
“Ibu, aku berangkat dulu, ya!” sahutku, namun tidak ada yang menjawab
Aku beranjak menuju dapur, namun, tidak kutemukan ibu disana, lalu aku pergi ke ruang keluarga, ternyata, ada ibu disana sambil menonton televisi.
“Oh, ada apa, Eka?” tanya Ibu.
“Aku dari tadi memanggil ibu, lho, aku mau berangkat sekolah dulu.” jawabku
“Maaf~, ibu tidak dengar tadi kalau kamu memanggil.”
Aku melirik televisi, “Masih pagi ibu nontonnya acara gosip terus…”
“Kan ibu jarang-jarang nonton televisi, tidak apa-apa dong sekali-kali.”
Acara gosip itu tengah menayangkan kabar terbaru tentang seorang idol perempuan yang sedang terkenal saat ini, Chata Zavira, kalau kalian bertanya padaku tentangnya, aku akan menjawab kalau aku tidak tahu apa-apa tentangnya, karena aku kurang tertarik akan hal-hal selebriti sepertinya, namun, sosok Chata Zavira ini bisa menarik perhatian banyak penggemar karena penampilannya yang sangat menarik, kata mereka sih...
Bahkan, semua teman sekelasku pun itu penggemarnya, tiap pagi, sudah bisa dipastikan topik pembicaraan mereka adalah tentangnya, karena selain penampilannya yang menarik, gadis idol itu memiliki wajah yang cantik, yah, namanya juga anak laki-laki jaman sekarang, cantik sedikit, pasti mereka suka.
“Ngomong-ngomong, ayah kemana? Dan, memangnya ibu tidak kerja?” tanyaku
“Kami lagi libur, kalau ayah, dia sedang pergi mengurus sesuatu.” jawab ibu
“Oh begitu, kenapa tidak menungguku sih? Kan bisa sekalian minta diantarkan ke sekolah, hehe.”
“Bisa saja kau ini, sudah sana, nanti terlambat, lagi.” kata ibu
“Iya, iya, aku berangkat dulu.”
Setelah berpamitan, aku pun berangkat ke sekolah, aku sampai di sekolah saat hampir memasuki jam pelajaran, walaupun begitu, masih saja banyak anak-anak lainnya yang berjalan menuju kantin, ataupun mengobrol di luar kelas.
“Hai, tumben kamu datangnya lambat.” sapa temanku, Indra Agustin
“Yah, jalanan tadi ramai sih, jadinya aku gak bisa cepat-cepat” balasku
Aku meletakkan tasku di atas bangku, “Sudah mau masuk masih saja ramai…” gumamku.
“Biarkan sajalah, selain itu, apa kamu dengar berita tentang Chata hari ini?”
Aku mendesah ketika mendengar pertanyaannya, "Haahh…kok semua orang bicaranya tentang dia sih?”
“Kau belum pernah melihat penampilannya kan? Lihatlah dulu, nanti juga kamu akan mengerti kenapa.”
“Malas kalau melihatnya langsung, aku kan bukan penggemarnya seperti kalian semua”
“Ya, tidak perlu begitu juga kali, kau punya televisi kan di rumah? Kudengar, akan ada konsernya malam ini.”
“Malam ini, ya? Palingan juga saat tengah malam, kan?”
“Tidak lah, mungkin sekitar jam delapan malam nanti kalau aku tidak salah lihat.”
“Iya deh, kalau aku ingat ya.”
“Mau aku ingatkan, tidak?”
"Tidak, terima kasih”
Dan, bel pun berbunyi pertanda masuknya jam pelajaran
***
Ketika malam hari tiba, saat itu aku sedang mengerjakan PR untuk esok harinya, tak perlu waktu lama, aku bisa menyelesaikan PR itu, kemudian aku melamun di atas meja belajarku, tak tahu apa yang bisa kulakukan selanjutnya.
“Hmm…masih jam delapan, aku juga masih belum ngantuk…enaknya ngapain, ya?” gumamku.
Saat itu, HP-ku berdering, ada telepon dari Indra, “Halo? Ada apa, malam-malam begini?” kataku
“Hei, kamu mau nonton konsernya, gak? Sudah dimulai, lho” kata Indra.
“Aku malas turun ke bawah…”
“Ayolah, kan sudah kubilang, kamu lihat saja dulu penampilannya, baru besoknya kita bicara lagi.”
“Kenapa kamu bersikeras sekali sih, kalau soal dia?”
“Kan, setidaknya supaya kita punya bahan pembicaraan, aku kasihan melihatmu diam saja ketika yang lainnya membicarakan soal Chata, makanya itu, supaya kamu tidak kesepian, hehe~”
“Alasanmu menggelikan sekali.” kataku dengan nada jijik.
“Yah, aku cuma ingin bilang itu sih...oh, sudah dimulai, aku nonton dulu, ya”
Aku pun menaruh HP-ku kembali, “Hmm…ah, daripada aku gak ada kegiatan, ya sudah nonton saja deh…toh gak ada ruginya juga”
Aku pun bangun dari bangku, dan menuruni tangga menuju ruang keluarga, kemudian menyalakan televisi.
