Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Tanpa Pasangan



09:25 pagi.


Sesuai perkataanku tadi, pagi menjelang siang ini, aku memutuskan untuk kembali mampir ke toko kakek. Dikarenakan kemarin aku tak sempat bertemu beliau, rasa-rasanya seperti ada yang kurang. Maka dari itu, aku berencana menemui beliau hari ini juga. Setidaknya aku ingin memberi kabar secara langsung padanya bahwasanya aku sudah pulang.


Toko kakek berada tak terlalu jauh dari sini. Aku hanya perlu berjalan ±5 menit menyusuri medan yang menurun dan berliku dari lorong vilaku.


Sebenarnya aku masih bingung juga. Apa tak masalah bila aku datang ke rumah kakek tanpa membawa apa-apa? Hmm ... kurasa tidak masalah, sih.


Beberapa menit kemudian,


Sesampainya aku tiba di sana, kondisi toko kebetulan masih sepi pengunjung. Kurasa sekarang bukan jam ramai pengunjung.


Udara begitu dingin. Kaca-kaca yang terdapat di toko itu masih terlihat diselimuti lapisan embun, bahkan sampai sesiang ini.


"mudah-mudahan kakek hari ini sedang tidak sibuk," gumamku penuh harap.


Aku pun melanjutkan langkahku menuju pintu toko, bermaksud untuk membukanya lalu masuk ke dalam. Namun sayangnya, belum sempat tanganku menyentuh pintu toko, aku dikejutkan oleh sesuatu.


Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang dengan cukup keras.


"Oi, Kaito!"


...// //...


...Happiness Is the Best Healer. ...


...// //...


"Oi... Kaito!" teriak kakek dari arah belakang sambil menepuk pundakku.


"Hah! S..Siapa..?!" sahutku kaget.


Aku sontak berbalik badan.


Dan tepat setelah aku berbalik badan, di sana, berdirilah seorang pria lansia yang tingginya hanya sebatas daguku. Ia sedang memegang sebuah palu dan terdapat sebuah handuk kecil yang sedang mengalung di lehernya.


"Ah...! Kakek!" cakapku.


"Hehehe .... sudah lama sekali kita tak bertemu, ya, Kaito! Kakek terkekeh. "Kalau begitu, selamat datang kembali di Miyako, Kaito," sambung kakek sambil menyalam tanganku dengan begitu eratnya.


"Lho? Ada apa ini ...? Nampaknya kau sudah banyak berubah, ya, dari sebelumnya?" Kakek memandangiku begitu fokus. Ia masih belum melepas tanganku.


"Ahahaha ..., 'nggak kok, Kek. Aku masih sama seperti biasanya, kok," bantahku disertai tawa kecil.


Kakek pun lanjut bertanya, "Ngomong-ngomong, udah berapa lama kau bekerja di sana? Ada 5 bulan ya nampaknya."


"Yahhh ..., kurasa kurang lebih 6 bulan sudah aku tak menyentuh tanah Miyako ini lagi," ungkapku sembari mengangguk-angguk kecil.


"Mitsue-san!" Salah satu masyarakat, terlihat menegur Kakek dari belakangku. Pria bersahaja yang hendak belanja. Pagi yang indah.


"Oi! Silahkan, silahkan," sambut Kakek padanya, lalu kembali berujar padaku, "Kemarin Kuroga memberitahu kakek, kalau kau sempat mampir ke toko dan mencari kakek. Jadi, kakek sudah tahu kalau hari ini, kau pasti akan datang ke tokoku lagi." tuturnya sembari menepuk-nepuk pundakku dengan akrabnya.


"hahaha, ya begitulah, kek," tukasku singkat.


"Ayolah, mampir ke rumah dulu ya, Kaito. Kakek ingin mengobrol lebih banyak lagi denganmu," ajak Kakek begitu antusias.


"Terimakasih tawarannya, Kek. Aku juga kesini memang mau mampir, kok." Aku mengangguk.


