Ha

Ha
2. Takdirku...



[Alex]


"Puhh...,"


Kulambungkan asap rokok dari mulut, membuat segulung asap menutupi wajahku. Merokok di taman pada sore hari memang nikmat, aku bisa melihat keramaian yang damai sedang menikmati senja.


Kuhisap kembali rokokku, sambil ganti menatap batako taman yang kusam. Penuh dengan debu, tapak alas kaki berbagai bentuk dan ukuran, dan kerikil-kerikil kecil yang terdapat di sekitar batako. Kukeluarkan asapnya lagi. Begitulah sedaritadi aktivitasku.


Kutatap ke arah hamparan rumput di taman. Orang-orang sedang bergembira ria disana. Ada yang bercumbu rayu, bermain-main, bahkan ada yang hanya duduk saja;sama sepertiku, menikmati senja dengan diam. Kuregangkan kaki ke depan, tenteram rasanya.


Kulirik ke tengah taman, di sana, mereka, terekam kembali memorinya.


"Ayo, sini nak...,"


"Ihihi, mamah..., papah...,"


Leherku terasa dicekik, hatiku terasa remuk, aku berusaha bernapas dengan baik, "Ayo, nak, kamu pasti bisa," ayahnya menyemangatinya dari belakang ibunya sambil bertepuk tangan, anaknya yang masih balita berusaha keras meraih badan ibunya yang tangannya terbuka lebar, sesekali terduduk karena kakinya yang belum terbiasa, sedikit merangkak dan bangun lagi.


Setelah berusaha keras, jatuh dan bangun, ia mengambrukkan tubuhnya ke pelukan ibunya, "Mamah...,"


"Hore..., anakku udah pandai jalan..." ibunya memeluknya dengan erat, sedangkan ayahnya bertepuk tangan dengan bahagia lalu memeluk mereka berdua, "Aku sayang kalian," kata ayahnya.


Aku tak kuat menahannya lagi, kubuang rokokku yang masih panjang ke tanah. Itu benar-benar sama dengan realitaku dulu. Kupijat jidatku sambil menunduk dan mulai tersedu-sedu menangis. Hatiku remuk tak terkira, mataku banjir air mata. Bahkan bayi itu yang belum bisa berjalan dengan baik bisa meraih pelukan orang tuanya beserta kasih sayangnya, sedangkan aku yang sudah bisa meloncati bus sekalipun sudah tak bisa mendapatkannya lagi, setelah aku mencampakkannya.


Aku bangkit dari kursi taman, meniti langkah keluar dari sini, ternyata merokok di taman tak membuatku lebih baik.


 


Semakin lama, semakin jelas putaran kenangangan itu, yang bahkan sudah lebih sadis dan keluar dari kenyataan aslinya. Kubuka pintu kaca toko ini...


Kling-kling.


"Aku pulang...,"


"Woyo, Alex..." Ngkoh Yu Shin menyambut kepulanganku dengan senyuman, namun seketika hilang dan berganti dengan tatapan selidik. "Lu olang kenapa-o? Ada apa?" Tanyanya sambil menyingkap koran yang dibacannya.


"Gak kenapa-kenapa kok koh," ujarku sambil mengusap wajahku yang masih setengah sembab. "Ganti shift sekarang aja koh, Alex ga ada kerjaan,"


Ia masih terus menyelidik mukaku, "Jujul aja-o, ada apa?"


"Gak ada apa-apa," aku bersikeras sambil melangkah masuk ke meja kasir.


"Nanti malam lu halus ngomongin semuanya," ia bangkit sambil melipat korannya, kemudian berlalu ke dalam rumahnya yang berada di atas toko retail ini. Sejak kecil bakat terpendamku adalah menyembunyikan sesuatu dan berbohong, banyak orang yang sudah tertipu olehku, namun Ngkoh mungkin pengecualian.


Akupun duduk di bangku kasir, membuka mesin kasir dan menghitung uangnya. Hm, dari catatan Ngkoh, penghasilan hari ini masih 978.000, namun itu masih lumayan balik modal setelah kemarin Ngkoh merestok sembako yang memakan harga 1.100.000. Penghasilan Ngkoh memang tidak menentu perharinya, namun selalu cukup untuk memutar uangnya dan mengalokasikannya. Ia boleh dikata pebisnis ulung dibalik kesederhanaannya.


Jam 5 sore, kuhitung kembali uangnya, sepanjang ini aku masih mencari kesibukan untuk melupakan kesedihanku. Kupegangi kepalaku agar tak menangis lagi dan berhasil. Mungkin ya, aku trauma.


Kling-kling.


