Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Benar-benar Baru



Minggu, 15 Desember 2013.


17:55 Sore.


Hari kian berlalu ....


Sudah beberapa hari sejak hari itu, hari di mana anak itu terlibat insiden dan aku sigap memberinya pertolongan .... Sejak saat itu pula, ia tak pernah lagi mampir ke pondokku. Bahkan sekedar lewat pun tak pernah.


Aku sempat berpikir kalau omonganku kemarin nampaknya membuat anak itu begitu tertekan. Begitu malu. Kurasa, karena itulah dia semakin gengsi untuk datang kembali ke sana.


Tapi, apa segitunya?


Hah ... wajar sih ....


Kalau saja aku, mengalami hal yang serupa dengannya, aku pun pasti akan bertindak sama.


Bayangkan saja! Menganggap sebuah tempat sebagai rumah tempat peristirahatanmu, padahal kau sama sekali tak punya hak kepemilikan apapun atas tempat itu. Dan suatu hari, tanpa diduga-duga kau akhirnya mendapat fakta mengejutkan bahwa rumahmu itu sebenarnya sudah dimiliki orang lain tanpa sepengetahuanmu. Orang lain itu punya bukti kepemilikan sementara kau tidak.


Jika aku yang mengalaminya, tentu aku akan memilih untuk melupakan soal tempat itu untuk selamanya.


Ya, itu normal.


Tak henti-hentinya aku bergumam serta memikirkan hal tersebut selama perjalanan pulangku ini. Semakin memikirkannya, rasanya tengkukku semakin berat saja. Aku bahkan tak tahu ini sebenarnya karena hawa dingin malam atau memang dirinya. Yang jelas, atas semuanya, aku merasa tidak enak dengannya. Rasa-rasanya aku seperti sedang memisahkan seseorang dari hal yang dia sayangi dengan begitu teganya.


Tapi ya sudahlah. Toh kalau dipikir-pikir, dia itu gegabah dan cukup arogan dalam berbicara. Tak sampai setengah hari aku bersamanya, aku sudah paham bahwa gadis itu adalah orang yang tipenya selalu bertindak sesuka hati tanpa memberi kesempatan pada orang lain untuk sekedar menjelaskan.


Kupikir-pikir lagi ..., setidaknya kejadian kemarin pantas dijadikan suatu balasan atas sikapnya.


...----------------...


Ngomong-ngomong, sekarang ini aku tidak sedang di vila. Aku mendapat undangan untuk menghadiri suatu seminar kemasyarakatan yang diadakan oleh tenaga kesehatan setempat. Acaranya bertempat di salah sebuah gedung serbaguna di pangkalan kota Miyako. Dan sekarang, acaranya sudah kelar, menyisakan diriku yang kini sedang berjalan pulang.


Awalnya niatku adalah ingin langsung pulang menuju vila. Namun, mendadak langkahku berubah haluan setelah aku tiba-tiba melihat kumpulan keramaian yang sedang terjadi di kawasan pelabuhan.


...----------------...


...Happiness Is the Best Healer....


...Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik....


...----------------...


Malam ini, suasana di pelabuhan sedikit berbeda dari biasanya.


Bukan sedikit, sih.


Kulihat, banyak orang-orang berkumpul di area sekitar dermaga. Mereka berkumpul nampaknya sesama keluarga, teman atau yang lainnya dengan memakai yukata dan beberapa baju modis lainnya. Mereka semua terlihat antusias dan seperti sedang menunggu akan datangnya sesuatu. Suasana ramai ini, terlihat begitu meriah dan penuh warna.


Banyak pedagang kaki lima yang berjualan di area pasar dekat pelabuhan. Besertanya, lintasan lampu LED warna-warni turut mengalungi tiap kios dengan apiknya. Juga, terdapat pula beragam lentera gantung berwarna yang sengaja dipasang di pinggiran jalan menuju dermaga sebagai penghias. Walau salju kian turun dan suhu juga menurun, nampaknya hal itu tak mempengaruhi kegembiraan dan animo orang-orang ini.