"Haaa ... bagus, bagus. Bibimu juga kebetulan sedang ada di rumah. Jadi mari, mari. Jangan sungkan," ujarnya begitu gigih mengajakku.


Akhirnya, kakek menuntunku untuk segera mampir ke rumahnya. Letak rumah kakek sendiri sebenarnya sangat dekat dari toko. Persisnya, berada di belakang toko. Jadi tak perlu waktu lama untuk kami sampai ke sana.


Bagus juga kakek membuka toko tepat di depan rumahnya. Beliau jadi bisa memantau tokonya dengan sangat mudah.


"Permisi ...." salamku sembari berjalan masuk ke dalam rumah kakek.


Dan baru saja melangkah masuk, aku sudah disambut oleh bibiku.


"Ara? Nak Kaito ...? Duh..., silahkan. Masuk, masuk."


"Arigatou, Bibi."


"Anak satu ini baru saja selesai menjalankan tugasnya. Jadi tolong buatkan secangkir minuman hangat untuknya, ya." Kakek memandat pada bibi.


"Haii," angguk bibi sembari tersenyum ramah.


Aku merasa tak enak. Aku sebenarnya sudah minum sebelum kemari.


"Tak apa, Bi. Tak usah repot-repot. Tadi pagi aku juga sudah minum dari rumah, jadi..."


"Kaito, jangan begitu." Kakek buru-buru memotong, sesuai dugaanku. "Di luar sangat dingin. Dan lagi, mengobrol tanpa minuman dan camilan itu rasanya tidak klop," tutur kakek.


"T..Tapi, Kakek ...."


"Baiklah, baik."


"Maaf kalau merepotkan, Bi." ucapku sambil kemudian menunduk hormat pada bibi.


"Mm-hmm, sama sekali tidak kok, Nak," balas bibi, lalu lekas pergi menuju dapur.


Selepas kepergian bibi, kakek langsung bertanya suatu hal padaku. "Jadi, bagaimana di sana, Kaito?" Basa-basi tahap awal.


"Yahh ... lancar dan aman seperti biasa, Kek. Melihat para anggota akademi baru itu berlatih, penuh keringat dan menguji ketahanan fisik, bla ... bla ... bla ...."


"Sepantasnya memang begitu. Memang sudah seharusnya begitu. Karena kalau mereka ingin jadi perangkat keamanan negara, maka mesti dilatih dengan keras," ujar Kakek lugas. Mungkin saat ini ia teringat akan masa mudanya, sehingga jiwa veterannya kambuh.


"Ahahahahah ... tentu saja, Kek. Tapi belakangan, memberi pelatihan yang terlalu keras seperti itu juga ujung-ujungnya bakal berdampak buruk untuk kestabilan fisik dan mental mereka."


"Eh? Masa?"


"Kedengarannya sulit dipercaya, tapi demikianlah adanya. Contohnya saja, prajurit muda yang dari tahun ke tahun nyatanya semakin mengalami kemunduran dari segi olah fisik."


"Itu karena generasi sekarang kebanyakan main gawai! Jadi sulit untuk menemukan prajurit muda yang keras seperti angkatan tahun-tahun lampau."


"Ah ... Laginya kan tak apa juga kalau mau sedikit menyiksa mere-"


"Anu ..., tentu tidak bisa begitu dong, Kek. Malahan kalau kelewatan justru bisa dikenai sanksi, lho," potongku berusaha menjelaskan pada kakek.


"Zaman dulu dengan sekarang beda sekali ...." ungkap kakek menghela napas.


Kakek kemudian membenarkan posisi duduknya dan kembali bertanya.


"Ngomong-ngomong, Kaito,"


"Ternyata, kau masih sering mabuk-mabukkan, ya?"


Pertanyaan kakek kali ini membuatku lantas kebingungan.


Aku pun bertanya balik penuh tanda tanya. "Hah ...? M..Mabuk? Maksud kakek bagaimana?"


"Kakek sudah mendengar semuanya dari Kuroga."


