
[Fina]
Selepas mandi dan berpakaian, kulepas pengisi daya HP-ku, lalu turun ke bawah untuk sarapan. Amel sudah siap di bawah. "Ayo, kak, bantu Mamah!"
"Oke," kuhampiri mereka berdua yang sedang sibuk di dapur, Amel sedang mencincang sayuran, sementara Mamah sedang mengaduk nasi di wajan. "Apa yang bisa kubantu?"
"Kamu bisa membuat jus mangga dan wortel untuk mamah dan Papah," jawab Mamah tanpa melirikku. "Oh ya, seduhkan kopi hitam pula,"
"Siap," kuambil 2 buah wortel dan sebuah mangga dari kulkas, juga pisau dan tatakan, kemudian mencuci buahnya lalu mulai mengupas mangga, mengiris-irisnya, lalu memasukkannya ke blender bersama air dan sedikit es.
Sambil meremukan jus mangga kusiapkan wortelnya menjadi irisan-irisan, setelah dirasa lembut kutuangkan jus mangganya ke sebuah gelas, membersihkan blendernya sedikit, kemudian memasukkan potongan wortel ke dalamnya, bercampur air, beberapa keping es dan sedikit susu cair. Kublend hingga terlihat kental menggoda, barulah kumasukkan ke dalam gelas. Setelah itu, kuambil sebuah cangkir, lalu menyeduh kopi hitam sesuai arahan Mamah.
"Jadi," aku mengambil nampan, lalu meletakkan 2 gelas ini di atasnya. Dan 1 tatakan beserta tutupnya untuk kopi.
"Wow, kak, terlihat menggoda," Amel yang meliriknya tergiur. "Sayang sekali aku tak suka jus,"
"Kamu harus suka dengan jus, nak," timpal Mamah. Ia sedang menuangkan nasi goreng yang sudah jadi ke 4 piring. "Banyak manfaat dari jus untuk kesehatanmu. Fina, bawa jus itu ke meja dan kopinya taruhlah di ruang keluarga! Amel, bawakan dua gelas air putih untuk kamu dan kakakmu!"
Kami mengangguk, melaksanakan perintah. Tak lama, kamipun akhirnya bersantap sarapan. "Masakannya lezat, mah,"
"Makasih...," sahut Mamah.
"Baguslah," timpal Papah pula, "Tapi kalau mau memuji suatu makanan, kamu harus telan dulu apa yang memenuhi mulutmu, kalau tidak nanti tercecer keluar lagi,"
Ia menelan secara bulat-bulat. "Maaf pah, hehehe...,"
"Juga jangan langsung ditelan bulat-bulat, kasihan lambungmu."
"Oke," jawab Amel sambil menyuap lagi.
Papah terkekeh, "Dasar Amel, anakku yang cantik,"
Aku hampir tersedak mendengarnya, Amel berusaha tak mengeluarkan nasi dari mulutnya. Mamah terkekeh pelan. "Kan, pah. Anak-anak saja hampir muntah digombali Papah,"
"Hah, mau bagaimana lagi? Nasib punya keluarga perempuan ayu semua,"
Kali ini Mamah tersedak pula. Aku berhasil menelan makananku. "Hadeh, sudah perempuan, gampang digoda pula, hahaha...,"
"Ihhh...," Mamah mencubit pipi Papah. "Jangan kau gombali juga anak-anak!"
"Ooo, ututu... Cayangku ngambek," ledek Papah lancar sebab ia telah menelan kunyahanya.
Adegan berlanjut pencubitan Papah hingga ia kesakitan dan diam. "Bagaimana PR kalian?" tanya Mamah memecah lengang. Sudah menjadi kalimat inti sekaligus dasarnya di pagi hari, meminta keterangan tentang Pekerjaan Rumah kami yang diberikan guru-guru di sekolah.
Amel yang menjawab dengan jempolan. "Sudah?" Ia mengangguk. Tepatnya, tak ada PR yang mengganggu. "Bagus,"
Kali ini Amel habis duluan. Ia makan seperti orang kelaparan tadi, "Duluan," setelah minum air putihnya ia naik ke atas; ke kamar. Mungkin ia berniat mengambil sesuatu.
