Ha

Ha
3. Trouble/Masalah



[Alex]


"Nih bu, makasih ya,"


"Ya, sama-sama nak."


lanjut berkeliling desa, menjajakan koran sambil mengendarai sepeda milik Om Galih, bos koranku. Ia memberiku imbalan sebesar lima puluh ribu tiap harinya.


Tinggal 2 rumah lagi yang belum mendapat koran langganan, jarak antara 2 rumah itu sekitar 1 kiloan, sementara lokasiku menuju rumah yang terdekat tinggal 500 meter lagi. Kukebut sepedaku sebab matahari semakin naik.


---


[Fina]


Seperti biasa pagi yang cerah. Pukul 7 kurang 10 menit, aku baru tiba di sekolah. Sementara aku menitipkan tas kepada Amel agar dibawa sekalian ke kelas. "Aku masih mengurusi soal kemarin dengan Bu Wanti."


"Bodo amat!"


Yah, mungkin ia kesal dengan tabokanku ke perutnya semalam. Kak Juliyanto sudah menungguku di ruang komputer untuk membicarakan beberapa hal katanya. Maaf ya, Amel.


+++


[Alex]


Perjalananku menuju ke sekolah lumayan lama. Sekarang pukul 7 lebih 8 menit, dan aku masih di angkot.


"Kiri depan pak!"


Aku turun dari angkot, memberinya uang 2000-an, lalu berjalan ke sebuah jalan yang lebih kecil. Sengaja aku tak melewati gerbang sekolah karena pasti sudah ditutup oleh si Supri satpam sekolah sialan itu.


Melangkah semakin ke dalam. Sialan..., itu anak basis sebelah..., mana bertiga pada bawa CR di tasnya lagi. Aku akan pura-pura tak melih-, "Woy, anak mana lo?"


Babi memang. "Gua anak SMA itu," kutunjukkan gedungnya yang terlihat dari sini.


"Hehehe...," mereka tertawa, saling pandang. "Ini jalan kita-kita, siniin duit lu, pajak jalan!"


"Apa hak lu ngolekin gua?" Ini yang aku tidak suka dari anak-anak semacam ini. Yang kerja rodi bapaknya, yang repot anaknya.


Mereka terbahak. "Hey, goblok. Dengerin, dunia itu keras, hukum rimba berlaku udah dari jaman Fir'aun masih maen ayunan, jadi lu harus ikutin hukumnya,"


Giliran aku yang terbahak. "Kalo hukum itu masih berlaku, jangankan kalian bawa CR, bawa tas aja mungkin dah gua kolekin di jalan gede sono,"


"Wuidih..., gede amat omonganlu,"


Akupun memakai maskerku "Mau ngejajal? Sini maju babi! Gua tangan kosong dah. Kesian ntar lu kena bacok nangis."


Merekapun maju, kutarik nafas perlahan, hingga di kedalaman dada. Kuedarkan ke seluruh tubuhku, dibekali disetiap aliran darahku, keyakinan...


"HAAA...!!!"


"HEAAA...!!!"


"ANJING...!!!"


Bahwa aku kebal senjata apapun. "'Dah lama gua gak ngerasain tajemnya celurit,"


Mereka terbengong, sepersekian detik kugunakan untuk memukul dagu sayap kanan ke atas hingga terpental. Resikonya kalau tak pingsan ya mati itu orang. "ANJING! BABI!"


Sisa dua, dengan penuh amarah mereka menyabet CR padaku secara membabi-buta, hingga berputar-putar kami "menari", mereka memakai posisi "maju mundur-depan belakang", sehingga bila salah seorang menghadapiku, satu yang lainnya melempariku dengan batu dibelakang, kemudian bergantian posisi dengan kodenya mengangkat jari kelingking tangan kanan mereka.


TAK!!!


Kutepis sabetan CR itu ke kanan sesudah sekian gerak tarian menghindar kulakoni. Senjatanya terjatuh keselokan, tangannya bergetar, ternyata ini hanya petarung pemula.


DUK!


Kupukul nadi lehernya, membuatnya terhempas jatuh menumpuk senjatanya di got hitam bau itu. Seragam putihnya kini bercampur hitam dan coklat entah apapun itu.


DAK!


Untuk pertama kalinya, orang itu melempar batu dengan benar, menghantam jidatku dengan tak main-main. "Kekeran yang bagus," salutku. Sekarang ia tinggal sendiri, dengan senjatanya yang masih di genggaman. Ia ragu dan takut untuk menyerang, teman-temannya tumbang dengan 1 serangan. "Sekarang gua tanya ama lu, lu petarung bukan?"


