Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer
Firasat



"Ah, Irasshaimase!" beberapa bapak tiba-tiba masuk ke warung. Paman empunya Izakaya pun menyambut mereka dengan sigap, lalu kemudian menyelinap bergeser ke arah diriku dan Tuan Arashi.


"Tuan-tuan, mohon tenang, ya," ucapnya penuh mohon, sembari membungkuk pada kami.


"Ah, sumimasen ...." Tuan Arashi memegangi kepalanya saat meminta maaf pada paman itu. Tampaknya emosi yang bergejolak itu sudah mulai mereda, digantikan oleh rasa berat yang berputar-putar di kepala beliau.


"Kami minta maaf, paman." Aku turut membungkuk. Dan selekasnya aku kembali duduk di kursiku.


...----------------...


...//HAPPINESS IS THE BEST HEALER//...


...----------------...


Kini, warung izakaya ini sudah mulai berdatangan pengunjung. Satu persatu meja yang ada kian terisi oleh para remaja hingga bapak-bapak yang sarat akan aroma keringat kerja. Rasanya aku ingin mengatakan pada paman empunya warung bahwa keributan yang dipicu Tuan Arashi tadi, boleh jadi adalah sebuah jampi-jampi peramai. Tapi aku sadar itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan bagi Tuan Arashi, bagi paman empunya warung, bagi pelanggan lain, serta bagi para pawang jampi di seluruh dunia.


Maka dari itu, aku lebih memilih untuk kembali mengobrol dengan Tuan Arashi.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanyaku cemas. Beliau masih saja tertunduk memegangi dahinya.


"Hah ... tidak apa, Kaito," jawab beliau disertai helaan napas.


Aku hanya diam mengamati gerak-gerik Tuan Arashi. Entahlah, mungkin aku hanya akan menunggu sampai beliau kembali melanjutkan kata-kata. Sebab tak enak kuga bila aku terus bercakap saat beliau sedang fokus menenangkan dirinya.


Sesuai harapan, beberapa detik kemudian, beliau pun melepaskan jari dari dahinya yang sempat mengkerut. Beliau kemudian meregangkan punggungnya ke kiri dan kanan, sebelum akhirnya berujar padaku.


"Kau yakin ingin mendengarnya malam ini, Kaito? Apa kau tak ada agenda lain?"


"Tidak apa, Tuan. Segala urusan saya hari ini sudah selesai," anggukku sigap.


"Baiklah ...."


Kembali, beliau memanggil paman empunya warung untuk menghidangkan kami dua porsi minuman lagi. Beliau memesan bir, dan memesankan diriku pula, dengan kadar alkohol yang berbeda. Kau pasti bisa menerka bukan? Milik siapa yang kadarnya lebih rendah?


"Kaito, beritahu, seberapa banyak yang kau tahu?" tanya beliau. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Aku tak mengira akan dilempar pertanyaan pamungkas di awal-awal seperti itu.


"Ehm ..., baik, tapi apa saya sebaiknya menjelaskan dari pandangan saya atau dari yang selama ini saya dengar?" aku bertanya balik.


"Berdasarkan yang kau dengar saja," timpal beliau sambil membuka kalengan bir.


"Baiklah."


"Namun perlu saya tekankan, Tuan, apa yang saya dengar sesungguhnya tidaklah banyak. Mengingat, insiden tersebut diproses oleh para petinggi secara tertutup dan benar-benar di luar sepengetahuan segenap prajurit."


Beliau mengangguk membenarkan.


"Tahun 2011, ketika angkatan laut dinas di Shinjuku, tiba-tiba saja saat apel pembukaan pelatihan, ada pengumuman yang menyatakan bahwa Anda telah dicabut statusnya sebagai kolonel serta sebagai seorang prajurit secara tidak hormat." Aku memulai narasi dengan latar khusus.


"Tak lama setelahnya, Tuan Minamoto pun dipanggil oleh Jenderal dan diumumkanlah bahwasanya beliau saat itu sudah resmi menjadi Kolonel menggantikan Anda."


"Maksudmu, dia dilantik saat apel?" potong Tuan Arashi.


"Tidak, Tuan. Saat itu Tuan Minamoto sudah mengenakan seragam dengan atribut lengkap. Tidak ada sesi pelantikan pada saat itu," jawabku segera.


"Ada beberapa hal ...."