"Jadi, apa semua itu benar, Kaito?" Kakek saat itu juga menatapku serius.


Aku tidak tahu harus bagaimana. Laginya tidak mungkin aku melakukan hal-hal seperti itu.


"Kakek, rasa-rasanya aku tidak pernah melakukan hal seperti itu." Aku berusaha menjelaskan. "Memangnya apa yang Kuro katakan???" lanjutku penasaran.


"Dia bilang kalau kau belakangan ini seringkali mabuk mie instant."


Eh?


^^^//Happiness is the Best Healer//^^^


Aku sontak menepuk jidatku. "Ya ampun ...." Badanku langsung menunduk seketika sebab sudah salah tingkah duluan.


"Hahahaha ...! Ternyata kau masih belum bisa merubah kebiasaanmu itu, ya?" Kakek malah tertawa lantang sembari menepuk pahanya.


"Kakek ...! Kenapa tidak bilang dari tadi kalau hanya soal itu .... Hah... Membuatku kaget saja," cakapku dengan rasa cemas yang masih belum lenyap sepenuhnya akibat pertanyaan tadi.


"Tapi, gimana ya, Kek. Setahun belakangan aku selalu bersikeras untuk mengubahnya. Tapi entah mengapa, sulit sekali untukku mengubah hal itu," ujarku puyeng.


"Tapi ..., bukankah dulu kau sempat berhenti makan makanan instant seperti itu ya, Kaito?" Kakek menatapku heran. "Lalu kenapa sekarang malah kambuh?" tanya kakek heran.


Mimik wajahku seketika murung.


"Entahlah, Kek."


"Mungkin karena ..., aku belum sepenuhnya terbiasa memasak seorang diri."


Kakek tertegun sebentar.


"Hah ..., hidup sendirian memang susah, ya, Kaito. Tanpa seorang pasangan, pola hidup kita tidak terurus. Dampaknya merembes pada segala wujud kehidupan yang kita jalani," tutur kakek sambil menatapku iba.


"Begitulah, kek." jawabku singkat.


"Tak apa. Kakek mengerti perasaanmu, Kaito." Kakek membalas. Dielusnya pundakku dengan penuh kasih sayang.


"Kata-kata manis yang terucap dari bibir seseorang, tak semuanya serta merta diungkapkan dari dalam hati,"


Ucapan kakek barusan ....


Benar-benar menggambarkan diriku.


Aku dan kakek, kami memiliki sebuah kesamaan.


Kami berdua sama-sama sudah pernah kehilangan pasangan kami.


Mendiang istri kakek sekaligus nenekku, sudah meninggal sejak aku masih SMA.


Sementara aku...


"Hah ...."


Entah mengapa,


Aku merasa,


"Aku mohon padamu ...! Tetaplah bersamaku!"


Tak berguna.


Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik.


...----------------...


_______________________


[ tanpa pasangan. ]


...----------------...


Setelah itu,


"Oh iya, Kaito, dengar-dengar dari sobat kakek, katanya si Letnan kolonel itu sudah dicopot dari jabatannya, ya?"


Aku berpikir sebentar. Pengalihan topik membuat otakku sedikit linglung. "Oh ..., maksud kakek Tuan Arashi?"


"Yah ..., beliau memang sudah resmi dicopot dari jabatannya. Sudah sekitar beberapa minggu, sih," tambahku sembari membayang-bayangi wajah beliau.


"Begitu? Katanya dia didepak karena melakukan pelanggaran, ya?" tanya kakek lebih lanjut.


"Betul. Beliau waktu itu sempat terlibat masalah. Jatuhnya bapak kekar itu melanggar kode etik militer, lah. Makanya beliau terkena sanksi copot jabatan," perjelasku.


Kakek pun semakin penasaran. "Waduh! Memang apa sih yang diperbuatnya? Pelanggaran seperti apa???"


Beberapa detik setelah itu kuhabiskan dengan hening, berusaha mengingat garis besar kejadian.


