Fallen Dreams

Fallen Dreams
Yang Bersalah



TW : Negative Thoughts, Self-Harm


"Kenapa kamu berbuat ini pada anak bapak ini? Beliau itu sudah membesarkan anaknya dengan seluruh kemampuannya, dan ternyata hidup anak perempuannya harus berakhir di tanganmu, teman kelasnya sendiri. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?!"


Dafa hanya diam di tempatnya berdiri. Menunduk takut ketika melihat adanya beberapa pasang mata sedang menatapnya tajam. Bahkan ia yakin sekali, kalau para petugas kepolisian yang ada di luar ruangan ini juga ikut mengutuk perbuatan kejinya terhadap Mitha.


Atau malah lebih parah? Mereka mengutuk keberadaan dirinya yang begitu menjijikan, penuh dosa, dan bahkan mengotori dunia ini.


Ah, Dafa mulai menyesal telah berani melakukan itu pada Mitha. Kalau saja saat itu wanita mengerikan ini tak melihatnya dalam tempat haram itu. Kalau saja beberapa hari yang lalu ia tak mendengarkan permintaan wanita itu, ia pasti tak akan masuk ke tempat yang paling ia benci ini.


Dan juga ... Mitha, gadis yang ia sukai itu masih hidup dan bisa menjalani hari-harinya seperti biasa.


*PLAKK!!*


Sensasi panas dan perih seketika menjalar di seluruh bagian pipi kiri Dafa setelah tamparan itu. Ia bahkan yakin kalau tamparan itu yang ia rasa lebih mirip seperti pukulan, akan meninggalkan luka lebam besar yang akan membuatnya terlihat mengerikan. Dafa hanya bisa diam dan tak membalas.


Ia tahu ini adalah kesalahannya juga. Ia pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Oh, dia juga tak perlu memikirkan penyiksaan semacam apa yang akan ia terima di dalam sel tahanan, oleh narapidana yang lain. Ia pernah mendengar kalau pelaku pemerkosaan diperlakukan sangat buruk oleh narapidana dalam sel. Entah tu benar atau tidak. Yang jelas Dafa hanya bisa membayangkan kemungkinan terburuknya.


"Dasar remaja zaman sekarang. Kelakuannya benar-benar sudah gila! Gak waras kamu! Memakai anak orang, membunuhnya juga! Seharusnya kamu gak hidup!" Perkataan yang tajam itu dengan mudah masuk ke telinganya.


Sakit hati? Sepertinya ia tidak pantas merasakan itu. Karena perbuatan laknatnya sendiri sudah merugikan banyak orang. Dari Mitha, bahkan termasuk kedua orang tua Mitha, yang sempat ia kenal dekat dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.


Sialan. Dafa bahkan tak bisa membayangkan betapa kecewanya mereka. Ingin rasanya ia ditelan oleh bumi dan tak pernah hidup kembali. Setelah ini ia yakin kedua orang tua Mitha pasti akan memarahinya habis-habisan.


Argh. Sungguh, ia malu dan jijik setengah mati dengan dirinya sendiri.


"Ssst! Paak, udah pak. Ini bukan waktunya bapak melampiaskan amarah seperti ini."


"Saya gak peduli. Anak perempuan saya juga pasti bakalan masih hidup kalau nggak ada orang-orang seperti dia!"


"Pak, ingat tugas bapak di sini pak."


"Saya harus menegakkan keadilan, Pak Guntur! Kalau saya diam saja, nanti kedudukan saya akan sama saja seperti mereka! Saya harus membalas dendam putri saya! Mereka harus menderita!"


Seorang pimpinan polisi yang menyaksikan kejadian itu menggelengkan kepalanya. Sedikit malu atas perbuatan bawahannya sebenarnya. Tapi ia juga harus memakluminya. Trauma seperti ini bukanlah sebuah hal ringan yang bisa dilupakan begitulah saja seiring waktu.


Sehingga beliau, Pak Hendra, hanya bisa berusaha sabar.


"Hhh ... tarik dia dari ruang interogasi. Kita semua tau kalau dia masih trauma dengan kematian anaknya."