Aku terdiam sejenak sebab begitu segan. Namun tak lama, aku laju memberanikan diri.


"Sebelumnya maaf jika ucapan saya kurang berkenan, tapi beberapa isu yang saya dengar terkait alasan mengapa Anda dikeluarkan, antara lain soal perselingkuhan, penganiayaan istri dan anak, dan yang terakhir tentang penggunaan senjata api di luar izin serta tidak bertanggung jawab." Jari-jariku mengetuk meja, kakiku menghentak lantai. Keduanya tak menghasilkan suara yang mengganggu, hanya pertanda dari rasa kecanggungku.


"Petinggi saat menegaskan bahwa alasan inti dari pemecatan Anda adalah soal senjata api itu. Namun tetap saja, ketiga pasal tadi sudah terlanjur beredar luas di telinga para prajurit," ungkapku begitu menyayangkan.


"Mereka rajin sekali berspekulasi tiap sedang kumpul, mengaitkan semua hal yang mereka ketahui demi memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang dirasa tepat mengenai Anda, terlepas apakah itu benar atau tidak," perjelasku.


"Saya mohon maaf sekali lagi jika ucapan sa—"


"Ternyata begitu, ya," potong Tuan Arashi. Beliau terlihat menunduk serius.


"Apa yang kau dengar selama ini, semua kabar yang beredar di kalangan para taruna ternyata secetek itu, ya." Tuan Arashi kini menyeringai pada kaleng bir di hadapannya, juga kepadaku.


Kami sempat hening sejenak setelah itu.


"Tuan, saya tidak tahu apakah ini sungguh benar atau hanya sebatas angan-angan di kepala saya, tapi,"


"Apakah ini semua ada kaitannya dengan Tuan Minamoto?" Aku coba bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Oh?"


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" Alis beliau naik mendengar ucapanku.


"Sebab...,"


Ketika itu, aku lantas kembali terdiam. Dugaan yang ku ungkapkan barusan ternyata menuntut penjelasan yang logis pada akhirnya. Sayang, aku tak mampu memberi argumen yang tepat untuk mendukung pemikiranku.


Lagi, Tuan Minamoto sendiri, beliau nyatanya adalah sosok yang benar-benar baik dan tenang. Ia sangat disenangi oleh para prajurit khususnya prajurit muda karena kemurahan hatinya. Selain itu, beliau juga dikenal karena metode latihannya yang sungguh berbeda dari yang Tuan di sampingku ini terapkan. Pelatihan yang sekarang jadi lebih singkat, padat, namun tetap dinamis. Unsur-unsur pelatihan keras yang selama ini diterapkan satu demi satu dihapuskan oleh beliau.


"Aku...,"


"Aku juga tidak tahu kenapa, Tuan." Kembali pada saat itu, aku pun menyerah untuk menjelaskan.


"Tapi jauh dari dalam hatiku, aku tetap merasa ragu dengan semua yang terjadi dibalik pengangkatan beliau menjadi kolonel." Aku masih senantiasa mempertahankan pemikiranku. Akan tetapi, mau tak mau, sekarang berubah jadi sekedar firasat.


Tuan Arashi pun memejamkan kedua matanya. Beliau berpangku dagu di atas kedua tangannya yang membuka dan menyatu. Sembari mengerutkan dahinya, beliau terlihat berusaha keras untuk mengingat sesuatu.


"Minamoto,"


"Aku rasa dulu aku pernah berbuat salah padanya," ucap beliau.


"Kejadian itu terjadi sudah sangat lama, sampai aku benar-benar tak ingat apa itu." Beliau senantiasa mengerutkan dahi, namun kini kedua matanya sudah membuka, menghadap lurus ke depan.


Aku lantas terbelalak ketika mendengar pengakuan Tuan Arashi. "Tuan? Jika Anda berkata seperti itu ...,"


"Tapi tetap saja, aku sendiri belum 100% yakin mengenai kaitannya dengan insidenku." Aku semakin merinding. Ternyata apa yang ku pikirkan selama ini merupakan hal yang besar kemungkinan terjadi menurut Tuan Arashi!


"T..Tuan juga berpikiran seperti itu???" ucapku seakan tak percaya.


"Terimakasih telah menceritakan segala yang kau ketahui, Kaito," balas Tuan Arashi tanpa memperdulikan pertanyaanku.


