
Tak terasa hari-hari berlalu begitu cepat, hari demi hari, terus kujalani dengan kegiatan yang sama, aku juga mulai terbiasa untuk tinggal bersama dengan Chata, walaupun aku masih waspada kalau ada seseorang yang mengetahui rahasiaku dengannya itu.
Pada satu hari, setelah jam pelajaran terakhir berlangsung.
“Baiklah, itu saja untuk hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian, ya?”
“Baiikk!!”
Kemudian, sang guru itu pun meninggalkan kelas.
“Jadi, kapan kita akan mengerjakannya?” tanyaku pada teman sekelompokku
Tadi, guru itu memberikan tugas untuk dikerjakan secara berkelompok, aku langsung menarik Indra bersamaku
karena dia memang kerjanya cepat, walaupun dia suka tidak teliti, kemudian, Chata juga ikut bersama dengan kelompokku, bersama dengan seorang temannya, yaitu Ira.
Oh iya, aku belum memperkenalkan dia pada kalian semua, ya? Nama gadis ini adalah Ira Ardyana, seorang gadis berambut hitam pendek, dan juga, dia memiliki wajah yang cantik dan cool, dan postur tubuh seperti wanita muda pada umumnya.
Dia juga seorang ace dalam olahraga, karena itulah sifatnya agak tomboy, agak kurang pas dengan penampilannya, tapi, karena dia mudah sekali lupa, akibatnya, nilai pelajarannya yang lain…yah, bisa dibilang agak di bawah.
Awalnya, dia kelihatan tidak terlalu peduli pada kehadiran Chata sewaktu Chata baru masuk sekolah ini, tetapi, suatu ketika, kami sedang mengerjakan tugas Matematika yang harus dikumpulkan setelah jam pulang sekolah.
Dan, pada waktu jam pulang sekolah, sudah dipastikan dia panik, karena dia tidak bisa mengerjakan tugas itu, saat itulah, Chata menyadari hal itu, dan menawarinya untuk mengajari cara mengerjakan soal tersebut.
“Hmm…bagaimana kalau hari Minggu?” usul Ira
“Yah, kalau aku sih tidak masalah, kalau kalian bagaimana?” kata Indra
“Aku sih bisa-bisa saja, kalau kamu, Chata?”
“Yah, kalau aku sih, mungkin aku bisa minta hari libur dulu, lumayan lah, istirahat dari sesi latihan yang tidak berujung ini.”
“Memangnya latihanmu seberat itukah?” tanya Ira
“Ya, lumayanlah,” jawab Chata.
“Oke, berarti hari Minggu, ya? Terus mau dimana?” kataku
“Rumahmu saja, Eka,” kata Indra
“Eh? Rumahku?”
“Iya, kamu tinggal sendiri kan?”
Aku mulai sedikit panik, “Ya…bisa begitu sih, orangtuaku sedang pergi juga.”
“Hee…kamu tinggal sendiri ya? Mandiri sekali~” puji Ira
“Aku sudah terbiasa kok, orangtuaku selalu pergi kerja, aku mengerti sulitnya mereka bekerja, makanya aku berusaha supaya tidak merepotkan mereka di rumah.”
“Hee…begitu ya?” kata Ira.
“Nah, gimana, di rumahmu saja, ya?”
Aku mencoba mencari-cari alasan supaya mereka tidak datang ke rumahku, karena, rahasia kami akan terancam kalau ada mereka, namun, tak disangka-sangka...
“Boleh tuh, ayo, di rumahnya Eka saja.” kata Chata
Aku terkejut bukan main, apa Chata tidak memikirkannya? Dengan seenaknya saja malah mengundang bahaya ke rumah kami? Bagaimana kalau mereka mengetahui kalau aku dan Chata sebenarnya sudah menikah?
“Aku ingin sekali berkunjung ke rumah teman sekali-kali, boleh ya?” pintanya sambil menatap mataku.
Aku mencoba menghindari tatapan matanya, supaya aku tidak terpengaruh olehnya, namun, walaupun aku masih bisa berpaling, mataku masih saja melirik padanya, membuatku sulit berfokus untuk mencari alasan supaya mereka
tidak ke rumahku.
“Ka…kalau begitu, kenapa tidak di rumah Ira saja?” saranku.
“Tidak bisa, rumahku itu warung makan, jadi pasti akan sulit…” kata Ira.
“Ayahku sedang memperbaiki atap rumah yang bocor, kalau kita datang, pasti kerjaannya akan terganggu.” kata Indra
“Kalau rumahku, yah, kurasa bukannya wajar, seorang idol tidak memberikan info pribadi pada orang lain, kan? Hehe~” kata Chata sambil tertawa kecil
“Apanya yang info pribadi, bukannya kamu yang seenaknya saja pindah ke rumahku? Tidak pakai bilang-bilang juga pula...” gerutuku dalam hati.
“Nah, yang tersisa, cuma rumahmu, Eka, bagaimana?” kata Indra
”Lagipula, kamu punya komputer kan? Bukannya lebih mudah mengerjakannya disana daripada kita hanya mengandalkan HP?” tambahnya lagi, perkataannya itu makin memojokkanku
Karena merasa kalah suara, aku terpaksa mengiyakan usulan mereka, daripada mereka jadi curiga kalau aku terus bersikeras menolaknya.
***
Hari Minggu, mereka pun datang ke rumahku
“Oh, rupanya kamu sudah sampai duluan” kata Ira pada Chata.
“Yahh...begitulah, ehehe~”
“Nah, ayo kita mulai saja.”