"Ahh, enak sekali masakan mamah...," Papah habis, menepuk perutnya sesudah menenggak jus wortelnya.
"Mau kucubit lagi?"
"Cantik tapi pemarah,"
"Hei!"
Papah terbahak-bahak, kabur dari ruang makan menuju ruang keluarga. Tersisa aku dan Mamah; menunjuk-nunjuki Papah sambil beraut galak, aku menghabisi sarapan berbarengan dengannya, lanjut membereskan meja makan.
Semua selesai, kuraih tasku yang bersandar di sofa, lalu menggendongnya di pundak. Langsung menuju ke pintu untuk memakai sepatu, disusul Papah dan terakhir Amel. Mamah menunggui kami di luar sambil mengisi ember penyiram tanaman "Istriku, kami berangkat dulu,"
Papah memberi tangannya, diterimanya dengan tulus oleh tangan Mamah dan menciumnya. "Hati-hati, semoga papah rezekinya lancar,"
"Itu pasti, mamah juga hati-hati ya, jaga rumah," Papah menepuk bahu Mamah. "Oke, ayo anak-anak,"
Kami menyalimi Mamah bergantian, kemudian masuk ke mobil SUV Papah. "Dadah, Mamah...,"
"Dah...," lepas Mamah sambil tersenyum.
Jalanan komplek ramai oleh orang-orang yang beraktivitas pagi. Ada yang bersepeda, berlari, berangkat sekolah atau kerja, para penghuni lain yang menyirami tanamannya, dan tukang bersih-bersih komplek. Dominannya adalah orang-orang yang berangkat sekolah atau kerja, sebab ini hari Jumat, bukan hari libur bekerja, namun di sini banyak pula orang-orang yang aktivitasnya tidak seperti orang-orang kebanyakan, tentunya dengan berbagai alasan. Mulai dari baru lulus kuliah, belum waktunya berangkat kerja, home-schooling seperti anaknya tetanggaku Bu Arifah, bekerja di rumah dan sebagainya.
Kami keluar dari daerah komplek, masuk ke jalanan biasa yang mengarah ke jalan raya. Di sana belok kiri lalu ikuti jalannya sepanjang 300 meter, melewati sebuah lampu merah di persimpangan 4 jalur, sampailah nanti di sekolah kami. Itulah rute kami ke sekolah.
Kutatap langit, sama seperti kemarin, namun kali ini agak berawan. Teringat olehku 2 rumah yang kutinggali sebelumnya. Sama-sama di sebuah komplek. Mungkin bos ayahku membelikan sebuah rumah di komplek karena selain lebih terjangkau juga aksesnya yang mudah untuk ayah pergi ke kantor cabang di kota ini.
Amel sibuk dengan HP-nya di belakang, headsetnya membantunya fokus ke video Youtube yang sedang ia tonton, entah apa itu. Papah menyetel musik jazz-nya seperti biasa, membuat kepalanya sedikit bergoyang mengikuti nada dan irama musiknya. Jalanan ini sibuk oleh kendaraan-kendaraan setiap saatnya, hanya sepi jika telah larut malam, itupun masih dilewati para pengendara secara konsisten walau tak seramai saat siang. Itu penelitian kasarku tentang kondisi sosial di sini. Selebihnya aku tinggal tanya Amel, ia lebih ahli.
Separuh jalan, kami diberhentikan oleh lampu merah. Papah menyandarkan joknya hingga sangat miring, hingga membuat Amel sedikit menggerutu dan menggeser posisi duduknya.
Dut.
Hm? Mata kiriku berkedut.
"Ahh...," Papah melambaikan tangan ke anak yang mengamen di luar. Mungkin ia sebaya denganku. Salah satu ironi penerus bangsa. "Apa lagunya enak, tidak, Fina?"
"Biasa saja," jawabku. Sebenarnya lagunya amatlah jelek, Papah. Tetapi aku tak mau kau tak sakit hati mendengarnya.
"Hmm-hmm...," ia meniru irama musik dengan gumaman.
Hehh..., ini akan membosankan.