Seseorang membuka pintu toko, namun ini bukanlah toko retail yang memiliki layanan terbaik. Aku tak menyapanya meskipun ia adalah pelanggan, bahkan menatapnya pun tidak, lebih baik aku meneruskan menghitung uang saja.


Hmm..., membayangkan aku bekerja di toko retail profesional..., "Selamat datang di toko kami, selamat berbelanja," sambil menempelkan kedua telapak tangan di depan dada dan tersenyum ramah, pasti aku tampan sekali...


"Aduh!"


Terdengar suara berdebam. Hahh, siapapun kau, membuat imajinasiku buyar, nona! "Haduh..., hati-hati dong," akupun mengangkatnya berdiri, "Loh, Dewi?" Ternyata ini Dewi, teman perempuan sekelasku yang cantik namun pemalu. "Kenapa lu disini?" aku lalu membereskan beberapa snack yang terjatuh.


Ia merona seketika, "Hmmh...," gumamnya sambil berusaha menolak pandanganku, seketika kupalingkan mukaku.


"Yahh, hati-hati, ok?" Aku langsung meninggalkannya, dan lanjut menempati kasir dan menghitung kembali uangnya.


Tadi berapa? Enam ratus, Oke, tujuh ratus, delapan ratus, sembilan ratus, sejuta.... Kuhitung lagi dari seratus.


5 menit kemudian..., aku sudah menghitung hingga 4.673.900, sudah selesai sejak tadi aku menghitung. Ia datang hanya dengan sebatang coklat. "Cuma ini?" Aku meraihnya lalu menscan barcodenya, kemudian menyerahkannya lagi padanya. "Ada lagi?" Aku bertanya kembali, memastikan, pertanyaan yang tak perlu dijawab bila jawabannya adalah ya. "Jadi harganya sepuluh ribu,"


Ia menyerahkan uangnya, sementara coklatnya ia ambil, "Makasih," reaksiku singkat. Akupun duduk kembali, sambil mengambil tasku untuk mengecek isinya.


Aku selesai memeriksa tasku, masih lengkap. Namun, ia tak beranjak dari sana. Daripada terus-terusan canggung, kutegur ia, "Ada yang lain?"


"Uhh..., ehehe...," ia menggaruk pipinya yang kuyakin tidak gatal. "Ka-kamu..., punya nomor telepon?"


Aku sedikit tercekat, "Buat apa?" Tanyaku balik.


"Uhh, ya..., ak-aku butuh semua kontak..., semua teman sekelasku," ujarnya.


Pertama, tak ada yang boleh tahu tentangku. Kedua, jangankan nomor HP, HP-nya pun aku tak punya. "Gua ga punya HP," Jadi selain alibi agar aku tak memberikan nomorku padanya, juga karena aku tak memilikinya


"G-gak punya?!" Entah itu refleks jenis apa dia kaget hanya karena mengetahui bahwa aku tak punya ponsel. "Y-ya ampun...,"


Iapun mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ponsel miliknya, lalu ia mengotak-atik sebentar, kemudian...


 


Ruangan ini terletak di bawah tangga yang menuju lantai 2. Awalnya tempat ini adalah gudang seluas 7×5×3 meter, untuk menyimpan stok barang-barang dagangannya yang masih belum bisa dipajang. Namun, saat kedatanganku, gudang ini dibagi 2 oleh Ngkoh. Satu bagian masih tetap menjadi gudang, satu bagian lagi menjadi kamarku. Selain tak ada ruang lagi untuk kamarku, aku beralasan agar gudangnya bebas dari para tikus-tikus nakal yang suka memakan barang-barang yang ada di sana, ditambah supaya aku bisa masuk ke kamarku dengan mudah, tak boros energi untuk naik ke lantai 2. Dulu aku ditawari 2 pilihan; antara tidur di ruang TV di atas, dengan barang-barangku yang nanti akan dibelikan lemari baru untuk menyimpannya, atau di gudang bawah, aku lebih memilih di gudang saja agar aku tak mengacak-acak dan "mempersempit" ruang keluarga Ngkoh.


Aku sekarang tinggal di rumah Ngkoh, bersama Ngkoh sendiri dan cucu perempuannya. Ngkoh adalah orang yang sangat baik, meskipun lidahnya cadel huruf "ny" dan "r". Usianya sekitar 60-an tahun, dan ia memiliki ruko (rumah toko) yang ia kembangkan secara mandiri. Dulunya ia adalah mantan kepala desa sini, tepatnya 2 tahun yang lalu baru turun, sebelum ia di angkat menjadi kepala desa ia menjabat sebagai penasehat desa bersama Babeh. Karena petuah-petuahnya yang bijak iapun di percaya masyarakat sebagai kepala desa saat jabatan tersebut kosong setelah diisi sebelumnya oleh Babeh 2 periode. Akupun merasakan sendiri kearifannya, tepatnya sesudah ia turun dari jabatannya. Saat aku keluar dari penjara, terpikirkan olehku untuk menjadi gelandangan, namun Ngkoh datang menjemputku, dan mempersilahkan aku tinggal di rumahnya dan mengangkatku sebagai anak. Entah orang lain akan memutuskan hal berat seperti itu atau tidak. Pasalnya, aku sudah termasuk sampah masyarakat.


