Girl's World

Girl's World
Eps 6



Pagi yang indah,


Aku terbangun dengan damai tanpa mengetahui jam berapa ini. Aku meraba raba lantai di sebelahku dan mengangkat sebuah benda persegi panjang yang pas di tanganku. Aku mengucek mataku dan melihat angka yang terpampang di ponsel. Jam 07:32.


Aku mendirikan badanku dan duduk sementara untuk mengumpulkan nyawaku. Lalu, mendapati kurang 1 orang yang tidur di lantai bersama ku. Yap, kami tidur bersama di lantai kamar Jisu. Eitts, Lia maksud ku. Dia sudah menganti namanya.


Flashback On


"Btw, Chaeryeong aa, bisakah kau tidak memanggilku Jisu lagi? Aku sudah mengganti namaku menjadi Lia." kata Lia semalam.


"Ah, Nee Lia." jawabku. Aku memang merasa ada yang aneh. Kenapa tiba tiba dia membenci namanya? Apa memang karena dia jadi murid pertukaran pelajar di Amerika, jadi ia menggantinya? Begitu? Sudahlah sekarang alu nikmati dulu malam ini dengan baik bersama ITZY.


Flashback Off


Aku menyadari bahwa pemilik kamarnya sendiri tidak ada di kamar. Kurasa dia sudah bangun duluan. Aku beranjak keluar dari pintu secara perlahan tanpa membangunkan mereka. Yah, ada suara air mengalir dari kamar mandi di sebelah kamar Lia. Wah, memang anak teladan. Bangun pun pagi sekali meskipun ini hari minggu.


Aku berjalan ke arah balkon yang kami pakai semalam. Matahari sudah menyinari masuk ke balkon. Hal yang pertama kali ku lihat. Berantakan. Sampah di mana mana bekas yang kami makan semalam. Yah, semalam kami meninggalkannya begitu saja. Aku memunggut sampahnya satu per satu.


Lia's POV


Hari sudah pagi. Alarm Hpku sudah bergetar getar. Aku bergegas bangun dan mematikan alarmnya agar tidak mengganggu tidur mereka. Jam 07:00 tapi nyenyak sekali tidur mereka. Semalam kami sudah bersenang senang sepanjang malam. Mereka pasti lelah. ITZY yaa. Hmmm nama yang bagus. Mulai sekarang, aku harus menikmati masa masaku di sini sebelum lulus dengan mereka.


Sungguh hal yang tidak terduga, aku bisa bertemu dengan mereka, terutama Chaeryeong. Aku sudah mencarinya di mana mana. Kali ini malah dengan tidak sengaja bertemu. Salah paham dulu apa dia sudah tau? Mungkin dia juga sudah melupakannya. Gara gara itu, kami malah putus kontak dan tidak bertemu.


Sudahlah, aku mandi dulu baru membangunkan mereka. Pikirku begitu jadi aku mengambil bajuku dan pergi ke kamar mandi. Haiisss... Balkonnya sangat kotor. Arrgghh... aku mandi dulu. Baru bereskan.


Setelah siap mandi, aku melangkah keluar sambil mengeringkan rambut panjang ku dengan handuk. Di balkon, Chaeryeong sedang membereskan kekacauan semalam hingga tinggal sedikit saja yang perlu dibersihkan.


"Chaeryeong, sudah bangun?" tanyaku sambil mendatangi balkon.


"Hng? Jadi? Apa kau sedang bicara dengan orang tidur?" tanyanya sambil tersenyum.


"Hahaha. Kan mana tau bisa kek gitu." kataku sambil tersenyum terkikik.


"Sudahlah, kau mandi saja dulu. Biarkan aku yang bereskan sisanya." lanjutku setelah melihat handuk yang mengalungi lehernya.


"Arraseo." jawabnya dan berlalu pergi meninggalkan ku sendiri di balkon.


Aku membereskan sisanya, lalu turun ke bawah membantu bibi menyiapkan makanan.


"Imoo, biar aku bantu." kataku sambil membantu menyiapkan alat makan di meja.


"Nee, Tuan dan Nyonya sudah pigi tadi pagi. Kata Nyonya, Non lagi ada tamu yaa?" tanya bibi padaku.


"Hehe. Iya, temanku nginap sini semalam." kataku sambil tertawa pelan. Sudah kuduga.


"Banyak?" tanyaa Imoo lagi.


"Nee, ada 4 orang." jawabku lagi.


"Wah, cewek apa cowok, Non?" tanyanya lagi.


"Cewek semua." jawabku ramah.


"Berarti semua cantik cantik donk kek Nona Lia." jawab bibi sambil tersenyum.


"Ah, imoo bisa aja." jawabku tersipu malu.


