Future Day

Future Day
Dua (2)



Kelopak mata yang tertutup itu perlahan terbuka, sepasang manik coklat itu memandangi langit-langit berwarna putih.


‘dimana aku? Argh, kepalaku masih sakit’.


“suster, suster, dokter?”


Terdengar suara wanita sedang panik di samping nya.


Tak lama kemudian seorang wanita mengenakan seragam putih menghampiri nya, Ryuu masih belum memiliki tenaga sepenuhnya untuk bicara, ia hanya bisa memandang kiri kanan, Ryuu masih tak paham dengan apa yang terjadi, ingatan terakhir nya yakni waktu ia duduk di taman, dan,,


‘aduh, sakit sekali’ kepala nya terasa sakit ketika ia hendak mengingat yang terjadi setelah ia duduk di taman.


Butuh waktu yang agak lama bagi nya untuk mengumpulkan tenaga nya kembali, ia menoleh kesamping dan didapati nya seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang dengan manik mata berwarna hitam sedang mengupas buah apel, sungguh pemandangan yang tak biasa bagi nya, betapa indahnya paras gadis yang perkiraan umurnya tak jauh beda dengan nya itu.


Ryuu tak henti-hentinya memandangi sosok gadis yang sedang duduk di samping nya, ia terpesona oleh gadis itu ‘astaga, apa yang ku pikirkan’.


“hallo, apakah kamu sudah baikan?”


Lambaian tangan gadis itu menyadarkan Ryuu dari lamunan nya.


“ah, kurasa begitu”


Jawabnya rintih, untuk bicara saja Ryuu merasakan sakit.


“aku sungguh terkejut kau tau? Tiba-tiba saja kamu berjalan di depan mobilku, kecelakaan itu tak terhindarkan, padahal jelas-jelas lampu untuk pejalan kaki berwarna merah, apakah kamu berniat bunuh diri?”


Ucap gadis itu dengan wajah serius.


‘hah? Bunuh diri? Sefrustasi apapun aku tak akan bunuh diri’ pikir Ryuu.


Ucapan gadis itu membuat nya mengingat kembali akan hantaman yang membuat tubuhnya terpental dan sekerumpulan orang yang meneriaki nya sebelum hantaman keras yang di rasakannya.


Rupanya Ryuu menyebrangi jalan ketika lampu penyebrangan berwarna merah, ini merupakan kesalahan nya sendiri.


“ah, maaf, aku kurang memperhatikan lampu penyebrangan”


Ucap Ryuu.


“untung kamu tidak apa-apa, lalu, apa yang mebuatmu begitu?”


“entahlah”


Jawab nya dengan senyum terpaksa.


“oh ya, siapa nama mu?” tanya gadis itu.


“Masamune Ryouta, kamu?”


“Masamune san kah? ah, aku Hiromi”


Jawab gadis itu.


Cidera di badan Ryuu cukup parah akibat kecelakaan itu, patah tulang di bagian paha kanan dan tulang rusuk di bagian dada kanan serta gegar otak ringan membuat Ryuu harus dirawat inap secara intensif.


Selama Ryuu masih di rawat di rumah sakit, Hiromi berjanji akan merawat Ryuu sebagai pertanggung jawaban nya karena telah menabrak Ryuu.


"apakah aku perlu menghubungi keluarga mu?"


Tanya gadis itu.


"tidak, jangan menghubungi keluarga ku mengenai ini"


Jawab Ryuu cepat.


Ryuu tak ingin mengabari kedua orang tua nya akan kecelakaan yang telah menimpa nya, bukan karena hubungan mereka yang renggang atau masalah keluarga lainnya, tetapi ia tak ingin membuat kedua orang tua nya khawatir, apalagi ibu Ryuu yang sangat menyayangi anak semata wayang nya itu, Ryuu paling tak ingin melihat ibu nya khawatir.


"baiklah kalau kamu mau nya begitu, aku hanya bisa membantu untuk merawat mu selama di rumah sakit menggantikan orang tua mu"


Hiromi tak mempertanyakan lagi alasan Ryuu menolak untuk menghubungi orang tua nya.


"jadi, mohon bantuannya untuk beberapa hari kedepan Hiromi san"


Ucap Ryuu agak malu dengan sedikit membungkuk.


"umm, baiklah, serahkan saja pada ku"


Jawab gads itu dengan senyum manis nya.