Ha

Ha
1. The New School.



[Fina]


Pagi yang cerah pada pukul 6, kami sekeluarga menyantap sarapan yang terhidang di meja makan. Ada aku, Amel adikku, Mamah, dan Papah. Di antara kami, hanya Mamah yang tak memakai setelan seragam saat sarapan, ia hanya memakai daster bercorak bunga favoritnya, sebab setelah ini ia tak’kan pergi kemanapun, paling hanya ke warung untuk membeli serenceng kopi untuk persediaan, atau berkunjung ke rumah tetangga untuk sekedar mengobrol santai. Selain itu ia akan mengurus rumah seharian, ditemani sederet sinetron dan FTV kesukaannya sepanjang hari.


“Fin, Mel,” cetus Papah sambil menyendok sesuap nasi ke mulutnya, ia memakai kemeja bergaris biru vertikal, celana katun hitam, serta dasi dan sabuk hitam. “Semuanya sudah siap, kan?”


Kami berdua mengangguk, mulut kami masih tersumpal nasi.


“Bagus,” katanya lagi. “Sesudah ini kita langsung berangkat, papah ada meeting di kantor.”


“Hm, meeting lagi?” Mamah mulai berkomentar, “Bukannya kemarin sudah? Kali ini soal apa?”


Papah meludeskan isi piringnya dengan cepat, lalu meneguk air putih hangatnya. “Iya sih, kemarin sudah,” Papah berdeham, “Namun kemarin sore, sesudah merapatkan urusan kantor baru di luar kota, kantor kedatangan investor baru dari luar negeri. Selain uang yang mereka tawarkan hampir setara ¾ dari total uang saham, mereka juga mengajukan tips bisnis yang kata mereka menjadi rahasia sukses mereka. Kata mereka sih mereka butuh uang cepat dalam waktu 5 bulan. Nah, hal itu yang mau didiskusikan nanti,”


Mamah bergumam, mengangguk, “Begitu, bidadariku yang cantik,”


Mamah mulai tersipu, aku dan Amel hanya bisa menahan tawa yang dipicu Papah agar nasi yang ada di mulut kami tak terlontar. “Jangan gombal di depan anak-anak dong, pah...”


“Hey, mereka juga harus tahu, kalau papah tak kalah romantis sama para lelaki TV yang mamah tonton,” akhirnya kami lega bisa tertawa kecil setelah menelan kunyahan kami. Papah selalu saja mengangkat isu nyata di setiap lawakannya. “Papah sebagai lelaki biasa tak mau kalah!” Papah membusungkan dadanya.


“Iya-iya, pah...,” Mamah menahan tawanya dengan elegan, “Terima kasih, pah,”


“Sama-sama, manis,”


“Ish,” ia mencubit pundak Papah, “Jangan di depan anak-anak...,”


Papah hanya cekikikan. “Siap, separuh jiwaku,”


Hampir saja Mamah melempar kotak tisu ke Papah, namun Papah sudah lebih dahulu kabur ke arah ruang keluarga sambil tertawa lepas. Kami selalu tertawa melihat momen ini.


“Mah, tolong buatkan kopi!” teriak Papah dari ruang keluarga. Mamah masih tersenyum masam.


“Ayolah, cantik...”


“Iya...,” Mamah mengalah, aku suka momen ini. Setiap pagi, saat sarapan, entah mengapa setiap pembicaraan disaat seperti ini pasti Papah menggombali Mamah, walaupun saat keluarga ini dirundung masalah.


“Ayo nak, percepat sarapan kalian!” teriak Papah kepada kami, dengan bersegera kami menghabiskan makanan kami.


+++


Mobil yang Papah kendarai melaju santai menyibak jalanan, yang tak terlalu padat, para pengendara yang tak ingin membuang waktu berjibaku untuk saling mendahului. Walaupun tak terlalu padat Papah sedikit kesal dikarenakan kelakuan para pengemudi angkot dan pengendara motor yang seenaknya mendahului dari arah yang berlawanan. Untuk ke-10 kalinya Papah mengaumkan klakson untuk ibu-ibu pengendara motor yang menyalip kami ditambah dengan pengaktifan lampu sein kanan padahal beloknya ke kiri. Aku terkadang merasa aneh dengan kaumku sendiri; kaum Hawa. Kuakui aku juga calon ibu-ibu, namun akankah masa depanku juga semenyebalkan ini?


