
FIRSAFYA ASDREI ERZAC itulah namaku, ayahku adalah seorang pilot bernama Adyeriz Aghytaf Erzac (berdarah campuran Turki dan Rusia) dan ibuku seorang sosialita yang dulunya merupakan seorang model bernama Alexa Arbia Erzac (berdarah campuran Inggris dan Spanyol), ibuku menjadi mualaf sejak dipersunting ayah. Kami tinggal di Spanyol tempat kelahiran ibuku.
Ayahku segala-galanya bagiku, meskipun jarang pulang dia sangat menyayangiku. Berbeda dengan ibuku, yang seharusnya mengurusku sejak kecil ia malah sibuk dengan kegiatan sosialitanya sampai-sampai lupa akan kewajibannya mengurus suami dan anaknya. Sejak kecil aku diurus dengan baby sitter. Ibu selalu pulang malam saat aku sudah tidur dan ketika aku sudah harus berangkat sekolah, ibu masih tidur, saat aku pulang pun ia sudah pergi, begitulah sejak ia melahirkanku sehingga kami jarang bertemu. Sedangkan ayah sangat jarang pulang mungkin bisa sebulan sekali karena ia sering bertugas keluar negeri. Namun ketika pulang ia selalu menghabiskan waktunya bersamaku, apa pun yang aku minta pasti ia turuti karena aku adalah anak perempuan tunggal kesayangannya. Bahkan ayah dan ibu sempat bertengkar karena ayah merasa ibu terlalu sibuk dengan dunianya hingga tidak sempat mengurusku, ayah sudah bilang pada ibu untuk tetap dirumah dan mengurusku namun ibu bersikeras menolaknya,dan bahkan mengancam akan meninggalkan kami. Saat itu usiaku 5 tahun dan aku menangis mendengar pertengkaran mereka, melihatku menangis ayah langsung memelukku dan menyudahi pertengkarannya. Ayahku seorang yang setia dan berpendirian teguh, baginya pernikahan adalah sesuatu yang harus dipertahankan bagaimana pun kesulitan yang dihadapi, jadi ia tak mungkin bisa menceraikan ibu.
Beberapa hari setelah pertengkaran itu ayah harus kembali lagi bertugas. Keesokan harinya ibu mendapat kabar bahwa pesawat yang dikemudikan ayah jatuh dan dari peristiwa itu tidak ada yang selamat begitu pun ayahku.
Kami merasa sangat terpukul, meskipun baru saja bertengkar dengan ayah ibu terlihat sangat sedih, ia tak henti-hentinya menangis hingga pemakaman ayahku telah selesai, sesekali ia memelukku untuk meluapkan kesedihannya. Sejak itu perekonomian kami mulai menurun karena selama ini hanya ayah tulang punggung keluarga, akhirnya ibu memutuskan untuk kerja di perkantoran milik temannya namun gajinya hanya cukup untuk makan kami sedangkan untuk sekolahku ibu mengandalkan uang santunan yang diberikan perusahaan penerbangan tempat ayah bekerja. Setelah aku tamat SMA umur 18 tahun ibu mengirimku ke tempat pamanku (adik ayah) di Turki bernama Arfatab Redisky Erzac, pamanku seorang pengusaha restoran, ia memiliki istri bernama Rafezay Visaqra Erzac dan dua anak laki-laki kembar bernama Redivgyofa Artafa Erzac dan Rakavyoki Artafa Erzac. Ibu mengirimku kesana karena ayah pernah berpesan kepada paman agar menjagaku seperti anaknya sendiri jika ia telah tiada, namun ibu baru mengizinkanku kesana setelah tamat SMA karena ibu merasa ia masih sanggup membiayaiku untuk saat itu.
20 Mei 2010,di bandara internasional Turki
Pukul 04:45 PM tibalah aku di Turki, paman memang sudah mengatakan akan menjemputku disana, tapi aku sudah tidak ingat wajah paman sejak terakhir kali kami bertemu diusiaku yang ke 5 tahun saat dipemakaman ayah.
Ditempat penjemputan aku melihat sekeliling, berusaha mencari siapa tau ada orang yang memegang papan nama bertuliskan namaku.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara laki-laki memanggilku,
"Nona Erzac, tunggu."
Seketika aku langsung menoleh kearahnya,dan laki-laki itu pun langsung bertanya,
"Apa benar anda yang bernama Firsafya Asdrei Erzac?"
"Ya,benar. Maaf anda siapa?"
"Saya Bian, sopir Mr.Arfatab yang diperintahkan beliau untuk menjemput anda nona"
"Tapi..."
"Sebenarnya Mr.Arfatab sendiri yang ingin menjemput nona tapi beliau mendadak ada urusan, jadi memerintahkan saya menjemput nona"
Jelas pak Bian padaku sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku.
Setelah perbincangan singkat itu, pak Bian langsung mengantarku ke rumah paman.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya aku sampai dirumah paman, disana sudah berdiri paman, istri, dan anak-anaknya yang berusia 8 tahun untuk menyambutku.
"Hey sweety, selamat datang di rumahmu yang baru"
Ucap paman padaku
"Aku sangat merindukan kalian"
Balasku sambil memeluk mereka bergantian
"Pasti kamu sangat lelah diperjalanan dan tante yakin kamu belum makan kan?"
"Tante sudah masak banyak untuk kamu Safya, ayo makan dulu, setelah itu kamu bisa istirahat dikamar atas, nanti bu Chisa (ART) yang akan menunjukkan kamarmu"
"Iya tante, terimakasih"
"Safya.. tidak perlu mengucapkan terimakasih. Kamu disini bukan orang lain tapi kamu sudah seperti anak kami. Jadi, anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri dan tidak perlu sungkan untuk bertanya atau minta apapun yang kamu butuhkan"
Ucap tante sambil merangkulku
Untung saja paman sekeluarga dapat menerimaku dengan baik disana,
Keesokannya saat sarapan bersama,
"Safya hari ini ikutlah bersama paman ke universitas tempatmu kuliah nanti untuk mendaftar, setelah itu paman akan mengajakmu ke restoran paman yang tak jauh dari kampusmu"
Ucap paman mengajakku
Belum sempat aku membalas, tante sudah menjawabnya duluan
"Papa, jangan terburu-buru dulu, siapa tau Safya masih capek karena perjalanannya kemarin, biarkan ia istirahat dulu dirumah"
"Gx papa kok tante, Safya udah gx capek, lagian Safya udah gx sabar mau cepat-cepat lihat kampus Safya nanti dan restoran paman."
"Tuh kan Ma.. Safya aja udah gx sabar ya kan Saf"
Ucap paman sambil tersenyum kecil
"Beneran kamu udah gx capek lagi?"
"Iya tante.."
Balasku sambil tersenyum
Firsafya Asdrei Erzac
Adyeriz Aghytaf Erzac (saat wajib militer)
Alexa Arbia Erzac
Arfatab Redisky Erzac ( wajib militer )
Rafezay Visaqra Erzac
Redivgyofa Artafa Erzac
Rakavyoki Artafa Erzac
Erzac ( nama keluarga dari keluarga ayahku )