
Kamis, 19 Desember 2013,
17:00 sore.
Senja yang semakin lama semakin meredup, diiringi selalu dengan dinginnya angin sepoi yang bertiup.
Cahaya di sekitar sudah tak seterang tadi, kini mulai hilang perlahan tertutup belantara terbenam mati.
Letihnya kaki, sengalnya betis. Keringat menyucur pelan melewati tengkuk, telah menjadi saksi nyata bahwa bukanlah vila, melainkan dirikulah yang datang kepadanya pada sore hari ini.
Vila. Ya, di sinilah aku sekarang. Berdiri kukuh sembari terus melangkah pelan, semakin dekat ke dalam haribaan tempat yang benar-benar telah membuatku lupa diri selama ini.
Butiran salju hinggap di sekujur rambutku, namun aku acuh tak kusisihkan. Sebab, apa yang ada di hadapanku kini sudah terlanjur menyita perhatianku.
Oleh karena aku yang tidak sedang sendiri, sudah jelas sosok di sampingku ini sadar aku tiba-tiba berubah raut. Ria sudah sejak tadi mengamatiku dengan tatapan penuh tanya.
"Kakak .... Ada apa?" katanya.
Aku mendengar jelas kata-kata itu terucap. Namun begitu, bibirku terasa payah sekali untuk membuka.
Tatkala itu, kedua mataku tak henti-hentinya menatapi sekitar. Hal yang bahkan membuat diriku sendiri tercengang, yakni dari setiap detail yang ada di tempat ini, tak ada yang luput dari pengamatanku.
Aku ... Aku bisa merasakan banyak hal, kau tahu. Mulai dari tata letak pot tanaman di teras vila yang berubah posisi, noda kusam baru yang tercipta pada talang air di samping vila, juga rumbai-rumbai pada pondok di muka vila yang putus beberapa entah mengapa.
Sejujurnya, sekalipun aku sangat sering kemari, tak pernah rasanya aku mengamati tiap senti tempat ini sebagai wujud kecintaanku akannya, ataupun upaya untuk mengenangnya. Aku benar-benar takjub dalam hati, pada sore hari ini, entah mengapa semua itu seakan mengalir dalam kepalaku, hingga terlukis begitu saja bayang-bayang lama tentang diriku saat berada di vila ini.
Sejak detik ini pun, aku menyadari kehadiran dari kenyataan yang begitu indah. Bahwa pemandangan yang kedua mataku lihat saat ini, ternyata telah menjawab rasa gundahku belakangan. Semakin aku mengingatnya, jiwaku terasa semakin sejuk, tensi dalam tubuh menurun, dan tak lupa pula hati yang menjadi semakin tenang karenanya.
Vila ....
Sejak pertama kali aku ke tempat ini ketika kelas 2, vila ini tak pernah sekalipun berpenghuni. Dengan pekarangan yang sangat kacau, debu dan sawang di banyak pojok bangunan, tempat ini tak lebih dari sekedar kawasan tak laku dan angker bagi masyarakat setempat. Setidaknya, begitulah yang bisa kusimpulkan setelah aktif berkunjung setahun belakangan.
Satu hal yang menyedihkan, yakni karena beragam spekulasi negatif yang tumbuh di antara masyarakat, tak ada seorang pun yang mau memberdayakan lorong ataupun sekedar berkunjung untuk mengekplorasi. Dan kau tahu, ini jadi hal yang bukannya menghalangiku, tetapi malah membuatku antusias. Aku coba pertama kali ke sini saat kelas dua SMA, dan yah ... memang kelihatan suram. Namun begitu, aku merasa bahwa kesuraman yang ada bukanlah karena tempat ini dihuni hantu atau apalah itu, melainkan ... hanya karena berantakan saja! Selebihnya, mungkin kau juga sudah tahu, perihal pemandangan yang disajikan bila kita berada di pondok kayu beratapkan anyaman itu, benar-benar sesuatu yang mustahil kudapatkan dengan gratis di mana-mana di kota ini.
Setelah beberapa kali kunjungan, hatiku membuat keputusan. Tempat itu cocok untukku. Dan dengan sekali pikir saja, aku sudah mampu mengumpulkan niat untuk bergerak membereskan kekacauan yang ada! Ya, semua karena dorongan yang begitu kuat dari dalam diriku untuk memiliki tempat itu.
Walaupun vila ini tidak dihuni lagi, bukan berarti tak ada satu pun barang yang tersisa di sini. Malahan, aku bisa membuat vila itu setidaknya punya pekarangan yang bersih karena adanya sapu lidi dan sekop yang memang ada di pondok. Mungkin saja Om Samada, pemilik vila ini, malas membersihkan, jadi beliau hanya meninggalkan alatnya saja sembari berharap relawan tukang minggat sepertiku yang melakukannya untuknya.
Tapi tak apa. Setimpal bila jatuhnya pondok ini jadi milikku saat itu.