Aku duduk di kasur kapuk tanpa ranjangku. Mengingat kejadian 3 tahun lalu..., orang tuaku hangus terbakar di rumahku sendiri, dan aku menjebol penjara entah dengan cara apa. Aku menjadi bingung dan sedih lagi, setiap aku mengingatnya, setiap itu pula air mataku menetes. Akan kucoba agar aku tak menangis.


Berhasil, namun aku butuh pengalihan. Kuputuskan untuk mengambil bungkus rokokku; masih ada 9 batang,kuambil 1 batang lalu menyalakannya. Udut time...


"Puh...,"


Akupun bersandar ke tembok. Kukeluarkan segulung asap tebal dari mulut dan hidungku. Nikmat sekali merokok di malam yang tenang, sambil bersandar ke tembok kamar berwarna putih. Kuambil asbak berbentuk lingkaran yang terbuat dari potongan bambu untuk menabur abu rokoknya.


Kusebat lagi. "Huhh...."


Krit...


Sial..., ia datang ke sini, sementara ia memergokiku sedang merokok. "Malam, Alex." Sapanya saat membuka pintu, "Haiya, udah owe bilang jangan melokok-o, anakku!" sapanya saat mulai masuk, mata sipitnya dihias oleh alis putih bersih dan keriputnya sudah tak terhitung.


Entah mengapa, aku selalu tak enak mendengarnya memanggilku "anakku", "Maaf koh, tanggung," aku tetap meneruskan menyedot rokokku.


"Hahh...," ia menggelengkan kepalanya, lalu tertatih berjalan ke kasurku. "Gimana-o, Lex?"


"Gimana apanya?"


"Soal tadi sole,"


"Ohh..., engga, udah kulupain,"


Ia bergumam, "Baguslah," ia menggosok betisku yang selonjor. "Lu mau dipasangin lanjang ga kasulna?"


"Yaa..., ga usah lah," jawabku. "Tapi kalo ngkoh mau ya ga 'papa,"


"Ya kan kasul elu," ia terkekeh. Aku ikuti saja, seni berbasa-basi, walaupun aku agak tidak suka hal itu.


"Ada yang mau owe bicalain," ia menepuk betisku. "Tapi di ruang atas, habisin lokoklu dulu, owe tunggu di atas,"


Ia bangkit dari kasur kapukku, menuju keluar kamar. Dari luar terdengar ia mengusir beberapa tikus yang berkeliaran, lalu mengutuk mereka dengan bahasa yang tidak kumengerti. Kulanjutkan udutku hingga tersisa pendek sekali, kumatikan rokoknya dengan memutar baranya di asbak.


Akupun keluar dari kamar, melewati gudang yang berisi kardus-kardus dan beberapa barang lainnya, lalu jeluar tepat di bawah tangga, kunaiki tangga ke atas, langsung menuju ruangan keluarga Ngkoh di atas, di sana ia sudah menunggu sambil menyeruput kopinya dan menonton siaran berita tengah malam, ia mengecilkan suaranya agar cucu perempuannya tidak bangun. "Sini, duduk-o!"


Aku duduk di sofa empuknya, bersebelahan dengannya. "Tuh kopi kesukaanmu, minum-o," akupun malu-malu meraihnya, menurutinya. Bila ia meracik kopi, pasti rasanya lezat sekali, ditambah rasa creamy-nya yang pas.


"Belita zaman sekalang," cetusnya. "Kalo gak musibah olang, pasti politik atau libut-libutan,"


Aku bergumam pelan, ikut miris dengan Ngkoh. Ngkoh melirikku sejenak "Hahh, Jaka, tapanna anaklu ini, dia pake bajulu yang twenti apalah itu." Ia kembali fokus ke berita.


Aku tak bisa berkata apa-apa. Memang benar, sekarang aku sedang memakai kaos putih lengan pendek berlogokan Twenty Seven New York City dengan angka 27 besar di tengahnya. "Sayang lu ga bisa melihat ketampananna memakai baju-bajulu."


