Ha

Ha
5. Kehidupanku.



[Alex]


Rotiku sudah habis, saatnya memanjat dinding biru sekolah ini. Jam 7 lebih 10 menit, terlambat memang kebiasaan para guru dan murid sini. Jadi aku tenang saja terlambat ke sekolah.


"Hup!"


Tak bergaya melompat tinggi seperti kemarin, aku menggunakan cara klasik, memanjatnya lebih tak bersuara. Semakin tak bersuara, semakin baik.


"Hei!" Namun, tetap saja tak'kan berguna melewati tembok sekolah tanpa suara sekalipun kalau di dalamnya terdapat salah satu anggota OSIS yang paling susah di ajak kompromi. Kak Juliyanto, abang-abangan kelas 3. "Kenapa kau terlambat dan menerobos lewat sini?!"


Aku turun lebih dulu. "Aku punya alasan, aku mencari nafkah tambahan untuk memenuhi kebutuhanku,"


"Halah, banyak alasan!" ia menamparku. "Push up dua puluh kali! Lalu ikut aku ke Pak Amad,"


Anak anjing... Kuturuti saja agar tak bertambah masalahku. Sesudah itu aku diseret olehnya ke ruangan Pak Amad, Pak Amad pun baru datang dan menaruh tasnya di meja, "Ada apa ini?"


"Saya menemukan anak ini menerobos tembok di belakang sekolah,"


Wajahnya langsung mengerut, "Kenapa kamu melakukan itu, hah?! Mau jadi pencuri?"


"Pak Supri gak akan ngebiarin saya masuk dengan mudah dan damai," jawabku santai. "Lagipula, saya punya alesan untuk itu,"


"Apa alasanmu?"


"Aku mencari nafkah sendiri, hitung-hitung aku membantu keuangan ayahku,"


"Sok-sokan kerja," timpalnya meruncingkan bibir, "Memang kerja apa kamu?"


"Aku nganter koran ke para langganan pagi-pagi sekali," aku mengeluarkan gajiku tadi pagi sebesar lima puluh ribu. "Ini gajiku sebagai bukti,"


"Tapi mencari uang itu kewajiban Ngkohmu,"


"Beliau ayahku sekarang," kutatap nyalang matanya, yang sedari tadi sudah menatapku nyalang pula.


"Kamu boleh saja mencari uang sendiri, tapi kamu juga tak bisa menyepelekan waktu," ia duduk di singgasananya. "Aku hargai kamu yang sudah bisa mencari uang sendiri, bapak dukung malah. tapi karena caramu yang tak sopan memasuki sekolah dengan memanjat dinding, bapak terpaksa menghukum kamu. Bersihkan sekolah sesudah pramuka nanti!"


"Hahh...," kuputar bola mataku, mengarah ke si Juliyanto. "Terus gimana dengan kakakku ini?"


"Kenapa?"


"Mengapa ia ke belakang sekolah? Untuk apa?"


Pandangan Pak Amad sekarang menuju ke Kak Juliyanto, "Aku..., ehh...," ia menggaruj kepalanya.


"Secara, di belakang sekolah gak ada apa-apa,"


"Aku berpatroli secara mandiri," ia memberi alasan.


"Hahh..., sudah kubilang jangan bergerak sendiri," ia menepuk dahi. "Kamu harus izin ke ketua, si Mahsun, agar ia bisa konfirmasi padaku. Lagipula kelas 3 pagi ini juga ada pelajaran kan? Gurunya tak berhalangan lagi. Masalah patroli biar bapak yang urus. Nanti kamu juga akan membersihkan bareng Alex sesudah pramuka nanti,"


Ia mengeluh pelan. Untungnya Pak Amad tak sebrutal hari-hari lalu. "Sekarang kembalilah ke kelas, guru kalian mungkin sudah menunggu di kelas."


Kami keluar ruangannya. Ia belok kiri menuju ke kelasnya yang tak jauh dari kantor ini, sementara aku ke arah kanan menyusuri koridor untuk naik ke lantai 2, menuju ke kelasku pula. Biasanya aku melewati jendela WC perempuan yang berada di lantai 2, langsung ke kelas yang letaknya dekat dari sana. Untungnya selama ini aku tidak menemukan seseorang yang sedang buang hajat di WC itu, kecuali kemarin dengan Fina. Itupun ia sebenarnya dari WC yang ada di sebelahnya.