+++
Jam 7 pas, kami telah berkumpul di kelas, duduk di kursi masing-masing. Kupimpin doa bersama mengawali kegiatan *** hari ini. Sementara itu seperti biasa Pak Harto, guru PKn pelajaran pertama hari ini belum datang dan Alex si tukang terlambat juga belum menapakkan kaki di sini.
"Berdo'a, selesai!"
Semuanya mengamini, kemudian Laksono si badut kelas berdiri dan berteriak. "Selamat pagi...!!!"
Ada yang cekikikan, ada yang malah menghampiri Laksono, mengajak mengobrol, dan ada pula yang terlihat tak peduli. Aku lebih memilih tak menghiraukannya, sementara Amel bersorak menyambutnya lalu menghampirinya dengan gembira, kemudian bucara tentang riset terbarunya. Sejak kapan ia mencari bahan gosip terbaru? Padahal tadi malam saja ia bercatur, kemudian tidur. Lanjut pagi tadi ia menyiapkan sarapan bersamaku dan Mamah, sarapan bersama, lalu berangkat. Mungkin ia melakukan pencarian informasi saat kami masih berada di mobil.
"Hei, kalian tau," ia berdeham sebentar. "Bill Gates ngajuin gugatan cerai atas istrinya lho,"
"Apa iya?" tanya balik Jery, "Bill yang pernah jadi orang terkaya itu, kan?"
"Iya,"
"Ahh, aku cuma butuh gosip tentang sekolah ini aja, tidak butuh berita tentang orang yang tidak ada hubungannya dengan sekolah kita," timpal Laksono. "Ada berita teranyar?"
"Paling masih tentang kakakku yang diam-diam suka Alex,"
"Hei!" Aku yang awalnya tak peduli langsung menatap mereka tak terima.
"Ayo, bergabung ke sini," ajak Laksono, "Aku tahu kamu suka obrolan ini,"
"Hm!" Kubuang muka ke depan, berpura-pura mengeluarkan dan membaca buku dengan fokus. Namun lama-kelamaan aku tertarik dengan topik yang mereka obrolkan... Hm! Tak'kan kubergabung lagi ke sana.
"Hahaha...,"
Tapi..., aku ingin mengobrol.
Kumenyelinap ke antara mereka, di samping Laksono. "Wow..., lihat, siapa yang tergiur bergabung,"
"Diamlah!" Kukepalkan tinju, ia memohon ampun sambil terkekeh.
Merekapun melanjutkan topik tadi. Amel menjelaskan bagaimana kisah cinta Pak Amad, Guru BK sekolah ini yang ternyata kisah cintanya sangat pilu. Calon istrinya meninggal beberapa minggu yang lalu 3 hari sebelum mereka menikah. Imbasnya ialah kepada kami para siswa yang ia hukum semakin brutal. Untungnya, kesensitivannya sidah berakhir, ia lebih sabar dan lebih memakai kesabaran sekarang.
Tes...
Sial, darah menstruasiku menetes. "Sebentar," aku beranjak dari samping Laksono, langsung menyambar tasku di kursi, memindahkan sebungkus pembalut ke saku, lalu melangkah keluar kelas, bertepatan dengan seseorang masuk ke kelas.
Kukira siapa, ternyata Alex. "Hei, darimana saja kau?"
"Bukan urusanmu," jawabnya pendek, membuatku emosi setengah mati. Ia berjalan santai ke kursinya.
Aku lebih mengutamakan mensku daripada mengurusi Alex, bisa-bisa bocor kemana-mana kalau tidak ditambal.
Setelah selesai, aku langsung kembali ke kelas, aku teringat sesuatu. "Hasna, kumpulkan kas kelas minggu ini bersama Siska! Ini hari Jum'at,"
Ia yang sedang mengobrol dengan circlenya sendiri; Wati, Fitri, dan Arin, langsung mengambil dompet pink berisi uang kas kelas, "Ini hari Jum'at semua, kumpulkan uang kalian!" Teriaknya.
Direspon dengan baik, bahkan anak-anak lain yang menghampirinya, termasuk circle kecil Laksono yang seketika bubar. Siska tergopoh-gopoh membawa buku catatan keuangan kelas ke dekat Hasna. "Sabar-sabar," ucap Siska menenangkan kerumunan.
