Gavesha

Gavesha
Ku Ingin Mengenalmu



Bulan Desember minggu pagi sekitar pukul enam di sekitar taman komplek sudah banyak orang yang berkumpul di sekitarnya. Banyak orang mengunakannya untuk berolah raga, berkumpul dengan keluarga, maupun berjalan-jalan ringan. Aluna Xaviera yang sekarang berusia sepuluh tahun yang ulang tahunnya bulan kemarin. Berlari-lari kecil di taman sambil menyapa orang-orang yang dikenal dan berpapasan dengannya.


“Pagi Tante” sapa Aluna pada salah satu teman mamanya


“Hai. Wahhh.. Aluna, lari pagi sendiri? Mana Mamamu?” sapa balik teman mamanya sambil menyeka keringat di dahinya.


“Tadi sih di belakang aku. Sekarang ngga tau” jawab Aluna sambil menengok ke belakang.


“Astaga, bareng tante yuk? Sekalian jogging bareng, mau?” tawar tante Geya teman mamanya Aluna.


“Engga ah tante, terima kasih. Aku mau cari cogan, barangkali di sini ada bibit cogan yang pas buat disikat” tolak Aluna sambil berlari dan melambaikan tangan ke arah tante Geya sambil cekikikan.


“Astaga! Aluna! Bocah ini” kata tante Geya sambil menggelengkan kepala tidak percaya. Dalam hati Geya berpikir kalau dipikir-pikir ini anak mesti ajaran mamanya. Anak dan mama sama aja sama-sama ngga normal.


Di lain sisi mamanya Aluna sedang mengupas mangga yang dia dapat dari pohon tepat di belakangnya. Menikmati mangga sambil senyum senyum sendiri yang membuat parno yang melihatnya. Sudah lama Lina mengincar mangga tersebut dan siap sedia dengan pisau bila buahnya sudah masak. Tak lama Geya datang. Yang tadi berpapasan dengan Aluna dan sekarang melihat Lina di bawah pohon mangga. Menghampirinya sambil mengomel.


“Lina, Lina. Aku tadi lihat anakmu jalan-jalan sendiri, ehh malah mamanya duduk makan mangga di sini. Anakmu itu aneh, tuh anak malah mau cari bocil cogan. Kamu ajari dia yang aneh-aneh apa lagi?” omel Geya melipat tanganya di dada sambil menggelengkan kepalanya.


“Uhuk… uhuk…. Uhuk…” Lina tersedak tiba-tiba mengagetkan Geya yang mengomel.


“Tuhkan kalau minum itu pelan-pelan, sampai tersedak gini” kata Geya sambil menepuk punggu Lina. Melihat Lina tersedak gini Geya merasa kasihan.


“Aluna cari bocil cogan?!” tanya Lina dengan membelalakan matanya terkejut. Geya hanya mengangukkan kepala.


Geya hanya melihat Lina yang tanpa reaksi melongo dengan mulut terbuka.


Cetek!!


Tiba-tiba Lina menjentikan jarinya membuat Geya bingung. “Wissss, alamat dapat mantu cakep nih” kata Lina sambil berkhayal sambil senyum-senyum tak jelas.


Takkk…


“Heyy.. heyy.. heyy! Dia masih anak kecil! Seumuranya itu harusnya banyak belajar. Ngga khawatir haa anakmu salah jalan?!” ucap Geya marah dengan memukul dahi Lina greget


“Ngga apa-apa, dia tau jalan pulang kok. Paling nyasar dikit” ucap Lina sambil lanjut minum.


Geya: “.….”


“Mau lanjut lari, sekalian aku mau nyari Aluna, ayo mau ikut atau mau di situ?” kata Lina sambil beranjak dari duduknya dan menepuk celananya yang terkena tanah.


Lina berlari menjauh dari pohon yang menjadi tempat istirahatnya meninggalkan Geya yang hanya bisa menggrutu dalam hati.


Mama muda yang sekarang beranak satu itu berlari sambil menenteng botol air minumnya. Mengatur napasnya saat berlari sambil mencari Aluna. Di belakang ada Geya yang mengiikutinya dari belakang berusaha menyamai langkah Lina.


Lina dan Geya mereka berdua sudah berteman saat dimana menjadi satu rekan kerjaan dalam perusahaan yang sama.


Tapi sekarang Geya sudah tidak satu kerjaan dengan Lina, Geya sekarang hanya ibu rumah tangga karena permintaan suaminya. Dan Lina masih dalam pekerjaannya sambil menekuni hobinya menjahit. Dengan hobinya ini Lina memiliki penghasilan sampingan. Dia menyukai mendesain baju dan menjahitnya, banyak peminat yang menyukai rancangan dari mamanya Aluna ini. Karena banyak peminatnya tidak semua bisa diurus oleh Lina seorang. Dengan begitu Lina meminta bantuan ke Geya dan tentunya dengan senang hati Geya membantu.


Geya dan Lina berbincang bincang dalam perjalanan mereka saling bertukar pendapat dan ide. Seperti itulah kebiasaan mereka ada waktu senggang dan bertemu, adakalanya mereka saling berdebat karena hanya perbedaan pedapat.


“Pagi Mba Geya, habis jogging ya?” sapa seseorang dari samping Geya.


“Pagi.. Owh Cici. Iya nih, mau jogging juga?” sapa balik Geya. Yang dipanggi cici oleh Geya merupakan seseorang kenalannya yang adalah rekan bisnis suaminya.


“Saya sudah habis jogging, ini mau pulang mau masak buat keluarga di rumah. Lalu ngga sengaja melihat Mba Geya. Mumpung searah sekalian nyapa Mba Geya” jelas orang tersebut. Geya hanya mangut-mangut dan tersenyum.


