
Happy reading
" Apaaaa ??". Teriak Amanda refleks berdiri dari duduk nya . Ia terlihat kaget dengan keputusan sang ayah pagi ini . Keputusannya yang sangat tidak ia sukai dan tak terbayang kan sebelum nya.
" Yang sopan sayang ". Tegur sang bunda menarik pelan lengan anak nya , agar kembali duduk .
" Tapi bunda , keputusan Yanda seenaknya sendiri, Amanda ga mau Yanda". Jawab Amanda dengan menatap bunda nya dan beralih menatap Bima— ayah nya .
" Terserah, kamu nggak akan dapat fasilitas dari Yanda kalok gitu , nggak usah kuliah sekalian". Ucap Bima dengan santai nya namun ancaman tidak main - main . Tampak nya Bima sudah bisa mengontrol amarah nya saat ini . Tidak seperti semalam.
" Tapi Yanda , kalok Amanda mondok, gimana Manda bisa kuliah, kan kata Yanda Amanda udah di daftarin di luar negeri?". Ucap Amanda yang tetap ngotot menolak untuk masuk ke dalam pesantren.
" Kamu bener , Yanda emang udah pernah daftarin kamu , tapi kamu lupa ? Yanda juga bisa cabut itu semua nya dengan gampang". Balas Bima sembari menjentikkan jarinya.
" Yanda keterlaluan banget sih ". Mungkin Amanda saat ini lupa , bahwa tadi malam ia hampir mati berdiri karena terintimidasi oleh tatapan mengerikan yang Yanda nya berikan.
" Kamu terima aja ya sayang keputusan Yanda , nanti setelah mondok kamu bisa kuliah lagi ". Ucap Annisa berusaha menenangkan putri nya itu sembari mengelus naik turun punggung sang anak .
Amanda merasa hukuman ini sangat berlebihan untuk nya, semalam Amanda di minta untuk menyerah semua fasilitas milik nya kepada bunda nya , dan dengan setuju Amanda memberikan hal tersebut. Sampai ia menelpon Bella bahwa sopir nya akan datang menjemput mobilnya dini hari tadi .
Amanda berfikir bahwa hukuman yang ia terima, hanya akan bertahan beberapa hari agar dirinya jera , kemudian kedua orang tua nya itu akan mengembalikan semua fasilitas nya . Ya , seperti sebelum-sebelumnya. Namun entah kesialan apa lagi ini . Pagi hari tepat nya jam setengah 8 , bunda nya sudah berkali-kali membangun kan nya .
Hingga di sini lah Amanda berada di ruang tamu , bersebelahan dengan bunda nya dan duduk berseberangan dengan Yanda nya .
" Kalok kamu setuju dengan persyaratan Yanda , yang mana kamu harus mondok selama 2 tahun dan jika hal tersebut berhasil kamu lakukan ". Ucap Bima sembari meminum teh di depan nya . " Fasilitas yang Yanda sita akan di kembalikan ke kamu berikut dengan perusahaan Yanda dan izin perusahaan almarhum Kakek kamu ". Sambung ayah nya yang juga berhenti menggerakkan jari telunjuk nya yang mengacungkan ke depan.
" Manda tetep ga mau Yanda, please hukuman yang lain dong ". Rengek Amanda memohon, dulu cara ini paling ampuh untuk membujuk ayah nya .
Ting...Tongg..
Perbincangan mereka terhenti saat mendengar suara bel rumah berbunyi , untuk beberapa saat mereka terdiam, Annisa dan Amanda saling bertatapan, namun Bimma malah terlihat sangat santai. Hingga pada akhirnya Annisa bangkit dari duduk nya . Namun Bima juga ikut berdiri dan menyuruh Annisa duduk kembali.
" Kalian duduk aja , biar Yanda yang buka pintu". Ucap Bima sembari melangkah kaki nya.
Bima tampak berjalan membuka pintu dengan santai nya , dirinya mendapati dua orang pria dengan setelan jas kerja hitam , berdiri di depan pintu rumah dengan pembawaan penuh wibawa juga ekspresi wajah tersenyum sembari membungkuk kan badan sebentar, menghormati Bima .
" Tuan , maaf saya terlambat karena terjebak macet".
" Baik lah yang terpenting kalian datang ". Bima pun membuka pintu selebar-lebarnya. Mempersilahkan kedua asisten nya masuk . " Bik... Tolong buatin minum". Panggil Bima kepada pembantu rumah nya.
Yang kemudian mendapatkan angguk an dari sang pembantu.
Meski mereka asisten pribadi bagi Bima . Namun pria tengah baya itu tetap memperlakukan mereka dengan sopan. Tak ingin bertindak semena-mena.
Amanda dan juga Annisa yang ada di ruang tamu pun bangkit dari duduk nya mendapati keberadaan mereka .
" Silakan duduk dulu pak Yuda dan pak Agus ". Ucap Annisa.
" Baik terima kasih nyonya ". Ucap Yuda , sedang Agus hanya tersenyum mengangguk.
Annisa mengajak Amanda untuk ikut duduk kembali. " Jadi mereka datang bawa surat kesepakatan untuk kamu sayang... ". Ucap Annisa berusaha menjelaskan maksud dari kedatangan asisten Bima .
" Benar Nona Amanda , atas permintaan tuan Bima kemarin saya sudah menyiapkan surat tersebut". Ucap Yuda .
" Yanda maksud nya apasih , manda ga ngerti?". Tanya Manda menoleh pada ayah nya yang sedang menyeruput kopi milik nya .
Sembari meletakkan gelas nya kembali, Bima menjawab pertanyaan anak nya . " Surat kesepakatan, jika kamu mau mondok , semua yang Yanda katakan tadi akan yanda berikan ke kamu secara langsung dan sebagian untuk kakak kamu ".