Aku sudah membayar dobel minggu lalu, jadi aku tinggal tenang duduk manis di kursi sambil membaca novel mengesampingkan perut bagian bawahku yang terasa nyeri sekaligus panas. Aku terakhir membaca novel ini sekitar 2 hari yang lalu, kemarin entah mengapa kejadian aneh itu bisa terjadi, sehingga aku tak sempat membaca novel ini. Tadi malam aku dihinggapi oleh berbagai macam pertanyaan tentang kejadian itu. Bagaimana itu bisa terjadi?
Ah, sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kulahap kalimat demi kalimat yang ada di novel ini, membaca dan mencernanya secara cepat. Hingga setengah jam berlalu, kelas ramai, belum ada batang hidung Pak Harto muncul dari lubang pintu.
Kututup bukunya, lalu tidur. Membaca buku membuatku mengantuk, dan mata kiriku sedikit berkedut.
+++
"Bangunlah, kak!"
Aku terbangun, langsung mengangkat kepalaku.
Dut-dut!
Aduh, kenapa mata kiriku ini? Berkedut kencang sekali, buram total pula. "Ayo bangun! Pelajaran Tata Krama mau di mulai,"
Aku bergumam, tak ada guru lagi? 2 pelajaran?? Ayolah!
Aku melakukan sedikit peregangan, lalu memasukkan kembali buku pelajaran PKn dan juga novelku yang tadi kuletakkan di kolong meja.
"Ayo,"
Sudah 3 kali ia bilang "ayo". Ia menarik tanganku untuk bangun dan memapahku keluar dari kelas. Kelas sudah setengah sepi, masih ada beberapa murid yang mengemas barang-barangnya, sebagian besar mungkin sudah berada di aula sekolah. "Kita ke kamar mandi dulu," pintaku padanya.
Ia balas bergumam. Berjalan pelan menuju kamar mandi, menyeimbangiku yang masih lemah.
Kubasuh mukaku, "Ahh...," segar sekali, mata kananku telah pulih, namun mata kiriku masih berkedut, walau tak sekeras tadi. Ada apa dengan mataku ini? Biasanya tak seperti ini.
"Sudah baikan?" Tanya Amel yang mencuci tangannya di sebelahku.
Dut-dut!
"Aduh," aku mendesis singkat, kedutan ini membuatku tak nyaman. "Ah, sudah hilang kedutannya, aku tak apa," jawabku.
"Hahh...," ia tersenyum padaku. "Ayo ke aula, mungkin Pak Amad sudah datang."
Kuanggukkan kepala sebagai jawaban. Kami berlarian kecil di koridor, membuat suara sepatu yang gaduh menggema. Sambil menata rambutku kembali, masih belum terlambat, namun kami harus cepat.
Sampailah kami di aula, ramai, lebih ramai daripada kelasku. Satu sekolah berkumpul di sini siap belajar tata krama. "Duduk di mana kita?"
"Barisan belakang saja," tunjukku ke deretan siswa-siswa yang masih berongga-rongga belum terisi. Kami menyumbangkan 2 tempat untuk penggenapan barisan ini.
Antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dipisah, dengan formasi kiri-kanan, laki-laki berada di jejeran kiri, sementara perempuan di jejeran kanan.
Seseorang mendesis kencang, diikuti yang lain. Pak Amad telah datang, "Selamat pagi, anak-anak,"
"Selamat pagi, pak Amad," jawab kami serempak.
"Kali ini kita akan belajar apa?"
"Tata krama," jawab kami lagi.
"Bagus," ia tersenyum bersahaja, membungkuk duduk di atas kursi di depan aula. Kursinya yang biasa ia pakai mengajar di sini. "Kemarin kita membahas apa?"
Kali ini kami tak langsung menjawab, mengingat dahulu 1 minggu yang lalu belajar apa, "Tentang adab berjalan di depan orang tua, pak," jawab salah seorang lelaki di barisan depan.
"Ohh, iya-iya," sebenarnya pelajaran ini lebih tepatnya adalah pengenalan akhlak dan filosof secara teoritis. Urusan kami mengerjakannya atau tidak bukan urusan Pak Amad. Hanya jika ia melihat ada murid yang kurang sopan ia tegur, mengingatkan. Tetapi jika tak ada Pak Amad yang menegur, kami telah diberi pesan di awal pelajaran semester ini bahwa itu sudah bukan urusannya lagi, ia anggap kami semua sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan mana yang kurang dan tidak baik.
