Fallen Dreams

Fallen Dreams
Penjelasan Mencengangkan



"Tante!"


Panggil Natya ketika mendapati Fitra, ibu dari sahabatnya Mitha, sedang duduk di depan sebuah ruangan sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terdengar suara isakkan begitu keras darinya. Saat mendengar teriakan Natya, wanita itu lantas menoleh ke arahnya.


Dari sudut pandangnya, Natya bisa melihat betapa merahnya wajah wanita itu. Hidungnya yang sembab, mata dan bibirnya yang sudah membengkak karena menangis terlalu lama. Di tangannya terdapat segumpalan tisu sudah basah yang Natya asumsikan adalah tisu untuk mengelap air matanya.


Tak lama kemudian, Fitra bangkit dari tempat duduk itu, berlari ke arah Natya dan memeluknya begitu erat. Natya berani bersumpah kalau setiap detiknya isakkan wanita itu terdengar semakin keras. Tubuhnya yang saat ini memeluk Natya bahkan terasa gemetaran begitu hebat.


"Natya! Ya Allah *hiks* Natyaaaaa ... maafin Tante, Natyaa *hiks*" Ucap sang tante yang hanya bisa meracaukan kata-kata maafnya di telinga gadis itu.


Natya yang baru saja sampai sontak menampakkan raut wajah kebingungannya. Maaf? Untuk apa Tante Fitra meminta maaf padanya? Padahal beliau tidak salah apa-apa pada Natya. Yang salah di sini adalah dia.


Karena dia yang telah mengizinkan Mitha untuk pergi keluar tempat itu. Sialan. Sekarang barulah ia mengerti alasan kenapa ibunya selalu menganggapnya bodoh. Kenapa mulutnya bisa begitu ringan mengeluarkan kata 'Iya' pada Mitha sebelum ini?


"T-tante ... kenapa minta maaf?" Tanya Natya yang lalu melepaskan pelukan Fitra dan mendorong tubuh wanita itu pelan untuk melihat lebih jelas wajahnya.


Untuk sesaat, beliau tampak ragu. Sehingga Natya mau tak mau harus menuntunnya agar duduk kembali di kursi yang tadi beliau tempati. Dalam beberapa detik itu, Fitra hanya bisa melanjutkan tangisannya. Natya yang melihat itu terus mengelus punggung sang tante pelan dan terus berusaha memberikannya kalimat-kalimat penenang.


Sampai akhirnya, wanita itu memejamkan matanya dan mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sedari tadi.


"Mitha sudah pergi, Nat."


*DEG!*


Pergi? Apa maksudnya pergi? Nafas Natya tercekat seketika. Ia membelalakkan matanya. Terpampang jelas ekspresi keterkejutannya sampai Fitra yang sedari tadi menunggu respon dari anak itu kembali menangis. Ia masih tak menyangka putri kecilnya yang dari dulu ia rawat dan didik sampai sebesar ini akhirnya meninggal dengan tragis.


Kenapa? Kenapa Tante Fitra hanya menangis dan tidak menjelaskan padanya apa maksud dari kata 'pergi' itu? Tidak ... Mitha tidak mungkin ... meninggal kan?


Seketika jantungnya berdetak kencang sampai membuat Natya harus mengatur nafasnya. Entah kenapa telinganya terasa berdenging. Oh. Kenapa penglihatannya tiba-tiba buram? Kenapa kepalanya terasa seperti berputar di sini? Tubuhnya bahkan ikut menjadi lebih berat dari biasanya.


"H-hah?! M-maksud tante?!"


Tidak. Natya mohon jangan kata itu. Sialan. Natya baru saja bersyukur pada Tuhan karena telah memudahkan segala urusannya dari sebelum pergi lomba hingga hari ini. Ia pikir waktunya diuji sudah selesai. Ia pikir saat ini hanyalah bahagianya saja.


Tapi sepertinya Tuhan masih ingin menguji Natya dengan yang lebih buruk dari sebelumnya. Dan sayangnya, Natya belum mempersiapkan diri untuk menghadapi itu. Kalau Natya pikir-pikir lagi, biasanya setelah ujian seperti ini akan ada lagi ujian yang dua kali lipat lebih berat dari yang sebelumnya.


