Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Pulang



Sungguh, hari ini benar-benar gila! Aku serasa ingin meletusssss!!!!


Kenapa?! Kenapa harus berakhir seperti itu?!


Hari ini, merupakan hari yang benar-benar di luar dugaanku. Batinku jadi tak bisa tenang sejak kejadian tadi. Pun demikian halnya dengan otakku yang tak dapat berpikir jernih.


Karena kebodohanku itu pula, tanpa kusadari, aku sudah banyak bergumam-gumam tak jelas selama perjalanan pulangku ini. Bahkan, aku sampai tak ingat kalau aku sendiri sedang menaikki sepeda di tengah jalanan Miyako yang lembab oleh salju tipis.


"HAH ...! HAH ...! HAH ...!"


"DASARRRR ...!"


"HAHHH .... Pria itu ...!"


"Kenapa ...?"


"Kenapa ... kenapa ... KENAPA?!?!"


"Kenapa aku bisa bertingkah sebodoh itu ...?"


...----------------...


...Happiness Is the Best Healer....


...----------------...


Ini sungguh memalukan.


Berbulan-bulan, aku selalu datang ke sana ...


Menikmati harumnya bunga di musim semi,


Tidur siang saat dunia ini sedang sibuk-sibuknya,


Menyendiri saat batinku sedang penat,


Bahkan menjadi tempatku untuk menangisi kehidupan ini ...


Kenapa ...???


"Kenapa baru sekarang dia memunculkan dirinya ...?!?!"


^^^"Apa-apaan pesepeda itu?"^^^


^^^*TINNNN TINNNN^^^


^^^"OII!! PERHATIKAN JALANMU, GADIS!!"^^^


"Terlebih ...."


"Aku terlanjur mengucapkannya ...."


...BERISIKK!!! INI PONDOKKU. PERGI KAU DARI SINI..!!...


...Aku tidak tahu siapa kau. Aku juga menghargai pertolongan yang sudah kau berikan padaku. T-tapi, aku mohon, bisakah kau pergi dari sini?...


"Aihhhhhhhhh ...!!! Apa-apaan coba aku berkata seperti itu ...!?"


"Oh Tuhan ..., renggut saja wajahku dari tengkorak ini ...."


...----------------...


...Kebahagiaan adalah obat terbaik. ...


...----------------...


Ya ampun ... Kalau dipikir-pikir lagi, aku benar-benar tak menyangka akan mengalami hal ini.


Aku pikir selama ini ... Ah tidak, selama setahun belakangan ini ... aku pikir vila itu sudah tak disewakan lagi. Aku pikir sudah terbengkalai.


Semenjak ditinggal pemiliknya setahun yang lalu, vila itu selalu lowong sepanjang hari, sepanjang musim. Kondisi sekitar situ juga tak terurus semenjak ditinggalkan. Jadi aku berpikir, sepertinya aku bisa ... mampir kesana tanpa perlu mengkhawatirkan adanya pemilik vila.


Namun sekarang, aku baru tahu kalau vila itu masih ada yang menghuni. Aku sangat tak menyangka kalau bangunan itu masih ada peminatnya. Skala tahun nyatanya sudah terbilang cukup lama, sehingga aku pelan-pelan terbiasa perihal mengklaim bahwa pondok itu milikku.


Tapi,


Pemiliknya ...


Orang itu ...


Dia ....


...Berarti sekarang kita bertetangga, ya?...


Tidak, bodoh, TIDAKKK! Kita bukan tetangga sama sekaliii, kau tahu! Aku hanya ... Aku hanya bego saja sudah mengakui pondok itu milikku.


Hahhh ....


Terimakasih telah membuat mentalku hancur.


...----------------...


...----------------...


Beberapa menit setelah itu, aku sampai di rumahku. Melewati hari yang suram ini, secara tidak langsung telah membimbingku untuk pulang. Aku malu.


"Tadaima ...!"


"Hi-chan?!" Seketika itu juga, suara ibu lantas menyahut dari arah ruang belakang. Tak lama, bayangan, lalu badannya muncul, menghampiriku seakan sedang melihat rak piring yang hendak jatuh di depan pintu masuk.


"Hi- ... chan? Bajumu ...."


"Aku ngantuk. Mau istirahat dulu."


"Baru saja samp-"


"Hisoka, darimana saja kau???" ibu nertanya risau sembari menatapku dengan serius.