Mengapa WC itu biasa kupakai jalan untuk masuk? Sebab WC yang biasa kupakai mendarat itu sudah kurusak dan hanya aku yang bisa membenarkannya. Para tukang WC yang sudah dipanggil ke sekolahpun tak bisa membetulkannya, sehingga seorang perempuan yang sedang kebelet sekalipun akan berpikir 2 kali untuk buang hajat disitu.


Aku memasuki kelas, tidak ditutup pintunya. Aku tahu Bu Jaraya sudah ada di dalam mengajar seni budaya. "Mengapa kamu telat?"


"Tadi saya ada urusan sama Pak Amad,"


"Hahh..., duduklah,"


Aku beranjak duduk, beberapa orang menatapku berjalan ke belakang.


"Hei, kau duduk di depan, bersama Amel. Ibu mau kamu memperhatikan."


"H-HE?!"


"O-oke,"


Aku beralih ke depan, ke bangku sebelah Amel. Amel ternganga memberiku jalan untuk duduk di bangku di sebelahnya, dekat jendela, bangku yang biasa diduduki Fina, kakak menyebalkannya itu.


"Baik, kita lanjutkan materinya. Borobudur merupakan...,"


Mau di depan, ataupun dibelakang, sama saja aku tidak mendengarkan. Ayolah, itu sudah materi lama yang kutahu dari anak gang yang dulu mengajariku saat aku masih kelas 3 SD. Ia abanganku, sudah meninggal sekarang karena penyakit. Saat itu ia sudah kelas 2 SMA, menyelingi materi anak SMA dalam mengajariku matematika dulu. Cukup lucu mengingatnya mendidikku dengan materi pelajaran yang tak sejalur, namun itu berguna sekarang.


"Sesudah ini kamu pindah ke belakang," pinta anak yang duduk di sebelahku, sambil menekan nada bicaranya agar tak terlalu keras, ia mencoba mengintimidasi.


Aku melenguh pelan, bodo amat dengannya.


"Masuk ke tetangganya, Prambanan, yang menurut legendanya dibuat hanya dengan 1 malam..."


Ayolah, aku bosan. Aku mulai terbengong menatap Bu Jaraya yang menjelaskan panjang lebar tentang percandian.


"Paham?"


"Paham,"


"Ada yang ingin ditanyakan?"


Pasti tak ada yang menjawab, pura-pura paham agar tidak melamakan keberadaannya disini. Namun nanti akan terlihat saat ujian, siapa yang benar-benar paham dan siapa yang tidak.


"PR akhir pekan, anak-anak,"


Anak-anak mengeluh pelan, entah nanti aku akan mengerjakannya atau tidak. "Rangkum materi tentang candi-candi di Indonesia,"


Oh, kemungkinan aku kabur pada pelajaran ini pada hari Senin adalah 85%.


"Oke, kita sudahi pelajaran hari ini." Ia mengemas barang-barangnya. "Selamat belajar ekskul pilihan kalian,"


Ia pergi meninggalkan kelas. Kamipun mengemasi barang-barang kami. "Selamat akhir pekan semua...!!!" Seru Laksono. Terkadang ia pelawak paling lucu yang ada di sekolah, terkadang pula ia menjadi badut paling tak laku di sekolah.


"Apa aku harus pindah ke kursi belakang?" tanyaku pada Amel.


"Lain kali, kamu harus pindah ke belakang!" Bentaknya, raut wajahnya sangat berapi-api, memerah. "Jangan sekali-kali lagi kamu duduk di sini."


"Oke," agar cepat dan tak berlama-lama debat dengannya. Aku akan kabur lewat jalur biasa, keluar sekolah. Aku tak memilih ekskul apapun sejak diberikannya formulir pendaftarannya saat baru 3 hari aku bersekolah di sana, malas. Lebih baik menghabiskan rokok di belakang tembok sekolah, menunggu selesainya *** hari ini ketimbang mengikuti ekskul sialan itu.


---


Sesudah ekskul pilihan, dilanjut ekskul wajib, yaitu pramuka. Entah apa yang mereka pelajari di aula. Saat semuanya semangat berlarian keluar bangunan sekolah pukul 11, akupun keluar pula dari persembunyianku. Sudah 5 batang yang kuhabiskan dan beberapa minuman kemasan cup. Saat keramaian itu berhamburan, gerbangnya pun dibuka oleh si Supri, memperbolehkan para siswa pulang. Namun aku malah memasukinya, dengan damai. "Kenapa kamu balik lagi?"