Entah apa ujian yang akan Tuhan berikan padanya setelah ini, tapi yang jelas Natya tak mau memikirkannya untuk saat ini. Karena saat ini, ada cobaan berat yang harus ia hadapi.


"*Hiks* Mitha udah meninggal! *Hiks* Astaghfirullah, Ya Allah! Putriku yang malang! Dia meninggal karena disiksa dan diperkosa oleh lelaki biadab itu!!"


'Hah?! D-disiksa? Diperkosa?! Mitha meninggal?!'


Mitha? Temannya yang selama ini menemani dalam suka-dukanya, gadis yang selama ini selalu mendengarkan pendapatnya dan menghargainya, gadis yang selalu mendengarkan keluh kesahnya, gadis yang rela membantu dengan apapun demi kemudahannya.


Mitha yang dulu hidup senang tanpa adanya beban, kini harus terbujur kaku di dalam ruangan yang ada di belakangnya. Mitha yang dulu selalu bersamanya, kini harus pergi. Dan itu semua, tak lain dan tak bukan karena perilaku bodoh Natya.


Oh Tuhan, tolong katakan pada Natya bahwa ini semua hanyalah lelucon yang hanya dibuat-buat oleh otaknya sendiri. Atau hanya mimpi buruk yang seperti biasa mengusiknya dalam tidur. Atau hanya halusinasi semata.


Apapun itu!


Karena Natya tak sanggup merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya jika ini memang kenyataannya. Tidak mau. Natya tidak bisa kehilangan sosok yang begitu ia sayangi sampai sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


'Engkau berbohong kan ... Tuhan?'


...


Jadi, pada akhirnya ia akan terus menerus mengalami kejadian buruk seperti ini dalam hidupnya? Tapi kenapa?


Apakah Tuhan marah padanya hanya karena ia berani berbohong pada ibu dan menantang beliau? Begitukah? Sampai-sampai sahabat Natya lah yang harus membayar semua itu dengan nyawanya sendiri? Dan Tuhan mau menghukum Natya dengan berita ini?


Tidakkah Dia melihat betapa rapuh dan hancurnya jiwa Natya sekarang? Bukankah seharusnya dengan kondisi Natya yang seperti ini, Dia memberi sedikit keringanan dan tidak memberinya rasa sakit yang sedemikian rupa seperti ini? Kenapa Dia tidak mau memahami Natya?


Seketika, bayang-bayang di otaknya menunjukkan sekelebat kenangannya bersama Mitha semasa mereka bersama.


"Nanti kalau Art Gallery-mu dah jadi, aku mau ke sana! Mau lihat sendiri hasilnya! Eh ... tapi tiket masuknya jangan mahal-mahal ya, hihihi!"


"Tenang aja, Nat. Aku bakal selalu mendukung kamu!"


"Jangan terlalu dengerin apa kata temen-temen ibumu, Nat. Kamu tau sendiri perkumpulan ibu-ibu itu seperti apa. Isinya hal-hal yang gak bermutu. Kalo kamu mau bikin mereka nyesel, buktikan ke mereka dengan meraih prestasi sebanyak mungkin dari menggambar itu."


"Kamu kuat banget loh. Kalau aku ada di posisimu sih, mungkin aku udah jadi gila, Nat."


"Kenapa kamu ragu buat ambil kesempatan emas ini? Harusnya kamu yakin dong sama kemampuanmu!"


"Aku cuma mau kamu nggak memendam semuanya sendiri. Kan aku sahabatmu. Harusnya kamu percaya aku!"


"Aku tinggal dulu yaa! Nanti kita ketemu lagi!"


*DEG!*


"M-Mitha ... m-meninggal."


Dan seketika, pandangannya berubah menjadi gelap.


══════ ∘◦❁◦∘ ═══════


Natya perlahan membuka matanya dan memeriksa sekeliling. Bau obat. Tentu. Ia ingat kalau hal terakhir yang ia lihat dan dengar sebelum kesadarannya menghilang adalah dinding rumah sakit dan teriakan Tante Fitra. Ia mengernyitkan dahinya.


