val
Sella menundukkan kepalanya dan ternsenyum kecil. Ia
memukul bahu Val pelan sambil menutupi bibirnya yang sedang tersenyum. Seperti
sorang wanita yang malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
“Pak Dimas itu guru idola di sekolah ini. Sudah tampan,
baik, masih lajang lagi.nikmat mana lagi yang harus aku dustakan.” Kata Sella.
Valeria menggelengkan kepalanya mendengar perkataan
Sella. Temannya ini ada-ada saja. Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan
tak sengaja menangkap sebuah bola basket terbang kearah mereka berdua. Maka
sebelum bola basket tersebut mengenai kepala Sella, Val memukul bola basket itu
agar tak mengenai Sella. Karena tindakan tiba-tibanya itu, membuat pergelangan
tangangnya terkilir. Ia merasa tulangnya seperti bergeser dari tempatnya.
Sella yang melihat Val tiba-tiba memblokir dirinya
terkejut akan tindakan Val. Ia terdiam sesaat untuk memproses apa yang telah
terjadi. Setelah mendengar ringisan dari Val, barulah Sella menyadari apa yang
telah terjadi.
“Ya tuhan Val!! Kau baik-baik saja? Tanganmu terluka?
Apakah terkilir? Sakitkah?” Tanya Sella tanpa jeda.
Mendapati pertanyaan beruntun dari Sella, Val hanya
merespon dengan anggukan saja. Dirinya sibuk meringis dan memegangi pergelangan
tangannya. Melihat Val yang kesakitan membuat Sella kesal. Apalagi, yang
menyebabkan sakit di pergelangan tangan Val adalah dirinya. Ia jadi merasa
bersalah.
“Mengapa kau memukul bola itu? Seharusnya kau membiarkan
bola itu menghantamku. Lihat, tanganmu jadi terkilir begini. Jika sudah begini,
siapa yang tidak khawatir.” Kata Sella
“Jika aku membiarkan bola itu mengenai kepalamu, yang ada
kau akan pingsan dan bisa-bisa kau tidak masuk sekolah besok karena sakit
kepala. Kau sudah berjanji kepadaku untuk mengajakku keliling sekolah besok.”
Jelas Val
“Ya tuhan, aku bisa mengajakmu kapan saja. Jika begini
aku jadi merasa bersalah padamu. Lagipula siapa sih yang melempar bola sialan
basket itu?!! Jika tak tau bermain basket, ya tidak usah bermain saja!!! Lihat
kan sekarang kau jadi begini!!!” kesal Sella.
“Sudah tidak perlu marah-marah begitu. Tidak malu dilihat
oleh murid-murid lain?”
“Aku tak peduli. Mana orang yang telah melempar bola itu.
Kumarahi dia, sekalian kulemparkan bola basket itu ke wajahnya!!”
Sella melihat-lihat kepenjuru lapangan. Matanya mencari
sang pelaku yang telah membuat teman barunya itu kesakitan.
“Ekhem!! Permisi..”
Kedua gadis itu menoleh kearah kanan mereka dan mendapati
seorang murid laki-laki yang tadi pagi tak sengaja membuat mereka bertemu.
Laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya dan menatap kedua gadis di depannya
itu gugup.
“Oh?! Kau bukannya murid laki-laki tadi pagi bukan? Yang
di koridor?” Tanya Sella.
“Ah iya, itu.. aku.” Jawab laki-laki itu.
“Lalu sedang apa kau disitu?”
“Ahh… itu… aku… sebenarnya…hmm …. Begini… aku yang tak
sengaja melempar bola itu tadi.” Kata laki-laki itu.
“Ohhh kau yang melemparnya…” Sella seketika menatap
laki-laki itu sengit. “Kau yang melemparnya?! Kau tidak bisa bermain basket?!
Kautaklihatgara-garadirimutemankujadikesakitanseperti ini,
pergelangantangannyaterkilirdaniajaditidakbisamenulisdanmengerjakansesuatukarenamu.jikatakbisabermaintakusahbermainsekahmmpt-“
Valeria membekap mulut Sella agar mengehentikan ocehannya
itu yang terdengar seperti berkumur di telingan Val. Lidah temannya itu tidak
keseleo apa? Bagaimana bisa selancar itu dia berbicara.
“Ah, maafkan temanku. Tidak usah mendengarkannya.
Tanganku baik-baik saja.” Kata Valeria. Sedangkan Sella mencoba melepaskan
tangan Valeria yang satunya yang berada di mulutnya.
“Tetapi, tetap saja-“
Valeria lansung melepaskan tangannya dari mulut Sella dan
mengibaskan tanganya itu kedepan wajah laki-laki itu.
“Ahh
tidak apa sungguh. Tak perlu merasa bersalah.”
“Bagaimana bisa begitu?!” protes Sella.
Valeria mendelik kearah Sella menyuruhnya untuk tak
melontarkan protes apapun.
“Tetap saja, ini adalah salahku. Maafkan aku, lain kali
aku akan bermain dengan baik” kata laki-laki itu.
“Ah iya, kalau begitu kami permisi” Valeria segera
menarik Sella untuk pergi. Tak lama mereka berjalan, laki-laki itu menghentikan
mereka.
“Tunggu!!” cegah laki-laki itu.
Valeria dan Sella menoleh kearah laki-laki itu. “Aku
Johnatan. Kalau kalian?” Tanya Laki-laki itu.
Valeria dan Sella bertatapan sebentar, setelahnya Valeria
menjawab laki-laki itu.
“Aku Valeria, dan dia Grisellia. Senang berkenalan
denganmu Johnatan. Kami permisi dulu.” Setelah mengatakan itu, Val dan Sella
benar-benar pergi menuju kelas mereka.
Johnatan, laki-laki itu tersenyum menatap kepergian kedua
gadis tersebut.