"Baik, sekarang kita akan belajar tentang bagaimana cara kita beretika kepada lawan jenis,"
Sebagian besar bersorak sambil tersenyum-senyum sendiri, bahkan ada yang tertawa. "Benar kan, masuk suami dengan istri? Nah sekarang kita masuk ke pelajaran etikanya,"
Ia menjelaskan, secara panjang lebar, tentang materi ini secara mendetail. Mulai dari pokok-pokoknya, penjelasan bagaimana caranya baik untuk laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya, praktek langsungnya, tambahan-tambahannya, macam-macam larangannya, serta penyebab kita harus melakukan hal seperti itu. Salah satunya yaitu dipercayai bahwa ketika seorang istri mencium tangan suaminya ketika ia akan pergi bekerja, maka pulangnya suami akan membahagiakan istri dan anaknya dengan nafkah yang mumpuni dan bersih, tanpa dicampuri dengan hal-hal yang berbau dosa.
"Paham?" Tanya Pak Amad kepada seluruh siswa.
"Paham...," jawab kami.
Ia melirik jam di tangannya. "Baik, karena waktu sudah menunjukkan jam 11 siang, kita tutup pelajaran tata krama minggu ini dengan do'a,"
+++
Pulang ke rumah, kami menggunakan angkot untuk itu. Sampai di seberang jalan kami menunggu jalanan sepi. Jalanan dominan oleh mobil-mobil dan truk-truk besar yang angkutannya penuh, motorpun banyak terlihat namun terdominasi. Mengingat bahwa kotaku ini salah satu kota industri, sudah menjadi hal wajar bila tanah bergetar berikut gemuruhnya karena haluan truk-truk yang melintas. Biasanya itu terjadi ketika malam tiba, saat truk melaju dengan kecepatan rusuh.
Aku berteriak, memberi aba-aba kepada Amel untuk menyeberang. Sampai di seberang dan masuk ke gerbang, iapun mencomot tema percakapan. "Hei, kak. Mata kakak masih berkedut?"
"Hm? Tidak," jawabku santai. "Mata kiriku tidak apa--"
Aku terdiam dan terhenti. Apa itu? Seperti ada yang melayang di depanku.
"Ada apa kak?" Tanyanya sambil menghentikan langkah kakinya.
"Tidak ada," jawabku singkat. Ah, mungkin hanya bayangan burung terbang saja.
Kami lanjutkan berjalan menuju rumah, tinggal 10 meter lagi, sudah di depan mata. Komplek ini berbentuk persegi panjang, dan rumahku berada di tengah persegi panjang itu.
Dut-dut!
Kenapa sih dengan pancaindra visualku ini?
"Kami pulang...,"
Kubuka pintu. Sepi, seperti tak ada orang. Sandal Mamah juga tak ada di rak. "Kemana Mamah?"
"Aku tak tahu, Mel. Aku kan bersamamu pulang dari sekolah," jawabku sambil melepas sepatu. Ia ber-oh dengan lugu.
Kupergi ke kamarku, langsung menghempas tas ke dekat meja belajarku, dan juga melepas kaos kakiku. Kudesah pelan saat mengambrukkan diri ke kasur, nikmat sekali rasanya. "Gak ganti baju dulu kak?"
"Sebentar," ia mengganti bajunya dengan cepat. Kemudian melangkah ke bawah, ke ruang keluarga. Paling ia hendak menonton TV. Kubangkit dari rebahanku, lalu berganti kostum. Kaos pemberian Papah yang bercorak burung merpati ini favoritku, sudah adem terasa ringan pula. Ditambah celana panjang gombrang yang bersikulasi udara yang baik, cocok sekali digunakan oleh orang yang sedang datang bulan sepertiku.
Kulanjutkan rebahan yang berlanjut tidur.
+++
"Mmhhh...,"
"Hei, kak. Sudah bangun?"
