
"T..Tidak mungkin ...! Ini benar-benar Tuan Arashi?!"
Setelah melihat kondisi pria yang sebelumnya merintih lemas ini dari kejauhan, batinku tergerak untuk menolongnya atau setidaknya, untuk memberikan pertolongan pertama yang dibutuhkan.
Serangkaian pengecekan kulakukan, namun mendadak terjeda di tengah jalan. Momen itu terjadi tepat setelah aku menyadari betul, perihal wajah pria yang sedang terbaring lemas tak sadarkan diri ini.
Tuan Arashi, ialah orang yang sedari tadi kumaksud. Salah satu mantan personil tentara angkatan laut Jepang yang sempat mengemban jabatan penting dalam satuan militer. Beliau merupakan pria bertubuh tinggi, tegap, berperawakan dingin, serta dikenal sangat keras dalam urusan mendidik. Karena wataknya tersebut, hampir semua tentara muda begitu segan padanya.
"Nak? Tunggu dulu, kamu mengenal suami ibu?" ujar si ibu, melihat pandangan mataku yang kala itu sedang menatap suaminya seakan-akan tak asing.
Aku menoleh pelan ke arah ibu itu, lalu menunduk dan kemudian menjawab dengan halus, "Iya, saya kenal beliau, Bu."
"Saya adalah salah satu rekan Beliau yang mengabdi di angkatan laut Jepang."
Ibu itu menyimakku dengan begitu serius. Nampaknya ia juga begitu penasaran soal bagaimana aku mengenal suaminya.
"T..Tuan Arashi dulunya pernah menjadi rekan saya saat menjalankan latihan kemiliteran di kawasan Laut Timur Jepang. Saat itu beliau masih menjabat sebagai Letnan."
Mendengar soal kata letnan, jabat-menjabat, serta pangkat-pemangkatan itu, pandangan ibu itu pelan-pelan tunduk, helaan napasnya terdengar pilu.
"Ah ... begitu, ya," ungkap ibu itu halus.
Beliau saat ini sudah tidak lagi menyandang jabatan apapun dalam armada laut Jepang, sebab terlibat dalam suatu insiden dalam masyarakat dua tahun lalu.
Ah ..., sebaiknya penjabaran kenangan ini aku sudahi saja. Ingatanku akan kebersamaan bersama Tuan Arashi hanya akan membuat mental istrinya semakin terintimidasi.
Suasana hening sejenak, sampai aku lalu memecah kebuntuan, sebab beberapa masyarakat di sekitar juga mulai mendekat ke arah kami. Mereka bertanya serupa, ada apa dengan sesuatu di antara kami bertiga. Sang istri menjelaskan, aku melanjutkan omongan.
"Ah, sudah telpon ambulans???" Salah satu pria parubaya yang ada di dekatku bertanya panik. Aku mengangguk, laju menyuruh semua untuk tetap tenang, dan bersiap menyusun skenario, perihal bagaimana tubuh ini kelak akan diangkat ke dalam mobil.
Di tengah irama padu perembukan antar warga di sekitar Tuan Arashi, tiba-tiba, jauh dari arah terselenggaranya festival, aku melihat dengan mataku sendiri, seorang gadis berlari dengan begitu gancang. Ia, dengan mengenakan yukata cantik serta rambut yang diikat ikal dengan begitu permai, berseru-seru mengucap 'ayah' dalam keparauan suara. Semakin jelas terdengar seiring waktu, bahwasanya perempuan itu sedang dilanda kekhawatiran akut atas apa yang sedang menimpa sosok yang ia teriakkan itu. Semua hal barusan begitu kencang mencuri perhatian kami semua.
Jauh dari dalam lubuk hatiku, mendengar suara itu juga merupakan suatu kilas balik untukku. Sebab ..., lantangnya, padunya suara itu, rasa-rasanya memang tak asing bagiku.
Ah, Miyako ini sempit sekali, ya. pikirku dalam hati.
Ibu itu, alias istri dari Tuan Arashi, dan aku rasa sekaligus juga merupakan ibu dari gadis yang berteriak itu, balik berkoar ke arah anaknya, menyuruh mempercepat langkah menemuinya di sini.
"OKKA-SAN!"
"HISOKA-CHAN! KEMARI!"
Hisoka-chan?
Ah, jelas, deh.
Dia pasti Narakawa Hisoka.
Narakawa. Aku sempat melihat sepenggal kata ini pada nama yang tertera di buku sekolah di dalam tasnya. Saat itu tepat di hari di mana ia tak sadarkan diri sebab tergelincir dari sepedanya. Narakawa adalah nama keluarganya. Pantas saja waktu itu aku seperti mengingat seseorang saat mengamati wajah perempuan itu.
Narakawa Hisoka adalah anak dari Tuan Narakawa Arashi.
Aku pun menyenderkan separuh tubuhku di kap depan sedan tuan Arashi, selekasnya menyadari kenyataan tersebut.
...----...
...Happiness Is the Best Healer....
...----...
"Ayahmu! Ayahmu mendadak pingsan beberapa menit yang lalu," ujar sang ibu.
"Pingsan!? Kenapa!?" sekonyong-konyong, gadis itu menerobos kerumunan, langsung menuju ke arah ayahnya yang masih terduduk di kursi mobil, dengan jok yang sudah ditidurkan ke belakang olehku.
