
LEE CHAERYONG
"Apa kau ada masalah di sekolah, Chaeryeong?" Kata eomma saat kami sedang sarapan bersama.
"Eomma, gwenchana. Ini sudah ketiga kalinya eomma bertanya tentang itu." kata ku sambil tersenyum lalu melanjutkan makanku.
"Tapi ini sudah kedua kalinya kau minta pindah, Chaeryeong." giliran appa yang menjawabku.
Aku menghela napas berat. "Aku hanya ingin menganti suasana baru lagipula sekolah Hanlim itu sekolah impianku." lanjutku.
"Nee, kalau begitu jadikan ini sekolah terakhir mu sampai kau lulus." kata eomma.
Setelah kami sudah siap sarapan, appa mengantarku dan eonni ke sekolah dengan mobil. Eonni tidak satu sekolah denganku.
Hari ini cerah sekali dan sekarang aku, LEE CHAERYEONG sudah menjadi anak SMA Hanlim Multi Art School. Aku berharap, aku bisa bertahan di sekolah ini sampai aku lulus.
"Wah, benar-benar sekolah yang indah. Besar sekali." Aku sangat takjub waktu melihat sekolahnya. Tapi aku tidak tau aku harus ke mana.
Selagi aku berkeliling mencari kantor kepsek, BRUK !!! aku jatuh. "Mianhae aku tidak lihat jalan." Lalu aku melihat seorang perempuan dengan rambut pink dan mengunyah permen karet. Dia mendengus kesal dan mengulurkan tangannya agar aku bisa berdiri. Aku mengenggam tangannya dan berdiri. Dia langsung pergi melewatiku sebelum aku berterima kasih padanya.
"Go..gomawo" kataku terbata-bata. "Ta...tapi bi..bisakah kau memberitahuku di mana kantor kepsek?" kataku dengan cepat sebelum dia pergi jauh.
Dia menoleh dan mengerakkan jarinya untuk mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Aku segera mengikutinya dan berusaha mensejajarkan langkahku yang sudah ketinggalan jauh dengannya.
Lalu, dia berhenti di depan papan pengumuman. "Tidak usah temui kepsek itu, cukup lihat dari sini saja. Ini tahun ajaran baru, sudah pasti banyak murid baru." cetusnya. "Nee, kamsamida." jawabku. "Siapa namamu ?" cetusnya lagi. "Lee Chaeryeong." Disaat itu juga aku merasa dia sangat keren, seandainya saja aku bisa sepertinya. "Nee, Chamkaman." katanya sembari meninggalkanku sendirian di sana.
Lalu, ia menerobos kepadatan siswa-siswi di depan papan pengumuman. Dan mencari-cari namanya dan namaku di sana. Dia kembali dan berkata, "Ikuti aku." Aku mengikutinya sampai di depan sebuah kelas. Kelas 10-5. "Masuklah, apa yang kau tunggu? itu kelas kita."
Aku terbengong, kelas kita berarti kita sekelas. Aku masuk ke dalam kelas. Sudah ada sebagian murid yang datang. Kelas sudah mulai ribut. Aku segera menempati tempat duduk di dekat jendela di baris terakhir. Dia duduk di sebelahku.
Aku pun menghampirinya, "Gomawo, aku Lee Chaeryeong." Dia hanya menganggukan kepalanya. "Siapa namamu?" lanjutku ketika melihat nya tidak membalasku. "Shin Ryujin" jawabnya. "Semoga kita bisa berteman baik." balasku.
Bel berbunyi, kelas pun dimulai. Seorang wanita masuk kurasa dia wali kelas kami. Dia sangat cantik. "Annyeonghaseyyo, saya wali kelas kalian. Mulai sekarang, kelas 10-5 adalah anak anakku. Perkenalkan nama ibu,
. Park Jihyo. Kalian bisa memanggilku Park Ssaem. Ibu guru bahasa korea." Seluruh isi kelas ribut dan mulai berbisik bisik. "Nee, sekarang giliran kalian memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dari itu yang duduk baris terakhir." lanjut Park Ssaem.
"Hah? A...aku?" Aku pun terkejut dan berdiri, "A...annyeonghasseyo, nanuen Lee Chaeryeong imnida. Kam... kamsahamida." Aku pun langsung duduk dan tanpa sengaja aku melihat '*mereka*' di kelas yang sama denganku sedang menatapku dengan senyuman aneh. Perkenalan diri masih sedang berlangsung.
Daritadi aku tidak menyadarinya. Aku mulai berkeringat dingin. Kurasa mukaku sekarang sangat pucat sekali. Oh tidak, kenapa mereka juga ada di sini? Kehidupan sekolahku di SMA Hanlim akan berakhir *BURUK*.
