Fallen Dreams

Fallen Dreams
Tak Disangka



"Aku ... hamil?"


Apa? Aku tidak salah dengar kan? Hamil? Bagaimana bisa aku hamil?! Aku yakin sekali kalau aku tidak pernah melakukan hal haram itu dengan siapapun kecuali saat--


Oh.


Sialan.


Tidak mungkin kan karena waktu itu? Waktu itu yang entah bagaimana, membuatnya terjebak di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang redup. Ia ingat betul, bagaimana tubuhnya seolah sulit digerakkan di ruangan terkutuk itu.


Ditambah sebuah fakta bahwa tubuh bagian bawahnya terekspos, menjadi pemandangan yang menjijikan baginya saat pertama kali ia bangun. Kedua tangannya diikat ke belakang. Sementara kedua kakinya terbuka lebar. Siapapun yang telah berbuat ini padanya, pasti telah membiusnya hingga ia tak sadarkan diri begitu lama.


Ugh. Membayangkannya saja membuatnya mual.


"Hei, hei ... tenanglah. Tante nggak marah. Tante cuma mau menanyakan soal ini ke kamu karena tante ingat, kamu itu anak yang baik-baik. Kamu pasti punya alasan di balik semua ini." Jelas sang tante lembut. Natya sempat merasakan jemari halus wanita itu menyentuh pucuk kepalanya yang tertutup kain kerudung.


Ya Tuhan. Mitha sangat beruntung. Sudah hidup bergelimang harta, memiliki ibu dan ayah yang suportif dan pengertian seperti beliau, sifatnya yang humble membuatnya memiliki banyak teman. Sungguh kehidupan yang bisa membuat siapapun iri.


Sayang sekali waktunya hidup di dunia begitu singkat, sehingga ia tak bisa menikmati kehidupannya yang indah itu begitu lama.


"Bukan aku yang melakukannya Tante. Tapi ... a-aku, aku diperkosa oleh seseorang. Aku ingat sebelum aku pergi dari tempat itu, aku lihat wajahnya mirip seperti Dafa, teman sekelas kami." Jelasnya.


Mengetahui wanita itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, Natya terus menjelaskan.


"A-aku tidak yakin apakah dia adalah orang yang sama karena saat itu pencahayaannya lumayan buruk. Bisa jadi dia adalah orang yang berbeda."


Tanpa Natya sadari setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Argh! Inikah yang dinamakan pengaruh hormon? Karena sesuatu yang berada di rahimnya, ia mudah menjadi emosional seperti ini.


Kalau saja Mitha masih hidup saat ini dan melihat kondisinya yang begitu memalukan, pasti gadis itu akan tertawa dan mengatakan kalau itu bukan seperti Natya-nya. Natya itu seharusnya adalah perempuan tangguh sejati! Ia tak akan mudah menangis meskipun beban yang ia alami berkali-kali lipat lebih parah dari yang Mitha alami.


'Mitha brengsek! Kenapa harus pergi duluan sih?!' Batinnya yang saat itu sudah mulai sesenggukan kembali seperti anak kecil.


"*hiks* Aku udah berusaha supaya dia nggak nyentuh tubuhku! Sebelum dia melakukan itu, aku ditahan. Aku memberontak supaya bisa lepas dari jeratannya. T-tapi ... obat tidur yang dia suntikkan ke tubuhku bener-bener bikin aku nggak bisa ngapa-ngapain dan--"


*Grep!*


Seketika Natya merasakan tubuhnya ditarik ke dalam pelukan sang tante yang sedri tadi menatapnya iba. Natya yakin, beliau pasti teringat dengan Mitha karena kasus yang Natya alami juga serupa dengan apa yang putrinya alami. Natya yang merasakan itu semakin menangis sejadi-jadinya.


"*hiks* Kenapa kamu gak bilang ke Tante, nak? Meskipun ibumu mungkin gak akan mendengarkan, tapi kan ada Tante." Ucapnya seraya mengusap-usap punggung Natya dengan arah seperti pola lingkaran.