"Baik, pak!" Turut polisi yang bernama Guntur itu bersama satu polisi yang lain.


Lalu Pak Hendra beralih menatap Ridwan, yang sedari tadi tak bisa berkata-kata ketika melihat sosok polisi bertubuh gemuk yang marah-marah itu ditarik paksa oleh beberapa anggota polisi lain. Meskipun awalnya ia berusaha memberontak, namun lama-kelamaan akhirnya beliau menyerah dan menangis.


"Mohon maklumi rekan kami yang kurang melakukan tugasnya dengan profesional, pak. Tiga bulan yang lalu, putrinya diculik, diperkosa, dan dibunuh. Yaa, kurang lebih kasusnya mirip seperti anak bapak. Dan itu menyisakan luka yang mendalam bagi beliau sehingga setiap kali ada kasus pemerkosaan di kawasan ini, beliau yang paling pertama maju untuk memarahi pelaku seperti ini." Jelas sang pimpinan polisi.


"Ahh ... tidak apa-apa, pak. Justru saya malah setuju dengan dia. Orang-orang yang seenaknya menggunakan dan merenggut nyawa anak perempuan itu memang harus diperlakukan seperti itu." Pak Ridwan tak mempermasalahkan.


"Mas!"


Begitu mendengar dirinya dipanggil oleh sebuah suara yang sangat ia kenali, Pak Ridwan menoleh cepat menuju sumber suara itu. Seketika mendapati dua orang berlari ke arahnya. Satu di antaranya adalah anak yang tak ia sangka akan ikut ke sini.


"Natya!" Panggilnya.


"Om!"


"Mohon ikhlaskan kepergian Mitha ya nak ... Om juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau begini." Ujar Pak Ridwan yang lalu menunduk dan menunjukkan raut wajah sedihnya. Terdengar suaranya yang sedikit serak akibat menangis terlalu lama.


"Iya, Om. Saya juga dah gak papa kok."


Bohong. Sebenarnya kalau ia bilang dia sudah tidak apa-apa, itu tidak sepenuhnya benar. Karena memang, ia masih terpukul. Ayolah, manusia macam apa yang dengan mudahnya melupakan sahabatnya begitu saja setelah beberapa jam kematiannya? Natya rasa, orang-orang seperti itu tak pantas dianggap sahabat.


"Ah, seperti yang kamu lihat, pelakunya sudah ditangkap oleh polisi. Dia adalah Dafa. Murid laki-laki yang sekelas dengan kalian."


Cih. Ternyata benar dugaannya. Jadi laki-laki yang menyuntikkan obat tidur dan memperkosanya di ruangan kecil itu adalah Dafa. Untung saja saat itu ia berhasil melarikan diri. Kalau tidak ... kalau tidak, mungkin dia juga akan bernasib sama seperti Mitha.


Sayup-sayup ia mendengar para petugas kepolisian sedang berbicara. Sesekali seperti bertanya pada Dafa, menginterogasi lebih tepatnya, kemudian disusul dengan komentar dari para petugas kepolisian itu.


"Kamu disuruh jawab dari tadi diam saja. Kenapa? Kamu takut?"


"Kamu berani menggunakan dan mempermainkan nyawa anak orang. Giliran dibawa ke sini, kamu diam seribu bahasa. Kamu benar-benar sudah keterlaluan. Saya gak habis pikir."


"Orang tuamu mendidikmu di rumah dengan cara apa sih? Bisa-bisanya sampai terjadi hal seperti ini."


Dafa nampak mulai kewalahan dengan mendengarkan seluruh pertanyaan yang menghujamnya bertubi-tubi itu. Kepalanya hanya ia tundukkan. Matanya tertuju pada ubin yang saat ini menjadi tempat ia memijakkan kaki. Entah kenapa semakin lama ia berdiri, ruangan ini seakan perlahan menyedotnya ke lubang yang gelap.


Padahal ruangan ini terbilang luas dalam pandangannya. Tapi entah kenapa otaknya menerjemahkan bahwa ruangan itu semakin lama semakin menyekap dan menghimpitnya. Dadanya terasa sesak tiba-tiba.