"Kali ini, giliranku menceritakan apa yang aku alami," sambung beliau.


"Saya mendengarkan, Tuan!" Aku merapikan posisi dudukku menjadi posisi yang benar-benar santun. Aku siap menerima apapun kali ini.


...----------------...


.../KEBAHAGIAAN ADALAH OBAT TERBAIK/...


...----------------...


"Kaito,"


"Apa kau masih ingat dengan peluncuran kapal induk terbaru milik angkatan laut di musim semi tahun 2011 silam?"


"E...tto, kalau tidak salah itu agenda militer yang hanya dihadiri oleh pejabat penting, kan, Tuan?" ucapku sembari menilik momen-momen di mana aku masih belum menetap di vilaku yang sekarang.


"Aku paham kau tidak sedang berada di sana saat prosesi itu dilaksanakan. Namun, aku sendiri, aku termasuk tamu undangan saat itu." Beliau mengarahkan kelima jari kanannya ke dada.


"Biar ku beritahu,"


"Aku menghadiri acara itu dengan pembawaan yang biasa-biasa saja. Tak ada satupun niatku selain mendukung penuh progres kemajuan alutsista negeri sendiri."


Aku mengangguk sembari terus menyimak.


"Karena itu peluncuran perdana, aku dan para petinggi lain tentu saja diperbolehkan naik ke kapal, dan kami melakukan tur kecil-kecilan menuju segala ruangan yang ada. Hampir setengah jam kami habiskan untuk berkeliling."


"Singkat cerita, ketika saat itu kami yang ada di kapal sedang dalam sesi senggang, aku coba menghampiri Mayor Noboru yang sedang berada di balkon ruang pusat kemudi kapal. Maksudku saat itu hanya untuk mengobrol ringan dengannya."


"Aku pun lalu berkata padanya, bahwa menurutku kapal yang sedang kami naiki ini tampaknya bagus dari bagian luar, namun sayang di salah satu ruangan yakni ruang generator energi, banyak terdapat bilah besi yang kusam dan berkarat."


"Yang aku heran adalah, tumben-tumbenan Noboru tidak cukup ligat saat merespon pertanyaanku. Dan saat akhirnya ia menjawab pun, yang keluar hanya 'ya, memang'."


"Pun tak lama, ia meneruskan seperti ini,"


^^^"Kau tahu, Tuan, perkataanmu barusan mengingatkanku pada seseorang, lho."^^^


"Pada awalnya aku tak mengerti siapa sosok yang ia maksud tersebut. Tapi setelah acara peresmian itu selesai, barulah aku menyadari sesuatu."


Rasa penasaran dalam kepalaku mulai mendidih. Aku semakin cenat-cenut.


"Semua diminta untuk turun dari kapal. Lalu, para petinggi termasuk aku mengobrol sebentar di daratan sebelum akhirnya kami pulang dari kawasan dermaga."


"Karena saat itu ada Tuan Naoto, sang perdana menteri, serta para menteri-menteri lain, para sopir pribadi dialihkan untuk membawa mereka. Sementara itu, para petinggi militer sendiri disampaikan agar menyopir sendiri."


"Karena acara memang sudah selesai dan tak ada sopir yang mengantarkanku, aku jelas tidak ingin terburu-buru untuk pulang. Terlebih di momen-momen janggal seperti saat itu."


"Oleh karena itu, aku memutuskan untuk terlebih dulu mampir ke konbini untuk membeli pemantik, sebab yang lama sudah habis gasnya. Dan selepasnya aku membayar, tak ku sangka aku pun bertemu dengan Tohno, sahabat sekaligus perwira setingkatku di parkiran dermaga."


"Singkat cerita, aku pun menghampirinya dan mencoba menanyakannya sesuatu perihal apa yang terjadi."


"Dan saat itu pun ia mengaku, bahwa ia telah mendengar rumor bahwa aku telah melakukan penganiayaan terhadap istriku."


"Eh!?"


^^^"Aku tidak tahu, Arashi. Sebab asal kau tahu, semuanya sedang membicarakan itu."^^^


"Saat kutanya dari siapa ia mendengarnya, ia tidak tahu. Sebab katanya, semua petinggi militer sedang membicarakan itu.


"Yang ingin ku sampaikan, Kaito, mungkin sejak hari itu lah awal mula posisiku mulai terancam."


Bersambung ....