Gavesha

Gavesha
Gugup dan Malu



“Aluna! Ehh malah berdiri di situ. Kenapa berhenti, ayo cepetan udah ditunggu Madam Eka! Ish, ayooo” tarik Kirana karena Aluna tiba-tiba berhenti di tempat dari jalur yang ditujunya.


“Kiran, tadi kau dengar alat musik yang dimainkan ngga? Enak loh kedengerannya. Masak kamu ngga dengar?” tanya Aluna dengan masih tangan digenggam Mia.


“Tak peduli, intinya harus cepat sampai ke Madam Eka. Menyerahkan ini lalu ke kantin. Pokoknya kita ngga bisa kehabisan roti endulnya Mpok Tari lagi” setelah mengatakan itu Kirana melajukan jalannya lebih cepat lagi. Sedangkan Aluna yang diseret merasakan kesusahan mengimbangi jalannya Kirana.


“Iya, iya. Tapi jalannya pelan dikit dong. Ak…” sebelum Aluna menyelesaikan ucapannya sudah disela oleh Kirana.


“Ngga bisa, harus cepat”


Mendekati pintu ruang guru tiba-tiba Kirana berhenti mendadak sedangkan Aluna yang tidak siappun menabrak Kirana hingga membuat oleng dan hampir terjatuh. Aluna hanya mengambil nafas kasar merasa penat akan kelakuan temannya ini.


“Ini pintunya ruang guru tertutup. Apa masih rapat ya?” kata Kirana memperhatikan double pintu berwarna coklat ruang guru.


“Coba aja di ketuk. Mungkin sudah selesai” ucap Aluna sambil bersandar di tembok.


Tok..tok..tokk


Pintu di ketuk oleh Kirana dan menunggu barangkali ada yang menyahut dari dalam.


“Al, kayaknya ngga ada siapa-siapa deh. Gimana kalau langsung masuk? Kalau lama gimana?” tanya Kirana berdiskusi pada Aluna


“Ya udah coba aja” mengendikkan bahunya menyerahkan keputusan kepada Kirana.


“Ok ayo masuk…” Kirana mecoba membuka pintu dengan perlahan.


“…Permisi” Kirana melongokkan kepalanya ke dalam ruangan memeriksa keadaaan di dalam.


“Al, sepi. Apa kita langsung masuk kasih ke atas meja Madam Eka ya?” tanya Kirana semakin melongokkan kepala lebih dalam.


“Mungkin langsung tar…” kata Aluna terputus


“Hallo, cari siapa ini adek-adek? Kalau boleh tau?” tanya tiba-tiba seseorang dari belakang mereka berdua.


Brakk!!


Kepala Kirana terbentur pintu saking terkejutnya dengan suara tiba-tiba dari belakang mereka. Tak telak Aluna juga terkena imbas tindakan tiba-tiba Kirana kakinya terinjak oleh Kirana tanpa persiapan dan sama terkejutnya dia dengan kedatangan seseorang.


“Aduh! Kiran! Sakit, sakit jangan injak kakiku” tanpa sadar Aluna memukul sedikit bahu Kirana.


“Owh! Maaf, maaf aku ngga sengaja. Sakit banget ya?” kata Kirana dengan ekspresi menyesal. Merasa ngga enak Kirana hampir menyentuh dan memijat kaki Aluna.


“Endak juga, untung pakai sepatu. Tadi hampir saja sikumu mengenai perutku jadi tapi ngga kena ngga terlalu fatal” sambil merapikan seragam menghadap ke arah suara seseorang yang mengejutkannya.


“Selamat pagi, Miss Nia” sapa Aluna sambil menunjukan senyum kecil. Sedangkan Kirana masih merasakan denyutan rasa sakit di kepala.


“Itu dek Sasikirana ngga pa`apa?” tanya Miss Nia yang melihat Kirana yang masih mengelus kepalanya.


“Hehehe, ngga pa`apa Miss. Aman” ucap Kirana sambil menunjukan jempol kanannya.


“Mau cari siapa ini adek-adek? Kok ngga masuk? Ayo masuk” setelah itu menggiring mereka masuk ke ruang guru. Rasa dingin dari AC menjadi pembeda suhu antara ruangan dan suhu luar setelah mereka masuk.


Miss Nia mendudukan dirinya di bangku ruang kerjanya sendiri memutar kursi menghadap ke arah duo bocil yang masih dalam masa pertumbuhan.


“Miss tahu di mana Madam Eka engga? Kita mau nyerahkan kotak ini tapi kita ngga tahu di mana Madam Eka” sambil menunjukan kotak yang berbungkus plastik putih yang dipegangnya.


“Madam Eka tadi ada di perpustakaan sebentar. Ngga apa-apa kotaknya dikasihkan di atas meja Madam Eka. Nanti Miss yang bilang” setelah diberitahu Kirana hanya menganggukan kepala dan menuju bangku kerja Madam Eka yang berada di samping Miss Nia.


“Makasih Miss” ucap mereka berdua serempak dan meninggalkan ruangan guruk tak lupa untuk menutup ruang guru sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan.


__


“Naya, ngga capek seharian kamu baca buku kayak gitu?” tanya Mia merasa heran melihat Naya yang tiap hari berkutat dengan bukunya. Bahkan poninya menutupi sebagian wajahnya.


“A-ah! Ini.. Karena ceritanya sangat seru. Rasanya berdebar” cicit Naya karena tidak dapat jawaban yang pas buat seberapa sukanya ia dengan novel romantis. Mia hanya manggut-manggutkan kepala saja.


Sekarang mereka berdua berada di kantin menunggu Aluna dan Kirana yang sekarang sedang mengirim barang yang diminta Madam Eka. Karena Bosan Mia dibuat mengantuk bahkan hembusan angin menambah suasana rasa kantuk yang berat.


