Do You Love Me?

Do You Love Me?
Dekapan kedua



Bel pulang sudah berbunyi sejak 25 menit yang lalu. Namun, Nayra masih saja terlihat santai dan enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia sibuk menatap ponselnya yang berdering tanpa henti. Sekiranya ada 30 lebih panggilan tak terjawab yang sengaja ia abaikan. Nayra tidak perduli, apakah itu penting atau tidak. Dia hanya suka mendengar nada dering ponselnya itu.


Mungkin memang mustahil, merasa tidak perduli dengan kenyataan. Berusaha untuk tidak melihat walaupun sebenarnya sudah ada di depan mata. Namun, Nayra merasa perlu kuat untuk terus berpura - pura mampu. Berusaha tidak memerlukan siapapun dan apapun. Walaupun ia tahu, ia tak akan pernah bisa sendirian. Dia memang perlu dikasihani, diberi pelukan, dan dicintai.


" Akhirnya gue tahu kenapa lo dijuluki orang sibuk"


Suara yang mendadak muncul di belakangnya membuat Gadis itu mengalihkan pandangannya. Dahinya bergelombang menemukan pemilik suara tersebut.


" Sejak kapan lo duduk disitu?" Tanya Nayra dengan suaranya yang mulai parau.


" Sejak 41 panggilan masuk itu lo abaikan"


Nayra cukup kaget, pasalnya ia merasa dirinya sendirian sejak tadi. Dan Nayra sudah memastikan sendiri setelah bel itu berbunyi.Namun rupanya ada orang lain di dalam kelas selain dirinya sendiri. Pertanyaanya adalah, Bagaimana makhluk ini bisa masuk dan duduk di belakangnya tanpa Nayra ketahui?


" Lo masuk ke sini lewat mana?"


" Pintu"


" Kok gue gak liat "


Dia terkekeh dan kemudian menghampiri Nayra. Tangannya meraih kursi di sebelah Nayra dan mendudukinya, " Gue kan malaikat, ga suka nunjukin diri kalo makhluk yang gue datengin punya aura negatif"


Nayra tidak mengerti dan tidak perduli.


" Siapa yang nyuruh lo duduk di samping gue?"


Belum sempat Pria itu menjawab, Ponsel Nayra berdering lagi. Keduanya beralih untuk menatap layar ponsel itu. " Kenapa ga lo angkat aja si?"


" Gue gamau"


" Tapi itu kan nyokap lo yang telpon "


" Gapeduli"


" Siapa tahu penting Nay, mendingan lo angkat! "


" Bodo amat"


" lo sebenci apa si sama nyokap?"


Nayra menatapnya sinis, " Bukan urusan lo"


Davian menghela napasnya kasar. Memang harus ekstra sabar jika ingin menghadapi Nayra. Terakhir kali Gendang telinganya hampir pecah karena Nayra. Dan ia hampir mati muda semalam karena Gadis ini. Dia tak ingin lagi. Gadis ini memang keras kepala, mangkanya Davian ingin melunakannya secepat mungkin.


" Itu jadi urusan gue sekarang, lo kan temen gue"


" Lo nyebelin tau Nay" Ungkap Davian kemudian, Ketika tidak mendapati jawaban dari Nayra.


" Gue nyebelin? yauda pergi aja sana"


Ponsel Nayra berdering lagi. Davian yang lumayan emosi itu segera meraihnya dan menjauhinya dari Nayra. Nayra geram, kemudian mencoba mengambil ponselnya dari tangan Davian yang tengah menjulang itu, namun tentu saja tidak berhasil.


" BALIKIN HP GUE?! "


" gamau" kata Davian yang kini sudah naik di atas meja.


" DAV, SINIIIN HP GUE !?!?!?"


" Bodo amat"


" BALIKIN ITU NYOKAP GUE "


Davian tersenyum bangga, " Gapeduli"


" LO NYEBELIN BANGET SIH, SINIIN GAK HP GUE !?!? CEPETAN AH !?"