Aku bangkit duduk, langsung menengok jam, pukul 4 sore. "Mel...,"
Ia memberiku sesuatu. "Nih, es krim, dari Mamah,"
Kuberi isyarat dengan ongokan kepala ke meja. Kupijit dahiku sebab pusing. "Kakak nggak apa-apa?"
"Aku baik," jawabku. Mungkin ini karena sindrom menstruasiku. Besok aku akan izin ke dokter.
"Tolong ambilkan Handphoneku, dik,"
"Tolong jangan panggil aku begitu," sungutnya sambil tetap mengambilkannya dari meja. "Aku gak nyaman,"
Aku tertawa kecil, "Tapi kau 'kan memang adikku,"
"Hahh..., terserahlah," ia ikut duduk di kasur. Ia selalu begitu, tak mau mengakui kenyataan bahwa ia adikku.
Kukucek mataku, membuat jarak pandang meningkat. Pertama, aku harus melayani Kak Juliyanto yang terus menerus menanyai kabarku. Sejak aku menolak cintanya ia jadi begini. Kedua, kutanyai Hasna dan Siska mengenai keadaan keuangan kelas yang pagi tadi baru ditarik. Hasilnya cukup memuaskan.
Hanya itu dulu, soal keluhanku saat ini aku akan memperhatikan keadaan tubuhku.
"Itu es krimnya dimakan,"
Aku bergumam. Melihat es krim itu di meja.
"Am...,"
Lezat sekali, es krim rasa stroberi memang yang paling enak. "Mengapa kau menatapku seperti itu, Mel? Ada yang salah?"
"Tidak," jawabnya sambil mengetik-ngetikkan HP. Pasti ia sedang mengechat temannya.
Kulahap es krim itu dengan cepat. Ini es krim kone, jadi tak bisa dinikmati perlahan seperti es krim yang memakai stik kayu.
"Hahh...," aku merasa gerah, lalu mencoba berdiri. Tetapi aku malah oleng, tiba-tiba kepalaku pusing. "Hati-hati kak," hampir saja aku jatuh seandainya ia tak memegangiku. Ia menarikku duduk kembali, pusingku perlahan mereda.
Wush!
Sontak kutengok cermin. Tak ada apa-apa. Sepertinya aku melihat sesuatu.
"Mengapa ketika aku berdiri rasanya seperti berdiri di atas tali yang terpaut atas jurang?" Aku bertanya polos. Pikiranku benar-benar kosong.
"Entahlah, kak," jawabnya singkat. "Sebaiknya kau istirahat dulu,"
"O-oke,"
Aku kembali berbaring di kasur. Alam pikiranku berangsur-angsur kembali.
Bangun.
Amel.
Adik.
Handphone.
Es krim.
Makan.
Gerah.
Berdiri.
Pusing.
Jurang.
Cermin.
Pesan elektronik.
Fina.
Ahh, sial! Pusingku kembali, memaksaku untuk menidurkannya. Oke, mungkin tidur beberapa jam lagi akan membantu.
+++
Jarum pendek di jam dinding menunjukkan angka 11, dan aku belum makan.
Amel tertidur di ranjang atas, korokannya sangat kencang. Kuaktifkan Handphone-ku, membuka WA dan mencari kontak bernama "Hidayat"
Malas mengetik, langsung saja kutelpon, "Halo?"
"Ya halo, ini--"
"Apa kau sudah gila? Ini hampir tengah malam, dan kau menelponku. Kuharap penting. Kalau tidak, kublokir kontakmu," sepertinya ia sudah mau tidur, namun terjaga lagi karena teleponku.
"Maaf mengganggumu, wakil. Ini penting," aku berdeham pelan, dahakku terasa menumpuk di leher semenjak aku bangun. "Besok aku akan pergi ke dokter, aku agak sakit,"
"Oh, jadi kau meriang. Lalu, aku harus apa? Lagipula selama ini kau baru pertama kali sakit dibanding yang lainnya, kau salah satu murid kebal penya--"
"Aku menitipkan pesan padamu untuk guru besok, berarti pula kau harus bertugas memegang kendali selagi tak ada aku. Sebab itulah aku menelponmu,"
"Ya-ya-ya, kau bosnya. Lain kali kau bisa mengetiknya saja. Tiap pagi aku selalu mengecek WA-ku, tenang saja,"
"Hanya itu, sekarang tidurlah! Besok ada kelas yang harus kamu pimpin,"
"Iya, nona bos cantik yang sedang meriang. Kuharap kau cepat sembuh agar tak merepotkan seperti ini."
