Gavesha

Gavesha
Sambungan Speaker



“Hai, Naren” sapa Aluna sambil melambaikan tangan ke arah Narendra.


Yang disapa hanya memperhatikannya tanpa menyapanya balik. Aluna tidak peduli kalau Narendra tidak menyapanya balik masih senang bahwa dia mau melihatnya itu sudah baik. Di samping Narendra Agus yang sudah mendudukan dirinnya dan mendongkak ke atas menatap anak perempuan yang menyapa Narendra ini.


“Naren juga sekolah disini ya?” tanya Aluna sambil mendudukan diri ke bangku depan Narendra. Aluna dan Narendra saling berhadap-hadapan hanya dipisahkan sebuah meja kantin.


Tak ada jawaban dari Narendra hanya diam dan masih menatap Aluna. Suasana tampak hening di antara mereka bertiga. Yang dua saling bertatapan yang satu bolak-balik menatap mereka berdua.


“Narendra, siapa ini?”karena tidak tahu harus apa dan suasana canggungnya dia Agus tidak tahan untuk bertanya.


Narendra berdecak lidah “Tanya aja sendiri” acuh Narendra sambil memalingkan kepala.


“Kamu siapanya Narendra?” tanya Agus mengarahkan pandanganya ke Aluna.


“Aku Aluna temennya Naren” tunjuk Aluna pada dirinya sendiri memperkenalkan dirinya kepada Agus.


Aluna tersenyum memperhatikan Narendra yang cuek padanya baginya Narendra terlihat menggemaskan saat diam begini. “Naren, aku punya roti sobek. Ini coba” Aluna memberikan sepotong roti sobeknya ke arah Narendra.


Narendra hanya menatap lurus ke arah Aluna setelah mendengar tawaran Aluna. “Ngga mau” lalu memalingkan wajahnya lagi.


“Ambiil aja. Ini bentuk dari mempererat pertemanan melalui cita rasa dari sebuah makanan” Aluna mengulurkan tangannya menarik paksa tangan Narendra


Narendra merasa jengah dengan tingkah laku Aluna ini. Sudah tahu bahwa dia tidak suka melihanya tetap saja mendekatinya. Ini membuatnya tidak nyaman.


Narendra memperhatikan roti sobek yang ada di tangannya “Kalau aku makan ini apa kau akan pergi?”


“Kenapa aku harus pergi? Kau makan rotinya maka kita berteman” dengan senyum manisnya yang ditunjukan ke Narendra berharap Narendra menerimanya.


Bukannya dimakan melainkan dikembalikan lagi ke Aluna “Ngga mau, ngga aku makan” tolak Narendra.


“Hey, hey! Ngga bisa gitu. Harus mau” mendorong mundur tangan Narendra yang masih menggenggam roti tersebut.


Narendra benci dengan orang yang suka memaksa apalagi orang yang baru bertemu dengannya.


“Ini buatmu” tiba-tiba Narendra memberikannya ke Agus setelah itu beranjak dari tempat duduknya tanpa menengok kembali ke belakang.


“Ini…” Agus memandang bingung roti di tangannya. Karena merasa tidak enak ia menatap Aluna seakan minta maaf lalu mengejar Narendra.


Aluna saat ini hanya duduk terdiam memperhatikan kepergian mereka berdua. Ia tidak marah sama sekali hanya saja dia penasaran Narendra itu orang seperti apa.


___


“Narendra, ngga baik nolak pemberian” Agus mencoba memberikan nasehat ke Narendra karena bagaimana pun menolak pemberian seseorang yang tulus bisa menyakiti hatinya.


“Itu untukmu, aku kasih” ucap Narendra tidak peduli. Narendra mempercepat langkahnya hingga tak beberapa lama.


Teng...teng..teng..


Suara tanda istirahat terdengar menggema ke sepenjuru sekolahan. Sekolah lebih ramai daripada tadi yang hanya segelintir dari beberapa kelas tapi sekarang semua anak kelas berhamburan keluar.


“Narendra, nanti pulang gimana kalau kamu main ke rumahku?” tawar Agus sambil menaik turunkan alisnya


“Hm, hm, hm? Gimana?”


“Huftt, ngga aku harus pulang cepat” Narendra menghela nafas berat.


“Owh, gitu ya? Ya kalau gitu lain kali” Agus tidak memaksa.


Koridor sekolah semakin ramai dengan suara ribut dari para siswa siswi yang memadati koridor. Suasana semakin hidup dengan para siswa-siswi melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah.