Natya masih saja menangis. Ia bahkan yakin kalau baju sang Tante pasti sudah basah karena air mata mereka berdua.


Ternyata benar. Tuhan dengan mudahnya memberikan kabar buruk padanya. Benar kan, dugaannya tadi? Oh jangan kaget. Natya sudah hafal pola-pola peristiwa dalam hidupnya. Dan itu selalu saja seperti ini. Seolah hidupnya hanyalah sebuah siklus kapan dia menjadi pemenang dan kapan ia mendapat kekalahan.


Dan yang paling dia takutkan adalah, bagaimana kalau sampai ibunya tau soal kehamilannya ini? Kalau itu benar-benar terjadi, ia sangat yakin kalau itu akan menjadi cobaan yang setelahnya. Cobaan yang paling berat dan yang paling bisa membuat Natya trauma.


Kalau ini dikatakan sebagai alur dari sebuah cerita, mungkin itu akan menjadi ******* dari kehidupannya yang tak akan sanggup ia hadapi. Bahkan ia sendiri tak yakin soal penyelesaian dari ******* itu. Antara akan berujung menjadi bad ending untuknya, atau tak akan ada penyelesaiannya.


Haha. Hidupnya bahkan sampai bisa dibandingkan dengan sebuah alur cerita. Menggelikan, bukan? Bahkan kalau ditanya sekarang, sepertinya ia sangat yakin kalau hidupnya hanyalah sebuah fiksi belaka. Lucu sekali.


Natya lalu menuntun tangan kanannya untuk menyentuh perutnya sendiri.


Aneh. Ia baru sadar kalau perutnya saat ini agak mengeras.


Rasanya mustahil jika ia disuruh membayangkan bahwa ada sebuah makhluk kecil yang hidup di dalam sana. Terlebih lagi dirinya yang tak pernah terpikirkan dan ingin untuk memiliki anak di masa depan karena perlakuan buruk dari ibunya.


Natya memang tidak mau jika di masa depan ia akan menjadi seperti ibunya. Dia bahkan sudah belajar sedikit tentang Parenting dan ia yakin ia akan menjadi ibu yang baik. Tapi ia takut jika suatu saat tak bisa mengontrol diri dan malah melukai hati anaknya. Seperti apa yang ibunya lakukan padanya setiap hari.


'Gimana reaksi ibu kalau nanti tau soal ini? Aku bisa mati!' Batinnya ketakutan.


"God is not fair, right? (Tuhan itu nggak adil, kan?)" Ujarnya yang seketika membuat Tante Fitra menatapnya tak percaya.


"A-apa maksud kamu?" Tanya Tante Fitra dengan nada terkejut.


"Orang-orang selalu berkata kalau kita diamanahkan oleh Tuhan sebuah cobaan yang begitu berat sampai nyaris membuat kita kehilangan akal sehat, itu berarti Tuhan sayang pada kita dan tau bahwa kita mampu menerimanya. Bukannya itu salah ya?"


"... Natya--"


"Lihat deh, Tante. Cobaan yang aku alami seperti ini. Dan cobaan-cobaan berat yang dimiliki orang lain itu juga. Di sisi lain, aku hidup berdampingan dengan orang-orang yang hidupnya enak-enak saja. Seolah gak ada beban dan senang-senang saja. Seperti Mitha contohnya."


"Nat--"


"Lalu kita juga berdampingan dengan orang-orang yang dengan kehadirannya saja hanya bisa merugikan, menyusahkan, dan menyakiti orang lain. Seperti ibuku misalnya."


"Tuhan sengaja menciptakan orang-orang seperti kita, orang-orang seperti Mitha, dan orang-orang seperti ibuku, berdampingan di dunia ini. Bukankah di situ lah salahnya?"


"Astaghfirullah Natya!! Kamu--"


"Apa yang dimaksud orang Tuhan itu sayang pada hamba-Nya ketika menimpakan masalah yang lebih untuk mereka, Tante? Bukankah jika dipikir-pikir lagi secara logis, itu tidak masuk akal? Padahal Tuhan sendiri benci adanya kerusakan yang dibuat oleh manusia seperti ibuku. Tapi justru dengan membuat kita semua berdampingan, bukankah itu yang akan menambah populasi orang-orang jahat juga? Apa yang sebenarnya Tuhan lakukan?"