Aku belum pernah menyaksikan pemandangan semeriah ini ditengah musim dingin di Miyako.


Apakah ada yang aku lewatkan?


Hal mula-mula yang membuatku tertarik untuk menuju keramaian sebenarnya ialah karena kulihat banyak kendaraan yang lalu lalang menuju area dermaga, aku pun memutuskan untuk mendekat agar bisa mencari tahu hal apa yang menyebabkan keramaian yang begitu meriah ini.


Mungkin sebaiknya aku bertanya pada orang-orang yang ada di sini.


"Permisi, Bibi. Ehm ..., ada apa, ya, ramai-ramai di sini?" tanyaku pada seorang ibu yang juga merupakan salah satu pedagang jajanan kaki lima.


Ia menjawabku namun sambil senantiasa sibuk merebus olahan dagangannya. "Ya jelas ramai, lah, Nak. Kan ada festival."


Aku lantas kebingungan. "Hah? Festival?"


Beliau lalu sedikit melirik ke arahku. "Eh? Kau seriusan tidak tahu?" "Oh ..., kau bukan asli sini, ya?" sambung ibu itu sumbringah.


"Hari ini kan hari festival musim dingin Miyako. Kau lihat saja brosur dan poster yang tertempel di sekelilingmu!" perjelas ibu itu sambil menoleh kesana-kemari, menunjuk sebanyak-banyaknya tiang listrik yang bisa ia lihat.


Are ...? Ada posternya, ta?


Benar juga. Belakangan ini aku tak terlalu perhatian dengan tempelan-tempelan itu. Aku kira semua itu hanyalah poster berisikan jasa pengangkutan barang atau jasa pembersihan sanitasi seperti yang biasanya ada.


"Festival musim dingin? Apa kota ini memang mengadakannya?" tanyaku masih dengan mimik tak percaya.


"Tentu! Kota ini sudah banyak sekali mengalami kemajuan, kau tahu," cakap ibu itu bangga. Naik kedua alisnya padaku.


"Tapi sejak kapan ya, Bi? Soalnya seingatku, di kota ini kan tak ada festival musim dinginnya. Kita selalu numpang ke sebelah, kan?" ucapku penasaran. Ini adalah hal yang begitu baru bagiku.


"Oh ..., memang, sih ..., festival ini masih tergolong baru. Dan tahun ini merupakan kali pertamanya diadakan," ujar ibu tersebut sambil tersenyum. Rebusannya sudah siap.


"Wah ...! Baru pertama kalinya ya, bu? Begitu ternyata. Terimakasih infonya, Bibi," balasku membungkuk.


Aku yang baru mengetahui hal tersebut entah mengapa jadi ikut senang dan gembira.


"Hm ... sama-sama, Nak," angguk beliau.


Aku pun berbalik badan bermaksud memulai langkahku berkeliling. Semangatku naik, kota ini nampaknya sudah tidak membosankan lagi!


Namun, ibu itu mendadak mencegat tanganku saat aku berbalik. "Tunggu, Nak!"


"Eh? Ada apa lagi, Bu?" sahutku.


"Ini, ambillah. Kau juga harus menikmati festival malam ini, loh." Beliau lalu memberiku setusuk dango.


Dango sendiri adalah olahan ringan khas Jepang berbentuk bulat layaknya bola-bola kecil dan terbuat dari tepung beras. Dalam kushidango (setusuk dango) biasanya terdapat 3-5 butir dango. Aku diberikan 5 tusuk.


"Ara? A..Arigatou, Bibi. Tapi ..., apa tidak masalah memberiku secara gratis begini?" ucapku merasa tidak enak.


"Tidak apa. Terimalah," jawab ibu itu masih dengan kushidango di tangannya.


Duh ... aku malah jadi tidak enak begini. Mana mungkin aku bisa menerimanya begitu saja.


