
Sepasang manik berwarna coklat itu memandang keluar jendela, nampak langit di sore hari dengan matahari yang malu-malu sedang bersembunyi di balik awan, pembhiasan cahaya itu menghasilkan warna oranye dengan perpaduan ungu kejingga-jinggaan.
Terasa ada yang kurang bagi Ryuu, ia teringat dengan kebiasaan nya di balkon apartemen ‘ah, tidak ada bir dan sebatang rokok yang menemaniku seperti biasa’ gumam Ryuu dalam hati.
Sayangnya di rumah sakit dilarang meminum minuman keras dan merokok, apalagi bagi pasien, jelas itu dilarang keras.
Ryuu yang biasanya duduk di kursi balkon apartemen nya sembari menatap langit seperti saat ini kini duduk di kursi roda rumah sakit ‘sungguh menyedihkan’.
“Masamune san? Waktunya meminum obat”
Pinta seorang suster dengan nampan berisi segelas air dan beberapa butir obat menghampiri nya.
“baiklah”
Ryuu berbalik, meneguk segelas air dan menelan obat itu, hal ini selalu di lakukan nya setiap 4 jam sekali dan setiap harinya.
“ano, gadis yang biasa disini?”
Suster itu menutup tirai dan membantu Ryuu untuk kembali ke ranjang.
“maksudmu Hiromi? Dia sedang keluar”
Jawab Ryuu.
“oh, namanya Hiromi, gadis yang cantik dan baik”
“ya, begitulah” jawab Ryuu singkat.
Tak bisa di pungkiri lagi, Hiromi adalah gadis yang cantik dan elegan dan nampak dewasa, kulitnya yang putih mulus dengan wajah yang bulat dan senyum yang manis serta postur tubuh yang ideal membuat siapapun yang melihatnya akan jatuh cinta.
“kurasa kalian cukup dekat, apakah dia gadismu?”
Gurau suster itu sembari tersenyum.
Walaupun nampaknya suster itu sedang menggoda nya tetapi saat memikirkan Hiromi menjadi pacar nya membuat Ryuu merasa malu.
“bukan, kamu salah, dia hanya teman”
Jawab nya singkat.
“heee? Sayang sekali, padahal kurasa kalian sangat cocok"
"ku rasa tidak"
"baiklah Masamune san, selamat beristirahat”
Suster itu keluar dan menutup pintu.
‘apa-apaan suster tadi’ kerutu nya dalam hati.
Nampaknya sesaat sebelum tidur pun Ryuu masih khawatir soal kejadian tadi sore, ia masih tak bisa membayangkan bagaimana jika Hiromi benar-benar jadi pacar nya, membayangkan bagaimana saat mereka jalan berdua, bergandengan tangan, berpelukan, berciuman,, dan,,,
Plak,, pukulan keras mendarat di kedua pipi Ryuu, menyadarkan nya dari khayalan nya yang mestinya mustahil terjadi melihat keadaan nya yang sekarang, begitu menyedihkan, di bandingkan dengan Hiromi yang begitu sempurna, perbedaan yang begitu besar.
Jika Ryuu menyukai Hiromi ini tak bisa di sebut cinta sejati, ini hanya cinta monyet yang tumbuh akibat dari selalu memandang Hiromi setiap hari, pikir nya.
Tetapi siapa yang bisa menghentikan hati yang sedang jatuh cinta? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di akhir nanti.
'apakah kini tiba waktunya untuk melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru?' pertanyaan itu muncul seketika di benak Ryuu.
Ryuu termenung, memikir kembali akan rasa sakit hati yang selalu Ia rasakan selama ini, serta bayangan akan kenangan pahit yang selalu menyelimuti nya sejak kala itu, Ia takut jika nantinya Ia terpuruk seperti waktu itu lagi jika Ia mencintai seseorang, Ryuu tak ingin merasa kecewa untuk ke dua kalinya.
"tidak! ku rasa Hiromi berbeda, ya, dia pasti berbeda dengan wanita lainnya" ucap nya tegas.
Dimulai dari malam itu, benih-benih cinta Masamune Ryouta terhadap Hiromi mulai tumbuh,,,