" Gue nyebelin? yauda pergi aja sana ..." Katanya seolah mengikuti ucapan Nayra sebelumnya.


"DAV, BALIKIIIIIIN !?"


Bukannya dikembalikan Davian malah menjawab panggilan itu. Dengan cepat ia turun dari meja dan menempelkan ponsel Nayra ke telinganya. Wajah Nayra yang tampak kebingungan membuat Davian menekan tombol Loudspeaker.


" Halo?"


"Halo? Ara? "


Mata Nayra melebar saat mendengar suara Mamanya itu. Nayra murka, ia kemudian merampas ponselnya dari Davian dengan kasar. Dan menginjak kaki Pria itu sebagai balasannya.


Davian meringis, " Ah, Sakit Nay"


" Ara? " panggil suara diponsel itu.


" I- Iya Ma"


" Dimana kamu? kenapa belum pulang?, Mama perlu bicara sama kamu"


Nayra menatap Davian penuh selidik, seolah ia sedang mencari jawaban di mata Davian. Sementara Davian malah mengangkat bahunya dan merasa tidak berdosa sedikitpun.


"Nayra dimana kamu ? "


" Bicara soal apa?"


"Kamu dimana? kamu pulang sekarang, Kita selesaikan masalah kamu sama Bianca dan kelakuan kamu di sekolah ... Kamu dimana ra? Pulang atau Mama jemput sekarang? ! "


" Apa maksudnya kamu baik - baik aja? Kamu dimana?"


" Di sekolah, Mama gak perlu kesini. Kalau mama mau bicara, bicara aja sekarang"


" Ngapain kamu masih di sekolah? Kamu mau terjun lagi dari rooftop? Setelah kamu buat Bianca cedera, kamu mau buat masalah apa lagi hah? Kamu makin hari semakin gak tahu diri ya Nayra ! "


" Ara baik - baik aja Ma" Lirih Nayra.


" Stop bilang kaya gitu, Dasar anak gak tahu di untung. Mama capek ngurusin kamu, Kamu buat masalah terus, Kamu buat Mama malu, Jangan Kamu pikir mama gatau Nayra—"


" Bai Mah" Potong Nayra, seraya mengakhiri percakapan. Gadis itu kemudian mematikan ponselnya dan menaruhnya kedalam saku seragamnya.


Davian yang melihat sekaligus mendengar itu mulai speechless . Dia tidak lagi bertingkah seperti tadi, Davian mulai mengerti posisi Nayra ada dimana. Dan masalah apa yang sedang menyelimutinya. Namun sekali lagi Davian hanya speechless dan pikirannya dipenuhi rasa bersalah.


" Sorry" Kata Davian, kemudian.


" Makasih" Jawab Nayra, Gadis itu meraih tas ranselnya diatas meja dan mulai meninggalkan Davian sendirian.


" Nay! Nayra!"


" Nay tungguin gue!" Panggil Davian, ia terengah - engah saat mengejar Nayra di koridor.


" Nayra lo mau pulang?"


" Nay lo pulang bareng gue ya" Pinta Davian seraya meraih pergelangan tangan Nayra.


Nayra yang tengah berjalan itu secara tiba -tiba menghentikan langkahnya, dan Davian secara spontan pun melakukan hal yang sama.


Davian yang tengah berdiri disebelah Nayra merasa sangat bersalah, nyalinya seolah menciut. Dia sepertinya mencoba siap menghadapi teriakan Nayra yang akan segera berlangsung itu. Namun Gadis itu malah menatap nanar ke arah Davian, seolah tidak sedikitpun berniat mengeluarkan suaranya.


" Please Nay, gue anterin lo sampe Rumah" Pintanya lagi, kali ini nada bicaranya penuh penekanan.


" Lo bilang apa?"


" Gue minta maaf, gue salah. Gue gak tahu kalo Lo dan nyokap—" Katanya terhenti, ia tidak ingin melanjutkan ucapannya lagi setelah melihat mata Gadis itu mulai basah.


