Forgotten Marriage

Forgotten Marriage
Memory #2 - First Day with Her



Keesokan harinya di sekolah, aku hanya duduk sambil memikirkan tentang apa yang terjadi kemarin di tempat dudukku.


“Aku? Sudah menjadi suaminya Chata? Bagaimana hal ini bisa terjadi??”


Bagaimana hal ini bisa terjadi? Maksudku, aneh bukan? Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, tiba-tiba menjadi suami orang? Apalagi istrinya itu adalah seorang idol yang terkenal?


Aku pernah sih, mendengar beberapa kerabat orangtuaku menikahkan anaknya ketika mereka masih sangat muda, namun, aku tidak menyangka kalau hal itu juga terjadi padaku, dan dari semua perempuan yang ada di dunia ini, kenapa harus seorang idol seperti Chata Zavira? Rasanya itu bagaikan mimpi...indah untuk beberapa orang


“Hei! Masih pagi sudah melamun saja, kesambet setan baru tahu rasa kau.” sapa Indra yang baru datang.


Sapaannya yang tiba-tiba itu langsung membuyarkan lamunanku, aku pun menoleh padanya, “Oh, kau rupanya, kukira beneran ada setan datang.”


“Ada apa memangnya? Tumben sekali kamu melamun saja disini, biasanya kamu ada di kantin.”


“Aku hanya sedang tidak mood kesana…”


Di samping tempat dudukku, ada tiga cewek sedang membicarakan sesuatu, samar-samar, aku mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Katanya disini akan ada murid baru, apa kamu tahu siapa dia?”


“Eh? Aku baru dengar, kamu tahu dari siapa?”


“Aku juga baru dengar itu dari temanku, aku juga tidak tahu apa itu benar.”


“Itu benar kok, kelas lainnya pun juga bilang seperti itu.”


“Memangnya kamu sudah bertanya pada guru?”


“Aku penasaran setelah mendengarnya, jadi langsung saja aku tanyakan pada Kak Emira, katanya sih memang benar, dan juga, dia akan masuk kelas ini.”


“Benarkah?! Seperti apa orangnya?”


“Aku tidak tahu, Kak Emira hanya bilang, kalian pasti tahu siapa murid baru ini.”


Setelah berbincang-bincang tentang murid baru itu, topik pembicaraan mereka pun berganti, lalu, aku mengalihkan pandangan ke Indra.


“Kau dengar itu?”


“Ya, aku tahu, kok.”


“Kamu tahu siapa kira-kira murid baru itu?”


“Jawabanku sama dengan yang diucapkan cewek itu tadi.”


“Hmm…padahal baru saja beberapa minggu semester baru, sudah ada murid baru…”


Tak lama, bel masuk berbunyi, dan semua murid sudah duduk di bangkunya masing-masing, kemudian, datanglah Kak Emira, wali kelas kami yang masih agak muda, mulai berbicara.


“Semuanya, seperti yang kalian semua dengar, akan ada kawan baru di kelas ini.”


Dan, salah satu murid laki-laki bertanya, “Seperti apa orangnya, kak?”


“Kalian pasti tahu dia, apalagi cowok-cowok jomblo macam kalian pasti akan senang begitu tahu dia itu siapa.”


Para laki-laki mulai bersuara ketika mendengarnya, mencoba menebak-nebak siapakah yang dimaksud guru kami itu.


“Kalau begitu, apa dia seorang gadis cantik?” tanya seorang cowok lagi.


“Tentu saja, dong, biar kupanggil dulu orangnya" jawab Kak Emira


Kemudian, Kak Emira pun memanggil si murid baru itu yang menunngu di luar pintu kelas, "Hei masuklah, teman-teman barumu sudah menunggumu.” kata Kak Emira sembari memanggil murid baru tersebut.


Sang murid baru itu pun masuk, begitu dia masuk, para cowok pun tercengang, termasuk aku sendiri, rambut hitam ber-ponytail yang mulus berkilau, dengan ponytail yang imut, dan tubuhnya yang ramping, sosok itu, adalah gadis yang baru saja kutemui kemarin!


Ya, murid baru itu adalah…Chata Zavira!


“Lihat? Kuyakin pasti kalian tahu dia.”


Suasana kelas pun ribut, mengetahui kalau Chata si idol terkenal ternyata adalah murid baru di kelas mereka, namun, aku hanya melongo dari belakang, tidak percaya apa yang kulihat di depanku.


“Kenapa dia disini?!!”


“Jadi, karena kalian sudah tahu siapa dia, apa perlu perkenalan atau tidak?”


Pertanyaan Kak Emira itu disambut dengan jawaban serempak para cowok, “IYYYAAAA!!!”


“Oke~, silakan perkenalkan dirimu, Chata.”


