
Saat ini di alun-alun kota diadakan lomba melukis, dan Natya, adalah salah seorang dari pesertanya. Setelah pengumuman hasil lomba tadi, Natya dinyatakan berada dalam posisi juara harapan satu dan diberi hadiah berupa uang sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah.
Meskipun terbilang sedikit, namun Natya tetap mensyukurinya karena setidaknya perjuangannya terbayar dan dia bisa mengikuti lomba tanpa adanya gangguan atau halangan sejauh ini.
Yaah ... itu harapan yang tampaknya sangat mustahil sih. Karena sebelum-sebelum ini ia sudah mengalami banyak rintangan yang menghambatnya mengikuti kegiatan seperti ini.
Seperti larangan dari ibunya misalnya.
Ia ingat betul bagaimana sang ibu yang sangat ia hormati berusaha keras untuk menghalanginya mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pengalamannya seperti ini. Tak terhitung berapa banyak kata-kata menyakitkan yang dikeluarkan oleh sang ibu padanya. Bahkan beliau sampai tega mempermalukan Natya di depan teman-teman beliau.
Natya hanya tersenyum kecut kala mengingat itu. Rasa sakit yang selama ini menemaninya seolah hilang begitu saja ketika ia menginjakkan kakinya di tempat lomba ini untuk pertama kalinya. Benar-benar seperti sebuah berkah yang besar baginya.
Kini, ia sedang berhadapan dengan seseorang dari masa lalunya yang sempat menghilang. Seorang pria berwajah familiar. Pria itu memakai baju berwarna biru muda dengan pola kotak-kotak yang rapi. Lengkap dengan setelan celana panjang dan sepatu berwarna hitam yang begitu mengkilap.
Iya. Seseorang yang ada di hadapannya ini, adalah seseorang yang berarti dalam hidupnya yang selama ini ia cari. Dan kini, ia sudah menemukannya! Rizal Ghifari Chandara! Kakaknya yang 5 tahun menghilang, kini sedang berada di hadapannya.
Tapi entah kenapa, Rizal terlihat seperti tidak mengenalinya. Bahkan barusan saja ia menanyakan siapa sebenarnya Natya itu.
"Bang Rizal! Akhirnya aku ketemu juga sama abang setelah pencarian selama 5 tahun ini!"
"Ehm ... maaf, kamu siapa ya?"
Natya yang terkejut mematung di tempatnya cukup lama. Namun pada akhirnya ia berusaha mengabaikan kalimat yang keluar dari mulut kakak laki-lakinya itu. Mungkin kakaknya itu sedang bercanda. Atau ia sedang menguji Natya.
Tapi ... bagaimana jika ia tidak bercanda? Dari sudut pandang Natya pun, gadis itu yakin sekali. Natya tahu betul bagaimana tampang orang yang benar-benar tak tahu, dan orang yang hanya melakukannya sebagai candaan belaka. Karena itu Natya harus sesegera mungkin berbicara dengan sang kakak dan mengingatkannya pada Natya.
"Maaf, sepertinya saya nggak inget kamu. Apa kamu kenal saya? Orang-orang terdekat saya bilang kalau saya pernah kecelakaan dan hilang ingatan. Mungkin itu yang membuat saya nggak begitu ingat kamu?" Tanya lelaki berambut hitam yang sedikit gondrong itu dengan menaikkan sebelah alisnya.
Ah ... begitu rupanya. Ternyata itulah sebabnya ia tak mengingat apapun tentang Natya dan tak kembali ke rumah pada malam itu. Malam yang membuatnya begitu trauma. Malam yang merenggut orang sekaligus hewan peliharaan kesayangannya.
Ia sendiri tak tau bagaimana kabar Miko, kucing kampung berwarna hitam kesayangannya. Yang selalu orang dan ibunya bilang hanya akan membawa sial karena warnanya. Yang selalu dibilang hanya akan membuang-buang uangnya demi kebutuhan kucing itu.
Entah bagaimana orang bisa berfikir demikian. Padahal Natya yang telah menyelamatkan nyawa kucing itu dari kerasnya hidup di jalanan. Menyelamatkannya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab yang suka sekali menyiksa, bahkan menghilangkan nyawa hewan kecil yang tak tau apa-apa itu.
Kembali ke masa sekarang.
Natya masih saja menatap sang kakak dengan tatapan cemasnya. Berharap-harap agar Rizal mampu mengingatnya kembali dalam waktu yang terasa lama berputar. Namun tentu saja hal itu tak akan mungkin terjadi. Natya pun hendak mengajaknya berbicara lebih lama.
Setidaknya dengan mencoba mengingatkannya pada masa lalunya, mungkin Rizal akan perlahan memulihkan ingatannya kembali.
Namun sialnya, di momen-momen penting ia ingin berbicara kembali dengan sang kakak, teleponnya justru malah berbunyi!
Ugh. Sial. Kenapa setiap kali ia ingin melakukan hal yang berharga baginya, selalu saja ada hal lain yang mengganggunya?