"Y-ya!"


"Tapi kenapa lu tadi pas masih berdua ngacangin temenlu yang udah tepar itu?"


Kutunjuk temannya yang tadi kupentalkan dari dagu, masih ada nafasnya, ia pingsan. "Lu petarung sejati bukan?!"


"Y-YA!!"


"BUKTIKAN, HADAPI AKU!" Raungku menggema. "BUKAN PETARUNG SEJATI YANG MEMBIARKAN TEMANNYA TEPAR TERSERANG LAWAN. LU BUKAN PETARUNG, LU CUMA SAMPAH! GAK BAKAL ADA AMPUN BUAT LU!"


Aku maju dengan perasaan membara, jarak 5 meter kulangkahi dengan 2 langkahan. "HEAA!"


"ANJING!"


Kutonjok pipinya, kutendang perutnya, kuambil bahunya, kupertemukan ususnya dengan dengkulku, kuruntuhkan kaki-kakinya, lalu menimpuknya berkali-kali. "HAHAHAHA...!"


"Ampun bang...!!! Ampun...!!!"


"INI HUKUM RIMBA YANG TADI LU OCEHIN, HAA...," Lebam-lebamnya mulai terlihat. "HUKUM RIMBA ITU BAKAL NGEHUKUM LO SEKARANG!!!"


"Ampun...!!!"


BUK!!!


Tahap akhirnya kuinjak perutnya hingga ia pingsan, dengan beringas kutelanjangi ia mulai dari bajunya, mengambil uangnya, kemudian melakukan hal yang sama pada 2 temannya yang lain. Baju-baju mereka kutaruh ke api yang membakar sampah di depan sebuah rumah. Yang membakar sampah; seorang ibu muda yang tengah hamil tua sambil memegang sapu jeri menatapku, tangannya saja bergetar memegangnya.


Aku baru sadar, pertarungan kami dilihat oleh banyak mata, bahkan sebagiannya merekam. Mereka takut melerai kami, entah apa alasannya. Mungkin karena dulu, seorang jagoan sini pernah tertusuk paru-parunya hingga mati, saat aku masih bermain di markas itu, dan ribut dengan gang sebelah. Masih terngiang di kepalaku, bagaimana ia dengan bodohnya keluar dari jalan ini menuju ke jalan besar di depan, sambil berteriak mengangkat bedilnya, menyombongkan diri di waktu pertempuran hampir selesai. Aku tahu, niatnya ingin melerai kami mumpung momen pada saat itu sudah mau rampung. Tetapi, caranya yang malah memanas-manasi emosi kami kembali, menjadi penyebab mati konyolnya. Para pentolan dari 2 kubu maju lagi, dan aku yang pertama kali maju, menusuk orang itu di dada kiri dengan katana, kemudian bertarung sebentar dengan beberapa musuh, bubar barulah pulang.


Ini akan sulit. Para warga yang sudah mengerumuni anak itu, sebagiannya menatapku. Ditambah para penonton yang entah itu dari balkon rumah, tempat jemuran, pinggir jalan, dan masih banyak lagi. Mereka tak berani menghadangku, takut mereka KO dalam sekali pukul. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana caraku masuk sekolah?


---


[Fina]


"Bu, aku izin ke kamar mandi,"


"Silahkan,"


Ya ampun..., mengapa harus disaat seperti ini aku ingin BAB? Mamah tadi memasak apa ya?


Di toilet kupilih WC yang berkloset duduk.


"Uhhk...,"


Rasanya panas dan sakit sekali. Apa yang kumakan tadi? Apa aku diare?


"Ahh...,"


Akhirnya keluar.


Krit-krit.


Terdengar suara dari WC sebelah, suara berdecit tentu saja, namun apa itu?


Selanjutnya terdengar sebuah debuman, kemudian keluar suara sesuatu seperti bingkai jendela yang bergesek dan terketuk oleh sesuatu. Apa itu?


Aku cepat-cepat membersihkan sisa-sisaku, lalu menyiram klosetnya dengan- "Ssshh...,"


S-siapa yang ada di sebelah WC-ku? Dia mendesis tadi.


Kupakai bawahanku. Setelah rapi, akupun keluar dari WC. Saat itu pulalah, aku merasa lega dan saat aku iseng menatap ke arah kiri, aku mematung, juga dia. "A-AL--"


"Ssstt...," ia segera membungkam mulutku. Hei, apa yang dilakukannya di toilet perempuan?!