"Kenapa?"


*DEG!*


Suara ini. Suara ini! Suara dari seseorang yang paling ia takutkan saat ini. Dari semua orang yang ada di dunia ini, kenapa Tuhan harus mempertemukannya dengan Natya? Sahabat Mitha, yang juga merupakan mantannya dulu? Apa menurut-Nya, ini adalah langkah terbaik yang bisa diberikan untuknya karena ia pantas mendapatkannya?


Dafa yang sedari tadi menunduk akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya untuk melihat keberadaan gadis itu. Sial. Ternyata benar. Natya ada di sini. Ia terlihat kacau. Dengan bajunya yang acak-acakan, bibir dan matanya juga lumayan bengkak.


"N-Natya??"


Oh. Ia sudah tau bagaimana kedekatan Natya dan Mitha. Dafa pikir akan sangat wajar apabila Natya bereaksi seperti itu. Apalagi kepergian sahabatnya ini sangatlah mendadak. Itu pasti mengganggu ketenangan mentalnya.


Rasa bersalah yang parah membuat Dafa terpaksa menelan salivanya.


"Kenapa, Daf?" Tanya Natya dari balik kaca ruang interogasi. Suaranya terdengar bergetar. Seperti sedang menahan diri untuk tetap tenang dan tidak memaki Dafa.


Tapi entahlah. Mungkin sebentar lagi dia juga akan kehilangan kesabarannya. Dafa tau betul bagaimana mengerikannya kemarahan orang-orang sabar seperti Natya. Dan Dafa yakin, ia tak akan sanggup menyaksikan itu.


Karena rasa takut luar biasa yang menyerang tubuhnya, Dafa tak bisa menjawab.


"Kenapa lo ngelakuin semua ini ke Mitha? Belum puas?"


"N-Nat--"


"Padahal kemaren-kemaren lo baru aja make gue dan ngebuang gue begitu aja."


...hah?


Tunggu, apa? Kemarin? Memakai dan membuang Natya begitu saja? Apa maksud Natya? Padahal dia ingat, kemarin-kemarin itu dia belum pernah sekalipun pergi ke luar rumah dan melakukan hal-hal buruk pada Natya.


"B-bentar, maksudnya ap--"


"Bahkan gua sampai hamil gara-gara elu. Lu sadar nggak si, kerusakan separah apa yang lu buat ke gua, juga orang tua Mitha, dengan semua ini?"


"A-apa?! Lo ... lo hamil?! Nat! Sumpah, bukan gua! Gua nggak--"


Oh sial. Sial. Sialaaaan! Brengsek! Ia baru menyadarinya. Anak itu! Anak itu pasti yang telah melakukan hal itu pada Natya. Kurang ajar, kalau saja ia tidak terperangkap dalam tempat ini, mungkin ia sudah bisa lari menemui anak setan itu dan menghabisinya sampai dia mati!


"Apa? Mau bilang nggak mungkin? Mau bilang kalo gua cuma bohong? Iya?"


"Natya sumpah, Nat! Itu bukan gua! Lu harus percaya sama gua!"


Hening. Tak ada sepatah kata pun yang bisa Dafa keluarkan lagi untuk mendukung argumennya. Karena ia pikir, itu akan percuma juga. Dia tidak punya bukti jelas untuk menjebloskan anak itu ke dalam penjara juga sepertinya!


'Dasar para Hell Claw!' Batinnya memikirkan salah satu geng motor musuhnya. Ia bahkan tak suka dengan Hell Claw. Aksi mereka benar-benar sadis, berandal, dan tak patut untuk ditiru.


"Maaf ... Mbak Natya?"


Sementara Dafa sibuk dengan pikirannya, Natya, yang dipanggil hanya menoleh.


"Apa yang barusan mbak katakan itu benar? Bahwa Dafa juga sudah memperkosa mbak sampai mbak ... maaf, hamil?"