"K..Kalau begitu, aku sekalian pesan takoyakinya saja ya, Bi. Satu porsi saja," pintaku grogi sembari menunjuk kearah adonan takoyaki yang berada tak jauh dari lenganku.


"Ahahaha ... kau ini ternyata peka sekali ya, Nak," canda beliau sambil mencolek lenganku. Aku gemetar.


Apa boleh buat, omongan ibu itu ada benarnya juga. Selagi masih di sini, aku mesti menikmatinya. Yah ..., setidaknya sebelum aku kembali bekerja di lautan lepas sana. Jika saja kali ini aku tidak menikmatinya, maka itu jelas artinya melewatkan kesempatan emas untuk menikmati libur begitu saja.


Tapi terlepas dari itu, aku sungguh tak menyangka, akhirnya kali ini aku bisa merasakan festival dengan nuansa yang benar-benar baru. Mengingat sebelumnya aku selalu bekerja sepanjang musim semi dan musim panas, jadi aku selalu saja melewatkan festival yang ada di Miyako.


Namun kini, setidaknya aku bisa kembali menikmati atmosfer festival yang sudah sekian lama tak kurasakan.


Oh iya, ibu itu juga memberitahuku bahwa akan ada semacam pertunjukan kembang api yang akan diadakan sebentar lagi. Mungkin orang-orang berkumpul di sini juga dikarenakan hendak menyaksikan meriahnya kembang api tersebut di malam bersalju ini.


Untungnya aku masih menyimpan sedikit kembalian yang aku taruh di saku celanaku sejak tadi siang.


Aku pun memutuskan untuk membeli beberapa camilan yang ada di sini, termasuk takoyaki tadi. Mereka semua terlihat hangat dan begitu menggugah seleraku. Tak enak juga bila menunggu momen kemeriahan dengan perut kosong, kau tahu.


"Wah ..., jadi begini, ya, kota Miyako sekarang. Kota ini sudah sedikit lebih berkembang dibanding tahun sebelumnya," gumamku sambil membawa seporsi takoyaki yang baru saja kubeli tadi.


Kebetulan sekali, di dekat sana ada sebuah kursi yang baru saja ditinggalkan seseorang.


Karena kosong dan spotnya juga cukup bagus untuk bersantai, dengan sigap aku langsung menduduki kursi tersebut. Setelah itu, aku lanjut menikmati cemilan ini selagi masih beruap.


"Hamph..."


"Hmmmh ... lembut sekali ...!" Tekstur lembut dari takoyaki tersebut benar-benar cocok buat menghadapi angin dingin malam ini.


Karena takoyaki ini masih panas di bagian dalam, jadi, aku terpaksa melahapnya sedikit demi sedikit.


...----------------...


Semakin lama, masyarakat yang datang menuju festival ini terlihat semakin banyak. Suasana dermaga pun menjadi semakin ramai berkat mereka.


Aku sendiri juga menemukan banyak sekali hal-hal yang sungguh unik dan belum pernah kulihat di festival-festival sebelumnya.


Jika biasanya masyarakat pergi ke festival dengan dandanan juga yukatta mereka yang begitu modis dan kekinian, serta tak lupa berbagai aksesoris yang terpakai dengan ciamiknya, kini saat musim dingin banyak orang berdatangan dengan memakai cardigan maupun baju serba besar dan tebal untuk menghangatkan diri, walaupun nyatanya mereka masih memakai pakaian modis di dalamnya, sih. Selain itu, kebanyakan perempuan, riasan mereka juga tak sekuat di saat-saat festival musim semi ataupun musim panas. Untuk yang ini aku kurang tahu mengapa.


Adapun di sini terdapat sebuah panggung yang sengaja didirikan untuk memeriahkan festival. Tepatnya didirikan di lahan kosong yang mengarah ke kompleks gudang penyimpanan ikan laut. Walau begitu, untungnya bau dari ikan-ikan tidak begitu terasa.