Sepanjang hari itu, aku merasa tegang, walaupun Chata sudah meyakinkanku kalau rahasia kami tidak akan ketahuan, tapi kan, aku tidak tahu apa yang bisa saja terjadi.
Waktu berlalu secara perlahan, seakan ingin menyiksaku dengan perasaan khawatir yang kualami ini, dan tibalah saatnya ketika matahari sudah berada di atas kepala, walaupun tugas kami belum sepenuhnya selesai, tapi, itu cukuplah menurut kami.
“Haaahh…aku lelah sekali, mana lapar juga…” gumam Indra.
“Boleh juga.” kataku
“Eka, boleh kupinjam dapurmu? Dan juga kamu tidak keberatan aku pakai isi kulkasmu?” kata Chata
“Oh, biarkan aku membantu.” kataku
“Baiklah, kalian berdua tunggu disini, ya?” kata Chata
“Ya, aku dan Ira rasanya capek sekali…” kata Indra
Kemudian, aku dan Chata memasak makan siang untuk kami berempat.
“Lihat? Apa kubilang? Mereka tidak tahu,” kata Chata.
“Mungkin untuk sekarang, kamu menaruh semua bajumu di kamar orangtuaku, kan?”
“Tentu saja.”
“Oh iya, kok kamu bisa tahu dimana orangtuaku menyembunyikan kunci kamarnya? Padahal waktu kamu pertama kali disini, aku sudah mencarinya kemana-mana.”
“Hehe~ Rahasia dong.”
Sambil memotong-motong daging, Chata berkata padaku, “Aku senang, kalau kamu juga bisa memasak, Eka”
“Yah, aku kan sudah biasa hidup sendiri, memangnya kenapa?”
“Kamu tahu? Aku pernah berharap, suatu saat aku bisa memasak bersama suamiku nanti.”
Wajahku bersemu merah mendengarnya, “Ka…kalau begitu, harapanmu berarti sudah terkabul, tapi, tolong jangan berkata seperti itu, aku jadi malu mendengarnya.”
“Oh, maaf, hanya saja, aku merasa senang sekali harapanku terkabul karenamu.”
***
Malam harinya…
“Fuhhh…Selesai juga…” gumamku sambil meregangkan tanganku yang pegal.
Saat itu, aku sedang meng-edit tugas yang sudah kami kerjakan, walaupun sudah selesai saat itu, tidak ada salahnya mengecek ulang supaya hasilnya lebih bagus, kan?
“Ah, disini kamu rupanya…masih mengerjakan tugas yang tadi?” kata Chata sambil menghampiriku
“Aku cuma mengecek ulang saja kok.”
“Ohh…jadi, tidak ada yang kurang, kan?” tanya Chata, aku mengangguk
“Kerja bagus, Eka, ini, hadiahmu~” kata Chata sambil memelukku dari belakang.
“Tu…tunggu, lepaskan.” kataku yang terkejut akan hal ini.
“Hehe~ Eka, walaupun sudah malam, suhu tubuhmu masih hangat, ya…”
“Sudah kubilang, lepaskan…aku jadi sulit bergerak, nih.”
“Ehhh…Kamu tidak suka dipeluk olehku? Bukannya tugas istri adalah menghibur suaminya setelah lelah bekerja, kan?”
“Bu…bukannya begitu sih…tapi, tidak perlu seperti ini juga, kan?”
Namun, tidak ada tanda-tanda Chata melepaskan pelukannya, sesaat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang menyentuh leherku.
“Oh iya, soal tadi sore…benar kan kataku? Mereka tidak tahu apa-apa.” kata Chata.
“Yah, baru kali ini, nantinya kan kita tidak tahu.”
“Kamu orangnya khawatir sekali, ya?”
“Tentu sajalah, hal ini kan tidak sewajarnya di antara kita yang masih SMA, dan juga kalau sampai agensimu tahu, bagaimana? Bukannya ini seperti sebuah…apa yang biasanya disebut di televisi itu? Aku lupa…” kataku
“Maksudmu skandal? Ah, tenang saja, mereka tidak akan semudah itu mengumbar rahasia artis mereka.” kata Chata
Aku kembali terdiam, suasana hening menyelimuti kamar, sementara Chata yang masih memelukku, mulai mengusap-usap kepalaku, seakan mencoba untuk menenangkan pikiranku.
Tapi, yah, itu memang bereaksi, perlahan, rasa khawatir yang bermain di dalam pikiranku menghilang, digantikan dengan perasaan hangat yang diberikan olehnya, mungkin ini ya, kelebihan ketika kamu sudah menikah?
“Nah, bagaimana? Kamu sudah tenang? Tidak khawatir lagi tentang apapun?” tanya Chata.
“Begitulah...Terima kasih, Chata,” jawabku
“Sama-sama, katakan saja padaku kalau kamu khawatir tentang sesuatu.” kata Chata sambil tersenyum
“Uhh…Chata, bisakah kamu melepaskanku sekarang?”
“Tidak~ biarkan aku seperti ini dulu, dong, kan aku jarang bisa seperti ini padamu.”
“Hahh…kamu ini sukanya nempel terus, ya?”
“Tentu dong, apalagi kalau sama kamu.”
“Ya, ya, puaskan saja hasratmu untuk memelukku.”
“Ehehe~ Terima kasih.”
Haahh…memang sulit punya istri yang suka menempel seperti dia ini, tapi, aku tidak keberatan…kalau seperti ini keadaannya.