
“Narendra, hari ini adalah sekolah pertamamu di sini saya sebagai wali kelasmu akan mengantarkamu di kelasmu dan meperkenalkanmu pada teman-teman kelasmu” kata bu Hanum kepada siswa barunya itu. Bu Hanum membawa Narendra ke kelasnya sambil menjelaskan bagian-bagian yang ada di sekolahan.
“Ibu guru yang mengatarmu tadi adalah bu Saras wali kelas kelas 3B, juga saya sebagai wali kelasmu boleh kamu tanya apa saja tentang sekolahan ini. Karena ini jamnya masuk kelas tak banyak siswa …..” bu Hanum terus menjelaskan perihal apa saja yang ada di sekolahan ini.
“Nah, pojok kelas sana adalah kelasmu” kata bu Hanum sambil terus menuju ke kelas 6B.
Tanpa bertanya apapun dan hanya mendengarkan sedari tadi Narendra terus memperhatikan jalan depannya tanpa bersuara.
“Selamat pagi murid-murid bagaimana kabar kalian hari ini? Hari ini jadwalnya apa saja?” tanya bu Hanum setelah memasuki kelas dan melihat siswa-siswanya berhamburan setelah melihatnya.
“Selamat pagi, Bu” jawab satu kelas setelah mendudukan diri mereka ke bangku masing-masing.
“Bu hanum mau tanya” ucap seorang anak laki-laki sambil mengangkat tangannya bertanya pada bu Hanum di depan.
“Iya Gus silahkan” bu Hanum mempersilahkan anak tersebut. Namanya Bagus Putroyasa panggilannya Bagus siswa dengan wajah bulat dengan rambut terpangkas rapi dan seragam yang terlihat licin memperlihatkan bahwa dia siswa teladan.
“Bu Hanum ada yang bilang, hari ini dipulangkan cepat ya, Bu?” tanya Bagus berdiri sambil menumpukan tanganya di meja dan mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Ini masih rencana, tapi kalau dipulangkan cepat kalian harus pastikan kelas udah dibersihkan dari sudut belakang sampai depan jangan sampai masih kotor. Nanti bu Hanum akan cek sebelum kalian pulang” kata bu Hanum.
“Baik, Bu”
“Ya bu Hanum”
“Okey bu Hanum” jawaban dari para siswa.
“Hari ini kita bertemu teman baru. Murid-murid untuk diharapkan bisa membantu teman baru kita ini” ucap bu Hanum mempersilahkan Narendra memperkenalkan diri.
“Hei, siapa namamu?” tanya seorang anak cowok yang duduk di bangku belakang.
“Saya Narendra Pradipta anak pindahan. Salam kenal” kata Narendra memperkenalkan diri di depan.
“Hai Narendra” sapa balik semua siswa di kelas.
“Narendra bisa duduk di sebelah Agus” kata bu Hanum menyuruhnya duduk.
Semua mata menatap ke arah Narendra berada hingga dia mendudukan dirinya di sebelah Agus. Narendra melirik ke seluruh penjuru kelas dan melihat semua masih menatapnya. Tak butuh waktu lama Bu Hanum juga meninggalkan kelas setelah menyapa dan memperkenalan murid baru.
“Halo, Narendra aku Agus” sapa anak di sebelahnya.
“Iya” jawab singkat Narendra.
“Hai anak baru” seketika tempat duduk Narendra ramai bergrombol anak-anak yang kepo akan Narendra.
Narendra tidak terbiasa ditanya bertubi-tubi dengan pertanyaan yang relative terdengar sama tapi dalam kosa kata yang berbeda. Dan Narendra tidak betah mendengarnya. Dia terbiasa akan kesunyian.
“Narendra gimana kalau kita ke taman atau ke perpustakaaan gitu? Aku akan mengantarmu” kata Agus menawarkan diri.
“Iya” jawab Narendra sambil beranjak berdiri dari bangkunya.
“Eh Gus mau ke mana? Ini masih jam masuk jangan bolos” kata anak cewek yang menjabat ketua kelas itu.
“Heh, daripada kalian malas-malasan ayo beres beres kelas kita” kata Bianka melihat sebagian teman temannya hanya duduk duduk dan bermain ada juga yang tidur pula.
