Gavesha

Gavesha
Anak Baru



Bau makanan yang sudah matang membumbung menyebar ke dalam rumah menciptakan rasa lapar bagi siapa saja yang menciumnnya. Di dapur Lina sedang memasak makan untuk sarapan sebelum melakukan aktifitas di luar rumah. Sejak dulu Lina selalu membiasakan untuk sarapan sebelum beraktifitas yang berat-berat.


“Mama masak apa hari ini? Baunya enak” tanya Aluna setelah mendudukan dirinya di bangku meja makan. Di meja makan sudah ada oseng cumi dan sayur asem pedas terlihat menggugah selerasa.


“Kamu mau dibawakan bekal atau ngga Aluna?” tanya Lina keluar dari dapur dengan membawa wadah bekal kosong di tangannya.


“Mmm… ngga usah aja deh Mama. Aluna nanti juga pulang cepet soalnya ada rapat guru paling ya dipulangkan” kata Aluna. Aluna menghabiskan susu hangatnya tanpa memakan apapun langsung berdiri meninggalkan meja makan.


“Kenapa ngga makan? Nih makan roti isi biar tidak terlalu lapar” kata Lina sambil menyerahkan roti sebelum Aluna berpamitan kepada Lina.


“Aku berangkat naik sepeda aja Mah. Ngga usah dianter. Dahhhh” ucap Aluna sambil berjalan ke arah tempat sepedanya terparkir. Menggigit rotinya sambil membawa sepedanya keluar rumah.


Di luar Aluna melihat ayahnya di luar gerbang sedang mencuci motor. Hanya berpakaian sederhana kaos oblong dan celana pendek kolor yang dipakainya. Mungkin hari ini ayahnya tidak berangkat kerja.


“Pagi Ayah" sapanya saat didekat ayahnya.


"Kenapa motornya dicuci? Habis pergi ya?” tanya Aluna pada ayahnya.


“Ngga habis kemana-mana Cuma biar kinclong aja...” kata sang ayah sambil mengangakat kepalanya


“…Kalau makan itu duduk, dikunya baru bicara, kebiasaan. Lain kali harus diingat jangan baru diingatkan baru sadar” omel sang ayah dengan nada halus tapi tegas pada Aluna. Yang diomelin hanya menunjukan giginya.


Ayahnya Aluna bernama Haider Rajendra dari keluarga Rajendra Fusena. Kalau orang dulu keluarga Rajendra terkenal karena seorang Priayi. Dikenal banyak orang berbagai lapis sosial. Dari keluarga Rajendra sendiri keturunannya banyak mengabdikan diri sebagai pejabat pemerintahan maupun sebagai juragan tanah. Sedangkan kakek Aluna yang sebagai ayah dari Haider Rajendra menekuni bisnis dengan membangun perusahaannya sendiri.


Hanya, ayahnya Aluna lebih memilih untuk hidup lebih sederhana dan lebih banyak menghabiskan waktunya kepada keluarga kecilnya daripada mengikuti warisan keluarganya.


Ayahnya Aluna ini bisa dikatakan tampan dengan kulitnya cerah kecoklatan khas, berwarna sawo yang walau begitu ayah Aluna terlihat tampan, dia tinggi dan maco.


“Udah mau berangkat? Sendirian? Ngga sama Mama?” tanya Haider pada putrinya tersebut.


“Ngga, aku naik sepeda aja. Lagian masih pagi ngga terlalu terburu-buru” jawab Aluna sambil menaiki sepeda hitam dengan aksen biru tua pada bodi sepedanya.


“Hati-hati. Mau tambah uang saku?” tanya Haider sebelum Aluna menggoes sepedanya.


“Hmmm, engga usah deh Yah. Yang dikasih mama udah banyak. Uang duapuluh ribu dah bisa buat jajan banyak” jawab Aluna lalu menggoes sepedanya menjauh dari rumahnya.


Bisa dikatakan rumah dan sekolahnya dekat hingga Aluna tidak terburu-buru untuk menggoes sepedanya. Sepanjang perjalanan Aluna sering mendengar burung berkicau di langit menambah suasana ceria di sekitarnya. Terkadang juga terdengan gesekan daun yang tekena angin pagi yang sejuk, menambah keharmonisan alam yang ditunjukan kepada Aluna.


Aluna tersenyum tatkala angin pagi menerpa wajahnya dan menggerakan rambutnya. Di sepanjang jalan banyak juga anak sekolahan sepertinya yang sedang berjalan kaki menuju sekolahan. Sesekali Aluna disapa oleh mereka yang kenal dengannya.


Sesampainya Aluna di depan gerbang sekolahannya Aluna turun dari sepedanya. Saat sedang menuntun sepedanya tak sengaja Aluna melihat seseorang yang baru dikenalnya tadi.


“Itu Naren ya?” heran Aluna saat melihat anak laki-laki tersebut bersekolah di sini juga. Sebelum Aluna menghampirinya, seseorang turun dari sepeda juga.


“Hai Aluna, yok masuk. Lihat apa sih?” tanya temannya keheranan. Dia Mia teman sebangku Aluna.


“Aku hanya penasaran apa itu anak baru ya?” tanya Aluna sambil menunjuk ke arah Naren.


“Mungkin, tapi mungkin dia murid lama yang jarang kelihatan. Mungkin sih ya.. hehe” kata Mia terdengar ragu-ragu.


“Hey, kenapa berdiri kayak patung sih, berasa kalian menyambut iring irinagan tamu tau nggak.. hahaha” kata seseorang sambil menepuk pundak mereka berdua.


Aluna dan Mia “…” memandang aneh ke arahnya.


Aluna dan Mia hanya memandang ngeri kearahnya dan seketika dengan berbarengan Mia dan Aluna pura-pura seakan memuntahkan sesuatu.