Masyarakat Jepang, tak satupun merasa asing dengan yang namanya festival. Mulai dari Matsuri, Bunkasai, Ongakusai, dan lain-lain, kami punya sebutan untuk beragam jenis festival. Tentunya ini bukan tanpa alasan. Jepang memang sangat sering mengadakan festival atau acara-acara di setiap musim. Kami yakin bahwa setiap musim adalah unik dan membawa berkah tersendiri. Maka dari itu, masyarakat menyambut berbagai musim yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.


^^^// Benar-benar Baru //^^^


15 menit kemudian ....


Setengah porsi takoyaki terlahap, namun pertunjukkan inti masih juga belum dimulai. Anak-anak bahkan ada yang mulai rewel meminta pulang. Juga, tak sedikit dari pengunjung yang terlihat menguap tanda kantuk.


Namun, bila menilik dari dalam jiwa mereka, aku yakin sebagian besar masyarakat sebenarnya masih tetap riang dan antusias, termasuk diriku saat ini.


"Oi, Kakak!"


Ketika sedang asyik menyantap cemilan, aku mendengar ada seseorang yang suaranya tak jauh dariku, memanggilku dengan sebutan kakak.


Orang itu pun lantas muncul dihadapanku begitu saja.


"Kakak! Ya ampun ... apa yang kakak lakukan sendirian di sini ...?" ucap Kokuto, cucu dari kakek sekaligus adik sepupuku. Si kasir.


"Oalah Ko-kun? Ternyata kau juga datang ke sini, ya."


Semoga saja kali ini aku tidak dijahili olehnya. Walau sosok Kokuto terlihat sopan dan rapi dari luar, sesungguhnya ia punya otak yang cerdik terlebih dalam hal menjahiliku.


"Jelas dong, Kak. Aku tak mau melewatkan kali pertama fuyumatsuri (festival musim dingin) ini diadakan," balas Kokuto membusung dada.


"Ehm ... ya, baiklah."


"Ngomong-ngomong mana kakek kita? Apa beliau ikut juga?" tanyaku lebih lanjut.


"Ah, Kakek? Tadi, sih, kakek sedang mengobrol dengan seorang teman lamanya di mana tadi, ya ...? Ah ... Entah lah, Kak. Aku lupa." Kokuto berusaha memandangangi sekitar mencari-cari keberadaan kakek.


"Ah ..., kakak mengerti. Sebaiknya, ehm ... biarkan saja kakek mengobrol dengan temannya itu," ucapku sambil kembali melahap jajananku.


Usai ucapanku tersebut, tiba-tiba Kokuto malah ikut menyempil di sebelahku.


"Hehehe .... Kakak!"


"Kau mau menghindari obrolan dengannya, 'kan?" ujarnya sambil tersenyum kecil.


"Berisik kau," jawabku cuek.


"Halah ...  halah ...."


"Makanya, kakak harus punya keberanian dan kecerdasan dalam menghentikan suatu obrolan dong ...." tuturnya sambil merangkul pundakku erat.


"Kalau kakak tidak punya skill seperti itu, lantas kakak bisa apa? Satu-satunya tindakanmu hangalah mengalah, duduk di depan kakek selama berjam-jam, dan mendengar celotehannya sampai matahari tenggelam. Apa itu yang kakak mau?" tambahnya sambil menatapku intens.


"K..Kalau kau berpikir begitu, setidaknya beri aku saran, lah. Jangan menakut-nakuti saja kau bisanya!" aku bertanya dengan nada yang kuat, namun rasanya sedikit grogi juga meminta saran dari sepupu sendiri untuk pertama kali.


"Hahaha ... akhirnya ...."


"Kalau selama ini rakyat jelata selalu minta saran ke dokter, sekarang sebaliknya! Hehehehe ...."