"Gue anterin lo pulang ya?"


Nayra menyeringai, " Gue bisa pulang sendiri, mendingan lo gausah deh ikut campur masalah gue lagi"


" Gue gak bermaksud ikut campur, Gue cuma mau bantu lo"


" GUE GA BUTUH BANTUAN LO, ATAU SIKAP SOK PERDULI LO. KALO LO MAU BANTU GUE, PLEASE BANGET, JAUHI GUE DAN JANGAN GANGGU HIDUP GUE LAGI"


" Gue gak bisa"


" YAA KENAPA GAK BISA DAV?"


" NAY !" Bentak Davian, suaranya yang keras membuat Nayra terdiam begitu saja. Tanpa sadar air mata Gadis itu jatuh, dan tanpa sadar pula tangan Davian tergerak untuk menghapusnya. Davian yang melihatnya sangat terluka langsung mendekap tubuh Nayra dengan erat. Dekapan itu terjadi lagi, kedua kalinya.


Jantung Nayra berdegup kencang, ketika pelukan itu kembali lagi. Dia seketika berhenti mengeluarkan air matanya. Rasanya nyaman, rasanya tenang, tidak tahu mengapa emosi dan rasa sakit Nayra hilang begitu saja. Sepertinya dirinya akan selalu tersihir oleh Davian.


Gadis itu tidak bergerak, dan tidak bisa merasakan apa - apa selain kehangatan. Sebenarnya Nayra sangat takut Davian mendengar detak jantungnya yang sudah tidak karuan. Tapi ia tetap tidak berkutik, sampai akhirnya Davian melepaskan dekapannya itu.


" G-ue ga-k bu-tuh Lo disini" ungkap Nayra dengan ucapan yang patah -patah.


Dahi Nayra bergelombang menemukan senyum Davian tertahan pada wajahnya yang setengah ketakutan. Benarkah dia sedang ketakutan ?. Nayra malah menebak Davian seperti orang yang sedang salah tingkah.


" Gue gak perduli kalo Lo berpikir ga butuh gue Nay, tapi gue butuh Lo. Lebih dari yang Lo tahu"


Nayra mengamati perkataan Davian dengan mata yang sembab. Namun, hatinya perlahan tenang. Seolah semua rasa sakitnya tersalurkan dan dilepas bersama dekapan Davian tadi.


" Lo butuh gue? Lebih dari yang gue tahu?"


" Ya, gitu deh. Pokoknya Gue cuma mau jadi teman lo aja kok"


Nayra memutar kedua bola matanya, seakan lah mendengar kata teman " Oh, Ok terserah lo"


"Eh Nay!" Cegah Davian ketika Nayra mulai beranjak meninggalkannya. Tangannya kembali sampai pada pergelangan tangan Nayra. " Gue anterin lo pulang ya?"


Nayra melepaskan tangan Davian, " Dav Gue gak benar - benar mau pulang"


" Oke, kalau gitu gue anterin lo kemanapun lo pergi "


Nayra terkekeh menyadari Davian yang tampak Naif kepadanya. Gadis itu mengabaikannya, dia kembali berjalan membelakangi Davian yang tengah mengerutkan keningnya.


" Nay? boleh ya? Gue— " Pinta Davian yang terpotong karena mulai kewalahan mengatur napas untuk bicara dan berlari mengejar langkah Nayra.


" Ga perduli"


" Gue kan temen lo yang baik"


" Bodo amat"


" Gue anterin ya kemanapun lo pergi?"


" Terserah lo"


" Yes" Jerit Davian yang tanpa sadar membuat Nayra tersenyum untuk pertama kalinya.


Mungkin ini akan menjadi awal kebahagiaan Nayra, atau mungkin ini tidak berarti apa - apa. Namun bagaimanapun nanti, Nayra akan tetap tidak perduli bukan?