“Ah, aku lupa tanya di saluran mana acaranya.” gerutuku.
Setelah beberapa menit mengganti saluran televisi, akhirnya aku menemukan acaranya, nampaknya gadis idol itu sudah mulai bernyanyi, tak kalah dengan suara nyanyiannya, sorak-sorai semangat dari penonton disana juga bisa terdengar riuh, seraya mengiringi nyanyian sang idol tersebut.
Penampilan panggungnya terus berlanjut, sedikit demi sedikit, aku mulai merasa penampilan dan nyanyiannya bagus, dan enak didengar, yah, walaupun tidak seperti yang dilebih-lebihkan oleh Indra dan penggemar lainnya di kelasku.
Tak terasa, penampilannya pun berakhir, “Semua! Terima kasih telah datang, ya!!~” teriaknya.
Seakan menjawab salam dari sang idol, penonton pun berteriak riuh dan bertepuk tangan keras sekali.
“Eka! Cepat tidur, besok kamu bisa terlambat!” sahut ibuku dari dapur.
“Baik, bu!” kataku sambil mematikan televisi.
Setelah itu, aku beranjak menuju kamar tidur, “Hooaahhh…hari yang melelahkan, kurasa aku sedikit mengerti mengapa mereka menyukainya.” gumamku dalam hati
Keesokan paginya, seperti yang bisa kuduga, seisi kelas ramai membicarakan penampilan Chata Zavira kemarin, terutama yang cowok-cowok, termasuk Indra, tentunya.
“Pagi, Eka!” sapanya ketika dia melihatku
“Pagi, sudah semangat saja kau ini.” balasku
“Kau sudah menonton konser Chata semalam?”
“Sudah, cukup bagus menurutku.”
“Cukup bagus katamu? Kurasa kau masih belum mengerti.”
“Mengerti apanya?”
“Cukup bagus bukanlah kata yang cocok untuk konser itu, seharusnya, ‘Maha bagus’, nah, itu baru cocok.”
“Apaan sih? Jangan berlebihan begitu, lah!”
“Kamu kan juga baru menonton konsernya sekali, kan? Wajar saja kalau kamu tidak mengerti.”
“Iya deh, iya, terserah kamu saja.”
“Yang sabar ya, toh masih ada lain hari.”
Setelah duduk, Indra merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sebuah buku tulis.
“Oh iya, kamu sudah mengerjakan PR?” katanya sambil membuka buku itu
“PR yang mana? PR Bahasa Inggris itu? Sudah kok.”
“Boleh lihat? Aku lupa mengerjakannya karena sibuk menonton konsernya, hehehe.”
“Ada-ada saja kamu ini, kerjakan dulu lah sebelum kamu menonton.” kataku sambil memberikan PR-ku.
Dia pun mulai mengerjakan PR-nya, sambil menunggunya menyalin PR-ku, aku melihat arlojiku.
“Hmm...masih ada waktu setengah jam, aku ke kantin dulu, ya, lapar nih.”
“Eits, tunggu aku juga dong.”
“Lah, terus itu PR kamu mau tinggalin gitu aja?”
“Ya, tunggu aku dong, toh tinggal sedikit lagi.”
“Haaahhh...iya, iya, cepat selesaikan.”
10 menit kemudian, Indra selesai, dan kami pun beranjak menuju kantin, walaupun sudah hampir masuk jam pelajaran, kantin masih ramai, aku membeli roti lapis, sedangkan Indra membeli nasi uduk, dan kami duduk di ujung kantin.
“Kau belum sarapan? Tumben sekali kamu beli nasi uduk.”
"Yah, aku hampir kesiangan gara-gara telat bangun.”
“Biar kutebak, pasti gara-gara nonton konser.”
Cowok ini pun tertawa ketika aku menebaknya, “Yap, betul sekali, hahaha.”
“Sudah tidak mengerjakan PR, bangun kesiangan pula, atau jangan-jangan kamu juga belum mandi?”
“Enak saja, aku tetap mandi lah.”
“Oh baguslah, kukira kau sengaja tidak mandi agar bisa buru-buru mengerjakan PR-mu di sekolah.”
Tak lama, bel masuk berbunyi, kami bergegas menuju kelas, dan pelajaran pun dimulai, jam sekolah berlalu begitu saja, ada yang pelajaran susah, atau membosankan, atau malah kosong karena gurunya memang sedang malas mengajar dan memberi tugas pada muridnya.
***
Pada saat aku pulang ke rumah, orangtuaku sudah menungguku di depan rumah.
“Eka! Cepatlah ganti bajumu! Kita akan pergi.” kata ibu
“Hah? Mau pergi kemana?” tanyaku
“Sudah, ganti bajumu saja dulu, cepat!” jawab ayah.
Aku pun segera masuk ke rumah, dan mengganti bajuku, dan, menaiki mobil menuju ke suatu tempat.
