
Hari berganti menjadi minggu, dan minggu berganti menjadi bulan, tak terasa, sudah dua bulan sejak aku dan Chata menikah, sejauh ini, rahasia kami masih aman, tidak ada orang lain yang mengetahui ini, aku juga merasa sedikit terbiasa dengan kehadirannya di rumahku selama dua bulan ini.
Namun, di sisi lain, seharusnya orangtua kami seharusnya sudah pulang sebulan yang lalu dari pekerjaan mereka, tapi, entah kenapa, mereka malah mengirim kabar kalau mereka tidak bisa pulang sampai pekerjaan mereka selesai, tanpa memberitahu kapan mereka akan kembali.
Di satu pagi yang cerah, di saat minggu liburan, aku sedang menonton acara TV sambil meminum segelas susu…
"Eka, kita pergi, yuk, aku bosan menghabiskan waktu liburan disini.” usul Chata.
“Mau pergi ke mana? Kok tiba-tiba sekali.”
“Ke villa tempatku tinggal dulu, mau tidak?”
“Eh? Villa?”
“Iya, villa, kalau aku sedang manggung di kota sebelah atau liburan, aku pasti berlibur ke sana.”
“Yang pergi hanya kita berdua?”
“Yah, soalnya, sudah dua bulan sejak pernikahan kita, jadi…”
“Jadi?”
“Yah…kamu tahulah, kita berbulan madu!”
Aku yang sedang meminum susu langsung tersedak begitu mendengarnya.
“Eh? Kamu kenapa?” kata Chata
“Ah…tidak ada, aku…ha...hanya kaget…saat kamu bilang begitu.” kataku sambil terbatuk.
“Oh, maaf.”
"Tidak masalah, lagipula, memangnya villa itu masih bisa ditempati?”
“Tentu sajalah, memangnya kenapa?”
“Kan, sudah dua bulan kamu tinggal disini, otomatis tidak ada orang lagi di villa itu, kan? Mungkin disana sudah banyak debunya.”
“Oh, kalau itu sih, ada pelayan villa itu yang datang seminggu sekali untuk membersihkannya, jadi, tidak perlu khawatir soal debunya.”
“Begitu rupanya…”
“Bagaimana? Mau tidak?”
“Kita perginya naik apa?”
“Naik mobilnya mbak Hanna saja.”
Aku berpikir sebentar, sepertinya tidak ada salahnya, lagipula aku bosan kalau menghabiskan minggu liburanku
disini.
“Ya sudah, deh, daripada aku bosan…” kataku.
“Baiklah, akan kutelepon pelayan villa dulu untuk membersihkannya nanti, dan, kita juga akan menginap disana.”
“Hah?! Menginap disana?”
“Ya, ada apa memangnya?”
“Tidak ada sih…hanya saja, perlahan, aku mulai menganggap kalau ini memang seperti bulan madu.” kataku, Chata hanya tertawa mendengarnya.
30 menit kemudian, setelah membereskan barang bawaan, kami pun berangkat.
“Ada apa? Kok tumben kamu mau ke sana, Chata? Kalian libur cuma sebentar kan?” tanya mbak Hanna.
“Aku hanya rindu tempat itu, kok.” jawab Chata.
“Dan kamu juga diajak, Eka?”
“Iya, aku sih ikut saja, daripada bosan di rumah.”
“Ehh…ceritanya, kalian sedang berbulan madu, nih?” kata mbak Hanna.
“Ya, begitulah.” kata Chata.
***
Kami sampai di villa pada sore menjelang malam hari, ketika sampai di depan villanya, aku hanya terpana melihat pemandangan villa milik Chata, sebuah villa besar dan cukup megah ini berdiri di puncak bukit kecil, villa ini memiliki balkon yang lengkap dengan bangku taman, dan menghadap ke arah pemandangan ujung bukit, dan hamparan sawah yang ada di bawah bukit
Setelah menurunkan barang bawaan kami dari mobil, mbak Hanna pun pergi, dan, kedatangan kami berdua disambut oleh tiga pelayan villa ini, dan, mereka membantu kami berdua menaruh barang-barang di kamar masing-masing.
Malam harinya, sekarang hanya ada aku dan Chata, karena tugas para pelayan itu sudah selesai, mereka pun pergi, atau yang bisa kuduga, Chata yang memintanya supaya tidak menganggu ‘bulan madu’ kami.
Saat itu, aku berada di kamar, sedang asyik bermain game online di HP.
"Tak kusangka, sinyalnya sangat bagus disini.” gumamku.
“Kamu sedang apa?” tanya Chata.
“Oh, aku sedang bermain game online, memangnya ada apa?”
Chata pun menghampiri, “Tidak ada, kok, aku hanya penasaran saja…”
Setelah melihat apa yang sedang kumainkan di HP-ku, dia pun berkata, “Oh! Kamu bermain ini juga, ya?”
“Ya, memangnya kamu juga?”
“Aku juga main game ini.”
“Kalau begitu, ayo bermain bersama.”
Tak kusangka, idol yang baru terkenal sepertinya masih sempat having fun seperti ini, yang kutahu, kalau kamu menjadi idol yang terkenal, pasti jadwalmu akan penuh dengan kegiatan ini-itu, tapi, kurasa itu tidak berlaku bagi Chata.
“Memangnya kamu masih sempat bermain game seperti ini? Bukankah jadwalmu seharusnya…latihan semua?” tanyaku.
“Iya sih, cuma aku kan juga butuh hiburan, kalau sedang senggang, ini, aku sudah login.”
Chata memperlihatkan karakter game-nya, begitu kulihat profilnya di game tersebut, aku terkejut melihat set equipment miliknya, penuh dengan barang-barang langka!