Ia langsung menempelkan gawainya di telinga yang tertutup kerudung hitam segitiganya. Tangan kanannya menggenggam handphone itu begitu keras sampai-sampai Rizal yang saat ini ada di depannya khawatir kalau handphone itu akan hancur karena kuatnya genggaman gadis itu.
"Halo! Assalamu'alaikum?" Sahut Natya yang terus berusaha mengontrol dirinya agar tak meneriaki siapapun orang yang menelponnya saat ini.
"Wa'alaikumussalam ..." Ujar sang penelepon dari seberang sana dengan suara bergetar. Suara itu seperti sedang menahan tangis agar ia tetap stabil.
Natya mengerutkan dahinya.
"Natya, nak ... habis ini boleh tolong temani tante di rumah sakit nggak?" Tanya Fitra –ibu dari Mitha, sahabat Natya– yang masih berusaha sekuat tenaga agar suaranya tak terdengar kacau.
"T-tante? Tante kenapa? Kok di rumah sakit? Ada apa, Tan?"
"M-Mitha ... d-dia ... kondisinya kritis *hiks*"
'Hah?! M-Mitha?! Kritis?!'
"Astaghfirullah, Tante! Kok bisa?! Tadi dia masih sama Natya di sini! Dia tadi pamit ke--"
Natya membelalakkan matanya begitu cepat. Seketika gadis itu teringat kalau tadi Mitha, sahabatnya, pamit keluar sendirian sebelum lomba dimulai. Iya. Sendirian. Tanpa ada yang menemani, dan mengawasinya.
'S-sialan. Apa jangan-jangan selama dia di luar pengawasanku, sesuatu yang buruk terjadi?!' Batin Natya dengan isi pikirannya yang mulai semrawut.
Sementara Rizal yang melihat adanya perubahan yang drastis pada raut wajah Natya membuat ekspresi kebingungan dengan sebelah alisnya yang terangkat seolah-olah mengisyaratkan pertanyaan apa yang sedang terjadi pada Natya. Namun Natya yang sudah terlanjur syok karena mendengar berita buruk itu mengabaikannya.
"Sialan."
Sebuah umpatan keluar begitu saja dari bibir tipis Natya. Rizal yang mendengar itu menatap gadis itu tajam. Mengisyaratkan bahwa itu bukanlah perkataan yang tepat ketika ia berada di depan seseorang yang baru ditemuinya.
Atau setidaknya itulah yang Rizal pikirkan. Karena ia masih berfikir bahwa ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
"Sialan, sialan, sialan!!"
Kepanikan tertera pada wajah cantik gadis berkerudung putih itu. Gestur tubuhnya menandakan bahwa ia sedang gelisah. Tubuhnya yang semula diam karena tegang menjadi banyak bergerak ketika rasa panik menguasainya.
'Br*ngsek!! Kenapa tadi aku ngebiarin dia pergi?!'
Pikirannya sudah kalut memikirkan berbagai kemungkinan hal buruk yang terjadi di luar sana hingga membuat kondisi Mitha kritis.
"T-tunggu sebentar, Tante! Sebentar lagi Natya ke sana kok! Ini Natya udah selesai lombanya! Habis ini mau langsung naik angkot!"
"*Hiks* Hati-hati nak ..."
"Iya Tante. Tunggu Natya ya! Assalamu'alaikum!" Pamitnya yang langsung menaruh handphone-nya di saku baju seragamnya yang ia kenakan.
Gadis yang panik itu kemudian menatap sang kakak serius dan mengambil secarik kertas yang sudah ia tuliskan nomor teleponnya sebelum ini. Ia lantas mengambil tangan kakaknya paksa dan membukanya. Lalu menaruh kertas tersebut di telapak tangan Rizal dengan cepat.
"M-maaf, a-aku ... aku harus pergi ke rumah sakit. Kalau Bang Rizal mau bicara sama aku lagi, ini nomorku yaa! Terima kasih, Bang! Natya pamit dulu! Assalamu'alaikum!" Ujarnya yang langsung berlari keluar dari tempat lomba.
"W-wa'alaikumussalam ... Nat-ya?" Balasnya yang seketika memikirkan nama gadis itu.
"Natya? Nama itu sepertinya familiar. Tapi siapa ya?" Matanya menatap ke atas dengan kedua alis yang bertaut.
Ia berfikir begitu keras untuk menciba mengingat-ingat siapakah gadis itu di masa lalunya. Namun sayang usahanya itu tetap tak berhasil hingga akhirnya ia menyerah. Rizal lalu menurunkan arah pandangnya pada kertas kecil yang Natya berikan tadi padanya.
'Aku harus bicara dengannya lagi. Mungkin ini adalah kesempatan bagiku untuk memulihkan kembali ingatanku. Dia mengenalku, bisa saja dia adalah seseorang dari masa laluku yang tau betul tentang siapa diriku yang sebenarnya.' Batin Rizal yang kemudian berlalu pergi.