"Aku lupa ada urusan," jawabku sambil melangkah pergi tanpa menunggunya menjawab.


Aku masuk ke bangunan kelas itu lagi. Mencari Pak Amad di ruangannya. "Masuk,"


Aku membukanya. "Ada apa, Alex?"


"Hukumannya,"


"Oh iya, lain kali saja. Kumaafkan kesalahanmu kali ini," ia lanjut mencatat sesuatu. "Aku memaafkanmu karena kamu sudah bisa mencari uang sejak kelas 1 SMA, itu sudah lumayan bagus. Tapi lain kali bila kamu ketahuan melompati dinding lagi. Hukumanmu yang kali ini akan ditumpuk dengan hukuman yang nanti, paham?"


Aku mengangguk sambil bergumam pelan.


"Bagus, sekarang pulanglah!"


Aku keluar dari sana. "Tolong tutup pintunya!" kututup pintunya dengan lembut. Kemudian menyusuri koridor, menuju keluar bangunan. Peduli amat dengan omongannya Pak Amad, aku akan melakukannya lagi.


Kulewati tugu sekolah yang ada di lapangan depan.


"Hei, Alex!"


Aku menoleh, Kak Juliyanto ada di bawah naungan seng baja tipis yang menjadi genting parkiran motor. "Ayo kita bersihkan!"


"Kata Pak Amad aku gak usah," jawabku, "Aku udah dimaafin,"


"Lalu bagaimana denganku?"


"Ga tau, tanyain aja,"


Aku hendak melangkah pergi. "Hei, kemarilah!"


Hahh..., aku tak bisa menolak. Ia mengajakku ke belakang sekolah.


Srak!


Tiba-tiba ia mencengkeram kerahku, lalu membantingnya ke tembok. "Hm,"


"Ada apa, kak?" Tanyaku sok polos, namun tatapanku nyalang.


"Berani sekali kamu menyela Pak Amad tadi pagi," raut mukanya galak.


"Karena aku memang berani,"


Dak!


"Jangan membantahku!" ia menepuk tembok, ceritanya menakut-nakutiku. "Dan jangan membantah Pak Amad!"


"Kalau aku gak mau?"


Buk!


"Kau terima resikonya,"


Ia meninju pipiku. "Tawaran menarik,"


Kuhantam dagunya ke atas, membuatnya terpelanting 1 meter, lalu terjatuh pasrah dan meringis pelan. "Ayolah, baru pembukaan. Dan kakak sudah tepar? Padahal kakak yang membukanya lho,"


"Sombong sekali kamu!" Ia bangkit, rusuh hendak meninju hidungku. Aku mengelak dengan mudah, pukulannya mengenai tembok dan membuatnya sedikit retak. "Wah, pukulan yang kuat," mengingat tubuhnya juga ideal; besar dan tinggi.


Kubalas dengan pukulan. Pukulan biasa memang, namun jangan meremehkannya. Kubuat pelipis atasnya bocor dan pemiliknya jatuh berguling-guling. "Masih mau ngejajal?" kuregangkan otot-ototku.


Ia bergetar, berusaha berdiri dengan susah payah. Rasanya pusing pasti, aku pernah mengalaminya di jalur. "Sudahlah kak, kalau kakak lanjutkan, bisa tambah parah,"


"Tak'kan kuberhenti!" teriaknya. "FINA MILIKKU, KAU TAK BOLEH MENYENTUHNYA...!!!"


Aku tertegun, "GOBLOK...!!!"


Kali ini aku merangsek maju, menahan bogem mentahnya yang menuju ke perut, dan langsung menyayur perutnya berkali-kali.


BUK! BUK! BUK! BUK!


Hingga ia terlalu lemah untuk bernapas dengan normal sekalipun. "Udahlah,"


Aku menyentuh perutnya, fokus dengan luka dalamnya. Kuberi aura positif yang dapat menaklukkan sakit ringan, sebuah sugesti yang sangat nyaman. "Kau terlalu bucin garis keras, kak,"


"Lantas kenapa?" Jawabnya sambil sesenggukan sebab menahan nyeri walaupun itu termasuk lebay karena luka dalamnya sudah sembuh. "Aku mendengar kamu mulai mendekati Fina, aku tak mau wanita pujaanku disentuh lelaki lain...,"


"Hahh...," prihatin dengan kakak kelasku ini. "Silahkan aja kakak ambil. Aku ga pernah suka dia, malah benci. Dia di kelasku sok ngatur, padahal sendirinya juga tak teratur. Kalau aja tadi kuaslikan hantamanku, mungkin beda hasilnya."