“Bagaimana…kamu bisa dapat…semua ini?!”
“Hehe, kaget ya? Sewaktu barang ini dirilis, aku langsung membelinya.”
“Hah?! Kamu serius?! Bukannya ini barang mahal??”
Aku hanya iri melihatnya, mungkin kalian tahu apa yang kurasakan dalam diriku.
Kemudian, kami melanjutkan permainan kami, dimulai dari menyelesaikan dungeon bersama, hingga berduel dengannya, aku tahu, yang barusan itu benar-benar gila, aku yang hanya bermodalkan set equipment biasa,
berduel dengan Chata dengan set equipment langkanya.
“Haha, aku menang lagi.” kata Chata.
Aku hanya mendesah, meratapi nasib.
“Ayolah, jangan diam saja, kamu bermain lumayan kuat untuk pengguna set biasa.” hiburnya
"Kamu tidak akan mengerti perasaanku…” gerutuku, Chata hanya tertawa
“Ayo, masih mau lanjut tidak?”
“Aku capek.”
“Ehhh? Ayo kita main lagi~”
Aku mencoba melihat jam, “Lah? Masih jam 8 toh, tapi kok aku sudah ngantuk, ya?”
“Main lagi saja, toh kamu biasa tidur malam kalau libur kan?”
“…Tapi, jangan duel lagi, ya?”
“Ya~”
***
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 11, aku menaruh Hp di samping tempat tidur, lalu berbaring di atas kasur,
sambal menghela nafas.
“Aku lelah sekali rasanya…” gumamku
“Hei, bagaimana kalau kita main bareng lagi nanti?” tanya Chata.
“Boleh, kalau aku senggang ya” jawabku
Suasana malam itu sunyi, berbeda ketika aku sedang ada di rumah, sesekali masih terdengar bunyi kendaraan yang lewat, namun, di sini, sama sekali tidak terdengar apapun, kecuali suara jangkrik di luar sana.
Tiba-tiba, Chata berkata, “Eka, boleh aku bertanya satu hal padamu?”
“Boleh saja.” kataku.
“Disaat kita belum menikah dulu…apa yang kamu rasakan ketika itu?”
“Hmmm…aku kurang mengerti maksudmu.”
“Maksudku, apa yang kamu rasakan ketika kamu dipaksa menikah denganku?”
“Hmm…awalnya sih, yah…aku tidak setuju, kalau aku boleh jujur, bukannya aku tidak suka padamu, lho.”
“Lalu, kenapa?”
“Karena, saat itu, aku belum tahu apa-apa tentang itu, ataupun siapa yang akan jadi pasanganku.”
“Nah, begitu kamu tahu pasanganmu itu aku, bagaimana?”
“Pada saat aku tahu pasanganku itu kamu, ya? Pastinya sih, kaget juga, yang menjadi istriku ternyata seorang
idol.”
“Apa kamu senang?”
“Senang…sedikit sih, tapi, perasaanku lebih ke arah…bingung, terutama ketika kamu bilang tentang alasan
utama kenapa kamu mau menikah denganku”
“Oh, tentang janji itu ya…”
“Nah, karena aku tidak bisa mengingatnya…aku merasa, ada yang salah, seakan kamu ingin menikah denganku hanya karena janji itu, bukan karena perasaanmu.”
“Tidak kok, aku melakukannya karena aku memang ingin denganmu, begitu juga dengan janji itu.”
“Memangnya apa sebenarnya janjimu itu?”
“Kan sudah kubilang, lebih baik kamu mencoba mengingatnya sendiri.”
“Tapi, bagaimana?”
“Kan ada aku, percayalah, aku akan membantumu mengingatnya, walaupun sedikit demi sedikit, tapi, begitu kamu
mengingat janji kita, kamu akan mengetahui segala sesuatu tentangku.”
Aku memandang Chata sejenak, raut wajahnya menunjukkan dia sangat yakin kalau dia bisa mengembalikan ingatanku, aku hanya bisa berharap itu yang akan terjadi nanti.
“Lalu, kenapa kamu ingin menikah secepat ini? Bukannya itu nanti malah makin merepotkanmu, sebagai idol? Apa
alasanmu mau menikah secepat ini?”
“Awalnya kupikir begitu, aku harus benar-benar jadi wanita dewasa dulu sebelum ini, namun, tiba-tiba, orangtuaku
menyarankan kalau aku menikah secepatnya.” lanjutnya.
"Kenapa orangtuamu menyarankan itu, kalau aku boleh tahu?” tanyaku.
“Alasan yang normal, kamu tahulah, mereka ingin punya cucu secepatnya, alasan seperti itu.” jawabnya
“Yah, setidaknya kamu benar-benar harus jadi wanita dewasa dulu, sebelum keinginan orangtuamu itu terwujud.”
“Kamu tahu? Bagaimana perasaanku saat pernikahan kita itu? Aku senang, sangat senang, karena akhirnya, aku akan menikah dengan seseorang yang aku cintai.” kata Chata sambil tersenyum.
Melihat senyumannya, aku merasa bagaikan ada angin yang bertiup di belakangku, ditambah dengan daun yang
terbang tertiup angin bagaikan film-film romantis, dan wajahku mulai merona melihatnya.
“A…apa yang kamu bicarakan, sih? Aku jadi malu, tahu.” kataku sambil membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa maluku.
“Hehe, kamu imut sekali ketika membuang mukamu, Eka.” kata Chata sambil tertawa kecil.
Mukaku semakin memerah ketika mendengar suara tertawanya yang imut, “Huuhh…diamlah, Chata!” kataku.