“Baik, halo semua, kuyakin kalian semua sudah mengenalku, namaku Chata Zavira, kalian bisa memanggilku  Chata, salam kenal, ya~”


***


Sepertinya kabar kalau Chata Zavira muncul di kelasku sudah mulai tersebar di penjuru sekolah, buktinya, saat jam istirahat tiba, banyak anak-anak dari kelas lainnya muncul di depan kelasku, ingin melihat sosok idol yang mereka gemari di kehidupan nyata itu, sementara di dalam kelasku sendiri, banyak anak-anak yang mengerubungi mejanya, aku hanya duduk termenung saja di kursiku yang letaknya agak berjauhan dengannya.


Aku bermaksud untuk pergi ke kantin, namun, munculnya anak-anak kelas lainnya di depan kelasku itu membuyarkan keinginanku untuk kesana, maka, aku hanya bisa memasang earphone pada HP-ku, menyetel


musik, dan duduk-duduk saja sambil melihat ke arah luar kelas.


Jam pulang sekolah, setelah membereskan barang-barangku, aku langsung berjalan pulang, sementara masih ada saja sedikit dari anak-anak yang berkumpul di depan kelas, walaupun tidak sebanyak tadi siang. ketika aku baru saja berjalan beberapa menit setelah melewati gerbang sekolah, nampak Chata yang sedang berlari menghampiriku.


“Hei, kok kamu pulang duluan, sih?” tanya gadis itu.


“Memangnya kenapa?” aku bertanya balik padanya.


“Kenapa kita tidak pulang bareng saja? Kamu mau pulang ke rumahmu, kan?”


“Ya iyalah, memangnya mau kemana lagi? Kamu sendiri?”


“Lho, kamu tidak tahu? Aku kan tinggal di rumahmu juga.”


Aku menghentikan langkahku, kemudian memalingkan pandanganku padanya, dan berkata “Hah? Tadi kamu bilang apa? Takutnya aku salah dengar.”


“Kita tinggal berdua sekarang.” ujarnya


Ternyata aku tidak salah dengar, Chata memang bilang dia akan tinggal di rumahku juga, kemudian aku melanjutkan kembali langkahku, eh, tunggu, ada yang salah deh dari ucapannya…


“Apa? Kamu tinggal di rumahku? Sejak kapan?”


“Harusnya sih kemarin, cuma aku lupa mengemas barang-barangku untuk pindah, makanya itu aku tidak memberitahumu, tapi, bukankah orangtuamu yang memberitahukan ini padamu?”


“Tidak tuh, bahkan aku tidak ketemu dengan mereka pagi ini.”


“Kenapa kamu tidak telepon mereka saja?”


“Kurasa tidak perlu, ibuku pasti meninggalkan surat kalau mereka pergi seperti itu, akunya saja yang tidak sempat mencarinya tadi pagi.”


“Ohh...begitu, ngomong-ngomong, kamu kelihatannya tenang-tenang saja…kupikir kamu akan terkejut ketika kamu tahu kalau aku akan tinggal bersamamu.”


“Jangan salah, aku memang kaget saat kamu bilang itu, hanya saja, aku cukup pandai menyembunyikan emosi, itu saja.”


“Jaga penampilan agar tetap keren, ya…” katanya, aku hanya tertawa kecil


Padahal, sebenarnya aku berpikiran kalau dia hanya bercanda saja, tidak mungkin kan seorang perempuan mau tinggal seatap dengan laki-laki yang baru ditemuinya kemarin?


“Apa ini?” kataku


“Oh, barang-barangku sudah datang, ya…”


“Tunggu, kamu gak bercanda soal yang tadi?”


“Soal apa? Soal aku tinggal di rumahmu? Iya, aku gak bercanda.”


“EHHHH??!!” aku terkejut mendengarnya, kupikir tadi dia hanya bercanda saja, tapi, ternyata itu sungguhan!


“Apa jangan-jangan, tadi kamu berpikir kalau aku bercanda, ya?” tanya Chata


“Te…tentu sajalah, mana mungkin ada…perempuan yang mau tinggal bersama dengan laki-laki yang baru saja ditemuinya, kan??”


“Yah, secara kita sudah menikah, sih, bukankah itu wajar?”


“Wajar sih…tapi rasanya tetap saja salah kalau keadaannya seperti ini…”


"Aku tahu maksudmu, tapi, bisakah kita bicarakan itu nanti?"


Kemudian, Chata memintaku untuk membantunya membawa tumpukan kardus itu ke dalam rumah, setelah itu,  aku beranjak ke kamarku, dan mendapati sedikit dari isi kamarku telah berubah


Tempat tidurku yang berubah bentuk menjadi lebih lebar, dan lemari pakaianku juga lebih besar dari yang kulihat tadi pagi.


"Hm? Apa ini?" kataku begitu melihat ada sesuatu di atas kasurku, ternyata itu surat, dari orangtuaku


“Selamat atas pernikahanmu, Eka~, Ini hadiah pernikahanmu dari kami, nikmati hidupmu bersama Chata, ya~, salam Ibu dan Ayah”


“Kalian bercanda, kan…kenapa harus mengganti tempat tidurku juga?” gumamku


Tiba-tiba aku menyadari sesuatu, apa jangan-jangan...alasan mereka menggantinya…


Dengan cepat, aku menuju kamar orangtuaku, dan benar saja, pintunya terkunci, dan aku tidak bisa menemukan kuncinya.