Ia menangis tersedu-sedu, lebih karena malu dan shock, kurasa. Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini dulu. "Ini jadi pelajaran, jangan gegabah ngenilai sesuatu,"


Ia masih menangis, kubersihkan luka di kepalanya menggunakan air dan daun, "Nanti di rumah obati lukannya, bilang aja jatoh dari tangga terus kepentok tembok," bekas darahnya telah hilang. "Sudahlah kak, berhenti menangis. Atau aku ceritakan kejadian ini ke Fina?"


"J-jangan!" teriaknya lumayan keras.


"Makanya diem! Malu-maluin jadi laki, mana teriak 'jangan'-nya kenceng lagi kayak cewek yang lagi dibegal aja,"


Perlahan mereduplah tangisannya. "Sekarang pulang, lupain aja masalah ini, aku juga bakal lupain,"


"Awas kamu, kalau sampai mendekati Fina lagi!" Ia mengacung tinjunya sambil melangkah ke arah lain, tersandung batu, jatuhlah ia. Kutarik napas panjang. Akan susah mengurus anak beban seperti dia. Aku berjalan melewati jalur lain, mengitari bangunan sekolah. Ini gang belakang yang biasa kupakai untuk kabur. Sementara Kak Juliyanto tergopoh-gopoh lewat jalur tercepat. Saat punggungnya hilang dibalik kelokan sana, kupanjat temboknya. Aku malas bertemu Supri.


Dibalik tembok ini sebenarnya terdapat 1 rumah yang lumayan besar, namun tak berpenghuni lagi. Ini markasku sekarang, walaupun semarkas juga dengan seorang ibu-ibu penunggu di sana, aku menyimpan beberapa barangku, seperti buku-buku dan barang yang lainnya.


Aku mengecek semua benda-bendaku, masih lengkap. Ibu-ibu itu juga tak mau menggangguku, kami sama-sama damai, walaupun ia selalu bergantung dengan tali terkait di leher, di tempat-tempat yang tidak terduga. Seperti sekarang, ia bergantung tepat di dinding tua belakangku, catnya yang sudah terkelupas semua, raut wajah ibu itu sangat menyeramkan; rahang mulutnya yang sepertinya jebol menjadikannya melonjong ke bawah, wajah yang terdapat retakan-retakan, kelopak mata dan hidung yang kosong namun mengalir darah, rambut terurai panjang, dan baju putih yang lusuh. Ia menatapku, kuiseng balas menatapnya. Kemudian aku keluar dari sini, menuju jalur besar.


Kota industri memang selalu sibuk, dalam berbagai hal, termasuk jalanannya. Tak kalah ramai dengan ibu kota, hingga aku terpaksa menunggu beberapa menit agar bisa menyeberang dengan aman.


Bosan dengan angkot, kukejar sebuah truk pengangkut mobil-mobil. Kapasitasnya penuh, aku menyelinap masuk lewat belakang, padahal truk ini berada di lajur kanan, lajur kebut.


Angin sepoi-sepoi menerpaku, membuat rambutku terbang menari. Perasaan ini, membuatku rindu momen bersama kawan-kawan gangku membajak truk untuk berangkat tarung.


Kutarik napas dalam-dalam, bau knalpot berbagai kendaraan menyogok hidung. Aku merasa hidup kembali.


Melewati lampu merah dan kompleknya Fina tinggal. Jauh 1 kilometer ke sana, kulompat dari truk itu, mendarat di para-para jalan. Sedikit terseret kecepatannya yang lumayan. Akhirnya aku benar-benar berhenti, tepat di depan jalan menuju desaku. Kuseberangi jalanan besar, memesan ojek, kemudian menyusuri jalanan aspal selebar 3 meter yang menyibak sawah luas. Desaku dikelilingi oleh persawahan dan perkebunan yang luas. Maklum, desaku dan 3 deret desa lainnya di belakang memang menjadi salah satu penghasil pangan di kota, dan 1 desa yang paling belakang sana memiliki tambak ikan yang mumpuni di pesisir pantai. Namun begitu tak semua penduduk menjadi petani, hanya mayoritas saja.


