Future Day

Future Day
Benih Cinta (2)



“astaga Ryuu san, bukankah aku sudah bilang untuk menunggu ku datang ketika kamu ingin jalan-jalan keluar?”


Teriakan keras Hiromi mengejutkan Ryuu yang sedang bersantai di taman belakang rumah sakit memandangi anak-anak pasien lainnya yang sedang bermain di temani oleh orang tua mereka.


Tak lama kemudian Hiromi sedang berdiri dan berkacak pinggang sambil mengomel di depan Ryuu.


“shhtt, shhtt, kecilkan suaramu Hiromi san, kamu mengganggu anak-anak yang sedang bermain di depan sana”


“eh? Ah, baiklah”


Tanpa sadar Hiromi menurut.


“ah, bukan, bukan begini! Kenapa kamu keluar tanpa menunggu ku? Bagaimana kalau kamu terjatuh dari kursi roda? Kamu belum bisa berjalan”


Hiromi kembali mengomel setelah tersadar akan apa yang terjadi.


“pftt, kamu lucu sekali Hiromi san, buktinya aku tidak apa-apa, lagian aku Cuma mencari udara segar”


“kau tau? Aku sudah lama mencarimu kemana-mana, membuatku khawatir saja”


“kamu mengkhawatirkan ku?” Tatapan Ryuu menggoda.


“sudahlah lupakan, aku membawakanmu sarapan, ayo kembali ke kamar”


“baiklah”


Hiromi mendorong kursi roda Ryuu kembali ke kamar pasien.


“ah, Hiromi san, ini obat untuk Masamune san, jatah pagi ini”


Suster itu menyodorkan sebuah nampan berisikan segelas air dan beberapa butir obat di depan pintu masuk kamar tempat Ryuu di rawat.


“terimakasih suster”


‘tunggu dulu, kenapa suster itu tahu nama ku? Dari mana dia tau? Di rumah sakit ini hanya resepsionis yang ku beri tahu nama ku’ Hiromi memandangi suster itu dengan wajah keheranan.


“aku yang memberitahu suster itu namamu mu”


Ucap Ryuu seolah-olah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Hiromi.


“eh? Kamu tahu apa yang sedang ku pikirkan Ryuu san? Seperti peramal saja”


“wajahmu sudah memberitahuku” Jawabnya singkat.


"apakah dadamu sudah tidak sakit lagi?"


"ini sudah terasa lebih baik"


"benarkah?" Tanya Hiromi dengan wajah khawatir.


"periksalah" Ryuu membuka dua kancing bagian atas baju nya.


"arghh, apa yang kamu lakukan Ryuu san?" Hiromi salah tingkah melihat bagian dada Ryuu yang terlihat, Hiromi dengan sigap menutup muka nya.


"astaga, apa tubuh ku seburuk itu sehingga kamu tak mau melihatnya?" Ryuu tak henti-henti nya menggoda Hiromi.


"apa yang kamu katakan Ryuu san? Cepat kenakan baju mu dengan benar, argh"


"haha, baiklah-baiklah, aku hanya bercanda"


Ryuu kembali memasangkan kancing baju nya.


Tok,,, Tok,,, suara ketukan pintu.


"Ryuu san, waktu nya untuk menjalani scan x.ray"


Ucap seorang suster yang memasuki ruangan itu.


"baiklah suster"


"kebetulan aku ada urusan Ryuu san, aku akan pergi sebentar, nanti aku akan kesini lagi" Sahut Hiromi sembari beranjak dari tempat duduk nya.


"hati-hati di jalan" Balas Ryuu yang sedang duduk di kursi roda.


"oke" senyuman Hiromi nampak manis seperti biasanya. Ia melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan kamar itu.


Senyuman Hiromi, ya, senyuman itu yang membuat jantung Ryuu berdegup kencang setiap kali melihat nya, senyuman yang bagaikan penawar rasa sakit itu selalu Hiromi suguhkan setiap hari untuk nya, seolah-olah kini senyuman itu menjadi kebutuhan pokok bagi Ryuu.


"benar! Ku rasa ini adalah rasa suka"


Wajah Ryuu merah padam,,


"apakah kamu kurang enak badan?" Tanya seorang suster yang sedang mendorong kursi roda Ryuu, ucapan suster itu menyadarkan Ryuu dari lamunan nya.


"tidak!" Jawab nya cepat "aku baik-baik saja"