Future Day

Future Day
Tiga (3)



“Masamune san, ku bawakan sarapan untukmu”


Hiromi membuka pintu berwarna biru bertuliskan ruangan Masamune Ryouta itu.


“ah, Hiromi san, hari ini pun kamu datang ya, terimakasih telah banyak membantu ku”


“tentu saja, bagaimanapun juga aku akan selalu datang sampai kamu benar-benar sembuh”


Jawab Hiromi dengan senyuman nya yang manis seperti biasa.


“bagaimana dengan kesibukan mu sendiri?”


“aku sudah meminta ijin ke kantor mengenai masalah ini, dan aku sudah mendapatkan cuti selama kamu di rawat di rumah sakit” Jelas Hiromi.


“oo, baiklah kalau begitu, mohon bantuannya”


Ryuu yang tak bisa berjalan selalu menggunakan kursi roda jika ingin kemana-mana, patah tulang di bagian paha kanan menurut dokter akan memerlukan waktu yang lumayan lama untuk penyembuhannya, apalagi dengan usianya yang sekarang membuat pertumbuhan sel nya tak secepat waktu muda, dan Hiromi lah yang selalu mendorong kursi roda itu untuk nya.


Sudah seminggu berlalu sejak Ryuu di rawat di rumah sakit, perban yang ada di kepala nya kini sudah di lepas dan di ganti dengan balutan plester biasa, hanya saja luka bekas jahitan di kening nya masih belum kering dan terkadang masih terasa nyeri.


“ara, perban mu sudah di ganti Ryuu san?”


Hiromi menunjuk ke arah kening Ryuu.


“ya begitu lah”


Jawab nya sembari mengelus plester yang menutupi luka di kepala nya itu.


Tak butuh waktu yang lama untuk keduanya mengakrabkan diri, Ryuu yang awalnya canggung dan Hiromi yang awalnya selalu merasa bersalah kini mereka tampak seperti teman biasa yang saling membantu.


“Ryuu san, apa profesi mu?”


“kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”


“tidak, hanya saja aku penasaran, sepertinya waktu itu kamu lagi frustasi, dan kini kurasa kamu baik-baik saja, apakah kamu baru saja di pecat waktu itu?”


“pftt, apa? Dipecat? Sungguh kesimpulan yag tidak masuk akal”


Ryuu memegang perut nya menahan tawa.


“lalu?”


“profesi ku sebagai fotografer lepas yang profesional”


“heee? Tampang begini jadi fotografer yang profesional, sama sekali tidak keren”


“kamu mengejek ku?”


Tatapan Ryuu nampak sinis terhadap Hiromi.


“eh, tidak, tidak, sama sekali tidak”


Sepasang tangan mulus itu melambai-lambai.


Manik coklat itu menatap pergelangan tangan mulus di depan nya, salah satu dari pergelangan tangan yang mulus itu dihiasi oleh gelang cantik dengan tali transparan berwarna biru muda, terdapat sebuah tulisan kecil di gelang itu.


“gelang yang sangat bagus”


Tanpa disadari telunjuk Ryuu menunjuk gelang yang di kenakan oleh Hiromi.


“ah, ini, sesuatu yang sangat berharga”


Sekilas nampak kesedihan dari pancaran manik berwarna hitam itu.


“ah, maaf”


Ucap Ryuu setelah melihat reaksi Hiromi yang nampak sedih.


“tak apa, gelang ini satu-satunya peninggalan dari orang tua ku”


Mata Hiromi nampak berbinar.


“maaf, aku tidak bermaksud”


Ryuu merasa bersalah karena mengungkit sesuatu yang mungkin itu sangat menyakitkan bagi Hiromi.


“tidak, tidak apa-apa, berkat gelang ini aku mengetahui kalau aku punya orang tua dan berkat gelang ini juga aku yang sekarang ada disini”


‘gadis ini tegar sekali menghadapi masalah yang begitu rumit’ Ryuu membandingkan Hiromi dengan diri nya yang begitu menyedihkan.


“entah kenapa rasanya aku kalah telak”


Ucap Ryuu.


“maksudnya?”


“entahlah”


Ryuu hanya tertawa.