
“Apa kamu suka menyanyi?” tanya si anak laki-laki
“Ya, aku sangat suka, tapi, kata teman-temanku, suaraku sumbang.” jawab si anak perempuan yang sedang murung itu
“Mengapa kamu tidak berlatih menyanyi saja? Kuyakin suaramu akan bagus jadinya, kalau kamu sering melatih suaramu, bukan?” kata si anak laki-laki, berusaha untuk menghiburnya
Anak perempuan untuk menaikkan kepalanya, menatap si anak laki-laki itu sambil berkata, “Benarkah?”
Si anak laki-laki itupun mengangguk, “Ya, cobalah kau menyanyikan sesuatu, aku akan mendengarkan.”
“Te…terima kasih…”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suara kicauan burung di luar rumah membuatku terbangun, kulihat langit-langit kamarku yang putih, dan lampu yang menggantung disana.
“Errmmm…barusan aku mimpi apa, ya? Rasanya…tidak asing….” gumamku.
Lalu, aku menoleh ke samping, dan aku tidak melihat Chata yang semalam berbaring di sebelahku.
“Apa Chata sudah bangun, ya?”
Awalnya aku hendak untuk melanjutkan tidurku, karena hari ini hari Minggu, namun, perutku minta untuk segera diisi, maka, aku pun bergegas turun ke ruang keluarga, ketika aku menuruni tangga, aku mencium aroma masakan yang berasal dari dapur, kemudian, aku melihat Chata yang sedang memasak di sana.
Sembari memasak, dia menyadari kehadiranku di pintu dapur, Chata pun menengok ke arahku.
“Kamu baru bangun, Eka?” katanya.
“Ya, sejak kapan kamu sudah bangun?”
“Kurasa sejam yang lalu, aku kan harus memasak sarapan.”
“Oh, begitu…lalu, kamu sedang masak apa?”
“Rahasia, dong~”
“Yasudah deh, terserahmu saja” kataku sambil beranjak ke kamar mandi.
“Oh, tunggu sebentar, Eka.”
“Hm? Ada apa?”
“Hari ini, aku mau ke kantor agensi, kamu mau ikut?”
“Untuk apa? Bukankah itu urusan pekerjaanmu?”
“Yah, aku hanya ingin kamu menemaniku saja sih, aku ada sesi pemotretan hari ini, kupikir, sekalian saja aku menunjukkanmu tempat agensiku, bagaimana, kamu mau?”
“Kan kemarin bukannya sudah kubilang, bukannya nanti akan jadi berita besar, jika kamu terlihat berdua dengan laki-laki, kan?”
“Tenang saja, kita berangkat kesana tidak naik kendaraan umum, nanti managerku yang akan datang menjemput kita.”
“Dijemput, ya…?” kataku.
Mendengar kata ‘dijemput’ dari Chata, aku membayangkan apa yang akan muncul nanti di depan rumahku, apakah mobil limo yang sering kulihat ketika acara-acara besar di tv, yang biasanya digunakan oleh selebriti-selebriti seperti itukah yang akan muncul nanti? Atau mungkin, lebih mewah lagi?
“Hei! Kok kamu malah bengong? Mau tidak?”
“Hmm…aku tidak tahu…”
“Sudahlah, ikut saja, toh kamu juga menganggur kan di sini? Temani aku, ya?”
Pada akhirnya, aku menerima ajakannya, walaupun aku masih kurang yakin apa yang kulakukan nanti disana, “Iya, iya, aku ikut, deh.” kataku.
“Oke~, nah sekarang, sana mandi dulu, sedikit lagi sarapan akan siap”
***
Tak lama setelah selesai sarapan, terdengar deru mesin mobil di depan rumah, disusul oleh bunyi bel rumah yang berdentang, aku pun membuka pintu, dan muncullah sosok wanita yang tidak begitu asing bagiku.
“Pagi, Eka, kamu masih mengingat saya?”
“Oh, anda…bukankah anda yang waktu itu ada di acara pernikahan itu?”
“Kamu masih ingat rupanya, ya? Itu benar, perkenalkan, Hanna Nasifa, manajer Chata.”
“Ya, sebelumnya, terima kasih untuk yang waktu itu, ya…”
“Sama-sama, ngomong-ngomong, Chata ada? Saya datang untuk menjemputnya.”
“Ada kok, masuk saja dulu, akan saya panggilkan nanti, bu.”
“Ah, tidak perlu seformal itu padaku, mbak Hanna saja boleh, kok.”
“Oh, baiklah kalau begitu.”
Aku pun memanggil Chata yang sedang bersiap-siap di kamar, setelah dia turun, barulah kami pergi ke kantor agensinya.
Selama perjalanan, aku hanya memandang ke luar jendela, bukan karena aku bosan, hanya saja, saat itu, mbak Hanna sedang membicarakan hal tentang sesi pemotretan nanti dengan Chata, karena itulah, aku diam saja karena aku memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Setelah perjalanan yang cukup lama karena letak kantornya ada di pusat kota, yang sudah pasti harus melalui lalu lintas yang padat, akhirnya, kami pun sampai di kantor agensinya.