“Ada apa?” kata Chata yang melihatku terdiam di depan pintu.


“Tolong jangan katakan kalau kamu juga akan tidur di kamarku…”


“Lho, memangnya kenapa?”


“Ayolah, tinggal seatap saja sudah salah, apalagi tidur seranjang? Salahnya sudah terlalu jauh!”


“Salah dimananya?"


Tiba-tiba, telepon rumah berdering, aku pun mengangkatnya.


“Halo, Eka? Bagaimana kabarmu malam ini?” terdengar suara Ibu dari seberang telepon


“Baik, ketika aku mengetahui aka tinggal serumah dengan seorang idol yang terkenal sekarang, terima kasih banyak, Ibu.” kataku dengan nada kesal


“Itu tidak terdengar seperti ucapan terima kasih…”


“Ya, dan aku minta ibu mau jelaskan apa maksud semua ini”


“Bukannya sudah jelas? Kalian kan sudah menikah.”


“Ayolah, bukan itu penjelasan yang ingin aku tahu”


“Ya ya, aku paham maksudmu, kalian masih terlalu muda untuk tinggal bersama lah, kalian juga masih terlalu muda untuk tidur seranjang lah, ibu paham.”


“Cuma, itu pasti hanya karena kamu belum terbiasa dengan kehadirannya, kan? Coba deh, kamu biasakan dirimu dulu selama beberapa hari, pasti kamu akan terbiasa nanti, percaya deh sama Ibu.” lanjutnya


“Terbiasa gimana? Pasti sulit untukku!”


“Coba saja dulu, dulu ibu juga seperti itu pada ayahmu”


Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, karena kutahu, ibuku ini agak keras kepala, dalam artian yang baik tentunya, lalu, ibuku berkata lagi.


“Apa ada Chata disana? Ibu ingin bicara dengannya”


Aku pun memanggil gadis itu, setelah dia datang, aku menyerahkan gagang telepon padanya, dan melenggang pergi meuju ruang televisi, dan merebahkan diriku di atas sofa.


“Ah…yang benar saja...” gerutuku.


Beberapa menit kemudian, muncul Chata dari balik pintu, “Disini kamu rupanya…”


“Ada apa? Tadi kamu bicara apa saja dengan ibuku?”


“Bukan hal yang penting kok”


“Yah, masa bodoh deh, aku sudah gak peduli lagi soal ini…kalau ibuku bilang, ‘cobalah terbiasa dengan ini’, baiklah, itu yang akan kulakukan.”


Kemudian, aku bangun dari sofa, kemudian berkata pada Chata,


“Baik, dengar ini, ingatlah kalau kamu harus merahasiakan soal ini, oke? Aku tidak ingin hidupku makin kacau karena ada yang mengetahui tentang ini…”


“Ya, aku ingat kok, aku juga tidak mau kalau ada media massa yang tahu tentang ini, kalau sampai mereka tahu, bisa jadi skandal besar nantinya.”


“Hiiii…membayangkannya saja aku sudah seram duluan” kataku saat mendengar gadis itu menyebut ‘media massa’, yang kuyakin pasti akan membawa bencana besar dalam hidupku yang damai.


“Apa kamu tahu siapa saja yang tahu tentang ini?” tanya Chata


“Kurasa selain kita dan keluarga kita, kurasa aku melihat beberapa orang tetanggaku yang muncul kemarin, yah, kurasa lingkungan sini sudah mengetahuinya.”


“Baiklah, jadi cuma lingkungan ini saja ya, yang aman?”


“Sepertinya begitu, hanya teman-teman sekolah dan luar saja yang tidak boleh tahu soal ini.”


“Oke deh, jadi, sudah dipastikan ya~”


Lalu, aku mencoba mengganti topik pembicaraan, “Jadi…sekarang apa?”


“Hmm…kamu mau makan malam? Aku lapar nih…”


“Kamu yang masak?”


“Hehe~ Iya dong”


“Kamu benar-benar menjalankan peranmu sebagai istri, ya” kataku


Aku berpikir sebentar, untuk menu makan malam pertamaku yang dibuatkan olehnya, “Ya sudah deh, aku sih terserah kamu saja, buatkan sesuatu yang enak, ya” lanjutku


“Oke, darling~” kata gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya, kemudian berlalu.


Setelah dia pergi, aku kembali merebahkan diriku di atas sofa, sambil menarik nafas untuk menenangkan diriku.


“Haa…kalau sudah seperti ini jadinya, nikmati saja deh…” gumamku.


Dan begitulah, perjalanan malam pertamaku yang tidak kuduga, dengan istri idol-ku itu.