
Hari ini sekolah dipulangkan lebih cepat daripada hari hari biasanya. Anak-anak SD berhamburan keluar dari gerbang sekolahan mereka. Dari mereka ada yang dijemput ada pula yang menggayuh sepedanya untuk pulang maupun yang berjalan kaki bersama-sama.
Hari ini pula merupakan hari terberat bagi Narendra. Entah mengapa dia sangat sedih saat memikirkan tawaran dari Bu Indah tadi. Dia mulai lesu saat terus memikirkannya. Berjalan dengan tidak semangat pulang tidak seperti teman-temannya dengan bahagia melangkah pergi untuk pulang.
Narendra tidak terlalu memperhatikan langkahnya masih tenggelam dengan pikirannya. Bagaimanapun sesuatu hal yang yang sangat disukai harus dibatasi merupakan tekanan yang besar bagi jiwa seseorang.
Tak terasa Narendra sudah melewati gerbang sekolahannya. Masih melangkah dengan menundukan kepalanya tidak menengok kiri kanan.
Tinnnn..
Tiba-tiba ada yang menarik Narendra dari jalannya hingga dia dibuat terkejut dengan tarikan yang tiba-tiba ini.
“Hee Naren, kalau mau jalan jangan membahayakan diri seperti itu dong!” Aluna berteriak ke Narendra karena hampir membahayakan dirinya sendiri. Sekeliling mereka juga terdengar berbagai kutukan untuk si pengendara mobil karena menggunakan kecepatan tinggi di daerah lingkungan sekolah.
Narendra juga terkejut dengan keadaan yang akan menimpanya. Dan gadis ini juga telah menolongnya. Di hampir tidak ingat nama dari gadis ini setelah melihat name tag sekilas dia baru ingat.
“Hei Naren kamu ngga pa`apa?” tanya Aluna khawatir.
“Ya, ngga papa” katanya sambil meluruskan bajunya yang kusut karena tarikan Aluna.
Dari sudut pandangnya dia melihat ada sepeda tergeletak tak beraturan terlihat bagian bannya telah bengkok. Aluna pun melihat juga arah pandang Narendra.
“Shhhh sepadaku… tapi tak apalah. Sepertinya itu bengkok mungkin aku injak terburu-buru tadi”
“..Owh ya Naren, kamu pulang sama siapa?” tanya Aluna.
“Itu sepeda ngga dibawa ke bengkel?” Narendra ditanya malah balik bertanya.
Aluna berpikir sebentar “Hmmm… yahhhh aku ngga tahu bengkel sepeda ada di mana” dia dengan ekspresi serius menjawab.
“Cihhh” Narendra
meninggalkan aluna yang masih berpikir di tempat.
“Ehhh! Tungguin” Aluna
ingin meraih Narendra menjangkaunya untuk mengajak pulang bersama.
Narendra berhenti sebentar
dan melihat Aluna “Sepedanya sekalian bawa”
“Owh iya” menepuk jidatnya dan berlari ke arah sepedanya tergeletak.
-----
“Kamu udah makan Naren?” setelah mereka berdua meninggalkan sepeda di bengkel, sekarang mereka berjalan berdua saling berdampingan.
Melihat Narendra hanya diam dia berinisiatif menawarkan untuk mentraktirnya tapi Narendra menolak dengan tegas.
“Di mana rumahmu Naren?”
Aluna terus berusaha mengajak Narendra berbicara dan mengobrol bersamanya. Tapi masih tidak ada tanggapan dari Narendra.
Tiba-tiba ide terlintas di kepala Aluna “Ayoo buat rencana, gimana kalau kita pergi bermain ke rumahmu setelah itu kita bisa main ke rumahku. Gimana?” katanya sambil berjalan kepiting menghadap Narendra yang masih berjalan dengan pandangan lurus.
“Bagaimana kalau begini, ikuti rencanaku. Kamu pulang ke rumahmu sendiri aku pulang ke rumahku sendiri. Bukannya bagus?” kata Narendra melirik ke arah Aluna dengan masih berjalan
lurus ke depan.
“Aaa…” Aluna tak tau harus bilang apa lagi.
“… Ahh dahlah” capek juga ngajak kompromi ama singa. Kalau ngga menerkam ya mengaum.
Aluna mula terdiam berjalan
lurus menghadap ke depan. Tapi buka Aluna namanya kalau suruh diam saja.
“Ayoo beli es krim” tawar
Aluna sambil menunjuk kedai eskrim yang sedang buka.