“Naya, ceritalah sesuatu biar aku ngga ngatuk gitu” kata Mia masih dengan mata tertutup dengan posisi siku di meja dan tangan menyangga dagunya.


“Mau aku bacakan buku ini?” kata Naya menunjukan buku yang tadi dibacanya.


“Haaah.. Nay, yang ada aku bisa bawa kasurku kesini mendengar kau membacakan itu” Mia hanya melirik jengah ke arah Naya.


Tiba-tiba Mia berdiri dari tempat duduknya sambil merenggangkan sendinya yang terlalu lama duduk hingga sendi tulangnya berbunyi saat perenggangan tubuh.


“Mau kemana?” tanya Naya penasaran


“Mau beli roti. Itu sudah banyak pada ngantri nanti keburu kehabisan lagi. Kamu mau beli apa? Sekalian” tawar Mia.


“Roti sobek coklatnya aku dua” kata Naya. Karena hari ini Naya pengen makan yang manis-manis jadi dia pengen beli roti sobek lebih banyak dari biasanya.


“Itu doang? Oke lah” katanya sambil menunjukan tangannya simbol persetujuan.


Mia menuju kantin yang menjual roti sobek dengan sedikit tergesa-gesa. Memang roti sobek buatan Mpok Tari yang diberi nama roti endul banyak yang suka apalagi cita rasa dari coklat yang menambah kesan manis tiada duanya. Disisi lain Aluna dan Kirana sudah sampai di kantin dan melihat antrian yang sudah memenuhi kantin tersebut.


“Al, ayo cepetan keburu habis” Kirana terus menggandeng tangan Aluna hingga menuju kerumunan yang berdesakan itu. Bahkan hampir saling menginjak kalau tidak hati-hati.


“Hishhh, lepasin dulu. Ihh nanti aku jatoh” kata Aluna hampir marah kepada Kirana yang tidak bisa sabar. Walau Aluna terdengar sedikit jengkel tapi dia tidak bisa benar-benar marah kepada Kirana. Alasan yang sederhana karena rasa persahabat yang tinggi bahkan untuk menaikan nada yang tinggi Aluna tidak bisa.


Setelah Aluna mengatakan itu Kirana melepaskan tangan Aluna dan tetap maju untuk berdesakan di kerumunan. Bahkan Aluna sudah kehilangan jejak Kirana.


Karena Aluna tidak tahan berdesakan dia perlahan mundur dari kerumunan yang saling dorong dan berteriakan.


“Yahhh, semoga Kirana berhasil” ucap Aluna seolah memberi semangat kepada kirana dengan mengangkat bahunya tidak bisa mengerti lagi harus apa.


Aluna mengedarkan pandangannya segala penjuru mencari bangku kosong untuk didudukinya. Tapi bukannya mendapatkan bangku kosong dia melihat Naya yang asik membaca buku yang di tangannya. Tanpa babibu Aluna menghampirinya.


“Nay, pinjem dong. Itu ceritanya tentang apa?” setelah menduduki bagku panjang yang di sebelah Naya Aluna lansung mengitip ke arah buku yang sedang dibaca Naya. Ditanya seperti itu Naya mulai menjelaskan dan menceritakan isi di dalam buku yang dipegangnya.


Perlahan kerumunan mulai menyusut setelah sudah apa yang mereka mau dapatkan. Mia yang pertama yang datang menuju bangku yang Naya dan Aluna duduki setelah itu disusul Kirana di belakangnya dengan membawa sebungkus roti sobek di tangan kanannya.


“Haha, yes akhirnya dapet” tawa senang kirana sambil menunjukan sebungkus plastik yang berisi roti sobek tersebut seakan memamerkannya kepada mereka.


“Nih Nay, dua roti sobek rasa coklat” serah Mia dua bungkus plastik roti sobek ke arah Naya.


“Makasih” ucap Naya sambil mengintip ke dalam plastik lalu membukanya untuk dimakan.


“Al, kamu kalah cepet tadi kamu aku ajak nggak mau salah sendiri. Sekarang rotinya udah pada habis” seakan mengejek Aluna Kirana sambil terus memamerkan plastik isi rotinya.


Sedengkan Aluna hanya diam-diam tersenyum misterius. Tak lama kantin kembali sedikit tenang daripada tadi yang ricuh. Yang tadinya berdesakan sekarang membubarkan diri. Saat itu Aluna berdiri lalu menuju ke Mpok Tari.


Aluna kembali dengan menenteng plastik yang sama yang mereka berdua bawa bedanya rasa yang dimiliki Aluna itu coklat kacang.


“Curang mainya orang dalam” teriak Kirana ke arah Aluna. Sedangkan Aluna hanya menjulurkan lidahnya.


“Ini yang dinamakan the power of mesen duluan” kata Aluna sedikit bangga. Sedangkan mereka hanya memutar matanya kecuali Naya yang masih asik dengan rotinya sesekali mendengar mereka berdebat.


Sebelum Aluna mendudukan diri dia melihat Narendra yang menuju ke arah bangku kosong pojok kantin. Aluna menghampiri dan menyapanya. Dari sudut pandang bangku Mia, Aluna sepertinya mengenalnya.


“Bukankah mereka manis?” kata Naya tiba-tiba diam-diam memperhatikan dengan sedikit menutupi setengah wajahnya dengan buku seakan mengintai sepasang kekasih yang kepergok olehnya dengan malu-malu. Mia dan Kirana hanya saling pandang dan memandang jengah ke arah Naya.


“kenapa kau terlihat tegang? Kamu juga terlihat gugup dan malu”