
Cahaya matahari menyinari mataku yang masih tertutup, perlahan kubuka mataku, aku menyadari kalau sekarang aku berada di kamarku, aku merasa cahaya matahari cukup panas, kulihat jam dinding yang tergantung di atas meja belajar, jarum jam menunjukkan pukul 4 sore.
Lalu, aku merasakan sesuatu yang basah di keningku, ternyata, ada sebuah kompres yang airnya sudah dingin, setelah menaruh kompres itu di samping tempat tidur, aku mencoba bangun dari tempat tidur, kulihat ada
sepiring makanan yang ditaruh seseorang di atas meja, dengan secarik kertas di samping makanan tersebut, aku mengambil kertas tersebut, ada tulisan Chata di atasnya.
“Ini sarapanmu, kuharap kamu terbangun sesaat setelah aku pergi sekolah.”
Namun, sepertinya aku terbangun lama setelah Chata berangkat, karena itulah makanan itu sudah dingin, namun, aku tetap memakannya karena aku lapar, dan meminum obat yang ada.
Lalu, aku pun beranjak turun ke bawah untuk membersihkan diri, karena tubuhku penuh dengan keringat karena berbaring seharian, dinginnya air membuatku merasa segar, walaupun tubuhku masih terasa lemas, setelah itu,
aku kembali ke kamar.
Sembari mengganti pakaian, aku kembali teringat tentang apa yang terjadi semalam.
“Kemarin itu…apa ya? Apakah itu…masa laluku…yang kulupakan?”
Setelah itu, aku kembali lagi ke bawah, karena aku bosan kalau aku harus menunggu saja di kamar, kucoba menyalakan televisi, berharap aku bisa menemukan acara yang bagus untuk mengisi waktu.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu rumah yang dibuka,dan muncullah Chata.
“Eka?! Kenapa kamu disini? Bukannya kamu seharusnya istirahat di kamar?” kata Chata
“Aku bosan kalau di kamar terus.”
“Tidak boleh, nanti kalau kamu sakit lagi bagaimana…? Sini, kuperiksa dulu.”
Chata menempelkan telapak tangannya di dahiku, “Hmmm…masih agak hangat, tapi, tidak seburuk tadi pagi.”
Sementara itu, kelembutan tangannya yang menyentuh dahiku membuatku berdebar, ditambah lagi wajahnya yang manis itu berada persis di hadapanku.
“Ah, wajahmu memerah, apa demamnya naik lagi?”
“Tidak…kurasa, itu bukan demam, deh”
“Lalu…kenapa wajahmu jadi merah begini? Kamu masih merasa pusing?”
“Tidak…itu…karena…”
Pastinya aku tidak akan bilang kalau itu karena wajahnya yang dekat sekali, bisa malu aku jadinya kalau aku berkata seperti itu, sementara itu, Chata yang tidak tahu apa-apa masih menempelkan telapak tangannya di dahiku.
“Kamu serius sudah sembuh? Lebih baik kamu kembali saja ke kamar.”
“A…aku sudah lumayan sehat, kok”
Chata pun melepaskan tangannya, “Ya sudah, kalau kamu bilang begitu, syukurlah kamu sudah sembuh.”
“Oh iya, kamu lapar, kan? Tunggu sebentar, ya, aku mau ganti baju dulu.” kata Chata sambil berjalan menuju kamar.
***
Malam harinya, setelah makan malam, aku mencoba bertanya pada Chata tentang apa yang terjadi semalam.
“Jadi…aku pingsan, semalam?”
“Ya, ketika aku kembali ke sini, kamu sudah terkapar di lantai, aku kan panik jadinya.”
“Maaf, pasti merepotkan bagimu.”
"Tidak masalah, kok, aku lega saat kamu bilang kamu sudah sembuh secepat ini.”
“Tapi, aku heran, kenapa tiba-tiba sekali? Setelah…aku melihat pita itu…rasa sakitnya datang, padahal sebelumnya…aku baik-baik saja.”
Chata terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang cocok untuk pertanyaanku, “Mungkinkah…kamu mengingat sesuatu…tentang itu? Saat kamu…memberikan ini?”
“Saat aku memberikan pita itu? Apa maksudnya…bayangan yang kualami…kemarin sebelum aku pingsan?” gumamku dalam hati.
