Ha

Ha
Intro



Matahari mulai menyinggung barat, ditemani beragam topik yang terus saja berputar di kepalaku dan setelah melihat suasana di luar, kuajak Babeh untuk pergi memancing serta memanasinya dengan mengajaknya bertaruh siapa yang mendapat ikan duluan. Demi hal ini aku sampai menolak ajakan teman-temanku untuk bermain sore ini demi bisa bersantai dengannya.


Kutaruh ember dan tongkat jaring dipinggir sungai yang bertanah merah gembur, Babeh mulai menyiapkan pancingan untuknya dan untukku. “Aduh, copot. Nak, bantu!” ujar Babeh saat tengah menyiapkan tali pancingaku. Tali pancinganku putus. Wajar, tali itu sejak setahun lalu belum pernah diganti. Kupegangi pancingannya dan Babehpun memasangkan tali baru yang dibelinya siang tadi di pasar. “Nah, jadi. Nih,” aku menerimanya dengan senang hati, kutancapkan tongkat Y-nya untuk penopang pancinganku, memasang umpan di kail, kemudian menceburkannya.


Di sini ramai, banyak teman-teman Babeh yang ikut memancing di sini—bahkan kami duduk di tepi mereka—, atau muda-mudi lain yang tak kukenali ikut memancing di sini di seberang sungai. Ini area pemancingan, daerah sungai bebas berada 50 meter dari sini. Wilayah itu biasanya dipakai oleh Emak-emak mencuci—termasuk Emakku—, atau teman-temanku memakainya untuk mandi bersama. Berbagai kekonyolan dan keseruan terukir di sana. Sementara di sini, aku mengukir otak dan masa depan bersama Babeh.


“Gimana sekolahmu?” Babeh memulai topik pembicaraan sambil mencemplungkan kailnya.


“Bagus, Beh,” aku menjawab sambil mengukir senyum hangat.


“Hoo,” Babeh mulai menyalakan rokok kreteknya, “Ada PR, gak?”


“Santai, Beh..., ga ada kok,” aku menautkan jari jempol dan jari telunjuk.


“Mantaplah,” tanggap Babeh, “Babeh takut amukan Emakmu, nak,”


Kami tertawa prihatin. Untung Emak di pasar tidak bisa mendengar ucapan Babeh di sebelahku, ia sedang bekerja. Emak adalah pemimpin rezim keluarga kami, yang bilamana ada yang bertentangan dengannya, maka akan digilas, siapapun itu. Buktinya, tahun lalu ia berurusan dengan para preman pasar, ia pukul mundur sendirian dengan sapu lidi dan mengusir mereka dari pasar. Hingga saat ini mereka masih tak mau berurusan lagi dengannya dan menjauhi wilayah pasar. Emak memang terdabes!


“Hahh...,” Babeh mengulur napas. “Dunia ini, terkadang babeh bingung dengan dunia ini,”


“Kenapa beh?” tanyaku.


“Ya..., begitu,” Babeh menggaruk hidungnya, “terkadang bikin babeh seneng, kadang bikin sedih, kadang bikin kesel. Babehpun sebenernya ga terlalu berharap ama dunia sih, cuma ya..., kenapa banyak orang yang nyari dunia? Apa indahnya dunia? Padahal tetep aja tuh kadang-kadang bikin mereka sedih, kadang bikin mereka seneng. Tapi kan gak selamanya seneng kan?”


“Hmm..., iya ya,” timpalku.


“Kalo yang babeh rasain ni ya, dunia tuh cuma banyak janji manisnya doang, ga berbobot lagi. Contoh ni ya, kalo orang, berangkat pagi, pulang sore, dijanjiin gaji ga seberapa. Contoh yang langsung kena tuh,”


Ini membuatku semangat, “Contoh lain, banyak orang judi, dijanjiin menang banyak, tapi liat, yang ada malah tekor. Malah nangis tuh di rumah.”


“Paham, beh,”


“Bagus,” ia mengacungkan jempol padaku, aku tertawa jaim. “Umpanmu dimakan tuh,”


“Oiya!” kenapa aku baru menyadari kalau kailku bergerak? Payah sekali. “Wah berat nih, pasti gede!”


Dengan sekuat tenaga kutarik senar pancingku ke darat. “Ciaaatt...!!!”


Brush...


“Ye—lah...?!” ikannya kecil sekecil gempalan tanganku, seleberasiku gagal. “Jaring mana, beh?!” tak apalah, yang penting dapat. Babeh menyerahkan tongkat jaring padaku, kemudian kugunakan untuk mengambil ikan yang memberontak ingin kembali ke air. “Yes!” kukepalkan tangan ke atas.


“Katanya bakal besar ikannya,” Babeh melipat tangan.


“Biarin lah, yang penting dapet,” aku tersenyum lebar, sementara Babeh hanya terkekeh kecil. Kuletakkan ikannya ke dalam ember. "Aku menang, beh...,"


Ia mengiyakan sambil terkekeh pelan. Kududuk kembali kemudian memasang umpan baru, “Lumayan buat makan malem,” cetusku.


“Ya,”


Kubuang kail ku ke sungai kembali. Lalu kami kembali mengobrol santai seputar Emak hingga menjelang maghrib. Sesekali kami tertawa hingga terbahak-bahak karena celetukan Babeh yang kelewat pedas untuk didengar Emak.


Setidaknya, momen itu hanya tinggal kenangan 10 tahun lalu. Kenangan yang indah.


^^^