"Tenanglah sedikit," ia menelunjuki mulutnya.


Kulepaskan dekapan tangannya. "Apa yang kau lakukan di sini hah?!"


Namun, dilihat dari ia membawa tas, aku langsung mengerti. "Akan kulaporkan kau!"


Akupun mengambil langkah seribu. "H-hei!" Sergahnya di belakang. Akupun keluar dari toilet, dan terlibat kejar-kejaran dengannya. "Hei, tunggu!"


Berjibaku dengan lorong sekolah yang berkelok-kelok. Itu kelasku, ya! Kalahlah kau, Alex! Kau akan habis oleh keadilan peraturan sekolah!


"Bu guru, aku dikejar Ale-"


Seisi kelas terdiam, menatapku keheranan. Kursi guru kosong, masih banyak murid-murid yang duduk di meja dan bercanda, tak ada yang memegang kendali. "K-kemana gurunya?"


"Memang ada?" Tanya balik Laksono yang masih duduk di atas meja berhadapan dengan Amel dan beberapa kawannya yang lain.


Reflek kuperiksa jam tanganku. JAM TUJUH KURANG TIGA MENIT?


Aku tercekat, melotot serasa mau lepas dari kelopak mataku menatapi jamku . Ini tidak mungkin!


Krit...


"Ksk!" Leherku terangkul membuatku tercekat.


"Kena kau!" ujarnya sambil terkekeh pelan, ia belum menyadarinya, namun segera ikut tercekat sebab ia dipandangi oleh seisi kelas. "Ooh..., jadi begitu ya kalian diam-diam...,"


Laksono bodoh! "Ciee...,"


Seisi kelas menyoraki kami, "Lepaskan aku, bodoh!" Kulempar tangannya, berbalik, lalu menamparnya.


Seisi kelaspun hening, "Wuiih, drama pagi!"


Kelas menyoraki kami berdua, akupun berjalan ke mejaku dengan muka panas merona. "Diam!"


"Ayolah, sedikit mesra dengan pacarmu!" Sorak yang lain di tengah ingar-bingarnya kelas menggodaku dan Alex, Alex hanya terdiam setelah kutampar lalu ia duduk di kursinya.


Akan kubalas kau, Alex. Siapapun kamu, dan seseram apapun kamu!


+++


[Alex]


Dasar bajing..., tadi itu ada apa? Aku tak paham dengan situasi ini, pengelihatanku akan posisi matahari tak pernah meleset.


Pertama, pagi ini aku bangun, jam 5 subuh, lalu menjual koran. Selesai pada jam setengah 7 pas.


Kedua, aku mengembalikan sepeda lalu pergi ke sekolah naik angkot pada jam 7 kurang 40 menitan, kemudian turun dari angkot pada pukul 7 lebih 10 menitan.


Ketiga, aku berjalan di jalan itu membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk sampai di tembok belakang sekolah dengan berjalan, namun pada menit ke 2 aku bertemu anak basis sebelah lalu berkutat di sana dan memakan waktu sekitar satu jam, menghasilkan uang sebanyak 93.000 dari ketiga korban. Kulihat matahari saat itu sudah menunjukkan sekitar pukul delapan lebih tiga puluh menit.


Keempat, akupun berlari ke tembok sekolah dan hanya memakan waktu satu setengah menit untuk bisa sampai ke sana dan melompatinya sekaligus masuk ke sekolah sekolah melalui jendela kamar mandi perempuan. Adegan aku saat di kamar mandi dan saat berkejaran dengan Fina perkiraannya membutuhkan waktu sekitar 1 menit. Seharusnya guru saat itu sedang mengajar di kelas dan seharusnya pula saat itu pukul delapan lebih beberapa menit, namun mengapa menjadi pukul 7 kurang 3 menit saat aku masuk; saat-saat dimana bel pun belum berbunyi?


Kalau misalkan ini perjalanan waktu, ini tidak mungkin, karena aku tak percaya hal itu. Lagipula uangku hasil mengolek tadi masih ada, bahkan semangkuk bakso ini diambil dari uang itu. Namun bila ini benar perjalanan waktu...


Aku tak peduli, yang penting aku tak dapat masalah, dan hidupku enak.


"Alex!"


Siapa yang mengganggu waktu istirahatku bulan ini? Mana dia menepak pundakku dengan keras pula. "Bisa kita bicara sebentar?