Semua berjalan aman, tentram, dan sejuk sejak itu. Sampai pada suatu ketika, di awal Desember ini, seonggok entitas pun muncul. Berjuta-juta vila maupun rumah di negara ini, Tuhan nampaknya sangat bahagia memilihkan tempat ini untuknya. Kenyataan yang pada akhirnya memukulku telak untuk menyerahkan tempat ini pada dirinya.
Aku tak kuasa menahan emosiku bila terus mengingat kenyataan itu. Namun begitu, saat aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana tempat yang begitu kurindukan ini, ketimbang mengingat hal memalukan tentangnya, ini jauh lebih baik!
Di satu sisi aku lega, karena ternyata kembali ke pondok ini tak seseram dan secanggung yang kubayangkan di hari-hari lalu. Namun begitu, di lain sisi aku merasa seperti seorang pecundang, karena tak mampu merealisasikan tekad dalam diriku untuk tak kembali ke vila ini selamanya.
Ah ..., biarlah ....
Lebih baik aku menjadi pecundang yang bahagia, ketimbang menjadi pemenang atas janji, namun tak punya apa-apa untuk dijadikan sumber kebahagiaan.
Anggaplah aku telah menghentikan waktu untuk sementara, karena tak mungkin aku bisa bergumam sebanyak itu ketika Ria sedang melempar pertanyaan padaku.
Jika saja saat itu Ria tak buru-buru menggenggam jemariku erat, yang terjadi saat ini mungkin adalah keheningan dan keasyikan seorang diri dariku yang entah akan berlangsung sampai kapan.
"Kakak ini ...., lagi-lagi melamun gak jelas ...." Ria mendekatiku. Tatapannya serius, sedangkan diriku hanya menoleh datar sebab pikiranku yang masih keluyuran asyik sendiri.
Aku diam hingga beberapa saat. Dan setelah itu entah mengapa, aku seketika seperti hendak menggelakkan tawa.
"Pffffftttt ...."
"Heh? Malah ketawa?" ucap Ria. Ia terus mengamatiku heran.
"Kakak 'napa? Lagi ada sesuatu yang buat kakak senang?" Ria bertanya.
"Hahahaha ... yah ..., mungkinlah begitu."
"Oh ...? Nani, nani? Apa tuh?" Belok matanya padaku, pertanda rasa penasaran yang benar-benar nyata.
"Nanti saja, ya! Ayo sekarang kita ketuk pintunya!" Balasku semringah, tindakan yang menyebabkan gadis berseragam sekolah dilapis kardigan hitam itu kembali cemberut,
Dan diam begitu saja.
Kami pun lanjut berjalan mendekat ke arah pintu vila ini. Dengan tanpa mengetahui kisah sebenarnya mengenai aku dan vila ini, Ria jadi orang yang seakan jadi tourguide-ku dalam mengantarkan bingkisan ini. Aku menyerahkan urusan mengetok pintu pada dirinya sepenuhnya, sekalipun aku sendiri yang mengajak.
Ria sampai di depan pintu. Dengan tanpa keraguan, Ria pun mengetuk pintu itu dengan ruas jari-jarinya beberapa kali. Sementara, aku berdiri beberapa jarak di belakangnya, masih curi-curi kesempatan menatap sekitar.
Layaknya beribu-ribu kisah tentang pengetokan pintu di seluruh dunia, tak mampu kami mengundang reaksi si pemilik vila dalam sekali ketukan. Hal ini membuat Ria mesti mengulangi proses yang sama, semakin kuat demi membuat si Mitsuyoshi itu membuka pintu.
"Sumimasen ...." Ria bergeming di depan pintu.
"Apa ada orang ...?" Ria mendekatkan telinganya ke pintu, mencari-cari gelombang suara yang mungkin saja akan merambat lewat permukaan pintu. Dan betul saja, tak butuh waktu lama,
"Haii ... Sebentar ...."
Dan betul saja, tak butuh waktu lama, suara pun terdengar samar dari dalam vila, menyuruh kami untuk menunggu. Kami berdua pun tersentak serempak kala mendengarnya.
Setelah menunggu sebentar, saat-saat yang mengundang kembali gejolak batinku pun tiba. Hari ini, sore ini, dan kurasa di menit ini juga, aku akan kembali bertemu dengannya: orang yang sempat jadi dilema, objek ketakutan sekaligus kebencianku dalam seminggu belakangan.
Aku tak memalingkan sedikit pun mukaku dari arah pintu itu ketika ia terbuka penuh di depan kami berdua. Kakiku gemetar, namun tanganku masih erat menggenggam bungkusan. Pintu itu, dibaliknya, sosok Mitsuyoshi tampak jelas tak terbantah. Saat itu aku hanya berdiri di tempatku, menatap dirinya dengan seribu ekspetasi, diam dengan seribu maksud.
"Iya? Siapa, ya?"
Suara itu,
Saat kudengar suara itu terpatri, tambahlah nyata rasa serta ingatan masa laluku saat pertama kali bertemu dengannya.
