GUS HAIKAL

GUS HAIKAL
03.



Happy reading


Saat ini jam sudah menunjuk pukul 1 dini hari . Amanda baru saja tiba di kediaman nya . Ini adalah pertama kali nya dirinya pulang selarut ini . Amanda berjalan memasuki rumah .


Membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa di dalam tas nya . Setelah berhasil masuk , Ia berusaha melangkah kaki nya sepelan mungkin tak ingin tindakan nya terdengar karena suara hentakan sepatunya.


Lalu di mana mobil Amanda ? . Ya— Amanda menitip kan mobil nya pada Salsa , bahkan Salsa hanya mengantar nya sampai depan komplek tak berani jika mengantar Amanda sampai depan rumahnya . Ia berharap semua orang di rumah nya sudah tertidur lelap, ia tadi sempat melihat mobil ayah nya yang sudah terparkir rapi di dalam garasi. Karena memang dirinya akan habis di hukum jika sampai ketahuan.


Beruntung lampu yang ada di bagian dalam rumah nya mati , hal itu tentunya membuat perasaan Amanda menjadi lega, karena dengan begitu tidak akan ada yang bisa melihat kehadiran nya yang kini tengah berjalan mengendap-endap.


Klek ...


Lampu yang ada di ruang tamu tiba tiba saja menyala. Amanda seketika merasa kaget , jantung nya berdetak sangat cepat. Dari tempat nya berdiri saat ini , ia bisa melihat kehadiran sang ayah yang tengah berdiri di dekat saklar lampu , tidak jauh dari tempat nya berada. Ayah nya itu kini tengah memandang nya dengan tatapan tajam sembari menggertak kan gigi - gigi nya . Bahkan Amanda merasa jika kedua bola mata ayah nya itu nyaris akan keluar.


Kini terlihat ayah Amanda berjalan mendekat ke arah Amanda yang tengah mematung di tempatnya.


" Dari mana saja kamu , bagus ya cewek keluar malem sampai jam segini, hah ?". Tanya ayah nya dengan suara yang begitu tinggi.


Tubuh Amanda tersentak dengan begitu hebat nya , ia merasa kaget saat mendengar suara tinggi sang ayah . Amanda seketika diam mematung di tempat. Tak berani bertatap muka dengan ayah nya sendiri yang sedang mode marah seperti ini . Bahkan amarah yang seperti ini juga baru ia temui .


" Jawab , jangan diam saja ".


Gadis itu terperanjat , ia merasa benar benar kaget , saat mendengar suara ayah nya yang semakin tinggi . Beruntung rumah mereka berada paling pinggir dan di samping mereka adalah sebuah kos-kosan kosong. Yang mana para tetangga tidak akan bisa mendengar nya dengan jelas.


" Amanda... Amanda baru pulang main Yanda ". Jawab nya gelagapan dan merasa sangat takut.


" Main ? , Kamu balapan lagi kan ? Dimana mobil kamu ?". Tanya Bima


Amanda hanya terdiam tak berani menjawab. Bagaimana bisa ayah nya tau jika Amanda ikut balapan?.


Bima kemudian mengendus mencium aroma alkohol dari tubuh Amanda. Dan ia sangat yakin jika itu benar alkohol, meski ia sendiri tidak pernah minum , tapi rekan kerja nya selalu berbau alkohol di saat akan meeting. Dan aroma nya memiliki khas yang sangat menyengat.


Bima lantas menjauhkan wajah dari kemudian memperlihatkan wajah datarnya kembali. Rahang nya yang tegas serta tatapan ayah nya yang mengintimidasi Amanda saat ini.


" Minum alkohol hm ?". Bentak sang ayah


" Manda ga minum Yanda ". Balas Amanda sembari menunduk dan memilin jari , takut jika harus menatap ayah nya secara langsung.


" Bohong ".


" I...ini karena tadi ga sengaja ke tumpahan yanda ". Balas Manda berasa ingin menangis sekarang juga , bagaimana tidak ia baru pertama kali menemui Yanda nya dalam versi seperti ini . Ia benar benar takut.