“Aku…kurang yakin, sih, tapi…mungkin kuceritakan saja…”
Aku pun menceritakan tentang bayangan yang kulihat waktu itu.
“Ahh…kurasa, kamu sudah mulai mengingatnya…”
“Mengingat apa? Maksudmu, masa laluku?” tanyaku, Chata pun mengangguk.
“Tapi…kok aku sama sekali tidak ingat?”
“Itu karena kamu…hilang ingatan”
“Hilang ingatan? Maksudmu, amnesia?”
“Ya, enam tahun lalu, kamu kecelakaan, dan dokter berkata kalau kamu cedera parah sampai-sampai kamu terkena amnesia.”
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar darinya, kupikir scenario seperti ini hanyalah karangan-karangan film saja.
“Kamu…tidak bercanda kan?” kataku mencoba memastikan perkataannya Chata.
“Tidak mungkin aku bercanda kalau soal ini, Eka, aku tahu sulit mempercayai ini, tapi, kamu boleh bertanya pada ibumu kalau kamu masih tidak percaya.”
Lantas, aku mengambil HP-ku, dan menghubungi ibuku.
“Halo? Ada apa, Eka?”
“Ibu, apa benar, kalau aku ini…amnesia?”
“…Darimana kamu mendengarnya?”
“Chata.”
Ibuku terdiam sebentar, aku bisa mendengar dia mendesah disana, “Haaahh…jadi dia mengatakannya, ya? Itu benar, kamu…amnesia, Eka.”
Ibuku pun menceritakan apa yang terjadi saat itu, enam tahun lalu, ketika itu, aku sedang merayakan pesta kelulusan dengan teman-temanku, termasuk Chata, dengan pesta camping.
Pada suatu malam, ketika aku sedang berdiri di tepi lereng bukit untuk menikmati langit malam yang bertaburan dengan bintang, namun, aku tidak memperhatikan langkahku, sehingga aku tergelincir, dan jatuh menuruni lereng
bukit itu dengan luka parah yang kuderita.
Ketika teman-temanku mengetahui apa yang terjadi, mereka segera menghubungi ambulans untuk membawaku ke rumah sakit, sesampainya disana, barulah mereka mengetahui kalau aku mengalami luka parah, dan terkena amnesia.
“Kamu tidak bangun-bangun selama lima bulan, Eka, ibu dan ayah sangat khawatir sekali padamu waktu itu.” kata ibu
“Ibu tahu kalau ini sulit dipercaya, tapi, memang itu yang terjadi.” lanjutnya.
Aku tertunduk mendengar cerita itu, tak kusangka, kalau ini benar-benar terjadi padaku, berarti, aku kehilangan semua hal…tentang diriku yang dulu, kawan-kawanku, dan mungkin, sesuatu yang penting tentang Chata,
bahkan orangtuaku, sungguh sedih rasanya karena aku tidak bisa mengenang masa laluku yang mungkin indah itu.
“Jadi…hanya itu, yang kamu ingin tahu?”
“Ya…kurasa, aku butuh waktu untuk menenangkan diri…terima kasih sudah memberitahuku, ibu”
“Sama-sama, dan maaf ya, kalau ibu dan ayah diam-diam saja selama ini.”
“Tidak apa-apa, kok, aku tahu ibu dan ayah melakukannya demi aku.”
“Baiklah, kalau begitu, selamat malam, ya.”
Ibu menutup telepon, aku menarik nafas panjang, untuk menenangkan diri setelah mendengar suatu kisah yang tidak kusangka-sangka.
“Jadi, ibumu menceritakan semuanya?” tanya Chata.
“Ya, begitulah.” jawabku.
“Tenang saja, aku yakin ingatanmu pasti bisa kembali kok, contohnya saja tadi kan? Kamu bisa mengingat kembali saat kamu memberikan pita ini padaku?”
“Mungkin…tapi, bukannya itu akan sulit?”
“Memang, tapi, akan kulakukan untukmu, Eka.”
“Bolehkah aku bertanya kenapa kamu mau melakukannya sejauh ini?”