"Jelaskan mengapa seragammu bisa kotor begini! Kau jatuh dari sepedamu lagi, ya? Jawab ibu!" Ibu tak henti-hentinya menatapku, menuntut sebuah jawaban dari bibirku. Bahkan, tanganku yang hendak menutup pintu senantiasa ditahan olehnya.


Ibu jelas kaget setelah melihat betapa kotornya seragamku ini. Karena memang, benar-benar berantakan. Ada noda tanah di sebagian besar bawah kiri kemejaku. Noda kecil-kecil yang sama di sekujur sisanya. Memencar jauh sangat memprihatinkan dengan kepekatan yang beraneka ragam.


Sebagai anak yang masih berotak, aku berusaha menjawab ibu dengan nada sepele agar kekhawatirannya mereda. "Ah, ini ..., aku, aku tadi sempat jatuh. Jalanannya licin sekali, hehe."


"Ya ampun, Hi-chan!" Ibu begitu kasihan padaku.


"Apa ada yang luka? Beritahu ibu sekarang juga!" desak ibu padaku.


Dalam situasi ini, jangan sampai ibu melihat luka serak di telapak tanganku. Kalau sampai ibu tahu, aku hanya akan membuatnya semakin khawatir.


Aku berdalih demi menyudahi kecemasan di batin ibu. "Okka-san, Sudah dong, aku baik-baik saja, kok."


Ibu diam. Namun pundakku masih dipegangi.


Butuh jiwa yang begitu kuat untukku melepas tangan ibu dari pundak ini. Ya, aku yakin semua anak akan begitu.


Demi apapun, aku benar-benar butuh yang namanya istirahat. Aku butuh menenggelamkan wajah dari kenyataan di sore hari ini. Aku ingin hal itu kulakukan sendiri. Jadi, maafkan aku, Ibu. Cengkeraman mu harus kulawahkan kali ini.


Lengan ibuku terhuyung menghantam pinggangnya sendiri. Sejenak kutatap dirinya, dan setelah itu aku melangkah pergi dengan begitu bersalah.


"Hi-chan, kau benar-benar tak ingin cerita soal hari ini?" cakap ibu. Tubuhnya tertunduk masih menghadap pintu depan rumah.


Jantungku berdenyut kuat. Langkahku terhenti.


"Tentang kemana saja kau hari ini?"


"Wali kelasmu lagi-lagi menelepon ibu. Kau pasti sudah tahu akan hal itu, kan, Hi-chan?" Ibu berbalik padaku. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


Mendengar ibunya membahas soal sekolah, walikelas, dan sekolah, aku tak lagi terkejut.


"Hm? Benarkah? Apa yang dia katakan?" leherku berbalik, otakku ingin tahu. Namun badan tak secuil pun berpaling, hati yang tak mau tahu.


"Beliau bilang kalau kau hari ini tidak datang ke sekolah. Nampaknya kau bolos lagi, ya? Apa itu benar, Nara-chan?"


Kenapa, Okka-san? Suaramu jadi pelan. Apa gesturku tadi terlalu muluk untuk perbincangan di antara kita?


Aku tak menggubris omongannya. Aku hanya lanjut berjalan pergi menuju kamarku.


Hal yang tak ku sangka, saat itu juga, derap kaki ibu jelas terdengar, semakin lama semakin kuat. Dengan gegana ia langsung menahan pundakku detik itu.


"Hi-chan!"


"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kau terus-terusan membolos seperti ini?" bentak ibu.


"Ah ... tak usah dipikirkan, lah, Okka-san. Itu bukan masalah besar kok," balasku resah sambil kembali mengangkat tangan ibuku dari pundakku. Kali ini sekonyong-konyong.


"T..Tapi, Hi-chan ... Ayahmu ...! Pikirkan ayahmu nanti!"


"Tak apa, Okka-s-"


Di tengah ucapanku, seseorang mendadak menarik kerah belakang seragamku dengan kuat.


Aku yang kaget pun tak bisa berbuat apa-apa. Langkah kakiku juga terseret ke belakang karena tarikannya yang cukup erat tersebut.


Tenaga ini, genggaman ini,


Tak salah lagi ...


Hah ....


Bakal diapakan aku kali ini?


Saat aku menoleh ke belakang,


"Bagus sekali kelakuanmu hari ini, ya."


To be continued ....


...----------------...