...apa-apaan?! Bukankah apa yang barusan ia ucapkan itu sudah jelas? Bukankah beliau melihat sendiri bagaimana raut wajah Natya saat mengatakan itu tadi? Tidakkah beliau bisa membaca gerak-geriknya untuk diam dan percaya bahwa apa yang dia katakan itu benar? Seharusnya beliau bisa berfikir begitu!


"Memangnya bapak pikir saya bohong?" Tantang Natya yang saat ini berbalik badan menghadap Pak Hendra sembari menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.


"B-bukan seperti itu. Saya hanya ingin mengkonfirmasi."


"Bapak sudah jelas dengar apa yang saya katakan barusan kan?" Kali ini nada suara Natya semakin ditinggikan.


"N-Natya ... jangan berbicara seperti itu pada bapak polisi, nak." Tante Fitra kali ini menahannya dari belakang.


Entah bagaimana ia bisa berada di depan wanita itu tadi padahal ia tak merasa bergerak sedikitpun dari tempat awalnya berdiri, yakni di sebelah Tante Fitra. Tapi masa bodoh. Ia sudah tak peduli lagi! Kemarahannya benar-benar tak bisa dibendung lagi sekarang!


"Maaf Tante, tapi aku masih ingat gimana beliau seenaknya menangkap aku dulu." Ujar Natya yang lalu menatap Pak Hendra sinis.


"Hhh ... itu karena mbak sudah mengotori fasilitas umum. Kami kan sudah membuat peraturan baru, dimana kalau mbak mau mencari orang yang hilang, tak perlu menempelkan kertas-kertas foto orang hilang itu. Cukup laporkan pada kami melalui nomor WhassApp resmi atau melalui DM sosial media kami, mbak." Jelas polisi itu berusaha membela dirinya.


"Saya tuh cuma mau nyari kakak saya!! Ibu saya sering memaksa saya untuk mencari kakak!! Kalau tidak, saya akan dihukum!! Saya nggak salah!! Saya cuma terpaksa!!"


'Bohong ... kamu tau kamu rela melakukannya karena memang, itu semua salahmu. Kamu terlalu egois sampai membuat Bang Rizal pergi dari rumah. Dan baru-baru ini, kamu tau kalau dia kecelakaan dan lupa ingatan. Itu semua gara-gara kamu. Jadi pantas saja kalau pak polisi itu menganggap kamu salah.'


*DEG!*


Bisikan itu ... dia kembali lagi. Sialan. Sialan. Sialaaan! Kenapa hidupnya saat ini harus rusak sampai separah ini? Tuhan, tolong berhenti! Hentikan apapun! Apapun cobaan berat yang akan Engkau turunkan kelak pada Natya! Natya sudah tak sanggup. Sumpah. Natya lelah.


'Kamu salah ...'


Tidak.


'Kamu salah.'


Hentikan!


'KAMU SALAH!!'


BERISIK!


"ARGH!! CUKUP!! AKU NGGAK SALAH!!" Teriak Natya yang tiba-tiba mencengkram kepalanya sendiri. Lalu beralih memukul-mukul kepalanya.


Semua orang yang ada di dekat Natya langsung menjalankan aksi mereka untuk menghentikan Natya. Mereka sebenarnya tak begitu mengerti mengapa Natya bisa bereaksi begitu histeris. Namun untuk saat ini, mereka lebih memilih untuk mengabaikan itu dan menolong gadis yang saat ini masih menyakiti dirinya sendiri.


Dafa yang menyaksikan adegan dramatis itu menatap Natya khawatir sekaligus merasa bersalah karena tak bisa melakukan apapun untuk membantu Natya. Sementara yang lain sibuk memanggil namanya agar ia sadar dari apapun yang merasukinya hingga menjadi seperti ini.


"Istighfar Natya! Jangan menyakiti dirimu seperti ini!"


"Mbak Natya, saya mohon untuk tenang dulu."


"Natya, tolong berhenti!"


Hingga tiba-tiba, perutnya terasa sakit.


*Nyut!*


"Aw!"