“Ci, ini teman kantorku dulu, Lina” ucap Geya kepada Fu Euis memperkenalkan Lina.


Kalau dilihat dengan saksama Fu Euis ini memiliki postur tubuh yang ramping yang mungkin tingginya sekitar 165 an dan dengan kulit putih cerah yang bersih yang walau terlihat keringat membasahi tubuhnya masih terlihat bersih dan cerah.


“Mbak Lina saya Fu Euis jangan sungkan silahkan main ke rumah saya. Rumah saya berada di blok A” kata Fu Ai dengan senyum ramah.


“Iya ci, sekali-kali main ke rumahku juga. Ngga pernah juga kan ke rumahku?” kata Geya juga ikut berbasa basi.


“Ya kapan-kapan aja Mba Geya, Mba Lina. Kayaknya seru bisa ngobrol dengan kalian” kata Ci Eusi menanggapi.


“Haha, sekalian kita bergosip…” kata Geya mendekatkan diri ke Ci Eusi seakan berbisik ke telinganya yah walau pun masih bisa terdengar keras.


“…Owh iya Lin, nanti aku ke rumahmu, ya? Ada baju yang mau aku kirim. Sudah di tagih aku sama Mba Anna. Mesti kamu lupa kirim kan? Kebiasaan” kata Geya melanjutkan. Geya tahu Lina ini pasti lupa karena keseringan Lina lupa apa saja yang dia beri tahu padahal udah di beritahu berulang kali.


“Lah, kamu juga ngga bilang lagi kalau ada baju yang belum terkirim. Lagian Ak…” sebelum Lina mengelak Geya memberhentikan Lina dengan isyarat tangannya diletakan di mulut Lina.


“Cuppp, diem. Lupa ya lupa. Jangan menyangkal dududu, dududu alasan itu lah apa lah” ucap Geya dengan tatapan tajam mencondongkan tubuhnya ke arah Lina mengarahkan tangannya di pinggangnya.


“Ampu doro” ucap Lina sambil menempelkan kedua telapak tangannya mengarah ke Geya.


“Emmmm, itu. Anu saya pulang dulu ya di depan itu rumah saya ayo silahkan main” ucap Fu Euis menghentikan perdebadatan mereka.


___


Aluna saat ini berjongkok memperhatikan seseorang anak laki-laki yang sedang menulis sesuatu di buku bersampul merah. Merasa tertarik Aluna memperhatikanya dengan intens apa yang ditulis anak laki-laki tersebut.


“Kamu suka belajar?” ucap Aluna tiba-tiba mengejutkan anak tersebut. Anak laki-laki tersebut menengok asal suara yang berada di samping kanannya.


“….Nggak” jawab anak tersebut setelah memperhatikan siapa yang berbicara padanya.


“Hahhh, kalau dilihat-lihat kamu anak pintar. Bagaimana rasanya jadi anak pintar?” tanya Aluna sambil mendudukan dirinya meluruskan kaki menghadap berlawanan pada anak laki-laki di sebelahnya.


“Ngga ada” jawabnya sambil terus menulis.


“Aku Aluna, kamu?” tanya Aluna berniat berkenalan dengan anak laki-laki di sebelahnya. Sambil menengok menanti jawaban dari anak yang berada di samping kirinya.


“Aku ngga kenal kamu. Kita juga ngga saling kenal, kita orang asing” jawabnya dengan tetap fokus pada apa yang ditulisnya.


“Maka kita harus kenalan” kata Aluna dengan memperlihatkan gigi susunya.


“Tidak perlu. Kedepannya kita tidak akan pernah ketemu, jadi tidak usah repot-repot saling kenal”


“Hissss, berpikir pendek sekali kau ini. Cobalah bayangkan masa depan itu panjang, bisa jadi kita bisa bertemu lagi diwaktu dan tempat beda” kata Aluna sedikit dengan nada jengkel.


“….” Anak laki-laki itu tidak menanggapai masih fokus dengan buku pegangannya.


“Huhh, kurasa buku itu lebih menarik ya daripada sekelilingmu. Sini aku pinjam” Kata Aluna sambil menarik paksa bukunya dengan secara tiba-tiba.


“!!!” yang punya buku terkejut dengan gerakan tiba-tiba Aluna.


“Owh, namamu Narendra Pradipta ya?” tanya Aluna setelah melihat cover buku depannya.


“Kurasa kalau dilihat-lihat kamu perempuan cerdas, apa kamu tidak tahu tidak baik memaksa seseorang untuk memenuhi keinginanmu. Lagian namaku tidak penting untukmu kan? Kenapa pemaksa sekali?!” Katanya dengan tidak suka sambil menarik kembali bukunya.


Aluna jelas tidak peduli dia hanya memikirkan nama anak laki-laki tersebut sambil merenung tanpa mempedulikan apa yang dia ucapkan anak laki-laki di sebelahnya.


“Narendra Pradipta? Hmmm aku akan memanggilmu Rendra? Narendra? Atau… Pradipta?” kata Aluna sambil mendongak kepala melihat langit biru.


“Hmmm… Narendra kurasa kepanjangan gimana kalau Naren? Aku akan memanggilmu Naren” ucap Aluna sambil mengancungkan jempol. Anak Laki-laki yang dipanggil Naren oleh Aluna memandang tidak suka kearah Aluna.


Naren beranjak dari tempat duduknya tadi. Berjalan meninggalkan Aluna yang termenung melihat kepergiannya. Aluna berpikir kalau Naren ini tidak punya teman, gimana punya teman dia lebih suka bukunya daripada sekelilingnya.


Sekarang Aluna sendiri duduk termenung di atas rumput untuk beberapa saat dia memikirkan untuk lebih dekat dan menjadi teman untuk Naren.


“Berteman dengannya sama dengan berteman dengan singa”