" Jadi aku beneran harus mondok ? , Setahun aja sih Yanda please?!". Pinta Amanda.
" Nggak bisa Manda ". Ucap Bima , kemudian menyandarkan punggung nya di sandaran sofa , duduk santai menatap Amanda . " Tolong berikan ke Amanda untuk di pelajari". Pinta Bima .
Agus mengambil map dari dalam tas yang diri nya bawa , meletakkan nya di atas meja Sebelum akhirnya menggeser map itu hingga berada tepat di depan Amanda.
" Kamu pahami setelah itu tanda tangani". Titah Bima pada Amanda dengan nada rendah.
" Jika nona Amanda bersedia menuruti tuan Bima yang merupakan ayah nona sendiri, untuk masuk ke dalam pesantren. Dan menuntut ilmu agama. Maka setelah lulus dengan prestasi yang membanggakan .
" Kamu setuju sayang ?". Tanya Bima memastikan.
" Kamu pikirin dulu matang-matang , setelah itu ambil keputusan, kalok mondok kan ada kak adinda ". Annisa sangat berharap Amanda setuju untuk mondok .
Sebenarnya suami nya kemarin ingin melakukan nya dengan cara paksa , namun beruntung nya Annisa bisa membujuk suami nya itu untuk tidak terlalu keras pada Amanda . Rasa kecewa karna semalam memang masih terasa , tapi Annisa adalah seorang ibu yang berkarakter lemah lembut, mana bisa ia melihat kekerasan.
" Kalok Amanda nolak , Manda ga bisa kuliah terus ga dapet fasilitas gitu ?". Tanya Amanda baru saja membaca isi di dalam map tersebut.
" Iya sayang ". Balas Bima sembari menaikkan satu alis nya . " Jadi gimana ?".
★★
Di tempat lain. Terlihat seorang lelaki tampan yang sedang bermalas-malasan. Duduk di balkon kamar nya yang menghadap ke perkebunan milik Abah nya yang suka dengan bercocok tanam . Berteman kan cemilan ringan dan secangkir kopi.
Pandangan nya tampak lurus ke depan, terlihat kosong, hampa atau apalah itu . Sedangkan pikiran nya ? , Tampak nya pikiran nya sedang berkelana entah kemana. Ada banyak hal yang mengejutkan kan . Bahkan semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Maka dari itu hari ini lelaki itu memutuskan untuk izin tidak masuk kuliah dan bahkan tak ikut serta dalam kegiatan pondok.
Ya—lelaki itu adalah Haikal. Haikal sangat terkejut dengan ucapan sang ummi pada nya semalam. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui nya selama ini , dan bahkan ummi dan Abah nya merahasiakan ini dari nya dan dari kakak nya .
Semalam ummi nya mengatakan sesuatu kebenaran yang mereka berdua tutupi selama ini . Hal tersebut ialah jika Abah nya yang selalu menjadi panutan nya selama ini ternyata memiliki istri kedua .
Dan lebih mengejutkan nya lagi , pernikahan dari istri kedua Abah nya itu ye telah melahirkan seorang putra yang berumur satu tahun lebih muda dari nya . Namun sayang nya istri kedua nya itu harus pergi untuk selamanya , beliau telah di panggil oleh sang ilahi , karena penyakit jantung yang di deritanya 5 tahun belakangan ini.
Haikal begitu hancur mendengar kan itu semua dari mulut ummi nya langsung. Ia tidak menyangka panutan nya itu tega menduakan cinta ummi nya . Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Kini ia harus menerima nya dengan lapang dada .
" Besok adik kamu itu di suruh tinggal di sini oleh Abah , jadi ummi minta kalian harus saling menghormati, ummi juga udah cerita ke Abang kemarin sepulang dari pemakaman nya istri kedua Abah kamu ". Tutur ummi nya kemarin malam yang masih terngiang-ngiang dalam pikiran nya.
Akan kah semudah itu bagi nya ? , Entah lah yang pasti ia akan berusaha di samping rasa kecewa nya itu . Tak ingin jika permintaan ummi nya itu tidak terlaksana kan. Ummi nya saja kuat maka ia harus berusaha bukan?.
Tok
Tok
Tok
" Haikal ini udah pagi , kamu masih tidur nak ?". Teriak ummi nya dari luar kamar.
Haikal tersadar dari lamunannya, karena mendengar suara ketukan pintu dan beranjak dari duduk nya berniat membuka pintu kamar.
Klek!..
" Ummi , aku udah bangun dari tadi kok ". Jawab Haikal.
" Tumben ga kuliah, ummi tadi liat mobil kamu masih di garasi ".
" Oh , libur hari ini ummi , dosen lagi ada urusan penting di luar kota ". Jawab Haikal berbohong, jika ia mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti ummi nya akan kembali bersedih.
" Ouh libur, ya udah sarapan dulu ". Titah sang ummi .
" Nanti dulu ummi , Haikal lagi fokus bikin skripsi nya ". Bohong nya lagi , saat ini ia tidak nafsu untuk makan . ' maaf ummi Haikal udah bohong sama ummi '. Gumam nya dalam batin.
" Ya harus sarapan dulu Haikal".
" Iya nanti nyusul, nanggung banget ummi ".
" Hmh , ya udah kalok udah kerasa lapar ke dapur ada jengkol favorit kamu ".
" Ah iya ummi , aku masuk dulu yah ummi ".
" Ha—".
BLEM
Belum sempet melanjutkan ucapannya, Namun Haikal Sudah terlebih dahulu menutup pintu kamar nya .
★★