“Memangnya kita mau kemana? Kok tiba-tiba sekali?” tanyaku pada ayah.
“Kamu akan tahu sendiri nanti.” jawabnya sambil mengemudikan mobil
“Okee…” aku mengiyakan perkataan ayahku, walaupun aku masih belum tahu apa maksudnya.
Aku penasaran apa yang ingin orangtuaku lakukan kali ini, mengajakku pergi entah kemana, dan tanpa maksud dan tujuan yang jelas, orangtuaku memang biasa seperti ini, supaya aku tidak bisa menolak ajakan mereka, dan dengan setengah jam perjalanan, kami tiba di suatu gedung besar, disana kami disambut oleh seorang wanita muda.
“Kami sudah menunggu anda, tuan.” sapa wanita muda itu pada ayahku.
Kemudian, ayah berkata padaku, “Kau ikutlah dengan dia, kami akan menunggumu di dalam.”
“Baiklah.” kataku tanpa curiga, lalu pergi bersama wanita itu
Aku pun dibawa ke suatu ruangan, dan…beberapa saat kemudian, penampilanku berubah, jas hitam, celana dan sepatu hitam tak ketinggalan dasi hitam, sangat rapi sekali.
Aku bergumam sendiri ketika melihat diriku di cermin, “Ada apa ini? Kok sampai harus berpakaian rapi seperti ini?”
“Nah, sudah selesai, sekarang pergilah kesana.” kata wanita muda itu padaku
Aku pun mengikuti perkataannya, begitu aku membuka pintu, ayahku sudah berada disana. “Sudah selesai? Nah, ayo ikut ayah, semuanya sudah menunggumu, Eka” kata ayah sambil menarikku
“Kita mau kemana? Ada apa ini?” tanyaku yang masih penasaran.
“Sudahlah, nanti kamu juga akan tahu.”
Aku pun dituntun olehnya ke tengah-tengah ruangan, ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang dengan sebuah meja kecil ditengahnya. disana, ada pria berbaju hitam sedang duduk sambil menunggu kami.
"Maaf lama, pengantin prianya sudah datang” kata ayahku
Aku terkejut mendengarnya, “Hah? Pengantin pria?” kataku tidak percaya
“Ya, selamat Eka, hari ini adalah hari pernikahanmu” kata ayah
“Oh, hari pernikahanku, ya…-TUNGGU! APA?!”
"Ada apa? Ada masalah?”
“Tentu sajalah, apa maksud ayah menikahkanku secepat ini?”
Ayah pun menjelaskan maksud dari kejadian ini, “Begini, kamu paham kan, kamu selalu tinggal sendiri di rumah ketika ayah dan ibumu pergi, bukan?” ujarnya, aku mengangguk pertanda mengerti.
“Nah, kami berpikir, mungkin kalau kami menikahkanmu, kamu tidak akan kesepian lagi di rumah, kamu paham maksud ayah, kan?” lanjutnya
Mendengar alasan itu, aku langsung memprotesnya, “Hanya itu? Ayah, aku kan sudah bisa mandiri, dan aku juga tidak kesepian di rumah."
"Lagipula, aku juga tidak tahu siapa perempuan yang akan kunikahi ini, bukan? Ayah dan Ibu juga tidak pernah memberitahuku soal ini, bukankah ibu dan ayah seharusnya menanyakan hal ini padaku dulu, kan?.” lanjutku.
“Aku tahu, dan juga, kamu pasti tahu siapa perempuan ini, tunggu saja sampai dia datang, ya?” kata ayahku dengan nada santai
Tiba-tiba, ada yang membuka pintu ruangan, kemudian masuklah seorang pria lainnya bersama dengan perempuan yang memakai gaun putih dan tudung.
“Nah, kebetulan, pasanganmu sudah datang” kata ayah
Mereka berdua pun perlahan menghampiri kami, aku memandangi sosok perempuan itu seraya dia mendekatiku, wangi parfum yang digunakannya memasuki hidungku ketika ia berhadapan denganku, aku benar-benar tidak mengenali sosok perempuan yang ada di hadapanku ini, walaupun bentuk tubuhnya terlihat jelas, namun, tudung yang dikenakannya itulah yang membuatku tidak bisa mengenali siapakah perempuan ini.
Kemudian, perempuan itu melepaskan tudungnya, betapa terkejutnya ketika aku melihat wajahnya, sampai-sampai aku merasa kalau ini hanya mimpi, karena…
“Halo, Eka Iskandar, kamu ingat aku?” kata perempuan itu.
“Kamu…kamu…” kataku terbata-bata saking terkejutnya melihat sosoknya
Wajahnya yang manis yang dilengkapi matanya yang mengenakan lensa kontak biru, rambut hitamnya yang dikuncir ponytail dengan pita biru yang menghiasinya, sosok yang sangat dikenal sekali sekarang ini, sosok yang baru saja kutemui kemarin dari layar kaca.
“Kamu…Chata Zavira??!!”