Rasa nyeri itu berhasil mengejutkan Natya hingga ia mau berhenti memukul dirinya sendiri. Tubuhnya perlahan tumbang dengan posisi duduk. Untungnya, Natya masih kuat untuk tetap sadar. Ia lantas memegang perutnya.


"Natya!" Teriak Om Ridwan dan Tante Fitra bersamaan.


"Nat!" Dafa seketika berlari ke arah pintu dan berusaha untuk keluar dari ruangan interogasi dengan mencoba mendobraknya. Namun gagal karena ia sudah dihadang lebih dulu oleh beberapa polisi dari luar.


"Kamu, diam di situ! Jangan deketin Natya!" Teriak Om Ridwan.


"...saya cuma mau membantu--"


"BERISIK!! PERGI KAMU!! AAAAAARGH!! DASAR BRENGSEK!!" Jerit Natya tak karuan. Namun mulutnya ia tutup kembali saat rasa nyeri kembali menghadangnya.


"Bu, lebih baik ibu antar Mbak Natya ke rumahnya saja. Supaya dia bisa istirahat. Apa ibu bisa melakukannya?"


"Ah, iya! Baik, pak!"


"Natya, ayo ..." Ajak Tante Fitra yang lalu membantu Natya berdiri. Begitu pula Om Ridwan.


Natya hanya bisa pasrah mengikuti perintah dari mengangguk di sela-sela tangisannya. Kemudian ia dibantu berjalan oleh Tante Fitra dan pergi meninggalkan kantor polisi bersama beliau dan masuk ke mobilnya. Sementara Om Ridwan, beliau akan tetap di sana dan menyelesaikan semua urusannya dengan Dafa.


...══════ ∘◦❁◦∘ ═══════...


"Sudah. Sekarang kamu masuk ke dalam rumahmu sana. Kamu kecapekan dan harus istirahat. Jaga kesehatanmu dan bayimu. Hari ini pasti sangat melelahkan." Perintah Tante Fitra dari dalam mobil.


Natya yang sudah turun dari tadi hanya bisa tersenyum kecut. Namun karena tak mau diam terlalu lama, ia akhirnya mengiyakan perintah wanita itu.


"... baik Tante." Turutnya.


"Yasudah. Tante pulang dulu yaa! Assalamu'alaikum." Pamit sang Tante yang berlalu pergi.


"Wa'alaikumussalam ..." Balasnya.


Begitu lama Natya berada di luar untuk memperhatikan bagian belakang mobil mewah yang dikemudikan oleh Tante Fitra. Mobil itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Setelah itu, ia lantas melangkahkan kakinya perlahan untuk memasuki rumah. Tangan kanannya dengan pelan menggerakkan gagang pintu untuk membuka benda berbahan dasar kayu itu.


Namun begitu membuka pintu itu, Natya mematung di tempatnya seketika.


Pemandangan yang saat ini ia lihat begitu mengerikan. Pecahan-pecahan kaca berserakan di ruang tamu. Tak lupa beberapa bingkai gambar hasil karyanya yang sejak lama ia banggakan malah ia dapati sudah hancur bersama kaca-kaca di lantai.


Nafasnya menderu seketika. Tidak. Tidak. Tidak! Tidak mungkin kan kalau itu terjadi?! Ibunya bercanda kan?!


Ia lalu mendengar adanya suara barang yang dipukul-pukul dan dipecahkan dari dalam. Ditemani dengan suara teriakan frustasi ibunya. Tak mau lama-lama diam di tempatnya, ia lantas berlari masuk tanpa menghiraukan pintu rumahnya yang terbuka.


Tidak. Ini semua bohong kan? Ini semua hanya ilusi yang ia lihat kan? Tolonglah. Tolong. Tuhan, sekali ini saja. Biarkan dia bahagia.


Namun sepertinya harapan itu pupus. Karena begitu ia lari masuk, ibunya menghentikan perbuatannya dan menoleh ke arah Natya dengan mata melotot. Hidungnya tampak begitu merah dan bengkak. Begitu pula matanya. Seolah beliau habis mengeluarkan tangisan yang luar biasa histeris.


Natya terperangah di tempatnya berdiri seketika.


"I ... ibu?"