GUS HAIKAL

GUS HAIKAL
05.



Happy reading


Seminggu kemudian...


Benar apa yang di katakan ayah Amanda kemarin. Amanda benar-benar akan berangkat ke pondok pesantren. Amanda sendiri pun tidak punya pilihan lain , ini semua demi hanya demi fasilitas nya termasuk mobil kesayangan nya yang ikut di sita ayah nya , agar dapat kembali pada nya .


Kini Amanda sedang bersiap-siap berangkat ke pondok pesantren . Kemarin mereka telah selesai menyelesaikan pendaftaran masuk . Sedang kan Sore ini , Amanda dan Ibunda nya berniat akan mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan.


Untuk mencarikan baju-baju muslimah untuk Amanda tentu nya , juga kerudung yang akan sangat ia butuh kan di sana . Beberapa hari kemarin, Annisa telah mengajar kan bagaimana cara nya menggunakan kerudung segi empat dengan baik juga rapi .


Tak lupa mengajari Amanda cara melipat baju , mengingat selama ini pelayan lah yang mengerjakan semua nya .


Juga Cara mengancingkan kerudung , dan cara meluruskan kan nya agar mudah saat di pakai.


Beruntung sore ini jalanan tidak terlalu ramai . Hingga mereka bisa segera Sampai lokasi tanpa merasakan macet yang berkepanjangan.



" Bunda yang ini aja , warna nya gelap". Pinta Amanda pada baju gamis hitam polosan dan hanya ada pita kecil di ujung Bagian lengan nya .


" Ya udah kita ambil yang itu , terus kita pilih lagi yang lain , Inget ! Pilih baju yang tertutup bukan yang biasa kamu beli sendiri". Annisa berkali kali mengingatkan Amanda.


" Iya bunda , aku bakal cari yang tertutup kok ". Amanda mendelik sebal , pasal nya sang ibu yang terus saja mengingat kan hal tidak penting itu .


" Maaf ibu dan kakak nya, ada yang bisa saya bantu di sini ?" . Tanya seorang pegawai wanita dengan senyum ramah nya menghampiri mereka berdua.


" Oh iya , tolong baju yang ini ada nggak yang warna pink terus bawah nya hitam ?". Tanya Amanda.


" Baik saya carikan dulu ya kak, mohon di tunggu sebentar ".


Seharian ini dua orang, anak dan ibu di sibukkan dengan berbelanja keperluan Amanda yang akan berangkat ke pondok besok .


" Ehm .. Bun Manda ke kamar mandi bentar yah ?".


" Ya udah iya , tapi buruan ya sayang ".


" Oke bunda ".



Ruang keluarga pukul 03:30 pm


" Bah , seperti nya Haikal sedang marah saat ini ". Ucap ummi Kalsum membungkuk sembari meletakkan teh di atas meja untuk suami nya.


" Pelan-pelan dia akan mengerti ummi ".


" Ya sudah iya Abah, Ummi masih ada pengajian nanti malam sehabis solat isya, abah mau ikut atau ada jadwal ngajar di pondok?". Tanya Kalsum menegak kan tubuh nya kembali.


" Abah ada jadwal di pondok , kamu datang bareng Haikal saja ".


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, dan terlihat seorang remaja laki-laki yang sudah siap dengan setelan kemeja abu-abunya, juga sarung hitam yang melekat pada dirinya. Belum lagi tatanan rambut nya ala artis-artis Korea. Sangat tampan juga berkarisma. Sedang Kopiah hitam nya masih ia pegang di tangan kirinya.


" Ummi , Haikal ada kelas ngajar sore ini , mau izin keluar ". Haikal menghadap sang ummi , meski ia kecewa dengan Abah nya , ia tidak boleh melupakan tanggung jawab nya sebagai salah satu guru diniah sore . Dengan terus menerus mendiamkan diri nya di kamar seharian.


" Ngajar kelas berapa ? ". Bukan , bukan Kalsum yang menjawab melainkan suami nya yang tak lain adalah Abah Haikal.


Haikal menoleh pada sang Abah . " Kelas 2 an-najah santri putri ". Jawab Haikal singkat dan jelas .


Ya - kelas 2 an- Najah berisi santri-santri putri yang sudah 2 tahun belajar di pondok, rata-rata dari mereka berumur 15- 16 tahun .


