Fallen Dreams

Fallen Dreams
Prolog



Seorang gadis dengan kerudung hitam sedada tampak berjalan tanpa tahu arah. Tatapannya kosong seperti sudah menyerah dari sesuatu. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri yang merasakan hawa dingin yang sedari tadi mengusik kenyamanan tubuhnya.


Gadis itu lalu menoleh dan mendapati adanya jembatan besar yang dibangun di atas Sungai Liwosari. Jembatan itu tampak kokoh meskipun sudah sejak beberapa dekade lalu dibangun. Era penjajahan merupakan saksi bagaimana jembatan itu berdiri.


Untuk sementara, gadis itu tampak ragu. Kakinya yang sudah siap membawanya ke tengah sana entah kenapa seperti ditahan oleh sesuatu.


Sejak kapan alas kakinya terasa berat seperti ini? Padahal ia sudah meyakinkan diri untuk menerima dengan lapang dada apapun yang akan terjadi setelah ini. Tapi kenapa sesuatu di dalam hatinya malah menjerit kepadanya, dan berusaha menyadarkannya untuk tidak melakukan itu.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Langkah kakinya ia arahkan menuju jembatan itu. Langkahnya tampak sedikit goyah, menahan tubuhnya yang sudah tak sanggup menopang beban, juga rasa sakit dan kecewa yang ia pikul saat ini. Kalau ia boleh memilih, ia tak ingin merasakan pahitnya hidup yang tak adil ini.


*Sreeett!*


Suara alas kaki yang bergesekkan dengan jalanan aspal terdengar samar di telinga. Dalam suasana pagi buta dengan udara dingin yang menusuk tulang itu, ia terus berjalan menuju tengah jembatan. Sesekali menatap aliran sungai yang begitu deras di bawahnya.


Tangan gemetarnya meraih rok denim yang ia pakai dengan perlahan untuk menghilangkan ketakutan yang ia rasakan saat ini. Berusaha menguatkan diri untuk menghadapi masa-masa terakhirnya hidup saat ini.


Sehingga saat ia sudah sampai di tengah-tengah jembatan, tangannya mengeras. Bisa terdengar suara gigi digertakkan begitu keras. Nafasnya menderu. Berusaha mengontrol emosi yang mengalir begitu cepat ke dada. Menolak mentah-mentah air mata yang sudah terbentuk di pelupuk matanya.


Dadanya begitu sakit. Tak menyangka jika semua perjuangannya dan pemberontakkannya akan berakhir seperti ini. Dia pikir dengan berjuang dan memberontak, ia akan mendapatkan kebebasan untuk mengurai karyanya. Dia pikir ini Tuhan mengizinkannya untuk melawan demi impiannya.


Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Semua itu hanyalah harapannya yang tak akan pernah bisa ia wujudkan. Semuanya percuma sekarang. Pupus ke dalam angan yang sudah sejak lama ia serahkan pada semesta.


Sosok pelita yang ia hormati secara terang-terangan menolak keputusan dan mematahkan harapannya. Memaksa gadis itu untuk berputar arah menuju yang beliau kehendaki.


Kedua sayapnya yang tadinya ia gunakan untuk mencapai impiannya yang tinggi, kini telah musnah. Digantikan dengan sayap buatan pelitanya. Tentunya sayap itu tidaklah sama dengan sayap sebelumnya.


Lebih berat. Menggunakannya saja harus dengan sesak dan paksaan yang sakitnya tak terkira. Namun ia sudah tak punya pilihan lain selain terus berusaha untuk terbang. Sehingga mau tak mau, ia hanya bisa menerima takdir pahit yang saat ini menemani. Hingga akhirnya, ia tak sanggup lagi dan sampai pada tempat terkutuk ini.


Tempat yang konon katanya adalah tempat membuang mayat-mayat pribumi yang mati karena kelelahan dan kelaparan setelah melakukan kerja paksa demi memenuhi memenuhi kepuasan nafsu para penjajah bejat. Entah itu benar atau tidak.


Tapi dari yang ia dengar, tempat ini juga menjadi lokasi terakhir yang paling disukai bagi orang-orang yang sudah lelah menghadapi kerasnya dunia. Pantas saja. Jembatan ini sudah melewati banyak sejarah kelam untuk diberikan julukan 'Jembatan Tengkorak'.


"M-maafkan aku..." Ujarnya sembari menatap pembatas jembatan yang saat ini sudah berada di depannya.


Lalu kakinya itu secara perlahan menuntunnya turun ke bagian pembatas yang lebih rendah dari jalan yang tadi ia singgahi. Ia memejamkan matanya sebentar. Sebentar saja. Ia hanya ingin menghirup udara segar pagi buta ini sejenak sebelum akhirnya memulai perjalanan akhir hayatnya.


*Tes-tes*


Seketika air matanya menetes. Ia masih saja diam di sana penuh keraguan. Apakah ini akhirnya? Benarkah ini yang diinginkan oleh Tuhan untuknya? Dengan berhenti mengejar mimpinya dan menyerah?


Ia menggigit pelan bibir bagian bawah. Apakah tindakannya ini sudah benar? Kalau ia sudah melakukannya, apakah pelitanya nanti akan menyesali semua perbuatan buruk yang beliau timpakan padanya dan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi di kemudian hari?


Ataukah kemariannya ini juga akan percuma saja? Dan beliau tidak akan memberikan penghormatan atas apa yang telah ia korbankan untuknya? Tidakkah beliau melihat betapa menyedihkannya kondisi anaknya ini?


"Ck! Hentikan!"


Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Tak mau menghabiskan banyak waktu untuk meratapi nasibnya yang tak seindah orang lain dan terus jatuh ke dalam jurang kesengsaraan.


"Kalau memang hanya ini jalan untuk mengakhiri penderitaanku, aku lebih baik melakukannya bukan?" Ujarnya yang lalu dilanjutkan dengan tawa paksaan.


"Bukankah benar apa kata orang, seorang anak tidak ada nilainya jika belum membanggakan orang tua? Sedangkan aku pun tak pernah bisa membanggakan orang tuaku sendiri dan hanya bisa menjadi seonggok beban yang tak berguna." Lanjutnya sembari tersenyum kecil.


Ia menegakkan tubuhnya.


"Dari dulu memang takdir hanya mempermainkanku saja, bukan?" Ucapnya sembari mendengarkan suara keras gemuruh sungai di bawah sana.


"Takdir tidak ingin melihatku menang. Bahkan hanya sekali saja. Dia selalu menjatuhkanku lagi, dan lagi."


"Kalau memang takdir tidak ingin melihatku bersinar, lebih baik aku dari awal memadamkan semangatku dan menyerah kan? Toh ujung-ujungnya akan begini juga. Hahaha!"


Gadis itu dengan cepat membentangkan tangan dan bersiap menjemput ajalnya yang terasa semakin dekat. Iya. Ini adalah akhirnya. Akhir dari kisah menyakitkan yang sudah ia alami selama bertahun-tahun lamanya itu adalah di sini. Di tempatnya berdiri.


Ia tahu dunia sudah tak membutuhkannya lagi. Maka dari itu, ia akan dengan sukarela mengundurkan diri lebih awal.


"Selamat tinggal." Ucapnya yang langsung melompat bebas dari ketinggian.