“Ngga mau” Narendra tetap
menolak tawaran Aluna.
“??” Aluna bertanya-tanya tergambar di wajahnya “Kenapa? Semua anak-anak suka eskrim. Kenapa ngga mau?”
dan menjawab “… Aku bukan anak-anak”
“Owh…” Aluna menatap
Narendra “… Jadi Tuan Naren berapa banya istrimu sekarang?”
Uhukk!!
Narendra tersedak ludahnya sendiri dia menatap tajam Aluna yang hanya menyeringai.
‘Apa apaan dengan pertanyaan itu’
“Kau sendiri yang bilang kau bukan anak-anak” Aluna hampir tertawa saat menggoda Naraendra.
Mulut Narendra berkedut
“Bukan berarti harus punya istri apalagi banyak”
Aluna sudah tidak kuat menahan tawa hingga dia tertawa lepas
Narendra hanya diam dan mengerutkan bibirnya “… Bodoh”
“Hahaha… Dari mana kamu belajar kata-kata itu?” tanya Aluna sambil mengusap air matanya saking gelinya dia sama Narendra.
“Dan… heiiy! Apa rumahmu ke arah situ?” Aluna berteriak karena Narendra berjalan berbelok dari jalur Aluna sekarang. Di tempatnya berdiri ada tiga jalan dan Aluna harus berjalan lurus untuk pergi ke rumahnya. Sedangkan Narendra berjalan ke kiri meninggalkan Aluna di belakang.
“Baiklah kalau begitu sampai jumpa lagi” makin lama makin kencang suara teriakan Aluna. Narendra yang berjalan cepat mau tidak mau Aluna menyesuaikan suaranya agar dapat di dengar
Narendra.
----
Pintu terbuka dari luar
nampak anak laki-laki masuk ke dalamnya. Nampak gelap dan sunyi itulah
deskripsi rumahnya sekarang. Narendra melapas sepatunya dan ingin menjemurnya di bawah panas matahari.
“Sudah pulang kamu?"
"Yang saya tahu kamu seharusnya pulang setengah jam yang lalu dan kamu baru pulang sekarang?” kata-kata tajam itu berasal dari belaknag Narendra.
Narendra menghap ke belakang dan melihat laki-laki dewasa menjulang tiggi di hadapanya. Laki-laki tersebut memiliki wajah yang sana dengan Narendra tapi dengan versi yang lebih dewasa.
Narendra tidak berani menatap terlalu lama higga dia menundukan kepalnya “Maaf Papah” cicitnya.
“Sudah beberapa kali saya katakan, jangan suka melayap. Mau saya pukul lagi kamu” kata laki-laki tersebut sambil mengangkat tangannya hampir melayangkan pukulan tapi dihentikan oleh deringan telpon yang ada dalam sakunya.
Laki-laki tersebut
berbalik pergi sebelum itu dia memperingatkan Narendra untuk tetap berdiri di
sana.
Beberapa waktu kemudian
laki-laki tersebut kembali ke tempat Narendra bediri “Kamu nanti malam ikut
saya. Dann... jangan membuat malu saya di sana itu peringatan untukmu.
Hukumanmu tetap sama. Pergilah” katanya sambil membuat tekanan untuk Narendra.
Untuk hukuman. Narendra paham, sangat paham malahan. Dia disuruh membaca dan menghafal buku yang
disediakan di perpustakaan papahnya setelah itu paginya dia diminta menjelaskan secara rinci apa yang dia baca dan sampai mana pemahamanya. Bila papahnya tidak puas, dia akan ditambah masa hukuman atau bahkan dipukuli. Tubuh Narendra yang tertutup baju penuh dengan bekas pukulan maupun cambukan dengan bekas membiru tampak terlihat.
Di dalam kamarnya sudah tersedia satu set pakaian kemeja dengan rompi dan jas hitam tergantung di lemari pakaiannya. Narendra menghela nafas tatkala dia melihatnya.
Narendra bersiap-siap untuk mandi dan melakukan hukumannya.
Dalam diam Narendra membenci kehidupannya kenapa dia harus hidup seperti ini. Dia membenci semua hal temasuk kehidupannya dan sangat benci akan hal-hal yang terjadi padanya. Dalam dirinya penuh kebencian.
Tubuhnya terguyur air dingin yang keluar dari sower. Narendra menengadah kepalanya ke atas air mata tercampur dengan air mandinya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap kehidupannya.