"Dokter juga manusia~"


"Hahaha .... Ok deh, begini, begini ...." Kokuto bersiap menjelaskan suatu hal padaku.


"Dengar baik-baik karena takkan ada pengulangan."


Aku mengangguk berkali-kali.


"Semisal suatu ketika, kakak sudah merasa jenuh dengan obrolan yang tak kunjung kelar dan berlarut-larut, terkhusus kakek, lakukanlah hal ini!"


"Keluarkan ponselmu, Kak," pintanya sambil merogo saku celanaku.


"Eh? Untuk apa hah? Pakai ponselmu saja bisa, kan?" elakku sambil menepis tangannya.


"Lihat kan, dia yang minta saran, sudah dibantu malah protes pula."


"Baiklah, baik! Pakai handphoneku saja," celotehnya dengan nada menyinggung. Aku tak akan memikirkannya.


"Begini caranya ...."


Koko lalu terlihat seperti sedang mengetik sesuatu. Aku melirik dengan saksama.


"Mulailah dengan searching 'white colors' di guugle images," ucap Kokuto.


"Hah?" sahutku penuh tanya.


"Lalu, setelah loading selesai, pilih salah satu gambar."


"Atur ke mode tampilan penuh, lalu geser kecerahan handphone ke tingkat paling maksimal seperti ini," ucapnya serius dengan telunjuk yang terlihat menggeser tab kecerahan layar secara perlahan.


Wajahnya juga semakin bersinar seiring kecerahan layar bertambah. Sangat kelihatan, terlebih dalam suasana malam begini. Aku hanya bisa terpatung sekaligus terheran menyimak tindakannya.


"Terakhir, tunjukkan layar handphonemu tepat di hadapan mata seseorang yang sedang mengobrol denganmu!" tuturnya penuh percaya diri.


"Hanya itu? Memang apa hebatny-"


"SEPERTI INI CONTOHNYA!" serunya sambil memperlihatkan layar handphone tersebut padaku secara tiba-tiba.


"AAHHHSS ... HENTI-SHH ... SILAU OI! SHHS ... SILAU SEKALI ...!" aku memekik sembari spontan memejamkan mata.


Tanganku juga bergerak-gerak tak menentu guna menjauhkan cahaya itu dari hadapanku.


"WAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAA-UHUKKK ... UGHUKKK ... EGHH ...."


"B..Bagaimana, hah?! Efeknya mantul, bukan?" ucapnya terbahak.


"Aho! Trik gila macam apa coba itu?!" aku mengomel padanya.


"Tentu saja trik untuk menyudahi obrolan, Kakak ...."


"Tahu tidak? Efeknya tak kalah sama bom flashbang, loh ...."


"Asal kau tahu, ya, trikmu itu lebih cocok digunakan untuk mencopet ketimbang menyudahi obrolan!"


"Sama saja, lah ... Hahahaha ...."


"Lagian, apa kau sinting? Apa aku mesti melakukan hal itu pada kakek tua kita? Bagaimana kalau tiba-tiba matanya bronjol hah?!" celotehku heran padanya.


"Semestinya memang harus begitu kalau kakak sungguh ingin lepas dari belenggu obrolan," balasnya santai.


Anak ini ....


Psikopat kah?


"Tapi ..., apa tidak ada cara yang lebih-"


"Lebih apa? Lebih gila? Kakak mau yang lebih menantang, hah?" sahutnya gamblang. Tak ada secuilpun wibawaku bila sedang di dekatnya.


"Halah ... bodohnya aku. Kenapa pula aku bisa-bisanya menanyakan saran pada orang sepertimu," ucapku menepuk jidat. Tak lama aku melihat kearahnya, menunggu tawa liciknya muncul. Namun apa daya, aku lebih dulu menggelakan tawa padanya.


Kami kembali tertawa. Untuk sekian detik itu kami merasakan kegembiraaan antar kakak-adik. Senyumku yang sudah lama tak muncul, kembali terpamerkan di bawah sinar bulan tiga per empat malam ini.