“Ngga lama lagi, mungkin”


Hari ini cuaca sangat cerah dan hangat, tidak terlalu panas maupun terlalu dingin membuat setiap individu nyaman untuk melakukan aktivitas. Diumur anak SD kebanyak mereka lebih suka bermain ketimbang melakukan dengan serius.


“Bu In, ini anaknya yang tadi main piano di ruang musik tadi” yang berbicara ini pak Nur yang tadi ditemu oleh mereka berdua. Pak Nur tiba-tiba datang dari arah depan dengan seseorang perempuan di sebelahnya yang menatap intens Narendra.


Yang dipanggil Bu In melihat name tag di dadanya “Narendra, saya dengar kamu pintar main piano. Saya ingin dengar darimu apa kamu senang main piano?” tanya Bu Indah.


Narendra pertama-tama masih belum tahu maksut dari pernyataan Pak Nur terhadap Bu Indah tapi setelah terbengong sebentar dia mulai paham apa yang sedang dipertanyakan oleh Bu Indah kepadanya.


Jujur saja Narendra menyukai permainan alat musik. Suara-suara yang dihasilkan dari setiap alat musik Narendra menyukainya. Itu sangat indah.


Narendra hanya mengangguk sekilas. “Nah, kalau kamu menyukainya bagaimana kalau Narendra mengikuti lomba audisi pianis? Audisi akan diselenggarakan bulan maret, tiga bulan lagi dari sekarang” Bu In menatap ke arah Narendra sedangkan Narendra tidak menatap balik, sebaliknya ia hanya menunduk.


Ada kilatan kejutan di mata Narendra tapi itu hanya sesaat dan tidak ada yang


menyadarinya.


“Saya.. saya tidak tahu” rasanya berat kalau berbohong. Seakan ada tekanan kuat yang menekan terlalu dalam ke hatinya.


Bu Indah menatap bingung “Loh? Kok ngga tahu? Nak Rendra dicoba dulu menang kalah ngga masalah setidaknya Rendra mau dan suka” berharap dengan dorongan Bu Indah Narendra mau mengikuti lombanya.


Narendra hanya menggelengkan kepalanya menatap sekilas ke arah Bu Indah lalu berjalan cepat menuju kelasnya. Diikuti Agus di belakangnya. Agus yang sedari tadi diam dan mendengarkan sedikit paham apa yang dibicarakan Bu Indah kepada Narendra. Sebenarnya Agus sangat mendukung sekali bila Narendra diikutkan ke audisi karena dia tahu sebagus apa permainan pianonya.


Agus memyamai langkah Narndra “Kamu kelihatan sedih. Ikut aja. Kalaupun kalah ngga ada yang menyalahkanmu”


“Bukan” terdengar suara serak yang terendam saat Narendra menjawab.


Agus hanya membuka mulutnya tidak jadi mengatakan sesuatu hannya bisa menatap Narendra.


Sudah nampak kelas 6B saat mereka berdua melangkah tanpa berbicara satu sama lain. Terlihat anak-anak dari kelas 6B bermain air yang diperuntukan pembersihan ruang kelas mereka.


“Hei Agus, bantu aku angkat air ini dong” terdengar suara perempuan dari belakang mereka.


Bianka yang mengangkat seember air terlihat kesusahan dan perlu bantuan. “oke” Agus menghampiri Bianka berniat menolong. Saat Agus memegang pegangan ember Bianka tiba-tiba lari kembali ke kamar mandi.


Agus yang ditinggal hanya diam  dan bertanya tanya “???”


“Hee Bianka ini aku suruh angakat sendiri nih?” teriak Agus ke arah Bianka yang lari masuk ke kamar mandi. “Bentar” Bianka juga berteriak menjawab Agus.


Sekembalinya Bianka dia membawa pel di tangannya sambil melangkah ke arah Agus dan Narendra. “Nahh, itu kamu angkat sama Narendra aku pegang ini” katanya sambil menunjukan pelnya.


Narendra menurutinya tanpa banyak bicara.


Berjalan bertiga menuju kelas mereka.


“Hoii! Jangan pada main air!” terian Bianka yang melihat teman-temannya bermain air satu sama lain.


Disamping Bianka Agus terperanjat kaget.


Agus yang menjadi korban karena Bianka teriak persis di samping telinga kirinya “Bianka kuping ini, buka sambungan speeaker” katanya sambil mengelus telinga kirinya.


“Kikiki.. damai” kikik Bianka sambil menunjukan salam damai dengan tangannya. Agus memberikan pandangan bau.


“Ayoo maju. Tu dua, tu dua” instruksi Bianka seakan menggerakan barisan.


Yang diintruksi hanya memutar mata menatap malas.