Tak karuan gadis itu memanggil-manggil ayahnya, berharap ada secercah kesadaran yang kembali. Namun apalah daya, kondisi fisik tak bisa bohong. Terkejut diriku ketika dengan gegabahnya gadis itu menampar-namparkan pipi serta menggerak-gerakkan badan Tuan Sudo.
"OTO-SAN ...! AYAH KENAPA ...? BANGUN ...!" gadis itu histeris, ia berderai air mata.
Orang-orang di sekitar panik. Aku memotong aksinya. Akan jadi perkara gawat bila mengguncang tubuh orang pingsan secara berlebihan seperti yang dilakukan gadis itu. Soalnya beliau ini pingsan, lho, bukan meninggal!
"Cukup, cukup! Jangan digoncang! Kau hanya akan memperparah kondisinya!" aku membentak gadis itu. Pundaknya ku tarik dari hadapan ayahnya, mundur ke belakangku, dan kusuruh ia menjauh.
"Jaga jarak! Untuk sekarang, biar aku dan abang-abang di sini yang menangani!" pintaku sembari menatap langsung muka dari gadis itu serius.
Sungguh, kali ini aku benar-benar yakin, bahwa gadis ini, adalah sosok yang kupergoki meninggalkan lorong vilaku dengan sepedanya tempo hari. Orang yang menganggap pondokku adalah miliknya. Narakawa Hisoka!
Ya, tidak salah lagi.
Demikian telah kujauhkan dirinya, tatapan kami bertemu begitu saja, bertemu untuk kedua kalinya.
Dan seketika itu pun, mengangalah mulutnya, turunlah alisnya, gemetarlah tangannya setelah mendapati bahwa aku lah sosok yang ia lihat berhadap-hadapan ini.
Tapi, siapa sebenarnya diriku ini? Dugaan kuatku, aku sekarang adalah mimpi buruk baginya.
"Kau ...."
"Kenapa, kau ...." ia senantiasa gemetar.
Aku mengangkat kedua tanganku ke depan dada, kuhadapkan telapak tangan padanya, lalu dengan halus aku mengisyaratkan dirinya agar tetap tenang. Aku tak ingin lagi-lagi gadis itu meledak.
Ibu dari gadis itu melirik padaku dan anaknya secara bergantian. Ingin rasanya seribu pertanyaan dihaturkan beliau, namun situasi yang ruwet bahkan seakan sengaja membungkam bibirnya.
Selekasnya, sirine ambulans mulai terdengar dari kejauhan. Orang-orang menengok ke arah timur, dari ujung jalan terlihat minibus putih berlaju kencang ke arah parkiran mobil ini. Cahaya biru merah samar-samar kemudian mengisi keredupan di tiap wajah kami. Harapan kami datang, harapan yang dinanti-nanti kedatangannya.
"Dengar, jangan panik! Yang terpenting, kita harus bertindak cepat dan tepat. Biarkan kami menandu ayahmu ke dalam ambulans itu terlebih dahulu."
Orang-orang semakin banyak berkerumun di sekitar kami, membuat atmosfer semakin bising, juga semakin pengap. Aku dan beberapa pria bertubuh kuat langsung menyambut bantuan dua tenaga medis dari ambulans untuk kemudian bersama-sama mengangkat Tuan Arashi ke atas ranjang dorong.
Sang istri dan anak, mereka berdua minggir dari mobil, lalu bergerak masuk ke dalam ambulans. Demikian juga Tuan Arashi, setelah terakumulasi 5 menit waktu evakuasi yang dilalui, beliau kini sudah berada dalam ambulans untuk kemudian di bawa ke rumah sakit Tomohaku yang berjarak 1 kilometer dari dermaga.
Dari dalam kabin ambulans, istri dari Tuan Arashi, memanggikku serta menyuruhku untuk ikut naik. Namun, setelah aku melirik ke arah anaknya, yakni Hisoka, kuamati pandangannya yang saat itu tertunduk lesu, juga matanya yang berkaca-kaca. Aku langsung memutuskan untuk menyusul saja dengan mengendarai sedan milik Tuan Arashi.
Sebelum pintu ditutup, aku kembali menoleh ke arah gadis bernama Narakawa Hisoka itu. Aku berjalan mendekat, namun tak terlalu dekat, dan lekas berujar padanya sebagai seorang tenaga medis, juga sekaligus sebagai mimpi kelamnya.
"Aku akan jelaskan semuanya," ucapku pelan. Ia melihatku sekilas, lalu kembali membuang mukanya dariku.
Lalu ditutuplah pintu itu segera oleh paramedis. Ambulans itu kemudian pergi. Pergi dengan menyisakan kerumunan orang di antara diriku yang sama-sama sedang berdiri dan sedang memandangi hal yang sama, yakni ambulans itu sendiri.
...----------------...
Dengan demikian, di sinilah aku sekarang: duduk di atas bangku besi berdempet yang sama sekali tak nyaman, senantiasa menanti kabar soal Tuan Arashi di teras rumah sakit yang mereka sebut ruang tunggu jemput ini, bersama-sama dengan Narakawa Hisoka-san, gadis SMA yang mungkin telah menanggapku sebagai mimpi buruknya.
To be continued ....