" Fasilitas kamu Yanda sita , kasih ke bunda semua kartu ATM , kartu kredit, kunci mobil jangan lupa ponsel kamu juga ! ". Titah ayah nya dengan tegas.


" Tapi Yanda, Amanda ga—" . Belum sempat Amanda menyelesaikan ucapannya ayah nya segera menyela.


Amanda terdiam, sejujurnya ia ingin mengatakan kepada ayah nya itu , jika ia tidak meminum alkohol sama sekali tapi kenyataannya alkohol yang di minum Bella tadi sempat tumpah pada jaket nya . Karena Bella mabuk . Dan beruntung mabuk nya bisa segera di sembuh kan dengan perasaan lemon .


" Sekarang kamu jujur, kamu tadi beneran ikutan balapan?".


" Iya Yanda ".


" Minum-minum?".


" Enggak , Manda ga ikut minum tadi Bella sama salsa minta Amanda ikut ke club ". Jawab Amanda dengan sejujurnya.


" Terus kamu ikut saja gitu?".


" Iya Yanda , maaf Yanda".


Belum sempat Bima—Sang ayah melanjutkan kan pertanyaan nya , terdengar derap langkah seseorang menuruni tangga yang kini berjalan mendekat ke arah mereka . Lantas Amanda mengalihkan pandangan nya , menatap ke arah asal suara tersebut.


Melihat ternyata sang bunda yang berjalan ke arah Amanda dan juga Bima.


" Kenapa sih Yanda , kok teriak-teriak kan udah malem , ini juga Amanda kok belum ganti baju , kapan pulang ?". Tanya sang bunda sembari mengucek kedua mata nya .


" Kamu lihat ini , anak perempuan yang selalu di manja , suka keluyuran jam segini baru pulang , nggak tau malu ?". Kata Bima yang mungkin sudah terlalu lelah malam ini .


Sebenarnya ia tadi baru saja dari dapur mengisi perut nya yang keroncongan, namun saat ia akan naik ke atas , ia melihat seseorang mengendap - ngendap masuk lewat pintu dengan begitu mudah . Beruntung nya ia belum naik dan bisa memergoki siapa orang yang mencurigakan tersebut. Dan rupanya ia sendiri yang harus terkejut mengetahui bahwa ternyata anak nya lah yang baru saja pulang dan dengan cara mengendap - ngendap.


Ya—Annisa yang merupakan Ibunda nya itu sangat terkejut akan apa yang di katakan oleh suami nya barusan . Putri nya itu berani berbohong pada nya. " Yang Yanda bilang itu bener , sayang?".


" I...iya bunda , Amanda ikut balapan?". Sial sudah malam ini nasib Amanda ia pikir ia bisa pulang ke rumah dengan selamat dan tidak akan ketahuan jika ia ikut balapan, tapi yang terjadi di luar dugaan nya .


Annisa pun tak sengaja mencium aroma alkohol yang memang sangat menyengat . " Kamu mabuk nak ?".


" Nggak bunda, tadi ini ketumpahan ". Jelas Amanda.


" Jangan ada kebohongan lagi , Yanda sudah sangat lelah ". Tegas Bima


" Yanda kita duduk dulu , ini udah malam , mau kita selesai besok masalah nya ?". Tanya annisa dengan begitu pelan agar tidak menyinggung suami nya yang memang sudah terlihat lelah .


" Kita duduk saja , Yanda ingin masalah ini cepat selesai, agar tidak menambah pemikiran Yanda lagi ". Ucap Bima sembari melangkah menuju kursi ruang tamu yang tepat berada di samping mereka .


" Sini nak , kita selesaiin semuanya malam ini juga , okey ? Amanda harus jujur semua nya ke Yanda ". Ucap Annisa dengan sabar nya , meski kecewa tapi mau bagaimana pun Amanda juga anak nya bukan ? . Tak baik jika ia ikut emosi di situasi yang seperti ini . Menjadi penengah dan berkepala dingin adalah tugas nya .


THANKS FOR READING