“Itu…karena, kita sudah berjanji satu sama lain…”
Chata terdiam, kepalanya tertunduk, dan terlihat dia sedang memainkan jarinya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi, dia tidak tahu apa dia harus mengatakannya atau tidak.
“Kurasa…mungkin hal ini…kamu ingat sendiri…” kata Chata.
“Karena, kamu mungkin tidak akan mengerti arti janji itu kalau aku memberitahukannya, tapi, percayalah, aku akan membantumu mengingatnya, bagaimana?”
“B…baiklah.”
Kurasa itu pasti sangat penting sekali, aku jadi merasa agak down, karena aku melupakan sesuatu yang mungkin berharga sekali baginya, walaupun Chata bilang akan membantuku mengingatnya kembali, setelah itu, kesunyian malam pun muncul, sesaat bunyi jangkrik dari luar rumah terdengar berkali-kali, karena hari memang sudah larut,
aku menengok ke arah jam, yang sudah menunjukkan pukul 9 malam
“Wah, sudah malam sekali, ayo kita tidur.” kataku pada Chata.
Kami pun beranjak menuju kamar untuk tidur, awalnya sih, aku memang merasa mengantuk, namun, sampai tengah malam, mataku tak kunjung tertutup, atau lebih singkatnya, aku tidak bisa tidur…
“Ahh…sial, aku tidak bisa tidur…” gerutuku
Aku menengok ke samping, Chata masih meringkuk di balik selimutnya, masih terlelap di alam mimpi.
“Sudahlah, aku nonton TV lagi saja…”
Aku pun beranjak keluar kamar, dengan perlahan agar tidak membangunkan Chata, saat aku menyalakan TV, ternyata acaranya belum tayang, aku pun beranjak ke dapur karena aku lapar, aku tahu, keadaanku baru saja sembuh, namun, rasa lapar ini sepertinya mengalahkan rasa lemasku.
“Hmm…kita lihat apa yang kita punya disini” gumamku sambil membuka lemari penyimpanan makanan.
Aku mencari sesuatu yang bisa dimakan, setelah beberapa menit mencari, aku mendapatkan dua bungkus mi rebus instan.
“Ahhh…tidak apa lah, yang penting bisa dimakan.”
Kemudian, aku memasak mie instan tersebut, setelah selesai, aku membawanya ke ruang TV, kebetulan sekali, acara favoritku baru saja tayang, aku pun memakan mie instanku sambil menonton TV, yah, memang itulah kebiasaanku kalau sedang tidak bisa tidur, makan sambil menonton TV di tengah malam, dimana saat itu semua orang seharusnya tidur.
“Eh? Kamu sedang apa?” terdengar suara Chata dari belakangku
Aku menengok ke belakangku, ternyata Chata terbangun dari tidurnya.
“Hanya menonton TV sambil makan, kukira kamu masih tidur pulas”
“Aku tadi niatnya mau ke kamar mandi, tapi, aku melihatmu disini.”
“Oh, ya sudah…”
“Kamu itu kan baru sembuh, kenapa kamu tidak tidur? Malah makan mie instan pula…”
“Aku lapar, dan aku tidak mau mengganggu waktu tidurmu, makanya aku masak saja yang gampang.”
Chata mendesah, lalu, pergi ke kamar mandi, kemudian, dia pun kembali menuju ruang TV dan duduk disebelahku.
“Kamu tidak tidur lagi?”
“Tidak, karena kamu ada disini.”
“Hah? Maksudmu?”
“Yah, mungkin aku hanya ingin bersamamu, itu saja, tidak bolehkah?”
“Bukannya tidak boleh sih…tapi, terserah deh.”
Aku kembali melanjutkan makan, sementara Chata bernyanyi pelan sambil menungguku, samar-samar, aku mendengar nyanyiannya yang merdu, hanya mendengarnya saja, aku jadi merasa tenang, tapi…aku merasakan
sesuatu…yang tidak asing.
“Lagu ini…rasanya aku pernah dengar, deh…tapi dimana ya?”
Setelah selesai makan, aku mencuci bekas mangkuk makananku, saat kembali ke ruang TV, aku melihat Chata sudah tidur di sofa.
Memang benar apa yang orang-orang katakan, cewek memang manis kalau mereka sedang tidur.