Musik Jazz keluaran tahun 90-an yang disetel Papah tak membuatku semangat, apalagi Amel. Hanya Papah  yang berefek dengan lagu itu. Kutatap langit, biru cerah berawan, burung-burung berterbangan, menawan. Amel sibuk di kursi belakang dengan HP-nya, bila tidak tentang gosip hangat, pasti tentang berita konspirasi terbaru.


“Uhh..., jadi, bagaimana sekolah kalian?”


Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Saat kusadar bahwa lampu telah berubah merah dan tiba saatnya untuk menghentikan mobil sesuai aturan. Seaakan menjemput rezeki, para penjualpun mulai menjajakan apapun sesuai profesi mereka, mulai dari pengemis, tukang pembersih kaca mobil, pengamen, badut, dan masih banyak lagi. Papah baru saja menolak seorang tukang pembersih kaca mobil. “Bagus, pah,” cetus Amel dari belakang sambil terus memainkan HP-nya, “Walaupun belum ada yang menarik lagi, sih?”


“Hm, menarik?”


Hahh, Amel..., padahal tadi aku hampir benar-benar kosong menatap langit. Omong-omong soal menarik, akupun ganti menatap Amel di belakang, memberi kode agar jangan memberi tahu tentang anak itu. “Iya-iya kak...,” ia memahami kode mata dariku, akhirnya. Papah hanya bisa melirik-lirik tingkah kami. “Ya harusnya, selain bikin pintar, juga harus bikin murid-muridnya betah. Kasihlah bumbu-bumbu yang bagus kayak pembahasan teori konspirasi,”


Kuhela napas panjang, Papah kembali berpaling darinya. Kami sekeluarga; kecuali anak itu sama-sama tak menyukai hobinya yang mennggandrongi teori konspirasi dan penggosipan, tetapi Papah dan Mamah lebih memilih mendiamkannya. Itu membuatnya menjadi terlihat aneh. Bahkan terkadang ia membawa topik itu ke acara makan malam keluarga kami, ia menghabiskan dan menghilangkan ide topik. Namun jawaban itu lebih baik daripada menyebutkan soal rahasia kelas itu.


Lengang sejenak. “Kalian menyembunyikan soal apa?” Papah mencurigai kami.


“Tidak, pah,” aku menjawab sekenanya.


“Oke, itu privasi kalian,” ia melambaikan tangan, lalu memegang setir lagi. Lampu rambu telah hijau, saatnya mobil berjalan. “Menurutmu, Fin?”


Kuangkat bahu sambil bertopang dagu lanjut menatap atap dunia. “Seperti 3 bulan lalu, pah,” yang Papah sukai dari Amel ialah trik catur dan guyonannya, bukan hobinya yang suka bergosip ataupun teori-teori konspirasi dunia kesukaannya. “7 banding 10, dari segala aspek,”


“Kamu tak menyukai sekolahnya, Fin?”


“Biasa saja, pah. Dibilang suka tidak, dibilang tidak suka pun tidak. Hanya 1 yang Fina suka dari sekolahnya; organisasinya bagus,”


“Ohh,” bahkan belum seorangpun menyadari, aku sudah mengobrol dengan salah satu anggota OSIS bagian kepengurusan Mading, bertanya seputar politiknya. Diam-diam aku masuk kepengurusan Mading itu sendiri di bagian pencari informasi, walaupun itu hasil mengemis pada Kak Juliyanto, ketua dinas OSIS bagian Mading ini. Ini adalah strategi awalku. “Kalau ada masalah, bilang saja ya, anak-anak,”


Kami membalasnya dengan gumaman.


“Papah dan Mamah akan selalu ada untuk kalian.”


Aku tercekat. Kalimat itu...