"Natya, cukup!!"


"Tante pasti tau kan kalau orang jahat itu lahir dari orang baik yang tersakiti? Yang pada akhirnya juga akan merenggut kebahagiaan orang lain juga mengurangi populasi orang baik? Dalam kasus ini seperti Mitha contohnya."


"N-Natya--"


"Lantas kalau memang itu yang terjadi, kenapa masih ada orang yang beranggapan bahwa Tuhan itu adil dan sayang pada kita ketika kita mengalami cobaan seberat ini? Cobaan kita kan disebabkan oleh orang-orang jahat seperti ibuku dan yang lain! Yang entah kenapa Tuhan sengaja mengizinkan mereka hidup bersama kita dan berkeliaran di luar sana untuk mencari mangsa selanjutnya."


"NATYA!!"


"AKU HAMPIR KEHILANGAN KEWARASANKU TANTE!! TAPI KENAPA ORANG-ORANG SEOLAH NGGAK MAU NGERTI DAN BILANG KE AKU SUPAYA LEBIH SABAR KARENA ITU BENTUK KASIH SAYANG TUHAN?! TERUS KALO AKU NGGAK SABAR, BERARTI AKU GAK MENGANGGAP TUHAN SAYANG?!"


"Nggak bisakah Tuhan memberikanku atau kita, kasih sayang dengan cara yang normal begitu? Seperti orang-orang pada umumnya yang memberi hadiah, belas kasih, atau apalah?! Kalo emang sayang kenapa aku masih terus dikasih cobaan begini terus?! Malah makin berat setelah aku tau Mitha meninggal dan tau aku hamil bukan karena pemerkosaan itu!"


"*Hiks* Nggak tau juga setelah ini kalau ibu tau soal kehamilanku. Mungkin reaksi ibu, yang aku yakin bakalan buruk, akan jadi pola ******* yang sama seperti dulu-dulu. Bedanya sekarang, aku dah yakin aku nggak bakal kuat menghadapinya."


"...Natya."


"Aku capek. Aku capek. Aku capek. Capek, capek, capek, banget. Aku udah berusaha sekuat mungkin supaya menghindari kesalahan dan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Tapi tetap aja aku mengalami hal buruk yang gak diinginkan. Aku mau mati. Apa gunanya hidup kalau di ujung perjuanganku, pada akhirnya bakal begini terus?"


Wanita berusia 38 tahun itu terdiam cukup lama. Entah karena ingin membiarkan Natya untuk meneruskan curahan hatinya atau memang ia bingung untuk mulai merespon dari mana, karena ada banyak sekali perkataan Natya yang harus sesegera mungkin ia luruskan sebelum Natya mengambil kesimpulan yang salah.


Baru saja ia ingin membalas perkataan Natya, teleponnya berdering. Alhasil ia harus menghentikan niatnya untuk bicara kembali dan menyibukkan diri untuk mencari handphone yang ia taruh di dalam tasnya.


Setelah mendapatkan handphone itu, beliau mengangkat panggilan dan berbicara kepada siapapun yang berada di seberang sana. Tapi kalau Natya dengar-dengar dari pembicaraan beliau dengan orang ini, sepertinya beliau sedang berbicara dengan suaminya, atau ayah dari Mitha, Pak Ridwan.


"Eh? Iyakah?!" Tanyanya yang tampak sekilas menunjukkan keterkejutannya.


Apa mereka sedang membicarakan soal pelaku pemerkosaan itu? Sepertinya iya. Dari wajah kesal dan tubuhnya yang menegang, itu sudah menjadi jawaban yang jelas untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otak Natya.


Setelah begitu lama berbicara, gawai itu ia taruh kembali pada tempatnya.


"Ada apa Tante?" Tanyanya.


"Katanya pelakunya sudah ditangkap. Ternyata apa yang kamu asumsikan memang benar Natya. Pelakunya adalah teman sekelasmu. Dafa."