Dengan adanya sawah seluas ini, rasanya kehidupan antara desaku dan kota terpisah. Desaku seperti membuat kehidupannya sendiri. Pasar-pasar, sekolah, berbagai motel dan homestay kecil, tempat ibadah, PLN dan tower-tower pencahar internet, kantor koran, toko-toko penjualan yang spesifik menjual 1 kebutuhan barang, pemabrik rumahan maupun profesional, hampir semua ada. Desaku memang ramai, dan yang paling maju di antara 3 desa lainnya di belakang, karena yah bisa dipikirkan, desaku ini menjadi jalur perantara dengan dunia luar. Tahulah nasib menjadi sebuah jalur seperti apa, pasti lebih maju agar orang-orang yang ingin melewatinya bisa mampir dan berbelanja dulu, kalau bisa bermalam dulu. Agar bisa menjadi penghasilan uang tambahan selain bertani.


Pemandangan sawah digantikan oleh rumah-rumah dan pertokoan, sudah lumayan dekat. Para supir ojek kenal betul dengan Ngkoh Yu Shin, sang mantan ketua desa yang bijak. Kubayar ongkosnya, lalu melangkah masuk.


Kling-kling.


"Aku pulang...,"


"Nah..., gini-o, owe suka, tidak mengagetkan,"


Aku tertawa kecil. Ngkoh saja yang terlalu lat--


"Abang Alex...!!!"


Seorang anak datang padaku, dari pintu sekat toko dengan rumah. Inilah cucu Ngkoh Yu Shin, Maria. "Maen yok...!"


"Asik...!!!"


"Panas-panas lu pengen maen layangan-o?" tanyanya menyibak koran. "Ntal lu jadi item,"


"Bialin!" tak cucu, tak kakek, sama saja cadel "r". "Maly mau jadi coklat sawo kayak Papah,"


"Haiya..., punna cucu aneh-o," biasanya anak perempuan ingin terlihat cantik dan dikata putih, ia malah sebaliknya, ingin punya kulit coklat sawo sama seperti ayahnya yang tampan. "Dahlah. Lu Alek makan dulu-o, sudah ada di atas meja,"


Kujawab dengan anggukan, Mary dengan nada cemprengnya mengancamku akan mencubit bila sesudah berganti baju tidak tidak makan dengan cepat agar bisa segera main. "Hooi, takutnya...," aku tertawa.


"Iihhh… abang yang benel!"


Hahh..., aku merasa "hidup" kembali.


---


Jam 5 sore, tepatnya waktuku berganti shift kerja dengan Ngkoh. Aku yang berinisiatif membantunya menjaga toko, aku tak mau menjadi bebannya yang tak bisa melakukan apapun. Kukeluarkan HP baruku, yang sangat besar dari HP-ku dulu dari yang kuingat.


Ini canggih, sangat canggih. HP keluaran terbaru yang dibandrol 12-13 jutaan ini memiliki spek yang sangat kencang, ditambah kameranya yang sangat tajam, entah berapa megapixel. Pokoknya HP ini merajai pasar teknologi bulan-bulan ini, menjadikan nama perusahaan buah kroak ini naik kembali, membanggakan produknya. HP ini telah menebus dosa-dosa rumah produksinya yang membuat kecewa para pengguna setianya beberapa waktu lalu.


Ditambah lagi HP ini tidak mengenal RAM seperti si makhluk hijau. Ia menggunakan ruangan penyimpanannya yang sangat besar untuk ruang kerja komputernya, menjadikannya HP dengan inovasi terbaru nan spesial, yaitu kuat membuka aplikasi-aplikasi berat berapapun itu asalkan tidak sampai memenuhi ROOM-nya. Dibanding dengan HP-ku dulu yang masih menggunakan keyboard biadab yang sangat susah bahkan hanya untuk menulis pesan SMS saja, HP ini hanya akan menggilasnya bila saja ia punya roda ataupun kaki walaupun itu tak membuatnya tergores sedikitpun.


Itu kiasan sarkasme, bahwa HP-ku dulu kalah jauh dibanding ini. Ayolah, hanya orang bodoh yang masih tak paham itu kalimat kiasan.