"Nah, karna sudah selesai perkenalannya sekarang kita pilih ketua kelas. Apa ada yang ingin mencalonkan diri? Atau apa ada yang mencalonkan temannya?" lanjut Park Ssaem. Seluruh kelas diam sejenak dan saling menatap satu sama lain.
Daehwi mengangkat tangannya lagi, "Aku juga ingin mencalonkan Samuel. Dia juga murid pertukaran pelajar di Amerika."
"Wah, di kelas kita banyak sekali murid pertukaran pelajar. Arraseo, apa kau bersedia, Samuel?" tanya Park Ssaem. "Hm... Arraseo." katanya ragu ragu. "Oke, apa ada lagi? Kalau tidak ada, ayo kita voting sekarang !" kata Park Ssaem.
"Daehwi? Bolehkan saya minta tolong kau untuk menulis hasil voting nya." lanjut Park Saengnim. "Tentu saja." kata Daehwi. Daehwi berdiri dan membantu membagikan kertas kosong.
Ketika dia sampai ke tempatku, "Annyeong, apa kau baik baik saja? Mukaku pucat sekali. Ada apa?" katanya. Aku terbengong, "Hah? A..Aku tidak apa apa. Hmm... ini untuk apa ?" kataku sambil memegang kertas itu. "Kau tidak mendengarkan ? Ini tulis hasil pilihanmu ke kertas ini. Kau memilih Guanlin atau Samuel untuk menjadi Ketua kelas." jelasnya. Dia pun lanjut membagikan kertas itu.
"Semua sudah siap memilih kan? sekarang masukkan ke kotak ini." kata Park Ssaem. Aku masih belum menulis apa apa. Aku tidak kenal dengan mereka berdua. Aku asal tulis saja 'Guanlin' dan segera berdiri dan memasukkan nya ke dalam kotak itu.
Dia juga ada di situ. " Annyeong, teman lama. Kita begitu ditakdirkan untuk bertemu. Hmm... Sekolah ke tiga dimana kita bertemu lagi. Kan?" katanya sambil tersenyum smirk. Aku merasa takut untuk melihat matanya langsung. Dia dan temannya masih saja tersenyum aneh. Aku segera kembali ke tempat dudukku. "Haish... teman lama sudah dilupakan nih. Kita diacuhkan nih ceritanya." Mereka pun kembali ke tempat duduk mereka.
Mereka terus saja menatap ke arahku. Aku tetap bisa saja merasa tatapan mereka sangat menusuk tanpa harus melihatnya. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu untukku setelah bel istirahat. Mereka terus saja saling bisik berbisik. Aku tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi.
Daehwi membaca dan mencatat hasil voting kami. Ketua kelas kami, Lai Guanlin dan Wakilnya, Samuel sudah resmi terpilih. Semua orang bertepuk tangan untuk mereka. Tapi aku terus saja mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Ini sangat menyesakkan dan aku ingin menangis.
Sekretaris dan bendahara dipilih sendiri oleh ketua kelas dan wakilnya. Bel istirahat berbunyi. Park Ssaem keluar. Aku pun bergegas keluar dan berlari menghindari mereka. Aku benar benar berharap mereka tidak mencariku.
Sementara itu, di kelas ada yang pergi ke kantin, ada yang ke kamar mandi, ada yang tidur di kelas dan ada yang berbincang ataupun gosip dengan teman temannya. Tidak terkecuali dengan Daehwi, Guanlin dan Samuel. Mereka duduk bersama dan berbicara sambil ketawa-ketawa.
"Daehwi, tadi kau mencalonkan kami berdua. Jadi diantara kami siapa yang kau pilih ?" tanya Samuel. "Tentu saja ... rahasia." jawab Daehwi. Guanlin dan Samuel saling bertatapan dan memberi kode. Samuel menahan tangannya dan Guanlin menggelitiknya.
Setelah puas tertawa, "tok tok tok" suara meja diketuk. "Oh, Aku benar benar sudah dilupakan oleh kalian, kan?" tanya seseorang sambil mengacak pinggang. "Wah, ..." Daehwi tampak sangat bersemangat ketika melihatnya datang. Siapakah dia?
Terus ikuti cerita Girl's World untuk mengetahui kelanjutannya. Jangan lupa Like, Comment dan tambahkan ke favorit kalian. Author tunggu jejak kalian yaa.
LAI GUANLIN EKS WANNAONE
LEE DAEHWI AB61X EKS WANNAONE
KIM SAMUEL EKS PRODUCE 101 S2