Future Day

Future Day
Enam (6)



Sebulan berlalu semenjak Ryuu di rawat di rumah sakit itu.


Pagi ini Ryuu belajar berjalan untuk melatih otot-otot kakinya agar tidak kaku, mengingat selama sebulan penuh ini Ryuu selalu duduk di kursi roda terus-menerus.


Gadis itu duduk di sudut ruangan, memandangi Ryuu yang sedang berlatih berjalan, senyuman manis Hiromi yang duduk menunggu nya memberi semangat lebih kepada Ryuu. Rasa nyeri akibat kram di bagian kaki nya tak dirasakan lagi oleh nya 'sungguh, senyuman Hiromi adalah obat yang mujarab' gumam Ryuu pelan.


Tatapan nya kepada Hiromi tak pernah teralihkan seolah-olah Hiromi memiliki daya tarik seperti magnet dan Ryuu adalah besinya. Manik hitam bulat itu memandangi Ryuu yang sedang latihan berjalan dengan tatapan sayu 'omg, hatiku gak kuat' wajah Ryuu memerah.


“bagaimana latihannya Ryuu san? Apakah kakimu masih terasa kaku?”


“berjalan dengan baik, kaki ku sudah tidak kaku lagi”


“syukurlah kalau begitu”


“dan satu lagi, kata dokter mulai hari ini aku di anjurkan menggunakan tongkat untuk membantuku berjalan, sekalian untuk stimulus agar otot-otot kaki ku tidak kaku"


“benarkah? Baiklah, mulai sekarang kamu harus lebih semangat Ryuu san” ucap Hiromi dengan senyum yang begitu menawan.


“terimakasih Hiromi san”


“umm” Gadis itu mengangguk.


Tak lama kemudian sesi latihan itu telah selesai, mereka meninggalkan ruangan dan menuju kamar pasien untuk sarapan dan meminum obat.


“tunggu sebentar Hiromi chan” Ryuu menyuruh Hiromi berhenti ketika melintasi taman belakang rumah sakit.


“ada apa?”


“disana”


Jri telunjuk Ryuu menuju seorang anak kecil yang sedang duduk di kursi taman bersama dengan seorang suster.


“anak itu kehilangan kedua orang tuanya ketika kecelakaan, dan hanya dia yang selamat, kini dia harus menjalani operasi untuk luka dalamnya” jelas Ryuu.


"kenapa kamu bisa tahu tentang hal ini Ryuu san?"


"aku waktu itu tidak sengaja mendengar beberapa suster sedang membicarakan nya"


"kamu mulai suka bergosip ya Ryuu san?"


"ti-tidak, bukan begitu, aku hanya kebetulan dengar"


"hmm, aku percaya"


“ya, sangat kasihan, nasib anak itu sama sepertiku” ucap Hiromi pelan.


“eh? Apa yang kamu katakan barusan Hiromi san? Aku kurang mendengar suara mu”


“tidak, tidak apa-apa, ayo kita temani anak itu bermain, dia lagi butuh penyemangat”


“umm” angguk Ryuu.


"permisi" Ucap Hiromi tersenyum kepada gadis kecil itu.


"ah, ada apa kakak?"


"bolehkah kami bergabung?" Sahut Ryuu.


"tentu saja" Balas gadis kecil itu singkat.


"siapa nama mu adik?"


Hiromi sedang mencoba mencari perhatian gadis kecil yang nampaknya masih berumur 7-9 tahun itu.


"Chisaka Rubu"


"Rubu chan, aku akan memanggilmu begitu" Ucap Hiromi sembari tersenyum.


"umm"


Entah kenapa gadis kecil itu selalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Hiromi dan Ryuu secara singkat, tatapan gadis kecil itu juga membuat siapapun yang melihat nya akan merasa iba, raut wajah yang imut dengan kelopak mata yang sayup dan manik coklat itu harusnya akan nampak cantik ketika gadis kecil itu tersenyum ria. Akan tetapi yang terlihat adalah tatapan yang kosong dari gadis kecil itu, wajar saja, ia telah mengalami kecelakaan yang membuat kedua orang tua nya meninggal, dan hanya dia seorang yang selamat, menyaksikan kedua orang tua nya meninggal di depan mata, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan oleh Rubu.


Hiromi memeluk tubuh kecil Rubu dengan lembut, Rubu tersentak karena terkejut.


"ah, maaf, aku kelepasan, aku tau apa yang kamu rasakan Rubu chan, aku juga mengalami hal yang sama, justru aku tak pernah bertemu ibu dan ayah ku sejak aku bayi, tapi aku tetap tegar, jadi kamu harus tetap tegar, oke?" Hiromi memberi semangat kepada Rubu yang berada di dekapan nya.


"umm"


'dia tidak menangis, sungguh gadis kecil yang angat tegar' Gumam Ryuu.


"kami tak bisa berlama-lama disini, kakak yang duduk di kursi roda itu harus sarapan dan minum obat" Tunjuk Hiromi ke arah Ryuu.


"daaa,," Lambaian tangan Hiromi di balas oleh lambaian tangan mungil Rubu.