“Bersiaplah, anak-anak. Ini sekolah kalian,”


Kupecahkan lamunanku. Itu benar, mobil yang kami tumpangi telah merapat di tepi trotoar, di depan sekolahku yang bercat biru, pagar tembok setinggi 1 meter, tugu sumpah pelajar yang terdapat di dalam lapangan, yang tampak gagah sekali, ditambah terpaan sinar matahari yang meningkatkan keestetikannya. Aku dan Amel menuruni mobil dengan membawa tas masing-masing, lalu menyalimi Papah secara bergantian. “Pah, uang,” kataku sambil tersenyum jahil.


“Hm, untuk apa?” tiba-tiba Papah memencet hidungku, membuatku sedikit terkejut mundur. “Jajan? 'Kan kalian sudah besar,”


“Kami masih SD,” Amel menolak perkataan Papah. Sial, aku tertawa. “Sekarang berilah kami uang. Sekalian buat nanti ongkos pulang,”


Setelah sedikit kekehan, Papah akhirnya memberi uang 50 ribu. “Nih, nanti buat beli balon,”


Sial, aku tertawa lagi.


“Makasih, Papah ganteng...,” Amel memeluk uangnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Dasar genit,” Papah menutup jendela mobilnya, “Selamat sekolah, anak-anak!” itulah kata-kata terakhirnya sebelum melaju dan menghilang di kelokan ujung jalan raya ini.


Kamipun memasuki area sekolah. Suasana ramai oleh murid-murid SMA yang bercanda ria atau sekedar mengobrol-ngobrol santai di depan kelas.


“Aku 45, kakak goceng aja ya,”


“Hei, bagilah dengan adil!”


“Hah, iya-iya, kak. Bercanda doang.” Ia menyakukan uangnya, “Dipegang sama aku ya,”


“Ya,” kuujungkan kalimatku. Aku memilih jurusan IPS di sekolah ini, baru 3 bulan, namun itu cukup untuk membuat kepalaku pusing, karena mengapa masih ada pelajaran matematika dan IPA di kelas IPS?


Aku diletakkan di kelas X A IPS, seperti biasa tempat dudukku berada di ujung depan barisan tepi kanan depan meja guru, dekat jendela. Amel duduk di sampingku. Kutaruh tasku di sana yang diikuti Amel disebelahku, kemudian duduk santai sambil mulai memainkan HP. Sedangkan Amel mengobrol dengan sohibnya di luar kelas.


Bel masuk akan berdering 20 menit lagi.


+++


“Berdo’a, mulai!”


Namaku Fina, Fina Okta Ekawati. Usiaku 16 tahun, hobi membaca dan sedikit berias, dan politik adalah hal yang paling kusuka. Aku merintis SMA pada jurusan ini, karena yah, cita-citaku adalah menjadi pengamat sosial. Bila tidak kesampaian, paling aku menjadi seorang wirausahawan, mandiri. Hanya itu seputar diriku. Tak lebih.


Sedangkan Amel; Amelia Indah. Selisih 1 tahun denganku, hobinya bergosip, meneliti sosial lingkungannya, dan sangat menggemari berteori konspirasi, yang tak’kan nyambung bia hal itu dibicarakan di hadapan seluruh anggota keluarga. Tentang mengapa ia bisa satu kelas denganku, dan mengapa ia memilih jurusan IPS (ini akan membuat kata "sosial" banyak disebut); Pertama, karena dulu aku dan Amel dimasukkan secara bersamaan saat kelas 1 SD. Aku berusia 7 tahun dan dia berusia 6 tahun. Untungnya, Amel gampang menerima pelajaran, diam-diam ia jenius. Penyamaan derajat sekolah itu membuat kami benar-benar tumbuh bersama; baik secara fisik, mental, akademis, maupun prinsip hidup. Hanya 1 perbedaan antara aku dan dia, dia lebih "Bebas" dalam beberapa hal seperti di dunia pertemanan sehingga dimensi pertemanannya lebih luas dan otomatis temannya lebih banyak dariku, juga perilakunya yang lebih "Bebas" pula, dalam artian ia tidak terlalu mementingkan norma-norma kecil kesopanan seperti cara bicara yang tak di atur sehingga terkadang orang menjadi salah pengertian. Walau begitu ia masih dalam garis aman norma yang berlaku. Kedua, ia benci IPA. Ketiga, ia suka meneliti kondisi sosial sekitar sebagai seorang sosialistik, ini juga menjadi penyebab ia punya banyak teman, dan juga sebagai akibat. Sebab tak jarang dia menggali informasi dari teman-temannya sendiri demi riset kecilnya.