" Ya Abah , Haikal pamit , ini udah sedikit terlambat ". Pamit Haikal. " Assalamualaikum ". Lanjut mencium kedua punggung tangan Abah juga ummi nya .


" Waalaikum salam". Jawab Ummi juga Abah nya bersamaan.



« " Hallo bela , lo beneran kan nanti malem dateng kerumah gw ?". Amanda sedang melakukan panggilan telepon di kamar mandi toko . Ia sengaja berbohong pada bunda nya , kerena nanti malam pasti ia sangat sibuk mengemasi barang-barang bakal bawaan nya .


« " iya nanti gw Ama salsa Dateng kok , gw mau nginep boleh kan , kita bakal jarang banget ketemu". Suara lesu Bella jelas terdengar di seberang sana .


» " jarang ketemu apa an , gw mau lo bantuin gw gimana caranya kabur dari sana , awas aja ya lo kalok ntar malem telat ". Ancam Amanda.


« " what seriously? ".


» " Iya Bella , gw minta tolong banget, kalok gitu udah dulu yah , bye ".


Klik ! Amanda memutuskan sambungan telepon nya secara sepihak, mengingat ini adalah kamar mandi dan ia merasa tidak nyaman karena beberapa orang berlalu lalang juga melihat Amanda dengan tatapan aneh nya , mungkin karena Amanda berbicara dengan cara berbisik-bisik.


Setelah kembali memasukkan Ponsel nya pada saku celana nya . Amanda bercermin pada kaca kamar mandi sekaligus membenarkan penampilan nya . Dan keluar dari kamar mandi, menghampiri sang bunda yang kelihatan nya sudah selesai melakukan pembayaran.


" Bunda serius, kita sendiri yang bawa paper bag segini banyak nya ?". Tanya Amanda yang melihat Annisa menenteng 10 paper bag yang semuanya berisikan pakaian muslim untuk nya.


" Nggak, kamu telpon mang Nurdin , suruh dia kesini bantuin bawa barang-barang nya ". Pinta Annisa


" Oke bunda". Amanda segera menelpon mang Nurdin yang menjabat sebagai sopir pribadi di rumah mereka , agar dapat membantu membawa barang mereka .


Tak berselang lama, seorang pria dengan setelan baju hitam juga berkulit sawo matang datang menghampiri mereka dengan senyuman yang terukir di wajah nya .


" Maaf Bu , ada yang harus saya bantu ?". Tanya Nurdin tanpa mengurangi rasa hormat nya.


" Ah iya , tolong bantu bawa barang-barang ini ya mang Nurdin". Ucap Annisa menunjuk pada paper bag di samping mereka. " Nanti yang 5 itu biar saya sama Amanda aja yang bawa , takut nya kamu keberatan angkat nya ".


" Oh , baik ibu saya bawakan ". Nurdin bergerak mengangkat paper bag. " Ini enteng Bu , saya bawakan saja semua nya ".


" Yang bener kamu ? ". Tanya Annisa.


" Udah lah bunda , mang Nurdin kan cowok pasti nya kuat dong ". Ucap Amanda yang sudah jengah dan ingin sekali segera pulang.



Di kelas 2 an- Najah terlihat banyak santri putri yang fokus mengamati pelajaran kitab Nahwu yang di sampaikan secara jelas oleh Haikal, Namun beberapa dari mereka, bahkan ada yang menggosip tentang ketampanan juga kepintaran Gus nya ini .


" Kalok Gus Haikal jadi Abang anggap aku , kira-kira mau nggk yah ?".


" Yang bener aja kamu , bakal susah banget ngomong sama Gus Haikal tuh ".


" Iya Ratna , kakak kelas kita aja mbak Diana, berusaha banget deketin Gus Haikal dari dulu dia awal pondok tapi ga pernah dapet ".


" Kalian tuh , bukan nya bantuin doa malah nambahin patah hati aja " . Ucap salah satu yang bernama Ratna.


Tanpa mereka berempat sadari , mata elang Haikal sejak tadi mengawasi mereka .


" Itu yang kerudung biru silakan jelas kan apa maksud dari mubtada' ? ". Tanya Haikal , jangan lupa dengan nada ketus nya , tanpa ada senyuman sedikit pun Ketika berucap.


Dan pastinya hal tersebut membuat mereka sekelas terkejut dan menoleh pada siapa yang Haikal maksud , santri putri yang merasa di panggil pun tentu nya malu, karena semua sorot mata tertuju pada nya .


THANKS FOR READING