Future Day

Future Day
Satu (1)



Kepulan asap rokok memenuhi balkon


lantai dua apartemen kecil di pinggiran


kota Akihabara.


Masamune Ryouta atau biasa


dipanggil Ryuu merupakan penghuni kamar kost (apartemen) di lantai dua itu,


sudah 3 bulan lamanya ia menetap di apartemen milik keluarga Kuromachi tersebut.


Ryuu adalah fotografer bebas


yang sudah tergolong profesional dulu,


ia memulai karirnya sejak duduk


di bangku SMA hingga kini ia telah


menginjak usia 25 tahun.


Ketika lulus SMA Ryuu mengikuti


pameran yang diadakan ayah nya


dan menjadi pusat perhatian para


apresiator karena hasil karya nya yang menakjubkan.


Akan tetapi sudah 3 bulan ia tak menghasilkan jepretan yang


selama ini ia banggakan,


semenjak ia pindah dari Tokyo ke


Akihabara tak pernah sekalipun


ia menyentuh kamera milik nya.


Rasa frustasi masih menyelimuti nya


setelah kejadian waktu itu,


dunia karya seni yang ia banggakan


hilang dalam sekejap mata.


Sepasang manik berwarna coklat itu memandang langit jingga


kemerah-merahan tanda sore hari.


Tatapannya kosong, kemanapun ia


menatap semua terasa sama sejak saat itu. Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya,


di raihnya jaket tebal berwarna


hijau tua yang selalu ia kenakan.


Ceklik, pintu apartemen itu terbuka,


sinar matahari mengintip melalui celah pintu,


‘sudah berapa hari aku tak keluar apartemen?


Astaga, bahkan aku pun tak ingat lagi,


mungkin minggu lalu, saat stok rokok


dan bir sudah habis’.


“Masamune kun?”


Pekik wanita tua yang sedang menyapu di halaman ketika melihat nya menuruni tangga.


“ah, selamat sore Kuromachi san”


Sapa Ryuu kepada pemilik apartemen yang ia tempati.


“astaga, ku kira kamu tidak ada di kamar,


pintu mu selalu tertutup dari


minggu kemarin, bahkan aku tak


mendengar suara apapun dari kamar mu,


aku sungguh khawatir, apakah kamu


baik-baik saja?”


Wanita tua itu nampak khawatir.


“maaf sudah membuat anda khawatir,


aku baik-baik saja Kuromachi san”


“kamu mau kemana?”


Tanya wanita tua itu dengan raut wajah


sedikit khawatir.


Jawab nya sembari berlalu.


‘apakah dia baik-baik saja?’ wanita tua


itu memandangi Ryuu yang nampak lesu.


Kepulan asap rokok mengiringi langkah


kakinya yang bahkan hampir tak


memiliki tenaga untuk berjalan,


sefrustasi itukah Ryuu? Ia bahkan tak


tau pasti tujuan nya kemana,


Ia hanya mengikuti kemana langkah


kaki membawa nya.


Tiba Ia di sebuah taman kecil,


taman itu nampak sepi sekali,


tak ada orang lain sejauh mata memandang,


Ryuu duduk di salah satu ayunan,


masih dengan pikiran dan pandangan nya


yang kosong Ia menatap langit yang


berwarna jingga, Ryuu mencoba


melupakan semuanya, semua yang


pernah terjadi di waktu itu, tetapi tak bisa,


setiap kali ia mencoba hasilnya tetap sama,


hati nya tetap tidak bisa melupakan


segala yang terjadi kala itu.


Setiap kali ia keluar apartemen dengan


niat ingin mencari pandangan baru


ia selalu pulang dengan tangan kosong,


tak pernah mendapatkan hasil apapun,


sungguh ironis.


Tubuh jangkung nya itu beranjak dari


ayunan dan langkah kaki nya kini


menuntun nya entah kemana,


manik mata coklat itu bahkan tak


pernah melihat ke depan atau ke samping,


hanya menunduk melihat langkah kaki nya.


Suara bisingnya kendaraan yang


lalu-lalang tak pernah sekali pun ia dengar.


“hei,,”


“heii,,,”


Tiiiiit,, tiiit,,,


‘ada apa? Seperti ada orang yang berteriak’


sempat Ia menoleh dan melihat


sekerumunan orang nampak meneriaki nya


di belakang.


Brakk,, hantaman keras mementalkan tubuh


jangkung nya itu. Hantaman itu


membuat pandangan nya kabur.


‘sakiitt,sakit sekali, seluruh tubuhku terasa sakit, ada apa ini?’ pikir nya.


“cepat tolong”


“panggil ambulance”


Suara ramai itu mulai tak terdengar lagi,


pandangan Ryuu pun mulai memudar


bersama dengan suara kerumunan orang itu.