“Mia mari tinggalkan orang aneh” kata Aluna sambil berlalu meninggalkan gerbang sekolah menuju ke arah parkiran sepeda.


“Hey tegahh kaliayann yaww” kata dia dengan nada yang dibuat buat. Namanya Sasikirana Prima gadis yang ceria dan membuat teman-temannya seperti dapat suntikan keceriaan saat dekat dengannya. Kirana merupakan gadis yang suka sekali tidur saat pelajaran. Saat di kelas karena ketidak sukaannya mendengar pembelajaran yang diberikan guru saat menjelaskan materi dia hanya tidur di kelas tapi anehnya Kirana mampu menjawab pertanyaan dari guru. Apa jangan-jangan dia bisa belah sukma ya? Hahah apa sih ah, pertanyaan aneh.


Mia, atau dikenal dengan Mayasari gadis dengan seribu satu bakat. Apa saja bisa dia pelajari kalau dia suka, tapi sebaliknya apapun yang tidak disukai Mia boro-boro bisa dengan cepat dipahaminya. Bahkan berbulan bulan lamanya takan mampu dikuasainya dengan cepat. Kenapa disebut gadis seribu satu bakat, dia pintar memainkan apapun alat music, pintar menari dari tarian tradisional hingga modern seakan dia seperti memiliki tubuh yang lentur, ada lagi dia pintar menyanyi olah vokalnya bagus, ada juga dalam berbicara didepan umum juga tertata dengan mulus tanpa catatan maupun hafalan saat berbicara langsung. Mia juga memiliki hafalan yang kuat. Tapi dia tidak suka matematika, berapapun mencoba dia tidak bisa.


“Eh, Naya udah berangkat belum ya?” tanya Aluna pada mereka berdua. Satu ini namanya Nayara Kalila. Dia lebih pendiam daripada ketiga temannya. Saat berbicara terdengar pelan dan sedikit malu-malu. Dibandingkan teman-temannya dia sedikit tertutup. Dia seorang gadis penyuka matematika dan novel-novel romantic. Tak banyak yang menonjol darinya selain matematikanya.


Mia dan Kirana hanya mengangkat bahu tidak tau. Lagian mereka baru masuk ke sekolahan dan bertemu di gerbang. Belum melihat Naya di manapun.


“Hay Al, ada PR nggak? Nyontek dong. Aku ngga lihat jadwal tadi pagi. Yaya boleh nyontek ya?” kata Kirana dengan nada memelas.


“Yakk, hari ini ngga ada PR jangan ngada-ngada deh. Apa yang mau dicontekin kalau PR aja ngga ada. Mau ku tampok kau haa?!” kata Mia sambil menggulung lengan bajunya seolah-olah menantang adu duel ke Kirana.


“Santai, aku panik nih jadi dimaklumi dongg” kata Kirana sambil memayunkan bibir saat berbicara.


“Nyee nyee nyeeee nyee” balas Mia sambil memperagakan orang bicara dengan tangannya.


“Kirana, Aluna, Mia kalian belum bayar kas minggu inii kan? Mana sekarang bayar kas” kata anak cowok yang entah darimana tiba-tiba udah ada di depan mereka.


“Hiii orang ini menakutkan” bisik Mia kepada Kirana.


“Ho`oh, lebih menakutkan saat tiba-tiba minta uang kas” ucap Kirana bergidik ngeri.


Anak cowok ini namanya Riski Kuncoro ketua kelas sekaligus saudara Kirana. Kalau dilihat mereka memiliki wajah yang hampir mirip tapi sebenarnya mereka hanya saudara sepupu. Sifat merekapun berbeda. Riski lebih suka mendengarkan dan disukai oleh guru, dia juga suka duduk tenang di kelas daripada sang saudari sepupunya.


Kirana menghampiri Riski “Iki oh Iki, ini masih pagi ya kan? Tak bisa nanti aja, kita juga belum masuk kelas loh ini” Kata Kirana sambil merangkul Riski dan senyum mengandung arti yang terpasang di wajahnya.


“Ehh, maksutku kan sekalian lihat kalian jadi aku tagih kalau nanti pasti kalian lupa ye kan? Hehehe ya gitulah” jawab Riski berkeringat dingin melihat Kirana di sebelahnya.


“He.. he..he.. hee” kata Kirana dengan nada mengejek.


“Riski, itu di belakangmu anak baru ya? Kok baru lihat” tanya Aluna saat melihat Naren mengikuti seorang guru masuk ruangannya.


“Hmm? Mana? Cowok putih itu? Kayaknnya iya. Kenapa?” kata Riski sambil menengok yang ditunjuk Aluna.


“Ngga kenapa-kenapa, cuma kok baru lihat gitu. Owh iya kamu lihat Naya ngga? Si Naya apa sudah ada di kelas?” kata Aluna sambil melangkah ke kelasnya kelas 4A.


“Naya ada di kelas. Orangnya senyum-senyum sendiri di kelas, sampai-sampai aku takut minta uang kas ke dia. Hisss kenapa tu orang ya?” ucap Riski sambil mengingat-ingat yang dilakukan Naya di kelas.


“Owh?! Dia sedang bawa buku? Maksutku dia sedang baca buku kan?” tanya Aluna.


“Hmm? Iya, tapi ngga terlalu memperhatiin buku apa yang dia pegang” kata Riski mengingat kembali.


“Haaah mungkin Naya kesemsem dengan imajinasinya tuhh. Biasalah” kata Mia tahu kebiasaan teman bangku belakangnya.


“Hehehe, mau pinjam ah. Kali bawa cerita yang bagus. Kalau ini dia bawa cerita apa ya?” ucap Aluna bertanya pada dirinya sendiri.


Tentunya Aluna juga penyuka cerita romantic.