Setelah itu, kami pun beranjak menuju studio pemotretan yang ada di dalam kantor tersebut, disana, sudah banyak peralatan pemotretan yang disiapkan untuk sesi pemotretan Chata, dan si fotografer pun juga sudah menunggunya, lalu, setelah pengecekan peralatan sebentar, barulah sesi pemotretannya dimulai.
Sementara itu, aku dan mbak Hanna menunggu di belakang kamera, sambil melihat sosok Chata yang sibuk bergaya dengan berbagai macam posenya yang menarik.
“Jadi, bagaimana rasanya menikah dengan seorang idol?” tanya mbak Hanna
“Entahlah, karena baru saja kemarin lusa.” jawabku
“Yah, wajar saja sih, karena kamu dinikahkan secara tiba-tiba juga, kan?”
“Iya, kok mbak Hanna tahu?”
“Aku kenal ibumu, kok, makanya aku tahu.”
“Oh, begitu ya.”
“Jadi…Perasaanmu padanya hanya biasa-biasa saja?”
“Ya, kurang lebih begitu, aku sempat protes pada ibuku kemarin, ketika aku mengetahui kalau Chata akan tinggal bersamaku, tapi, ibuku berkata, ‘lalui saja, nanti kamu akan terbiasa’, begitu.”
“Terdengar sekali seperti ibumu, ya…masih saja santai seperti dulu.”
“Eh? Mbak Hanna sudah kenal ibuku sejak lama?” tanyaku.
“Ya, cukup lama juga, saat kami berdua kuliah di kampus yang sama.” jawabnya, aku manggut-manggut pertanda mengerti
Aku kembali memperhatikan Chata yang sibuk berpose di depan kamera. diam-diam, aku sedikit tertarik padanya, yah, bagaimana tidak? Dirimu tiba-tiba dipaksa menikahi seorang idol terkenal, kurasa itu bisa dibilang hadiah atau mukjizat, daripada paksaan.
“Oh, aku ingin tahu, bagaimana anda bisa bertemu Chata?”
“Hmm…kurasa itu, setahun yang lalu, deh, saat itu, aku sudah menjadi bagian dari agensi ini, dan aku sedang mengunjungi kompetisi menyanyi, berharap aku bisa menemukan seseorang yang bisa kujadikan idol.”
“Lalu?”
“Saat itulah, aku bertemu dengannya, setelah kompetisi itu selesai, aku langsung menemuinya, dan menawarinya untuk menjadi idol.”
“Aku berharap padanya, kalau dia bisa bertahan lama di dunia entertainment seperti ini, kalau kamu sering melihat di televisi, kebanyakan idol-idol sepertinya tidak bisa bertahan cukup lama, bukan?”
“Ya…kurasa begitu, walaupun aku jarang menonton televisi, sih”
“Nah, namun itu tidak berpengaruh untuknya, lihatlah, dia bisa bertahan lama karena dia punya keunikan sendiri dibandingkan dengan yang lain.”
“Keunikan sendiri?”
“Kharismanya kurasa, dia memiliki aura yang…berbeda, aku bisa merasakannya, walaupun aku tidak tahu itu apa…”
“Jadi, bukan hanya penampilan dan parasnya, ya?”
“Ya itu juga poin penampilannya sih, dan juga... kamu lihat pita biru yang dikenakannya itu? Itulah ciri khasnya dia.”
Aku baru menyadarinya ketika mbak Hanna berkata soal itu, dia selalu menggunakan pita biru itu di rambut ponytail-nya setiap saat, bahkan, ketika menikah pun, samar-samar aku bisa melihat pita birunya yang cukup mencolok dari gaun putih yang digunakan olehnya waktu itu.
“Hmm~ Aku baru sadar hal itu, dia juga menggunakannya setiap saat.”
“Eh? Aku? Kapan?” kataku terkejut ketika mendengarnya.
“Chata bilang, kamu memberikan pita itu dulu, saat kalianmasih kecil.”
Aku tidak mengerti maksud mbak Hanna, apa maksudnya aku memberikan pita biru itu padanya saat kecil? Apa maksudnya kami pernah bertemu dulu? Tapi, aku tidak ingat sama sekali tentang itu, malahan, bukannya aku baru mengenalnya dua hari yang lalu?
“Saat kecil dulu? Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti
Mbak Hanna langsung refleks menjawab dengan spontan, “Oops, aku baru ingat sesuatu, maaf ya, lupakan saja yang kukatakan tadi.”
“Eh? Kok begitu?”
“Tidak ada kok, lupakan saja yang barusan kukatakan, ya”
***
Malam harinya…
“Chata? BIsakah kamu kemari sebentar?”
“Ya, ada apa, Eka?”
“Aku ingin tahu sesuatu, tadi di studio, aku berbicara dengan mbak Hanna.”
“Hmm, sepertinya kamu sudah akrab dengan manajerku, ya?”
“Begitulah, dia memberitahuku banyak hal tentangmu, tapi, ada yang membuatku penasaran.”
“Apa itu?”
“Pita rambutmu itu…mbak Hanna bilang, akulah yang memberikannya, tapi…aku tidak ingat sama sekali, apa kamu tahu sesuatu?”
