Fallen Dreams

Fallen Dreams
Pembicaraan Serius



Selama perjalanan, Natya hanya diam saja di kursi penumpang. Sementara Tante Fitra yang sedang fokus menyetir mobil kecil miliknya saat ini masih memasang tampang seriusnya. Sepasan bola matanya menatap lurus ke depan. Tak ingin jika ia melewatkan persimpangan jalan yang menuju kantor polisi.


Natya menatap wanita itu cukup lama. Mengobservasi setiap inci bagian wajahnya. Make up yang sedari tadi ia pakai tampak sedikit berantakan karena menangis tadi. Tapi setidaknya penampilan wajahnya tak terlalu parah. Mata dan bibirnya tak terlalu bengkak. Masih tetap cantik dan terlihat awet muda.


Terkadang Natya sendiri terheran bagaimana orang-orang seperti beliau bisa menjaga keindahan wajahnya. Apa beliau menggunakan perawatan kulit khusus, atau itu memang berkat gen spesial yang dimiliki beliau. Saking terawatnya, Natya sampai-sampai melihat sekilas sosok Mitha ada pada dirinya.


"Kenapa kamu mengeluarkan perkataan-perkataan seperti tadi, nak?" Tanya Tante Fitra yang memecah keheningan.


Natya yang mendengar pertanyaan itu seketika menundukkan kepalanya. Suasana di dalam mobil itu seakan terasa mencekiknya dan membuatnya tak bisa bernafas. Natya sampai harus mengatur nafasnya sendiri karena kecemasan parah tiba-tiba menyerangnya.


Ia takut mengenai apa yang saat ini sedang dipikirkan Tante Fitra. Natya yakin pasti Tante Fitra sangat kecewa padanya. Karena di mata beliau, Natya adalah sosok alim yang taat agama dan tak pernah mempertanyakan kekuasaan Tuhan dengan ucapan-ucapan yang tidak pantas seperti tadi.


Beliau pasti sangat tak menyangka jika kalimat-kalimat tadi itu bisa dengan mudahnya keluar dari mulut Natya.


"M-maaf Tante ... a-aku merasa muak, kecewa, dan kesal. Habisnya dari dulu aku merasa kalau aku hidup dalam sebuah siklus. Kalau aku mendapat kebahagiaan hari ini, pasti ada saja hal yang akan merusaknya setelah itu. Entah esoknya, atau beberapa hari kemudian. Dan itu terjadi berulang kali."


Hening. Sama sekali tak ada jawaban dari sang petanya. Sementara Natya yang duduk di samping wanita itu hanya bisa menahan keinginan untuk memeluk dirinya sendiri. Tak terasa, air matanya menetes kembali.


"Kita tidak boleh mempertanyakan soal apa yang Tuhan lakukan, Natya." Tante Fitra akhirnya berujar.


Hati Natya yang sedang begitu sensitif akhir-akhir ini —entah memang karena kehamilannya atau karena kesedihannya yang begitu parah setelah kematian Mitha—, dengan cepat merasa tersinggung. Telinganya yang saat ini masih berfungsi menangkap adanya sekilas nada sedingin es dari mulut wanita itu. Membuat Natya semakin menundukkan kepalanya takut.


"Kamu tahu, Tuhan membuat kita tinggal bersama dengan orang-orang seperti yang kamu katakan itu bukan karena Tuhan ingin membuat kita menderita. Tapi Tuhan ingin agar kita bisa berfikir untuk memaknai segala sesuatu yang terjadi dengan bijak dan sabar." Tante Fitra mulai menjelaskan dengan perlahan.


...hah? T-tapi ... bagaimana bisa begitu? Otak pintar Natya yang biasanya cerdas dan mudah memahami perkataan seseorang itu ternyata tak mampu menerima informasi yang saat ini ia terima. Jelas saja, karena hal itu tidak masuk di akal Natya. Bukankah memang begitu cara kerjanya? Bukankah seseorang menyakiti orang lain itu karena dia ingin membuat orang lain menderita ya?


Tapi karena ia menganggap Tante Fitra layaknya ibunya sendiri, Natya tak berani memotong dan mengatakan bahwa itu mustahil. Lantas, gadis itu tetap mendengarkan seluruh ocehan, panjang lebar, dari ibu keduanya itu.


"Tuhan ingin agar kita mengambil pelajaran dari semua hal dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kamu sendiri menyaksikan bagaimana orang bisa begitu jahat pada Mitha atau seseorang yang kamu sayang. Dan karena itu, mungkin kamu nggak akan memaafkan sang pelaku kejahatan. Tapi dari hal itu kamu sendiri pasti akan berusaha supaya kamu bisa berbuat baik pada orang lain?" Tanya beliau.


Natya menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti. Tante ini bicara apa sih, pikirnya.