Mary sudah mandi setelah ia disuruh berhenti bermain bersamaku di lapangan dekat sini. Ia sudah cantik dan manis kembali, jadi ia tak mau lagi berkeringat, ia memainkan tabletnya di kamar bersama Ngkoh.


Hahh..., kutaruh HP di bawah meja. Mau seberapapun bagus dan canggihnya gadget yang kupegang, tak'kan membuatku bahagia. Pasalnya dari dulu aku memang tak suka teknologi, aku mempunyai HP pun warisan dari Babeh setelah 2 tahun ia pakai dan dia membeli yang baru, dan juga aku memintanya hanya untuk berkomunikasi saja dengan orang lain. Tidak lebih.


Bosan melanda, suara detik jam dindingpun terdengar jelas. Jadi teringat masa lalu...


"MAJU LU ANJENG!!!"


Tawuran, mabuk, prostitusi, sedikit ganja, berjudi, mencuri, fitnah, menyiksa dan membunuh, menyembah setan, sudah kujajal semua hal-hal yang berbau dosa. Apalagi rokok, benda itu sudah menjadi jajanan bagi kami.


Jiwaku sangat kotor saat itu, namun aku menikmatinya, seolah memang sudah kewajiban seperti itu. Tetapi, masa-masa itu mulai hancur ketika aku menyiksa sampai mati pentolan gang sebelah.


"Hidupmu akan penuh dengan penyesalan...!!!"


Katanya bersimbah darah, tergeletak di aspal waktu aku bertarung dengan gangnya dan aku menang setelah mengalahkan beberapa anak buahnya dan kuajak By One dia. Saat itu aku malah tertawa, balas berucap bahwa hidup di dunia ini saja memang sesungguhnya suatu penyesalan. Kutusuk dia dengan katanaku, mengakhiri penderitaanya.


Malangnya, ia punya wapak. Kutukannya benar-benar menimpaku. Diawali dengan kehilangan orang tuaku. Kalimat yang kuucapkan untuk membantahnya malah berbalik menusukku. Kuharap kehidupan ini segera berakhir.


Kring-kring...


Aku mengambil HP-ku, meniliknya. Notifikasi pesan WA dari Dewi. "Bagaimana dengan hadiahku kemarin?"


"Bagus sekali, terima kasih," aku agak kaku menjawabnya. Ia memakai gaya bahasa yang berbeda dari kehidupan aslinya.


Ia tak menjawab lagi, namun masih online. Akupun beralih ke aplikasi lain, aku lupa membuat akun IG dan FB.


"Hei, apa kamu masih di sana?"


Akunku sudah jadi, dan aku mengikuti beberapa orang yang lumayan menarik. Notif darinya muncul kembali, kupencet untuk beralih cepat ke WA dan menjawab. "Ya,"


"Ooo, hehehe,"


Percakapan kamipun dimulai. "Kamu pasti lagi gabut"


"Hehe, iya. Kok kamu tahu?"


"Oh aku tahu semuanya"


Ia balas dengan emot tertawa ngakak hingga termiring-miring, padahal aku berniat sarkas. "Kamu bisa mengerjakan tugas rumah kan?"


"Iya sih, tapi itu sudah dikerjakan oleh bibi Nuy"


Dengan cepat aku menangkap bahwa ia anak orang kaya. Maksudku benar-benar orang kaya, "Kamu bisa membantunya, kasihan Bibi Nuy"


Mobil Mercy kemarin, "hadiah kecil" ini, ditambah ART (Asisten Rumah Tangga). "Tapi dia sudah menyelesaikan semuanya kok" ia memfoto dirinya sendiri sedang berebah santai di sofa yang bisa digelar menjadi kasur bersama seorang wanita paruh baya di sebelahnya, dengan pose seperti sedang menikmati sunset di atas pasir pantai, memegang remote TV memelototi sinetronnya. Tak diragukan lagi bahwa ia anak orang kaya. "Santuy..."


"Wah parah sih" aku melunakkan level bicaraku. "Asisten ikut nonton santuy sama anak majikannya"


"Woiya jelas dong. Ia sudah bekerja keras hari ini" ia menambah emote jempolnya. "Lagipula dia sangat gaul lho"


Bagus, aku mendapat hatinya untuk terus mengobrol denganku. "Seberapa gaul?"