Chata termenung sesaat begitu mendengarnya, nampaknya dia tahu sesuatu tentang ini, setelah itu, dia menatapku sesaat, dan mulai berkata.
“Sudah kuduga…kamu…tidak ingat, ya?”
“Tidak ingat apa? Kalau kita pernah bertemu? Sebelum ini?”
“Ya, dan bukan hanya itu saja…”
“Maukah kamu menceritakannya padaku?”
Chata pun terdiam, sepertinya dia sedang memikirkannya, aku merasa, seperti aku sedang mencoba membongkar rahasianya, makanya, aku langsung cepat-cepat berkata.
“Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa, kok, maaf kalau aku bertanya sesuatu yang…rahasia.”
“Tidak masalah, aku akan menceritakannya padamu.”
Kemudian, Chata pun mulai bercerita, “Apa yang dibilang olehnya itu benar, pita ini…adalah pemberianmu, dulu saat kita masih kecil dulu.”
“Jadi…kita…pernah bertemu, dulu?”
“Ya, sepuluh tahun lalu, saat kita masih kecil dulu.”
Aku mencoba mengingat-ingat kembali, namun, ternyata aku tidak bisa mengingatnya, jadi sulit untuk mengatakan kalau ini benar atau tidak.
Kemudian, Chata bertanya lagi, “Apa kamu tahu…mengapa aku ingin sekali menjadi idol seperti ini?”
“Kenapa?”
“Kamu…Eka, kamulah yang membuatku ingin menjadi idol.”
“A…ku? Tapi…bagaimana?”
"Ingat ketika kamu menyemangatiku dulu, saat kubilang suaraku sumbang? Kamu mengatakan kalau aku bisa melatih suaraku supaya bagus, dan…kamu selalu ada untuk mendengarkan suaraku ini, karena itulah…” kata Chata
"Aku berusaha sekeras mungkin, hingga akhirnya, aku bisa memulai debutku menjadi seorang idol.”
lanjutnya.
Aku terkejut mendengarnya, “Tunggu…bukankah itu…” kataku dalam hati
Ya, bukannya itu mirip…dengan mimpiku tadi pagi? Seorang anak laki-laki…yang berusaha menghibur, seorang anak perempuan yang sedang murung itu?
Sementara itu, Chata sedang melepaskan ikat rambutnya, dan menyodorkan pita rambut birunya kepadaku.
“Ini, lihatlah, mungkin…kamu akan mengingat sesuatu.” katanya.
Aku melihat pita biru itu, sesaat aku tidak merasakan apapun, dari apa yang kulihat, kurasa ini buatan tangan
sendiri, tapi, setelah memandanginya beberapa saat, sebuah bayangan memori terlintas di benakku
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Ini, untukmu.” kata si anak laki-laki itu sambil memberikan sebuah kotak berbungkus kertas kado
Si anak perempuan itu pun membukanya, kemudian, dia mengeluarkan isinya yang berupa sebuah pita biru, “Pita biru? Wahhh…imutnya, apa kamu yang membuatnya?”
“Hehe, ya begitulah, walaupun ibuku juga membantu sih, kurasa itu cocok denganmu.” kata si anak laki-laki sambil
tertawa kecil.
“Bisakah kamu memakaikannya untukku?”
“Tentu”
Lalu, si anak laki-laki itu memakaian pita itu pada rambut si anak perempuan.
“Kamu, biasa menata rambut, ya?”
“Yah, aku hanya bisa sedikit, kalau sewaktu-waktu aku punya adik perempuan.”
“Oh iya, kamu anak tunggal, ya?”
Sesaat kemudian, si anak laki-laki pun selesai, rambut si anak perempuan itu dikuncir ponytail dan dihiasi oleh
pita biru itu.
“Bagaimana? Aku hanya bisa seperti ini sih…” kata si anak laki-laki
“Mmm…ini lebih baik, bukankah aku terlihat makin cantik?” kata si anak perempuan
"Ya, kamu cantik, kok, makanya kamu pasti cocok deh, jadi seorang idol.”
"Benarkah?” tanya si anak perempuan, si anak laki-laki pun mengangguk.
“Hei, hei, kalau misalnya nanti aku benar-benar menjadi idol…maukah kamu datang bersamaku nanti?”
“Pastinya dong.”
“Janji, ya?”
“Ya, aku janji”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kesadaranku pun kembali, kulihat lagi pita biru yang ada di tanganku itu, namun, tiba-tiba…
“Aduh! Kepalaku...sakit!” rintihku
Persis setelah itu, kepalaku terasa nyeri yang amat sangat, padahal aku tidak merasakan apa-apa sebelum itu.
“Eka? Eka?! Ada apa?!” kata Chata yang menyadari kalau aku sedang kesakitan.
“Kepalaku…kenapa? Padahal tadi aku…baik-baik saja.”
“Tunggu sebentar, akan kuambilkan obat dulu.”
Perlahan, pandanganku mulai buram, bayangan Chata yang sedang mengambil obat tak jauh dariku mulai memudar, keseimbanganku mulai hilang, dan…
Semuanya berubah menjadi gelap.