Ia perempuan cantik, namun aku tak pernah menyukainya. "Apa, Fin?" Aku mengelap mulutku. "Ngomong aja,"


"Bukan di sini," ujarnya lagi, dengan ekspresi yang marah? "Ikuti aku!"


"Ntar, bakso gua belom habis," akupun kembali ke baksoku.


Ia menerkam pundakku lagi. "AYOL-"


Krelek... krekk...


"Mau yang lebih?" Tawarku sambil tetap menyantap bakso tanpa berpaling ke arahnya. "Sabar,"


Ia tahu ia bukan lawanku, akhirnya mengalah daripada harus menanggung malu. "Kutunggu kau di belakang sekolah...,"


Iapun berlalu. Untung kantin ini ramai, jadi tak ada yang memperhatikan tangannya diremuk olehku.


---


[Fina]


"Hahh, kau sangat terlambat,"


"Memangnya ada apa?"


"Kenapa kau tadi mengejarku hah?" Ia kesal padanya atas kejadian pagi tadi, atau siang tadi?


"Karena lu ngancem gua pengen ngelaporin ke guru,"


"Tapi itu kan salahmu!" Bentakku, untungnya ini tempat sepi. "Kamu sudah terlambat ke sekolah, sangat terlambat! Bahkan kau masuk lewat jendela toliet perempuan! Menjijikkan dan tidak sopan!"


"Yah," ia bersaku tangan, sambil bersandar badan ke tembok, "Kalo lu pengen ngelaporin kejadian tadi, ya sono laporin, lu gak ada bukti, juga kalo hal yang terjadi tadi itu cuma kesalahan waktu, maka pada saat itu cuma kita yang ngalamin, gak ada yang tahu. Bakalannya lu cuma jadi bahan ketawaan doang nanti."


Aku semakin gemas dengan tingkah sok cool-nya, "Tapi apa harus tadi memeluk leherku hah?!"


"Mencegah lebih baik daripada kena masalah," ia mengeluarkan--rokok?!


"Hei, kau ingin merokok?!" Bentakku sambil menunjuki rokok yang sudah berada di mulutnya.


"Kenapa?" Ia menyalakan apinya. "Lagian kalo larangan merokok di sekolah itu cuma berlaku di wilayah teritorial sekolah aja, ga nyampe ke sini. Jadi bolehlah,"


"Hiiihh...!" Aku sudah sangat gatal ingin menimpuk orang ini, namun melihat dari resikonya, kuputuskan untuk memendam dan pergi saja. Akan sangat susah dan sangat beresiko bila mendebatnya.


"Ya maap kalo aku membuatmu malu tadi,"


"Aku tak peduli!"


"Cowok memang selalu salah,"


+++


Pelajaran dimulai kembali, saat ini jadwal pelajarannya adalah sejarah.


Bu Reni, pembawa pelajaran sejarah mengeluarkan buku absen. "Semuanya hadir?"


"Hadir bu," balasku.


"Oke...," ia menandai di buku absen pegangan gurunya atas nama-nama murid yang ada di sini. "Langsung tugas ya, Ibu ada urusan dulu,"


Mendengar itu teman-teman sekelasku anjlok semangatnya, mendesah keluh kesah mereka dengan pelan, padahal yang mereka harapkan dari Bu Reni adalah pembahasan materinya yang menggugah semangat karena mirip seorang ibu yang sedang berdongeng. Setidaknya 99% dari seluruh siswa kelas ini, kecuali 1 orang, Alex. Dia selalu tidur. Mungkin hanya dia yang senang dari keseluruhan isi kelas. "Kerjakan latihan bab 2 ya, di kertas selembar, hasilnya kumpulin ke Fina! Oke?"


"Siap!" Jawab Laksono dan beberapa lainnya semangat, setidaknya ada waktu senggang lagi pasca jam istirahat.


"Ibu ada urusan sama tamu sekolah...,"


Ia melangkah pergi. Andi, Laksono, dan Jerry menggempur meja, mengisyaratkan kebebasan mereka. Akupun mulai membuka buku, dan mulai menjawab soal-soalnya.


Drrrtt...


Handphoneku bergetar dari dalam saku, kunyalakan benda ini, lalu melihat notifikasinya.


Kak Juliyanto:


"Hei, kenapa kamu tidak ke ruang komputer tadi pagi? Ada masalah?"