Ugh. Entah kenapa sinar dari lampu yang ditangkap oleh matanya saat ini begitu menyilaukan hingga membuatnya sakit kepala.


Oh.


Dia berada di atas brankar rumah sakit. Tunggu, apa ini berarti Tante Fitra yang meminta tolong para tenaga medis yang berjaga untuk membawanya ke sini? Apa ia juga sampai menyuruh dokter di sini untuk memeriksa keadaannya?


Ugh. Dasar Natya. Suka sekali merepotkan orang. Dan lagi-lagi, Natya harus berhutang pada beliau.


*Sreekk!*


Suara gorden yang digeser membuyarkan lamunannya seketika. Natya menoleh. Mendapati Tante Fitra masuk melalui sela-sela gorden yang terbuka. Wanita itu menatap Natya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun Natya tak mau ambil pusing.


Mungkin saja beliau masih terpukul karena kepergian anaknya yang terlalu mendadak.


*Deg!*


'Mitha ...'


Sialan. Ia baru mengingat kalau Mitha sudah meninggal. Dan Natya harus menelan pil pahit bernama kenyataan itu.


Inikah yang namanya hidup? Penuh dengan jatuh bangun yang seolah tak ada habisnya membuat manusia sengsara? Lantas jika memang ini adalah bagian dari roda kehidupan, apakah ia harus menemui kedamaian abadi yang bernama kematian untuk menghentikan semuanya?


"Natya ..."


Yang dipanggil membuyarkan lamunannya kembali dan menatap si pemilik suara. Aneh. Suara Tante Fitra terdengar ... serius? Kesal? Sedih? Entahlah. Yang jelas Natya sendiri tak bisa menentukan emosi apa yang beliau ungkapkan di balik nada bicaranya yang tak biasa.


"Iya, Tante?"


"Kamu habis melakukannya dengan siapa?"


...hah? Apa maksudnya?


Sumpah. Kenapa setiap hari ia masih saja mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan seperti ini? Apa ada yang salah dari Natya? Melakukan? Memangnya dia habis melakukan apa? Padahal Natya sendiri tidak merasa melakukan hal yang macam-macam sebelumnya.


"Maksud Tante apa?" Tanya Natya kebingungan.


Tante Fitra menghela nafasnya sekejap. Kemudian berjalan perlahan mendekati Natya. Masih dengan tatapan anehnya. Alisnya turun, namun beliau juga tak tampak marah. Setidaknya itu membuat Natya lega. Ia tak mau mendapati dirinya dimarahi juga oleh seseorang yang ia anggap sebagai ibu sendiri.


Begitu ia sampai di dekat Natya, ia mengambil kursi di dekat brankar dan duduk. Beliau mulai menjelaskan.


"Tadi kamu pingsan dan tante nyuruh dokter yang jaga buat meriksa kamu secara menyeluruh." Jelasnya.


"M-maaf ... Tante mungkin kedengaran berlebihan, tapi sepertinya setelah kepergian Mitha, Tante malah jadi takut kehilangan kamu juga karena kamu sudah tante anggap seperti anak sendiri. Makanya Tante menyuruh dokter itu untuk memeriksa kamu secara menyeluruh. Tekanan darah, dan segala macam. Tante takut kalau kamu sampai sakit."


"Untungnya, dari pemeriksaan itu, dokter menyatakan kamu sehat. Hanya terbawa syok karena berita tadi."


Tante Fitra terdiam cukup lama. Sudah? Itu saja? Tak ada yang aneh dan ia sehat-sehat saja? Lantas apa yang sebenarnya Tante Fitra pertanyakan--


"T-tapi masalahnya ... dokter itu juga mengatakan kalau saat ini ... kamu sedang ... hamil." Lanjutnya yang seketika membuatnya tersentak.


*DEG!*


"Hah?!" Jeritnya tak menyangka.


"Aku ... hamil?"


.


.


.


.


.


Bersambung...