Tentang keluargaku, karena Papah adalah orang kantoran yang sangat sering dipindah-tugaskan ke luar kota, kelamaan menyebabkan kami pindah ke kota itu pula, agar kata bosnya Papah tidak menjadi beban untuk Papah dan supaya Papah lebih banyak waktu bersama keluarga (Bos yang baik...). Seingatku sudah 3 kali kami pindah kota. Sementara Mamah, ia hanya ibu rumah tangga biasa, walau begitu ia ikut serta dalam perkembangan ekonomi keluarga. Ia mempunyai bisnis di sebuah situs online shop, berjualan kreasi tangan kriya buatannya berupa anyaman bungkus plastik bekas. Tangannya sungguh kreatif bila dibandingkan anggota keluarga lain.


“Berdo’a, selesai!”


Seluruh kelas mengaminiku, lalu kembali ramai karena guru belum datang. Ah, ya, kemarin aku membaca novel hingga halaman 163. Kuambil buku itu dari dalam tas. Novel ini menceritakan tentang ringkasan sejarah politik di Ameri-


Krek...


Ka. Siapa itu? Oh, dia.


Ia memasuki kelas, seluruh mata menatapnya berjalan memilih kursi paling belakang, di pojok ruangan dekat jendela. Benar-benar sederet denganku bila ditilik secara vertikal, hanya selisih 2 pasang bangku. Kelas kembali ramai setelah itu, dia sendiri mulai duduk dan menatap pemandangan di luar.


Tangan kekar, tatapan yang ia pasang seakan sudah dingin dari sananya, muka suram 'bak kriminal, rambut sedikit berantakan, pendiam, dialah Alexandria Surya Kusuma, atau panggilannya Alex, si anak yang kumaksudkan itu. Entahlah ia berusia berapa, dan (katanya) yatim piatu. Hanya itu yang kutahu. Wali kelas kami, Bu Desi, menyuruh kami agar tak terlalu dekat dengannya tanpa alasan. Riset Amelpun mengatakan negatif-negatif, yang berartikan 1 hal; hanya para guru yang tahu alasannya, bahkan bisa jadi hanya segelintir guru yang tahu. Sungguh sebuah kesempurnaan bila ia menjadi seorang penjahat.


Oh ya, sampai dimana kita tadi? Ah, ya, aku ingin membaca novel. Waku yang pas sementara Amel mengobrol dengan para penghuni kelas lain, ikut serta mencairkan suasana. Maaf, ketua kelas ini membutuhkan waktu privasi sebentar.


+++


“Kak, hei,”


“Hei, bangun!”


Kuangkat kepalaku, terasa berat sekali. Kucoba menatap ke arah orang yang membangunkanku, “Ah, Amel. Ada apa?” aku menguap panjang, mataku masih agak buram.


“Ayo kak, kita ke kantin, jajan,” ia mengetuk meja 3 kali, aku tahu ia mengepalkan uang jajannya.


“Ck,” aku mengucek mataku, kemudian merapikan rambutku. “Sejak tadi tak ada guru, kah?”


“Gak ada,” ia menjawab santai. Uhk, pantas saja aku tidur pulas sekali. “Ayo ah, cuci muka dulu.”


Aku menyetujuinya, kamipun pergi menuju toilet terlebih dahulu sebelum ke kantin guna mencerahkan mukaku dengan air. Amel mengawalku agar aku tak menabrak tembok atau tersandung dikarenakan mata kiriku masih buram.


Kulihat pantulan diriku di cermin; ini salah satu hal tak penting yang kusukai; membandingkan antara wajah sebelum dan sesudah mencuci muka. Kubasuh mukaku lalu Tara! Muka cerahku lahir kembali.


Kuuraikan rambutku, tidur di kelas memang banyak akibat buruknya, termasuk membuyarkan rambut. Nah, selesai, terlihat rapi dan simpel; panjang lurus ke pundak itulah gayaku.


Akhirnya, pengelihatan mata kiriku kembali. “Dah, belom?” gumam Amel.