"Jadi begini, Kek."


"Beliau pertama-tama sebenarnya diadukan oleh masyarakat. Saat itu Tuan Arashi terlibat cekcok dengan salah satu oknum di suatu tempat di sebuah gudang garam di Hokkaido. Mungkin karena terbawa suasana, beliau akhirnya menggunakan senjata api secara tak bertanggung jawab," paparku dengan raut wajah serius.


"Nani? Bodoh sekali," Kakek spontan menyenderkan badan ke sofa.


Aku pun membalas menyayangkan kejadian itu. "Padahal dulunya, Tuan Arashi adalah orang yang banyak dijadikan teladan oleh sesama rekan karena kepatriotisan dan sikap serius yang dimilikinya."


"Ah, dan kudengar, semenjak dilengserkan dari jabatannya, tuan Arashi memilih menetap di rumahnya yang masih berada di kota ini. Ngomong-ngomong, apa kakek tahu lokasi rumahnya?" Aku tiba-tiba melenceng topik.


"Eh ...? Kenapa mendadak menanyakan rumahnya? Jangan-jangan kau mau coba silaturahmi ke sana, ya?" Kakek yang masih bersender di sofa lalu menatapku dengan wajah serius.


"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran saja, Kek," Timpalku.


"Ya, sebenarnya ..., kakek juga kurang tahu persis. Nampaknya orang itu sengaja menutupi lokasi rumahnya karena sudah keduluan malu," gurau kakek.


"hahaha ... Duh, kakek ini ...." Aku terpingkal.


Dan tiba-tiba, ditengah obrolan kami, datanglah Bibi dengan membawa nampan yang diatasnya sudah tersedia 2 cangkir teh.


"Silahkan diminum, Kaito!" ucap Bibi senantiasa memasang raut tersenyum.


"Terimakasih, bibi!" jawabku.


Bibi lalu ikut duduk bersama kami dan kemudian menanyakan sesuatu padaku.


"Dari tadi membicarakan apa?" bibi bertanya sembari menaikkan alisnya.


Kakek pun lantas menjawab bibi, "Anak ini, dia bertanya soal kediaman Arashi. Nampaknya dia mau bertamu."


"B..Bukan begitu kok, Bi. Sudah kubilang aku kan hanya sebatas ingin tahu saja, Kakek!" sergapku membantah.


"Yah, kalau kau bertanya soal lokasinya, bibi tahu, kok. Kalau dari sini, kau tinggal berjalan di sepanjang jalan Hamegaku sejauh 5 blok. Nah, setibanya di situ, kau bisa bertanya lokasi persisnya pada warga di sekitar sana."


"Wih .... Bibi ternyata tahu, ya," decakku kagum.


"Tapi tetap saja, Kaito. Sebaiknya kau mesti pikir-pikir dulu misalnya mau berkunjung ke sana," ucap bibi seketika risau.


Aku lantas bingung dengan ucapan bibi. "Loh, memang ada apa, Bi?"


"Entah, ya, tapi yang bibi sendiri dengar dari orang-orang di sini, beliau sudah banyak berubah dari sebelumnya."


"Beberapa ada yang bilang kalau dia sekarang suka mabuk dan pembawaannya begitu emosional. Mendengarnya pun bibi ngeri," tambah bibi.


"Ah ..., begitu ternyata."


Yah, wajar saja sih. Mungkin itu juga dampak dari tekanan yang selama ini ia rasakan pasca pendepakkan ....


Tuan Arashi, aku sudah bosan mendengar orang-orang berujar hal-hal buruk mengenaimu, bahkan sebelum kakek dan bibi memberitahukanku saat ini.


Sejujurnya, aku ingin mengetahui kondisimu yang sekarang. Hingga kini, aku terus saja berupaya menemukan jawaban atas satu pertanyaan yang selama ini terus bernaung dalam diriku.


Apa aku masih pantas untuk menjadikanmu panutan?


To be continued ....