 


Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik!


 


Tak lama lekas momen itu, Kokuto melihat ke arah arloji yang terpasang di tangan kanannya. Ia melihat angka waktu saat sekarang ini. Suasana antara kami berdua kembali hening.


Setelah mengetahui waktu, Kokuto lalu berdiri dari tempat dudukku. Akhirnya pinggangku terasa lega.


"Yah ..., kalau kakak mau menyudahi pembicaraan, bilang saja kalau kakak sedang ada urusan penting."


"Apalagi kalau kakak menyertakan embel-embel pekerjaan dalam pamitmu itu, pasti kakek akan memaklumimu dengan mudah, Kak," tutur Kokuto. Kali ini ia serius.


"Hah ... memang, ya, kembali lagi kita sebagai manusia terkadang perlu berbohong untuk menyelesaikan masalah." Aku memandang Kokuto yang berdiri sembari merapikan pakaiannya di sampingku. Badanku kembali kusenderkan di bangku.


"Begitulah," balasnya singkat.


Kokuto lalu pergi dari hadapanku dengan langkahnya yang santai. "Sudah dulu, ya, Kak. Jujur, malam ini kepalaku terasa agak pusing. Jadi, sebaiknya aku segera pergi mencari tempat yang hangat."


"Ah, kau sakit?" Aku lekas menyambar, sembari bangkit berdiri.


"Tidak, kok."


"Hanya kedinginan biasa, Tuan Dokter," ledek Kokuto, tak menghentikan langkahnya sejenak pun.


"Ah, begitu?"


"B..Baiklah ... sampai ketemu lagi," salamku padanya.


Namun, belum terlalu jauh ia pergi, aku sempat kembali memanggilnya.


"Anu, t..tunggu, Ko-kun," panggilku.


Ia pun kembali berbalik badan ke arahku. "Iya? Ada apa, Kak?"


"Apa kau pergi ke festival ini berdua saja?"


"Maksudmu berdua dengan kakek? Tidak, sih. Kakek sendiri sudah ada di sini sejak sore. Membantu mereka menyiapkan tempat, panggung dan sebagainya," ujar Kokuto.


"Berarti kau memang ke sini berdua, bukan? Tapi dengan siapa?" tanyaku lebih lanjut.


"Aku kesini bareng dia," jawabnya sambil menunjuk ke salah satu kios souvenir di sebelah barat dermaga. Di sana ada beberapa gadis yang saling mengobrol dan mengenakan yukata dengan beragam corak dan warna.


Aku mengamati sekumpulan perempuan itu, namun aku tak mampu menebak yang mana orang yang Kokuto maksud.


"Yang pakai Yukata oranye."


Aku menoleh pada Kokuto singkat, lalu balik mengamati ke arah toko souvenir.


"Ah ... itu, ya."


"Dia itu siapa? pacarmu?" tanyaku sembari kembali duduk di bangkuku.


"Iya ... begitulah, Kak."


Mendengarnya, aku spontan tersenyum.


"Dasar kau bocah ... hahahaha ...."


"Bagaimana? Punya pasangan itu menyenangkan, bukan?" ungkapku padanya.


"Jangan bilang seperti itu, lah, Kak. Aku jadi merasa tidak enak padamu," jawabnya risau, lalu setelah itu melanjutkan langkahnya pergi.


Hah ... dasar remaja.


Kerjanya hanya pacaran dan bersenang-senang.


Walau hal-hal yang remaja lakukan kadang terkesan konyol dan bersifat fana, tetap saja masa-masa tersebut takkan pernah dilupakan setiap orang.


Termasuk masa remaja yang pernah ku alami dulu.


Saat-saat di mana kehidupanku masih terasa begitu bahagia dan terlengkapi bersamanya.


/


...KEBAHAGIAAN ADALAH OBAT TERBAIK....


...Benar, kan?...


^^^/^^^


To be continued ....