Aku menoleh ke kiri, Amel sedang berburu komedo di mukanya, salah satu kebiasaan buruknya. “Jangan kau cabutkan, Amel! Bersihkan saja pakai sabun muka,”


“Kakak bawa?” bantahnya, “Amel gak bawa,”


“Ya bisa 'kan di rumah saja,”


“Tanganku gatel kak, pengen farming,” alasan klasik.


“Terserahlah, ayo!” aku sudah malas memperbaiki kebiasaan buruknya.


“Oke,” ia tetap saja farming. Aku berjalan keluar toilet, Amel bergegas membilas mukanya dan segera menyamai langkahku di lorong sekolah. tampilannya sudah okelah; rambutnya yang dikepang kuda sudah cocok dengan mukanya, walaupun masih standar.


Sesampainya di kantin, kami memesan semangkuk mie instan, lumayanlah untuk mengganjal perut dan terbilang sangat murah; hanya 5 ribu. Kami menunggu pesanan kami di kursi kantin. Kantin padat oleh orang-orang yang lapar, baik itu murid, guru, maupun staff, yang berjualan di sinipun terlihat sibuk melayani para konsumen. Kuaktifkan HP-ku hanya untuk sekedar melihat-lihat berita. Hm, Rupiah menguat 5% hari ini. “Kak, di sini ada Wi-Fi gratis lho,”


“Tuh,” ia menunjuk pojok langit-langit kantin, terdapat sebuah kotak kecil berwarna putih di sana. “Mau kodenya, gak?”


“Mau lah,” lumayan untuk mengirit BBK (Bahan Bakar Kuota).


“Tapi aku numpang IG,”


Adik jadah adalah adik yang membuat kakaknya berpikir. “Hahh, okelah. Apa kodenya?”


“Yes!” Amel mengepalkan tangan, “Nama Wi-Finya Pengganjal Perut, pake spasi, huruf awalannya kapital. Kodenya; kantinjayabermartabat123. Gak pake spasi, hurufnya kecil semua,”


Dengan cekatan kuaktifkan Wi-Fi, lalu memasukkan passwordnya, kemudian menguji kecepatan Wi-Finya. “Wah..., bagus, Mel. Kamu tahu darimana?”


“Biasalah, riset,” ia tersenyum bangga. “Nah, sekarang jatahku,”


“Oke,” aku memberi pinjam kepadanya, “Jangan lama-lama ya,”


“Siap, kak!” Amel senang sekali menerimanya, sementara aku menunggunya sambil menikmati pemandangan di depan kantin; tanaman-tanaman hias yang tumbuh asri, lapangan yang digunakan para siswa laki-laki bertanding sepak bola, atau yang hanya duduk-duduk bercengkrama di kursi-kursi, bebatuan, pagar tembok yang membatasi antara lantai dengan batako lapangan, di bawah pohon, bahkan ada yang di atas pohon itu sendiri, menjadi joki penggambil buah apel yang berbuah lebat. Namun sayang, peminat apel kurang di sini, sehingga joki dan beberapa kawan yang dibawahnyalah yang melahapnya. Sesekali guru dan beberapa murid datang meminta beberapa apel. Hahh..., ini sungguh menenangkan dan menyenangkan.


“Mbak Fina, mienya sudah jadi!” itulah panggilan dari Pak Jono, salah satu penjual yang membuat hatiku senang, ketenangan dari diriku hilang. Aku menggondol 2 mangkuk mie kuah rasa soto ayam dan rasa ayam bawang ke mejaku semula. Milikku rasa ayam bawang dan milik Amel rasa soto ayam.


“Hoi, ini mienya,” kutepuk pundak adikku yang masih asik bermain Instagram.


“Oh, iya, kak. Bentar, Log Out dulu,” jemarinya lincah menekan-nekan layar, kemudian memberikannya padaku. "Thank’s, kak,” aku menerimanya dengan bungah, akhirnya HP-ku kembali. KuLog In-kan akun IG-ku. Lalu mematikan HP-ku untuk menikmati hidangan ini.


Kamipun menikmati makanan kami, aku merasa lapar setelah tidur 3 jam nonstop di kursiku tadi.