Lengang sejenak. Sekarang siaran berita ini sedang memberitakan kebakaran rumah seorang warga di suatu daerah yang diduga karena ledakan gas. "Ini tentang wasiat Babehlu,"


Aku terkesiap, langsung memasang telinga dan mata untuk memperhatikan. "2 minggu sebelum kejadian, Babehlu datang ke lumah owe, dia beltamu sambil bawa bungkusan gede, awalnya owe ga tau itu isinya apa. Biasalah, itu udah tladisi kami; saling beltamu, maen ke lumah. Kami bicalain bannak hal, mulai dali masalah-masalah kecil, sampe belcanda santai. Walaupun umul owe beda jauh ama dia, tapi owe paling aklab sama dia. Olang kayak dia..., mungkin udah susah dicali."


Ia terkekeh. Aku sedang mencerna kalimat-kalimat Ngkoh tadi. "Akhil pembicalaan, dia mulai aneh. Tiba-tiba dia ngomong pas owe pengen nnalain lokok. 'Lu mau sampe kapan melokok-o' owe agak kaget soalna dia juga pelokok belat, lagian ga biasana dia gini, owe jawab 'Kalo mau ambil aja-o,' 'Selius, Ngkoh,' owe agak ga enak tuh soalna tu lokok udah belasap, tanggung lah kata owe dalem hati, kayak alasan elu tadi, tetep owe hisep. Dia bilang 'Mau sampe kapan?' 'Sampe masa tua owe habis...,' kata owe sambil ngetawain dia, memang biasa kami ledek-ledekan, belcanda doang. Tapi dia malah mbales 'Tolong lah koh, mikil, lu olang dah tua. Nanti kalo koh dikatain ama bocil tua bangka pengudut gimana? Kan ga lucu,' ya owe ketawa aja waktu itu soalnya lucu menulut ngkoh, dia cuman nggeleng-nggeleng kepala, telus ngasih bungkusan itu ke owe, 'nih, nitip di elu,' owe buka isinya baju-baju yang sekalang ada di lemali lu itu, owe tanya buat apa, dia jawab 'kali-kali nanti lu butuh,' pulanglah dia. Besokna, owe lencana pengen balik beltamu, tapi, telnyata itu kontak owe yang telakhil sama dia."


Sekarang channel berita itu berganti iklan. "Owe datang ke lumahlu, yang kelual Emaklu, katanna Babehlu lagi pelgi ga tau kemana, kalna kebetulan owe juga ada ulusan laen jadi owe pulang lagi, mungkin besokna bisa. Ga tauna, sampe besok-besokna ga ketemu-ketemu, kata Emaklu pelgi pagi pulang malem, ya udah owe ga kesana-sana lagi, takut malah ngeganggu. Owe coba telpon, ga keangkat. Mungkin dia sibuk, akhilna benel-benel owe 'lost contact' ama dia."


Pas elu ditangkep ama polisi, owe bangun kesiangan, owe mau buka toko aja dah banyak olang yang nungguin. Owe diminta intelview soal kasus elu. Selama di intelview, owe intip-intip siapa yang ngantelin elu ke kantol polisi, yang owe liat dali pihak kelualga elu cuma 2 olang cewe, satu Emaklu satu lagi ga tau siapa, lupa owe. Begitu selesai intelview owe ga liat-liat tuh Babehlu, owe coba telpon tapi malah misscall, akhilna owe caliin dali desa ini sampe ke desa sebelah, ke setiap tempat yang mungkin ada Babehlu, tapi hasilna nihil. Kamu tau lah kelanjutan celitanna apa."


Aku berpaling pelan ke arah TV dengan terisak, kusedot ingusku agar tak merembes keluar, kuusap air mataku yang mengalir. "Itulah wasiatna ke owe sama ke elu, dia nitipin elu lewat isyalat bungkusan itu, sama pesen dia ke elu ama owe jangan suka melokok lagi, kalna di liat-liat kayakna sumbel masa lalumu asalna dari udut, kalo buat owe bial ga keliatan kekanak-kanakan aja,"


Aku menghela napas. Dia benar, sumber masa laluku hanya berasal dari rokok. "Nah, kalna tadi owe dah celitain semuanna, owe boleh tanna?"


Aku berpaling kembali padanya, "Tanya apa?" Suaraku terdengar serak.


"Kamu 'kan udah dititipin sama owe, owe juga udah ngangkat kamu sebagai anak. Kamu maunna dipanggil apa?"


Aku sontak memeluknya, apapun alasannya, hanya ingin memeluk orang yang sudah sangat baik kepadaku. "Dipanggil Alex aja koh..., kalo koh pengen manggil aku 'anakku' juga ga 'papa...,"


"Alex..., anakku,"


Kami berpelukan, menangis haru. Akhirnya, setelah sekian lama, aku punya sosok ayah lagi di hidupku, yang sangat perhatian sampai-sampai hingga hal sekecil inipun ia perhatikan.


Takdirku...


^^^