Yah, memang begitu kalau aku dengan imoo. Kami memang begitu dekat. Imoo sudah bekerja bersama kami semenjak aku kecil. Kalau eomma dan appa pergi ke luar negeri, imoo yang menemaniku. Waktu aku ke Amerika, dia ikut ke Amerika menemaniku juga. Bagiku, dia sudah seperti eomma ku sendiri. Dia biasanya datang di pagi hari dan pulang sekitar jam 6 gitu. Tapi, kalau eomma dan appa pergi ke luar negeri, ia akan nginap di sini dan menemaniku.


"Chaeryeong aa, turunlah kalau kau udah siap mandi dan tolong bangunkan mereka." teriakku dari bawah.


"Nee, Chankaman." balasnya sambil teriak juga dengan suara yang tak kalah kerasnya.


Wah, mereka benar benar sudah menganggap ini seperti rumahnya sendiri.


Aku baru saja selesai mandi, langsung mendengar suara teriakan Lia di bawah, "Chaeryeong aa, turunlah kalau kau udah siap mandi dan tolong bangunkan mereka." teriaknya begitu.


"Nee, chamkaman." balasku teriak yang tak kalah kuatnya.


Tiba tiba... Klek...


Pintu kamar terbuka, padahal aku belum memegang gagang pintu. Seorang wanita bermata tajam menatapku.


"YAK!!! Ada apa sih? Pagi pagi sekali sudah jerit jerit." kata Yeji dengan muka yang baru bangun.


"Hahaha, Lia menyuruhku membangunkan kalian dan disuruh turun ke bawah." jawabku sambil tertawa melihat mukanya.


"Oh, ayo kita bangunkan mereka!" ajak Yeji dengan muka liciknya.


"Kau bangunkan saja Yuna, guncang guncangkan saja badannya. Biar aku yang urus Ryujin." lanjutnya lagi.


Aku memanggil Yuna bangun sambil menguncang guncangkan badannya seperti yang dikatakan oleh Yeji. Yuna langsung merespon dengan membuka matanya secara perlahan. "Nee, eonni. Wae?" tanyanya. "Lia menyuruh kita turun ke bawah." jawabku. "Nee. Aku cuci muka dulu." jawabnya langsung pergi ke kamar mandi.


Sementara itu, Yeji membangunkan Ryujin dengan berbagai cara. Dengan mengguncangkan badannya, teriak di telinganya, menggelitik kakinya hingga menggodanya dengan makanan.


"RYUJIN AA, Cepat bangun!!! Lia membelikan kita Chicken yang pedas, gurih dan ueeenak banget." teriak Yeji.


"Awas, Eonni!" teriak Yuna tiba tiba. Aku pun terheran melihat Yuna datang dengan muka basah dan gayung di tangannya. "Aku sudah menemukan cara membangunkannya." kata Yuna sambil menyelupkan tangannya ke gayung lalu menjentik jentikan tangannya ke muka Ryujin.


"YAK!!! Jangan menganggu tidurku!!!" teriaknya dan bangun.


"Ayo cepat! cuci muka dan turun ke bawah." kata Yeji dengan eye smile nya.


"Lia menyuruh kita turun." tambahku lagi.


Kami semua turun ke bawah dah menemui Lia di ruang makan.


"Imoo?" sahutku.


"Wah, Non Chaeryeong?" jawabnya balik.


"Kau tambah cantik saja setelah sekian lama tidak ketemu." kata imoo dengan aku yang berlari ke pelukannya.


"Ah, imoo masih sama seperti dulu. Cantiknya tak berubah tapi mulutnya makin manis saja." jawabku.


Yah, aku dulu teman baiknya Lia dan juga tetangganya. Imoo sudah bekerja dari Lia kecil sampai sekarang. Dulu, aku sering datang ke rumahnya sehingga imoo bisa mengenalku.


"Wah, Daebak!!! Memang semuanya cewek cantik." puji imoo pada kami semua.


"Cantik? Kami ada yang masih belum mandi, tapi sudah dibilang cantik. Kalau kami mandi nanti, malah makin cantik dong." balas Yuna.


Mereka pun berkenalan, "Ah, mudah sekali mengingat nama kalian. Ini Yeji dengan mata tajamnya." kata imoo sambil menunjuk Yeji.


"Lalu, ini Ryujin dengan rambut berwarna." lanjutnya dan menunjuk Ryujin.


"Dan ini Yuna, yang paling tinggi." katanya sambil menunjuk Yuna.


"Daebak!!! Imoo hebat sekali!!!" pujiku sambil tepuk tangan.


"Sudahlah, nah makan dulu. Selamat makan, non!" kata imoo dan ingin beranjak pergi ke dapur.


"Eittss, tunggu imoo." kata ku sambil menarik tangannya.


Apa yang sedang terjadi? Terus ikuti cerita Girl's World untuk mengetahui kelanjutannya.


Jangan lupa Like, Comment dan tambahkan ke favorit kalian yaa. Author tunggu jejaknya yaa!!!