"Dia tahu sinetron-sinetron hits yang ada Aldebar-nya, dan beberapa sinetron yang ada Ammar dan si Boy-nya, Si Gantengkuhh...><"


Dasar artis sinetron. "O iya, kenapa kamu memutuskan memberiku HP ini?"


"Karena..." dasar sok-sokan pemalu. "Rahasia"


"Hahh... terserah kamu aja, yang penting makasih banyak dariku"


"Santai, Lex, aku memang ingin memberimu sesuatu"


"Sebentar ya, ada pelanggan"


"Oke"


Aku menutup acara mengobrol itu. Aku mulai butek, namun minimal aku sudah menarik hatinya agar ia mau mengobrol denganku. Aku bisa mengambil beberapa informasi darinya.


Hahh..., aku bangkit, melangkah keluar. Melihat pemandangan sebentar.


Walaupun hanya di mulut pintu, aku sudah menikmati pemandangannya. Jalanan aspal yang kroak, beberapa pengendara motor melintas, beberapa tetangga melakukan aktivitasnya masing-masing di luar, aku menyapa Pak Budi yang rumahnya berhadapan dengan rumah Ngkoh. Ia sedang mencuci motornya.


Hahh..., aku suka ketenangan ini.


Aku jadi menginginkan beberapa hal.


---


Besoknya, hari Minggu. Pekerjaanku mengantar koran libur. Tak banyak yang kulakukan, sesudah berolah-raga tadi pagi aku membeli sarapan di warung Bu Maimun, "Sebungkus, lauknya pake telor aja,"


"Oke,"


5 menit berlalu, setelah mengantri 2 orang yang datang lebih dulu, kugondol bungkusan sarapan dari sana, membawanya ke saung sawah Pak Budi, tetanggaku yang seorang petani. Disana ada beberapa teman petaninya yang sedang persiapan sarapan bersama sebelum bekerja.


"Hei, nak," sapanya saat kedatanganku. "Kenapa kamu sarapan ke sini?"


"Aku mau suasana pagi di sawah," kataku sambil ikut duduk, "Aku bawa nasi telor,"


"Bagaimana dengan sarapan yang dibuat Ngkoh?"


"Tenang, tadi pagi sekali aku yang memasak. Ngkoh pagi ini tinggal makan masakanku, tadi juga aku sudah bilang ke beliau aku mau beli makanan saja dari luar."


"Ehh, tapi bapak yang tidak enak, nak,"


"Tidak apa-apa, pak." Aku tersenyum. "Lagipula semakin ramai semakin meriah kan?"


"Iya sih," ia ikut membantu menabur nasi di atas daun pisang yang telah dibersihkan, "Oke, kamu benar nak, ayo makan. Gabungkan saja makananmu ke sini,"


Aku menurutinya. "Selamat makan…,"


Kamipun sarapan, dengan beberapa obrolan dan candaan, sarapan menjadi lebih spesial. Kebersamaan memanglah indah. Ini yang kuinginkan.


Kami mengobrolkan banyak hal. Mulai dari permasalahan sawah dan panen, diam sejenak, diskusi harga beras di pasar, diam sejenak, hingga topik ini.


"Motor si Budi mengkilap banget, cuy,"


"Jelas dong, motor kesayangan harus selalu dicuci,"


"Lebih sayang motor ketimbang istri,"


"Hahaha…,"


Kami tertawa renyah, tinggal beberapa remah nasi di sana, dikumpulkan kembali lalu dimakan hingga benar-benar habis. "Sudah habis, mari bekerja,"


"Ayo!"


Kamipun membereskan sisa-sisa makanan kami.


"Kalau begitu aku akan pulang," kataku sesudah semua beres.


"Hm, kamu tak kau ingin menjajal bersawah?" Pak Budi menatapku sambil memanggul cangkulnya.


"Tidak, lain kali aja,"


"Hahaha…," ia tertawa lebar. "Suatu saat kamu akan membutuhkan ilmu tentang percangkulan tanah,"


"Hehe, aku akan ingat itu,"


Akupun berlalu dari sana. Tinggal 2 hal lagi yang kuinginkan.


Pulang ke rumah, disambut oleh pertanyaan Ngkoh, "Hoi, lu olang tadi salapan di mana?"


"Di saung sawah Pak Budi," jawabku.


"Haiya, kenapa ga salapan di lumah?"