Hahh..., sepertinya aku melupakan sesuatu. Secara logis, bila tadi tak terjadi hal aneh, aku sudah menemuinya di ruang komputer. Dan siapa yang menyangka bahwa ia suka padaku?! Tetapi tadi kujawab sambil cengengesan "Entahlah kak, aku belum siap." mungkin itu jawaban yang masuk akal dan paling pas di momen seperti itu. Pasalnya, bila aku menjawab iya maka itu akan membantuku meraih kursi jabatan ketua OSIS, namun ini masalah cinta, dan aku tak mau main-main dengan itu, apalagi hanya untuk urusan politik sekolah yang kecil, itu menyangkut harga diriku sebagai wanita terhormat. Aku tak mau main-main dan mengurusi masalah percintaan saat sekolah itulah komitmenku.


Kujawab saja padanya. "Hehe, maaf kak, tadi saya ada urusan. Pulang sekolah saya bisa kak," aku akan memakai trik yang sama.


Akupun mengerjakan soal-soal ini. 45 menit berlalu, semua kertas dari seluruh siswa telah terkumpul, akupun mengantarnya pada meja Bu Reni di ruang guru.


Akupun kembali ke kelas, ramai, untungnya mereka masih memakai otak sehatnya, jadilah tak seramai seperti saat jam istirahat.


Amel ikut mengobrol di kumpulan kelas. Sementara aku akan memikirkan jawaban atas pernyataan Kak Juliyanto padaku.


"Ciee...,"


Kata itu melengking di ruang ini. Pasti tentangku dan Alex karena itu topik yang masih sangat hangat. "Hei, Fin, kemarilah, gabung kesini, jangan cuma disitu doang diem,"


"Tak mau!" Aku mengeluarkan bukuku agar seperti orang sibuk, "Tidak lihatkah kau aku sedang membaca di sini?"


"Oh ayolah," ia menghampiriku, lalu mencoba menyeretku ke perkumpulannya.


"Tidak mau!" Berontakku, "Aku hanya akan dipermalukan oleh kalian bila aku ikut bergabung, sama saja antara aku ikut atau tidak,"


"Maka dari itu kau harus bergabung," balasnya sambil menarikku, "Kau tak akan dipermalukan bila kau ikut bergabung. Ayo!"


Aku kalah kuat, berakhir duduk tepat di sebelah Laksono di meja. "Sambutlah ketua kelas kalian..."


"Tapi kan daritadi memang ada di kelas," tukas Amel yang duduk di lantai bersama beberapa yang lain.


"Tapi dia kan baru masuk circle kita," tukasnya "Sambutlah!"


"Selamat datang...," sambut semuanya dengan nada yang setengah hati.


"Oh ayolah," ia menggaruk kepalanya.


Ia memulai majelisnya, bersama Andi dan Jerry, mulai melucu tentang banyak hal. Para guru, para staf sekolah, kepala sekolah, pemerintah, nama-nama ayah kami, hingga merasis kulit teman kami yang bernama Jono dan Wati, si jodoh berkulit hitam tak luput dari guyonan perkumpulan yang disebut "circle" ini. Mereka awalnya kesal, namun akhirnya ikut tertawa. Belum lagi gosipan mereka yang dibawakan oleh Amel, kami sampai kaget dan tak menyangka akan berita yang dibawa Amel, sampai sejauh itukah dia menyelaminya?


Hah, awalnya ini terlihat buruk, apalagi melihat Laksono yang jabatannya sebagai keamanan kelas, namun ternyata tidak juga. Aku mulai menyukai ini.


+++


"Apa besok masih ada yang kumpul-kumpul lagi?"


"Hm? Ya masih lah, besok kan masih sekolah,"


Saking asiknya tadi hingga aku hanya bisa memikirkan momen-momen seru tadi. Ternyata teman-temanku asik!


"Makanya, jangan suka bikin jalan sendiri mulu," kata Amel.


"Maksudmu?"


"Ya kayak kakak punya pergaulan tapi cuma gitu cara-caranya, ya hambar lah pergaulan kakak."


"Ooo, paham-paham,"


Ia menunjuk ke arah jalan, "Itu angkotnya!"


Kamipun melambaikan tangan, sebuah angkot terhenti, kami masuk ke dalamnya.


"Kak," ucap Amel padaku ditengah hiruk-pikuknya kendaraan di depan lampu merah. "Kakak suka Alex ya?"


"Tidaklah!" Sangkalku. "Ayolah jangan bahas itu lagi! Cukup!"


"Heleh-heleh...," godanya sambil melangkahkan jari-jarinya di lengan kananku. "Bilang aja suka..., nanti gampang lah kucomblangin,"


"Ish, punya malu dong!" Aku membuang lengan jahilnya kepadanya. Ia balas cekikikan.