Saat itu ....
Aku yang pingsan akibat terjatuh dari sepeda dan lalu terbangun tepat di pondok vila ini ....
Mitsuyoshi Kaito, sosoknya sendiri menanggapi kedatangan tamu sebagai hal yang mengejutkan, nampaknya. Maklum saja, mungkin karena vila ini yang memang terpencil. Jauh dari masyarakat, sehingga jauh dari kemungkinan pintu vila terketuk.
Semua terasa dari bagaimana rusuhnya langkah kakinya ketika hendak membuka pintu tadi, dan juga saat ini bisa terlihat dari bagaimana gelagat serta gesturnya yang ... minim sekali. Pun walau begitu, Mitsuyoshi-san nampaknya masih mampu menahan ekspresi alami yang mungkin saja bisa terlepas dari wajah seorang terpencil ketika berada dalam situasi 'akhirnya aku menerima tamu setelah sekian lama'.
Yah, setidaknya ....
Setidaknya itu bertahan konsisten sampai .... kedua mata itu menoleh pada sosok lain di kejauhan yang tak pula jauh. Jelas di belakang Ria, di sini lah aku, di sinilah kedua matanya itu tertuju. Aku menatap dirinya, dan pria itu pun terperangah setelah kami saling bertemu pandang.
"Narakawa-san?" ucapnya, tak sekejap pun mengalihkan pandangannya dariku.
Mendengar nama keluargaku keluar langsung dari bibirnya, rasanya seperti gelombang kejut yang langsung merangsak di antara bulu romaku tanpa basa-basi lagi. Aku spontan membungkuk kecil padanya, dan lantas mengucapkan salamku.
"K..Konnichiwa, Mitsuyoshi-san."
Hanya dua kata terucap, namun rasa canggungnya sudah merajalela ke sekujur tubuhku. Berat sekali rasanya ingin bicara. Namun begitu, aku tak boleh diam. Bila saja aku kembali membisu dan ciut kali ini, aku bahkan tak yakin mampu mengungkapkan tujuanku sebenarnya datang kemari. Meskipun aku punya Ria yang bisa jadi jubirku, namun kenyataannya, ini sesungguhnya adalah wewenangku untuk bicara dan menjelaskan pada Mitsuyoshi-san. Ini terkait aku dan keluargaku.
Aku pun lantas membungkuk kembali pada Mitsuyoshi. Aku melangkah maju, lebih dekat ke arah Ria dan juga dia. Aku pun turut mengangkat bingkisan yang kupegang ke depan dadaku.
"Mitsuyoshi-san, maaf sudah mengganggu waktumu."
"Ah, t..tidak, kok. Sama sekali tidak," ia melambai-lambaikan telapak tangannya.
"Aku datang kemari, atas suruhan kedua orangtuaku," ujarku lagi.
"Mereka .... Terlebih ayahku ...."
Aku terdiam sejenak.
"Anu ... aku ... ayahku, kalian sudah saling kenal, bukan."
"Yah, kau memang benar."
Tak lama, aku pun menjulurkan kedua lenganku ke depan, menuju ke arahnya pelan.
"Bingkisan ini ...."
"Ini dari keluarga Narakawa, untukmu."
"Eh?"
Pria itu menatap bungkusan yang kuserahkan ke hadapannya. Begitu serius raut wajahnya saat itu, seakan tak menyangka bahwa ia akan mendapatkannya.
"Tolong diterima, Mitsuyoshi-san."
"Ayahku, ibuku ...."
"Bahkan aku, kami sangat berterimakasih atas bantuan darimu."
"Arigatou gozaimasu."
Dan untuk kesekian kalinya, aku pun kembali membungkuk pelan padanya.
Mitsuyoshi-san tak langsung membalas kata-kataku. Di tengah-tengah diriku yang sedang membungkuk sembari menjulurkan bingkisan itu, ia hanya menjemput ramah bingkisan itu dari tanganku. Ia tak banyak bicara. Menolak ataupun sungkan dirinya tak sekalipun.
Aku kembali tegap dan memandang ke depan dengan maksud memastikan bingkisan itu telah sampai ke tangan yang tepat, walau aku tahu itu tak akan perlu.
Dan dengan ini, tugasku pun selesai. Perasaan orang tuaku telah tersampaikan padanya melalui diriku pada sore hari ini. Untuk mengakhiri waktuku di sini, aku pun lantas membungkuk lagi pada Mitsuyoshi-san, dan lalu permisi pulang.
Namun, lagi-lagi apa yang kurencakan untuk kuperbuat kembali terbentur sesuatu.
Selekasnya aku selesai membungkuk, suara Mitsuyoshi terdengar kembali memanggil namaku. Kali ini diucapkannya sembari tersenyum padaku.
"Narakawa-san ...."
"Boleh tunggu di sini sebentar?"
"Ada yang ingin aku berikan padamu."
...^^...
...---- PECUNDANG BAHAGIA ----...
To be continued ....