Yang disuruhpun hanya melirik dan melanjutkan aktifitas masing masing.
“Bianka, sekali-kali bok ya buat bersenang senang gitu mumpung bebas hari ini” kata temannya yang berkucir dua dengan poni tipis di dahinya.
“Yeee, daripada gitu mending beres beres biar pulang cepat nanti. Ayooo biar cepet pulang” masih dengan koar koarnya yang menggelegar sampai ke luar kelas.
☜☆☞
Di sisi lain Narendra dan Agus sudah keluar dari kelas menuju ke….. entahlah yang ditanya dari tadi malah diem ngga ngomong apa-apa membuat Agus bingung sendiri.
“Narendra oy mau ke mana dulu aku antar. Jangan diem aja dong” Agus hampir dibuat bingung akan tingkah Narendra.
“keliling sekolahan” jawab Narendra sambil memperhatikan nama yang terpampang di setiap kelas.
“hm, oke” kata Agus sambil menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban dari Narendra.
Narendra masih meperhatikan setiap ruangan yang dilewatinya. Tak jarang pula dia membaca slogan maupun tulisan yang terpasang di setiap dinding sekolahan.
“Kau tak usah sungkan bertanya denganku. Tanya apa aja” ucap Agus sambil memperhatikan Narendra yang sejak tadi masih diam.
Narendra melihat sebuah ruangan yang menarik perhatiannya “Ini… ruangaan apa?” tanya Narendra tiba-tiba.
“Ini ruangan music. Biasanya dikunci sekarang kok terbuka gemboknya ya?” kata Agus memperhatikan pintu dengan penasaran.
Tiba-tiba Narendra mendekati ruangan tersebut lalu memasukinya tanpa dosa. Dan berderitlah suara pintu yang terbuka.
“Hoy Narendra jangan kesana, itu nanti kamu dimarahin sama guru” kata Agus kaget sambil clingak-clinguk bila ada guru yang datang. Agus pun juga masuk ke ruangan tersebut setengah berlari mengejar Narendra yang dengan nekatnya memasuki ruangan tersebut.
“Narendra ayo keluar nanti kalau ada guru kesini” ucap Agus yang berdiri di dekat pintu berbisik ke arah Narendra. Yang diajak bicarapun hannya diam sambil memandang piano di pojok ruangan.
“Betss, jangan ke sana! Apa yang akan kau lakukan? Ayo keluar” kata Agus berbisik setengah berteriak.
Narendra mendudukan dirinya di bangku yang disediakan di dekat piano. Melihat setiap not yang ada di piano tersebut. Tangannya mulai menekan not yang diawali dengan not urutan enam hingga berlanjut menciptakan nada menyedihkan setiap tekanan yang dihasilkan dari not yang Narendra ciptakan. Semakin lama suara yang dihasikan itu menghasilkan nada kemarahan terbukti dengan suara yang semakin cepat dengan tekanan yang kuat.
Agus yang menonton di samping pintu hanya melongo tanpa bersuara. Agus kagum akan permainan piano Narendra. Tidak menyangka Narendra bisa main piano dengan bagusnya.
Bahkan setelah Narendra menyelesaikan permainanya Agus masih melongo dengan tatapan kagum ke arah Narendra.
“Wow Narendra, itu tadi bagus sekali” kata Agus sambil bertepuk tangan dengan keras melupakan di mana dia sekarang. Yang dipuji hanya diam saja yang masih menundukan kepalanya melihat not di depannya.
“Oh, rupanya ada anak-anak nakal di sini. Seharusnya siswa ngga boleh ke sini tanpa persetujuan dari guru” terdengar suara berat di belakang punggung Agus.
“Ah Pak Nur. Ini kita ngga sengaja lihat pintunya terbuka. Ja-jadi kita masuk. Di-dia Narendra Pak. Anak baru, jadi ngga tahu ini ruang apa” jelas Agus kepada guru laki-laki tersebut.
“Hmmm… memang sengaja bapak buka biar ngga pengap. Mumpung kalian di sini ambil sapu di pojok sana dan bersih-bersih ruang ini, oke?” kata pak Nur setelah masuk dan memperhatikan ruangan itu. Agus dan Narendra menurut apa yang dikatakan pak Nur.