"Aku mengharapkan yang terbaik darimu,"
Telepon putus, diputus olehnya. Pasti ia langsung tidur sesudah ini. Dasar laki-laki, telepon seserius ini masih diselingi candaan. Ini baru Hidayat si Wakilku, belum Laksono si Keamanan Kelas yang malah meributkan Kelas. Kalau saja ada sistem gaji dan pemecatan dalam bagan kecil organisasi ini, pasti akan kupecat mereka berdua.
Kutengok ke jendela, lengang. Angin sepoi-sepoi yang menerbangkan dedaunan di jalanan aspal, langit malam menghitam bertabur bintang, bulan indah menyala redup sebagai induk para bintang kecil. Bersih, tak ada awan. Hatiku tergerak untuk menari di sana, mengikuti alur keindahan malam di atas aspal tanpa alas kaki.
Kujejakkan kaki ke aspal, dingin dan sepi, hanya diterangi oleh lampu jalan yang sebagian besar masih menyala dengan baik. Ada 1 lampu yang tak menyala, jaraknya 20 langkah kecil dari sini, terpaut 2 tiang lampu dariku.
Angin berhembus kembali, kumulai tarian, mengarah ke kiri karena mata anginnya bertiup ke sana, berputar-putar menyamai kecepatan dedaunan yang terhempas angin, ikut melompat anggun bak penari balet wanita yang ahli, kemudian berhenti lalu berhaluan ke kanan, melakukan hal yang sama. Kulupakan sejenak penyakit mata aneh sialanku di sini.
"Hmmmmhhh...,"
Kutarik napas panjang, hingga memenuhi setiap inci paru-paruku, angin malam bagaikan mata air pegunungan paling segar, membuat hidungku candu ingin terus menghirupnya seraya menari.
Berputar dengan elok..., lalu melompat lagi..., dan berputar lagi...
Wut!
Kukeluarkan napasku. Aku mendarat di posisi membungkuk, aku telah memperlihatkan pada malam tarianku yang memukau di atas panggung ini, sudah sepatutnya aku menunduk takzim berterima kasih pada gelap malam yang telah menontonnya sekaligus memintanya. Terutama pada bulan, ia senang telah melihat pertunjukanku, bersinar semakin terang redup menerangi kelamnya malam. Bintang berkelip membentuk formasi-formasi yang tampak elok, 12 rasi bintang terbentuk mengelilingi bulan, indah tak terkira.
Mimpi yang indah...
"Ohh, aku rasa bukan begitu,"
Aku menoleh ke sumber suara. Siapa itu?
Kuedarkan pandangan, ke segala arah, namun ia tak terlihat. Asal suaranya dari sisi gelap lampu yang tidak menyala itu, namun tak ada orang di sana.
"Di sini, nak,"
Aku berbalik, ia berada jauh di pertigaan ujung jalan, namun aku masih bisa melihatnya. Seorang pria gagah bersetelan jas berdiri, menyandar punggungnya di tiang kaca cembung di sana. "Kau bisa mendekat?"
Aku mengangguk, namun aku tak bisa melangkahkan kakiku. Kutatap orang itu yang sedikit aneh lamat-lamat.
"Bagus,"
Ia memberiku sesuatu, langsung menelungkupkan tangannya ke tanganku. "Pakailah softlens ini, kau akan membutuhkannya di mata kananmu,"
"Untuk apa?" Tanyaku balik.
"Agar matamu kananmu tidak rusak,"
Aku menerima kotak putih kecil ini. Kusakukan agar tidak jatuh ataupun rusak, "Sekarang pulanglah, lanjutkan mimpimu,"
Aku mengangguk.
"Ingat, jangan kau tinggalkan malam, ia adalah sahabat terbaikmu sekarang,"
"Baik tuan,"
Kulanjutkan tidur kembali, kasur yang empuk membuatku gampang tertidur. Selamat malam, malam.
+++