"Hhh ... maksud Tante, dari hal itu kamu belajar bahwa pelaku pemerkosaan itu keterlaluan. Dan ke depannya kamu berniat untuk mencegah orang lain agar tidak diperlakukan dengan sama seperti Mitha. Kamu mungkin tak bisa menyelamatkan Mitha dari itu. Tapi kelak, kamulah yang paling pertama menjadi pelindung orang lain jika suatu saat, orang akan mengalami kejadian yang serupa. Anggaplah ini seperti menyelamatkan 'Mitha' yang lain. Kamu paham kan, maksud Tante?"


Akhirnya, di saat Tante Fitra berhenti bicara itulah, Natya menyuarakan pendapatnya.


"Tapi kan tak harus dengan cara seperti itu juga, Tante. Tuhan kan bisa melakukannya dengan cara yang lain. Cara yang sama seperti para manusia umumnya, seperti yang tadi aku katakan?" Tegas Natya.


"Hahaha! Ya ampun, Natya. Kamu kok bisa-bisanya sih menyamakan Tuhan dengan ciptaan-Nya?" Tawanya yang lalu menggelengkan kepala seolah-olah pertanyaan yang dilontarkan Natya terdengar konyol di telinga wanita itu.


*DEG!*


Oh, jangankan menyusun kata-kata. Dirinya saja tidak bisa berfikir jernih atau tenang ketika ibunya mengajaknya berdebat. Pikirannya selalu kacau dan kosong saat debat dan membuatnya tak bisa menyangkal argumen ibunya dengan argumennya yang lebih logis.


Sehingga berakhir dengan ibunya yang tersenyum miring penuh kemenangan. Dan hal itu sungguh mengganggu kenyamanan Natya karena setelahnya, mau tak mau, Natya harus mengalah dan mengiyakan pendapat ibunya.


"Cara Tuhan itu berbeda, nak. Lebih unik. Mungkin di beberapa kasus, akan terlihat kejam. Tapi sebenarnya Tuhan selalu ingin mengajarkan manusia di balik semua peristiwa itu. Kita saja yang perlu berfikir kritis untuk itu."


Ketika Tante Fitra melihat Natya hanya diam di tempatnya duduk dan mendengarkan dengan seksama, beliau meneruskan penjelasannya.


"Tuhan memang sudah menetapkan ujian yang berat pada hamba-Nya karena Dia sayang dan Dia ingin agar kita menambah ibadah kita pada-Nya. Ujian itu memang tak indah. Tapi Tuhan sudah menjanjikan reward yang nilainya jauh berlipat ganda kelak. Entah itu di dunia, atau di akhirat."


"Soal orang-orang yang jahat itu, tak usah khawatir. Tuhan tau apa yang mereka lakukan. Dia tak akan segan membuat mereka menyesal suatu saat nanti. Entah mereka mendapat hidayah sehingga mereka dibebani dengan rasa bersalah yang mendalam dan merubah diri, atau mereka mendapat hukuman yang lebih berat dari apa yang telah mereka perbuat."


"Beneran?"


"Tentu saja. Percaya sama Tante."


Natya hanya bisa mengangguk. Tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan karena ia mulai bosan dengan ceramah Tante Fitra. Pantas saja Mitha bisa menjadi anak yang ilmu agamanya luas seperti itu. Ternyata dari didikan orang tuanya.


Natya sendiri tak begitu mengerti apapun tentang agama. Ibunya, dan sang ayah (semasa hidup), tidak begitu menjelaskan apapun tentang agama yang mereka anut. Natya sendiri tak mengerti bagaimana bisa ada hiasan dinding bertuliskan Lafadz Allah di dalamnya dan Salib yang dijadikan bersebelahan di rumahnya.


Yang ia tau, ibunya adalah seorang muslim. Tapi tak sealim Tante Fitra. Sementara ayahnya merupakan seorang Katolik. Keduanya hanya mengajarkan dasar-dasar agama mereka masing-masing tanpa memberikan detailnya. Sepertinya mereka tak begitu peduli soal agama. Yang mereka pedulikan hanyalah anaknya yang harus senantiasa menghormati, melaksanakan perintah, dan membuat mereka bangga dengan cara yang mereka mau.


"Tuhan sudah menentukan kapan hari 'penyesalan' itu akan tiba untuk menimpa mereka. Kita mungkin nggak tau, tapi Tuhan sudah menentukannya. Percayalah. Yang penting kita hanya perlu fokus pada peran kita sebagai Makhluk ciptaan-Nya. Yakni beribadah, menimba ilmu, meraih kesuksesan, dan segala macamnya. Kita tak boleh ikut campur dalam urusan Tuhan, nak. Kita juga tak boleh meragukan-Nya. Kita tak tahu apapun di sini. Yang tahu segalanya cuma Tuhan." Jelas Tante Fitra yang lalu mengakhiri perbincangan ini.


Natya yang tak tau harus bereaksi seperti apa hanya bisa kembali mengangguk dan mengiyakan. Tak mau urusannya akan semakin panjang kalau ia menantang Tante Fitra.


"...iya Tante."


"Ah. Kita sudah sampai. Ayo turun!"


.


.


.


Bersambung...