Selebih itu kami diam, menikmati perjalanan di angkot, hingga akhirnya kami turun di seberang jalan komplek kami, "Nih bang, uangnya,"


"Oke makasih dek,"


Kamipun langsung menyeberang mumpung jalanannya masih sepi, kemudian masuk dan menyusuri jalanan komplek. Seperti biasa, setengah ramai, setengah sepi, karena ini bukan jam pergi ataupun pulang kerja, paling hanya ada para anak sekolah yang pulang diantar ibunya naik motor ataupun mobil atau bahkan diantar oleh ojek, atau seperti halnya orang-orang dengan berbagai keperluannya berkeliaran di sini. Rumah-rumah yang tertata rapi, nyaman dipandang berikut taman-taman kecil di setiap depan rumahnya yang bergaya minimalis. Rumah kami tinggal beberapa langkah.


"Kami pulang...,"


+++


[Alex]


"..pulang...,"


"Hoea!" Ngkoh terperanjat dari tidurnya dan langsung kuda-kuda siap menyerangku. Mungkin dia mimpi kerampok lagi. "Eh, telnyata Alex-o," ia duduk lagi di kursi kasir sambil mengambil korannya yang terjatuh. "Haiya, kalo masuk ketok dulu-o,"


"Kemaren-kemaren aja kuketok pintunya ngkoh hampir aja mecahin kaca toko,"


"Ehehe, ya maap...," ia menggaruk kepalanya yang berambut putih. "Sekalang ganti baju telus makan-o, itu di meja dah ada,"


"Oke," akupun berganti baju lalu makan, sesudah itu aku tidur siang di kamarku. Semenjak aku tinggal bersama Ngkoh aku menjadi anak rumah lagi. Walaupun begitu aku masih sering keluar rumah, tak benar-benar nolep seperti para anak-anak rumah lainnya.


---


"Uhh...,"


Jam 4 sore, aku mau apa ya? Oh iya, bagian jagaku sekarang. Akupun mencuci muka lalu keluar dari kamar.


"Koh, hm," aku mengisyaratkan pergantian pemain padanya, ia yang sedang membaca koranpun menjawab dengan acungan jempol sambil tersenyum. Iapun minggat ke dalam rumah.


Akupun menuju kursi kasir, lalu membuka laci meja. Hm, tak ada yang menarik, hanya ramai oleh barang-barang yang tak penting, seperti buku-buku laporan, ataupun alat-alat tulis lain.


Kududuki kursi kasir, empuk, lalu menyalakan kipas. Hahh, hanya duduk di sini, tak melakukan apapun. Sudahlah, aku bosan.


Menit demi menit berlalu, kubayangkan seorang wanita cantik, datang ke toko ini, tersenyum padaku, lalu mengeluarkan sebuah kemasan kecil. Kupikirkan itu adalah kon...


"H-hey,"


Anjing! Aku tak sadar betulan ada seorang wanita yang menghampiri toko ini! Namun tentu saja ia tak menyerahkan sebuah bungkusan ****** padaku. Kuharap ia tak melihatku ngaceng.


"D-dewi," kubenarkan posisi dudukku, menyembunyikan anuku. "Apaan?"


"Mmh," ia memberiku sebuah kado, kado berwarna biru dongker. Kado kecil, berbentuk seperti balok bata.


"Apa ini?" Aku menatapnya penuh pertanyaan.


"T-tolong diterima,"


Kau memang perempuan yang aneh. Kubuka kado itu yang ternyata sangat mudah. Ah, pasti kado ini mahal. "I-ini...,"


Aku menatapnya tak percaya, sebuah aipon keluaran terbaru itu?! Ah sialan, segelnya telah robek, "M-maaf tadi aku membukanya dulu, agar kumasukkan nomor HP-ku di sana."


Aku hampir kehilangan kata-kata. "L-lu serius?"


"H-mmm...,"


"Ma-makasih banyak...," kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Sumpah aku berkeringat panas-dingin sebab ini. "Ehh ya, mau belanja apa?"


"Ee...ehehe, mau langsung balik aja, udah ditungguin."


"O-oke,"


Ia pun pergi dengan-


Duk!


"Ad-aduhh...,"


"Hati-hati Dew...,"


"I-iya, hehehe,"


Ia keluar, menuju--gila seh..., masuk ke mobil Mercy, jarang-jarang aku lihat mobil seperti itu. Mobil mewah yang sepertinya pabriknya hanya memiliki cat nippon warna hitam legam. Dasar wanita...


^^^