“Amel,” aku mengusap mulutku dengan tangan, “Kembaliannya sudah 'kan? Belilah minuman!”


“Oke,” jawabnya sambil beranjak dari kursi menuju ke penjual minuman. Beberapa saat kemudian ia membawa 2 botol es teh manis dalam kemasan, “Nih,”


“Mantap, thank’s Mel!”


“Yoi,”


5 menit kemudian, mie kami sudah habis, es tehnyapun tinggal setengah botol. “Mel, aku duluan,”


“Hm, mau kemana kak?” Amel kelihatan bingung, pasalnya ia akan sangat bosan bila tidak ada aku di sampingnya karena ia tak membawa HP. HP-nya tertinggal di atas kulkas di rumah.


“Bu Wanti memanggilku,” aku masih merahasiakan masalah ini. Agar saat itu tiba, semua orang kaget melihatku.


“Bukannya dari tadi kakak gak ada kontak sama guru?”


“Dia memberi perintah padaku dari pagi tadi sebelum berangkat, aku dichat sama dia,”


“Ooo, ya udah. Plis ya, jangan lama-lama,”


“Oke,”


Kuangkat kaki memasuki bangunan sekolah, sedikit berbohong mungkin lebih baik. Maafkan aku, Amel. Jalanku menuju ketua OSIS masih panjang.


+++


Malamnya, setelah hari yang melelahkan dan Kak Juliyanto mengagumi laporan beritaku untuk minggu ini, aku bersantai bersama keluargaku. Aku menonton sinetron bersama Mamah yang sibuk menganyam bungkus plastik bekas di ruang keluarga, sementara Amel bersama Papah bermain catur di kamar aku dan Amel, mereka butuh ketenangan. Saat TV menampilkan iklan rokok kutengok pertandingan mereka yang berada di lantai 2.


“Sudah berapa ronde?” aku bertanya pada Amel yang sedang menunggu Papah menjalankan bidaknya, Papah terlihat kesulitan menangani formasi Amel yang kuat.


“Ini yang ketiga,” jawab amel santai, ia memakai kaos oversize berwarna putih polos dan celana pendek, style yang cocok untuk bersantai.


“Siapa yang menang?”


“Masih seri,”


“Hmmm,” kutengok papan caturnya, Amel bidak hitam sementara Papah bidak putih, Papah akhirnya menghalau kudanya mundur.


“’Dah? Ga bakal nyesel?” Amel tersenyum licik.


“Ya!” Papah menjawab tegas.


“Oke,”


Amel menjalankan menterinya ke tengah, memakan ster dan memojokkan raja Papah. “Skak Mat,”


“Akh...,” Papah menepuk jidat histeris. “Tidak...,”


“Makanya, pah..., jangan terlalu mengincar ratuku,” Amel berinisiatif membereskan papan catur, “Tujuan catur itu buat menang, bukan buat membunuh ratu. 'Kan Papah yang bilang dulu,”


“Hahh, entahlah Mel,” Papah menjambak rambutnya sendiri, aku tahu rasanya, pasti pusing sekali setelah lama bermain catur tetapi kalah. “Bila papah belum membunuh ratu, papah belum tenang,”


“Latihanlah lebih giat lagi, pah,” aku memijat pundaknya, “Papah pasti bisa, semangat!”


“Oke...,” jawab Papah loyo sambil tersenyum tertekan. Kutepuk pundaknya sebagai penutupan.


“Duluan tidur, semua,” Amel menaruh papan caturnya di bawah ranjang, kemudian berbaring di kasur bawah. Ranjang kasur kami bertingkat dua. “Hoaammhh..., ngantuknya,” ia memejamkan mata.


“Nyenyaklah tidurmu, Mel,” cetusku, dibalas gumaman olehnya. “Ayo, pah, ke bawah, kita tonton TV sama-sama,”


“Tidak, ah, Fin. Papah juga mengantuk,” ia melebarkan tangan ke atas sambil menguap panjang.