"Lagi pengen Ngkoh,"


"Haii…, kau melepotkan Pak Budi-o,"


"Ya nggak lah ngkoh, aku bawa sarapan sendiri, nasi telor Bu Maimun. Di sana juga sesudah sarapan aku bantuin beresin kok."


"Haiya, tetep aja-o,"


"Hehehe, maap,"


Ia menghela napas, terduduk perlahan di kursi kasir sambil membuka koran paginya. Koran langganan yang setiap hari datang kepadanya bukan aku yang mengantar, itu diantar oleh senior kerjaku. Agar aku tak ketahuan bekerja. Lebih baik kurahasiakan.


"Eh iya, kemana Mary?"


"Dia masih tidul-o, kayak beluang. Keganggu dikit ngamuk,"


Aku tertawa lebar, "Memang beruang kecil," mungkin lain waktu aku bermain dengannya.


Aku pergi ke gudang--maksudku kamarku. Mengeluarkan dan mencoba beberapa fitur HP-nya, masih sedikit kaku aku menggunakannya. Aku menjajal kecanggihan internet, mulai dari membuka fesbuk yang kalau dulu harus dibuka lewat komputer, menelusuri beberapa hal yang ingin kuketahui, memunculkan tab samaran terbaru dan berujung membuka situs bokep. Lama tak memiliki HP aku sedikit gaptek.


Setelah mendownload beberapa film biru, kupergi mandi. Setelah itu aku tidur untuk mengisi tenaga, kembali mengais rezeki sesudah ini.


---


"Hadeh…, ya, sampe,"


Hampir jam 3 sore, aku berhenti di depan rumah Fina, dengan mobil bak sampah yang penuh. Sebelumnya, saat aku mengambil sampah bersama Bang Supri, aku menemukan Amel yang celingukan di suatu jalan yang sepi jauh dari sini, kubawa ia pulang saja. Kasihan kalau dibiarkan.


"Makasih," iapun membuka pintu mobil, dan membantingnya dengan kencang. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Kenapa sih dia?" Tanya Bang Supri yang barusan memberinya sedikit tempat jok mobilnya untuk anak itu.


"Ga tau, bang. Dia emang ga suka aku,"


Kuputar-balikkan mobil ini, keluar dari kompleks ini, menuju ke TPS. Entahlah, saat aku menanyainya mengapa ia bisa berada di situ ia malah tak menjawab, malah balik membentak minta tolong bahwa ia tersesat. "Dasar cewe, ga bisa ditebak isi hatinya," Bang Supri tertawa kecil. Aku terkekeh. "Mungkin dia suka ama lu Lex, cuman dia ga mau ngomong jujur,"


"Anjing…," jawabku hampir tertawa. "Cewe macam gitu mana suka sama aku? Liat dari jarak 5 meter aja nyalang tatapannya."


"Hahaha…," ia mengambil sebuah rokok untukku dan untuknya. "Kamu masih bisa mukul kan? Pukul aja dia,"


"Gua dah ga mau mukul orang lagi,"


"Hm," ia menghisapnya, lalu menyerahkan koreknya padaku. Kunyalakan rokokku. "Kamu boleh kuat, asal jangan kasar. Kamu boleh baik, tapi jangan lemah,"


"Quotes anak ep ep," celetukku.


"Tapi lumayan itu," katanya lagi sambil mengayunkan rokoknya. "Apalagi itu cocok buat lu yang kuat tapi mau keluar dari pertarungan,"


Aku menghela napas. Ada benarnya juga. "Lu masi sering gelut ga di sekolah?"


"Kalo ada yang ngajak aja gua mah," senyum banggaku merekah.


"Sering ada yang ngajak gak?"


"Kaga terlalu sih, baru akhir-akhir ini banyak yang ngajakin,"


"Oohhh…," ia mengepulkan asap ke luar jendela. "Berarti sekarang lu ga Sparing-sparingan lagi nih?"


"Kaga ah, buat apa juga,"


"Baguslah lu sadar," ia tertawa, aku hanya bergumam pelan.


Mobil berjalan cepat, berada di gigi 5, namun segera kuturunkan karena sudah hampir sampai ke TPS. Masuk, mengambrukkan sampah yang terkumpul di bak ke gunungan sampah, memarkirkan mobil, mengambil bayaranku, lalu pulang. Pekerjaan hari Mingguku telah selesai.


---


pindah ke wp