“Haahh…aku ingin membangunkannya supaya dia tidur di kamar…tapi melihat wajah manisnya ketika tidur, aku jadi tidak tega…”
Setelah berpikir sebentar, kuputuskan untuk menggendongnya ke kamar, aku pun menggendong Chata menuju kamar, setelah membaringkannya di sampingku, aku pun beranjak tidur disampingnya, begitu beberapa menit aku terbaring, aku pun terlelap, dan jatuh ke alam mimpi
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Disini kamu rupanya, acara api unggunnya sudah mau mulai, lho" kata si anak perempuan
"Ahh...kamu, ya? Aku lebih suka disini...lihat" kata si anak laki-laki sambil menunjuk ke arah langit malam
"Ohhh...jadi kamu disini supaya bisa melihatnya dengan jelas, ya?"
"Begitulah, jarang sekali langit malam bertaburan bintang seperti ini, kan?”
“Ya, tidak seperti di rumah…disini kelihatan indah sekali.”
Kedua anak itu terdiam, menikmati indahnya langit malam yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar, kemudian, si anak perempuan itu mulai bersenandung kecil dengan suaranya, mengisi kesunyian malam, dan menambah suasana yang nyaman pada malam itu.
“Kamu benar-benar suka menyanyi, ya?” kata si anak laki-laki
“Ya dong, apalagi setelah kamu menyemangatiku selama ini, dan mengikuti lomba-lomba menyanyi, mungkin suatu saat nanti, aku akan benar-benar menjadi idol.” kata si anak perempuan.
“Tapi…apa kamu mau tahu? Satu hal lain yang aku sukai selain menyanyi.” kata si anak perempuan
“Oh ya? Apa itu?” kata si anak laki-laki
“Itu…k…kamu.”
“Eh? Aku? Maksudmu…”
“Ya, setelah waktu yang kita lalui bersama selama ini, ditambah lagi, kamu selalu mendukungku dari awal aku mulai menyanyi, mungkin…dari saat itulah, aku…mulai suka…padamu.”
Si anak perempuan tersebut menunduk malu, karena hal yang dikatakannya tadi, begitu juga dengan si anak laki-laki, yang tak tahu apa-apa, ternyata dia mendapatkan pernyataan suka dari anak perempuan yang selalu bersamanya sejak kecil.
“Bu…bukankah hal ini…seharusnya kamu katakan nanti…setelah dewasa?” kata si anak laki-laki
“Y…ya, aku tahu, cuma, aku…hanya ingin mengatakannya…padamu, sekarang…”
“Sebenarnya…mungkin aku…juga suka padamu.”
“Benarkah?”
“Ya, itu benar, kok”
“…A…Aku senang, ternyata kita punya perasaan yang sama.”
“Ya, aku juga senang kok, ternyata kamu juga merasa seperti itu.”
“Oh, aku jadi ingat, waktu kita bermain bersama dulu, ingat? Apakah mungkin…nanti di masa depan…kita…bisa
menjadi…”
“Hm? Oh…waktu itu, ya? Tapi…rasanya agak malu untuk mengatakannya…apalagi kalau suasananya seperti ini…”
Untuk menahan rasa malunya karena pembicaraan mereka yang…agak kurang pas untuk umur mereka, si anak laki-laki itu pun bangun dari duduknya
"A...ayo kita kembali, nanti yang lainnya khawatir." kata si anak laki-laki
"Hee? Sudah mau kembali? Bukannya kamu tadi bilang mau disini saja?"
"Err....bagaimana bilangnya, ya...a...aku, ahhh! Karena kamu tadi, aku jadi...agak gugup."
"...Aku pun..juga begitu, tapi..."
"Entah kenapa, setelah aku bilang itu...aku jadi ingin disini...juga."
"Memangnya boleh? Tadi katamu, mereka akan khawatir kalau kita tidak muncul untuk api unggun..."
"Mereka mungkin tidak akan sadar...jadi...kupikir tidak apa-apa..."
Si anak laki-laki itu diam di tempat, kemudian, dia pun kembali duduk, kali ini, dia duduk di sebelah anak perempuan itu, sambil menatap ke arah langit berbintang yang sama, ditemani oleh nyanyian kecil dari si anak perempuan yang duduk disebelahnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------