“Hah, ya sudah, tidurlah dengan nyenyak,” kutinggalkan kamarku menuju ke bawah, menghampiri Mamah yang masih bengong menatap iklan rokok malam. Ini jam 10, sudah larut, namun aku masih kuat menemani Mamah menonton sinetron dengan projek anyamannya hingga 30 menit ke depan. Sebenarnya aku tak suka sinetron, terlalu banyak drama, namun seru saja menonton malam, daripada bosan menunggu malam berakhir. Sudah tak ada PR, lebih bosan lagi apabila kutonton Papah dan Amel bertanding catur, apalagi tidur, benar-benar bosan.


+++


“Heaahhkk...,”


Aku meregang tangan ke atas, lalu kuambrukkan tubuhku ke kasur. Hahh, nyaman sekali bisa tidur di kasur di hari yang melelahkan. Bakal nyenyak nih tidurku, pasalnya rasa lelahku memuncak tepat saat jam tidurku.


“Hoaemn, akhu-kh jha...,”


Hm, Amel? Ah, ya, dia pasti mengigau.


Benar saja, ia mengigau saat kutengok dari atas, dia mengangkat-angkat tangannya seperti zombie mengejar mangsanya, “Khaume..., dijionoret-ne...,”


Kuraih botol air mineral kosong yang ada di mulut jendela, lalu melemparkannya ke kepala Amel.


Tuk.


“Mundorew!-nyum,”


Hahh..., sudahlah. Ini akan menjadi malam yang panjang namun singkat. Apalah itu.


“Jirutes..., alien m-puh...,”


Hah, dasar Amel. Sedang sadar ataupun tidak kau tetap saja memikirkan tentang alienmu itu.


“INI KENYATAAN, BUKAN CUMA BUALAN!”


Aku tersentak, Amel sudah keterlaluan! “Hey, Amel, bangun!” kuturuni tangga lalu menggampar perut Amel di bawah.


“Khah!” Amel terbatuk, “Mana aliennya? Belum kuhajar bajingan itu!”


“Sadar, Mel, sadar!”


Ia mengedar pandangan sejenak, lalu menggelak tawa, “Hahaha..., cuma mimpi toh,” iapun membaringkan tubuh kembali. Setidaknya ia tak’kan melantur lagi. Aku kembali ke atas ranjang untuk tidur. Lalu entah mengapa rasa kantukku terlalu berat sehingga..., aku..., tidur....


Nyaman sekali. Selamat malam, dunia...


+++


“Menurut lu, kenapa kita disini?”


Aku terdiam sejenak, “Entah, mungkin kita sedang beruntung,” aku terkekeh kecil.


“Hm,” ia hanya bergumam, melihat dengan perasaan hampa.


Hamparan rumput bergoyang dihembus angin, kami berdua duduk berteduh di bawah pohon yang rindang.


“Kalo kita gak berhasil ngejalanin misi ini, gimana?” katanya lagi.


“Mhh...,” kuhembuskan nafas berat. “Setidaknya kita bebas dari beban hidup ini,” aku terkekeh lagi. Entah mengapa candaan itu terbilang lucu bagiku.


“Ngedenger kata-kata lu, jadi pengen mati gua,”


Aku tertawa terbahak-bahak, dia hanya terkekeh kecil. Itu lucu sekali! “Hahh..., sudahlah, kita tak bisa terus mengeluh, ini sudah setengah jalan, sementara kita sudah tak bisa pulang. Kalau kata pepatah, maju ada buaya, mundur dikejar singa, ya lebih baik maju lah,”


“Iya sih,”


Lengang sejenak, angin berhembus menerpa kami, “Nah, sekarang, ayo, kita hadapi bersama, jalan kita masih paaa...njang sekali,” kubangkit kemudian kuulurkan tanganku.


Matanya membulat, tersenyum, lalu menggapai tanganku. “Nah, begitu dong, senyum, jangan murung melulu,” kataku. Kuangkat badannya, iapun berdiri menurutiku.


Kamipun berjalan melintasi gurun rumput itu sambil berpegangan tangan. “Lu ngarepin senyuman gua ya?”


“Ya tidak, sih. Tapi dalam perjalanan ini minimal masih ada sisi positif, setidaknya masih ada yang membuat kita bahagia,” aku tersenyum lembut, “Benar, tidak?”


“Bener!” jawabnya semangat.


Aku mengacungkan jempol kepadanya.


^^^