
Setelah pulang sekolah Nayra langsung berniat mengurung diri di kamarnya. Ini pertama kalinya Nayra pulang tepat waktu, karena biasanya Nayra sangat menghindari sekali melakukan kegiatan didalam Rumah. Walau tidur siang sekalipun, kecuali tidur malam. Berhubung di luar Panas sekali dan tubuhnya juga kelelahan, mau tidak mau Nayra harus memilih rumah sebagai tempat berlindungnya, untuk sekedar berehat memulihkan tenaga dan otaknya sejenak.
" loh Ara kok lo tumben udah pulang?" Tanya seseorang yang kini berada di ambang pintu kamar.
Disinilah Nayra Sekarang, di atas tempat tidurnya yang super empuk. Setelah sampai Rumah dia memang serius ingin mengurung diri. Tapi setelah sampai di kamar, Nayra
langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur tanpa memperdulikan sekitarnya. Lelahnya itu mengakibatkan Nayra jadi lupa mengunci pintu. Alhasil itu membuat celah bagi Bianca untuk masuk dan mengusik Nayra.
Nayra yang hampir terlelap itu, membuka matanya dengan malas "Ngapain lo berdiri di depan kamar gue?"
" Orang ditanya malah nanya balik, Cih "
"Emang lo orang?" Tanya Nayra membuat lawan bicaranya terdiam keheranan, "Kirain Setan"
Bianca melotot mendengar perkataan kakak tirinya itu, mereka sedari dulu memang musuh bebuyutan. Gak pernah Akur walau semenit pun. Entah siapa yang lebih dulu memulai Perseteruan ini, yang jelas Nayra sangat membenci makhluk seperti Bianca.
" Elo tuh Setan!"
Mendapati respon Nayra yang Hanya diam, Bianca terpaksa bertanya lagi.
" Heh gua Nanya! Ngapain lo pulang ke Rumah?"
" Oh ! gue tau nih" ucapnya lagi. Kali ini dia melipatkan kedua tanganya di atas dada, Sementara Nayra menautkan satu alisnya, keheranan.
" Setelah di sekolah tadi gagal lo pasti mau main drama lagi di rumah kan?"
Nayra membiarkannya bermonolog sendiri.
Bianca tentu mengetahui apa yang terjadi tadi pagi, Namun dia mana perduli. Karena Menurutnya tindakan Nayra tadi tidak Ada sangkut pautnya dengan dirinya, meskipun diantara mereka ada ikatan saudara sekalipun. Semuanya memang masih sama di rumah maupun di sekolah, Nayra dan Bianca itu bagaikan minyak dan air, dua zat yang tidak akan pernah bisa bersatu.
" Mau di Rumah ataupun di Sekolah emang sama aja ya Ra, kerjaan lo caper terus" Sindir Bianca.
Nayra mendengus pelan, kemudian ia bangkit dari kubur, Eh dari kasur. Matanya menatap tajam kearah Bianca. Kali ini emosinya meningkat, Sebenarnya tadi dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak meladeni Bianca bicara. Berharap ketika diabaikan dia akan berhenti dan pergi, tapi sepertinya nihil.
" Apalo liat - liat gue?!"
"Pergi!" jawab Nayra pelan. Bianca Sebenarnya dengar, dia hanya suka melihat Nayra marah-marah mangkanya dia cuma diam.
"Bi" ucapnya lagi. Namun Bianca tidak bergeming. Nayra Menghela nafasnya Panjang dan kemudian, " BIANCA, GUA MAU LO PERGI DARI KAMAR GUE SEKARANG JUGA"
Astagfirulah!, Bianca mengelus dada, dia terkejut. Suara Nayra benar-benar menggelegar, terdengar hampir ke seluruh penjuru Rumah. Ariana Grande pun kalah sepertinya.
"Gabisa!, Lo gabisa ngusir gue dari Rumah gue ! "
" INI KAMAR GUE "
" YA BODO AMAT"
Nayra melotot. Kemudian Dia melemparkan semua bantal yang ada di sisinya kearah Bianca, " PERGI LO SANAAAAA !!"
Bruk... Brukk...brukkk.
Tiga Bantal berhasil mendarat kearah Bianca. Nayra memang berbakat sekali dalam hal melempar barang, sampai-sampai Bianca kewalahan menahannya. Ketika ada Satu bantal guling yang tersisa, dia melemparnya dengan sekuat tenaga, " PERGI!".
Bianca yang mendapat serangan bertubi-tubi tidak bisa lagi menyeimbangkan diri, dia tumbang. Yap! Dia Jatuh dengan posisi terlentang, dan satu bantal menutupi wajahnya.
Nayra mengusap wajahnya gusar, dia berdecak pelan ketika melihat Bianca tak bergerak sama sekali.
" Lo pikir lucu Bi?" Nayra berjalan ke sisi Bianca.
" Sebenarnya yang banyak Drama itu lo atau gue si Bi?"
Ah Percuma juga Nayra bertanya, Bianca kan sedang pingsan. Mana mungkin dia merespon ucapannya, kecuali kalau dia hanya berpura-pura.
"Bodo amat lah!" dia mendengus. Sejurus kemudian Nayra pergi meninggalkan Bianca yang tergeletak diambang pintu kamarnya.
***
Gemericik air hujan masih terdengar di telinganya. Sorot mata Nayra juga masih tetap lurus ke arah kaca yang langsung menampilkan kendaraan di luar. Sudah hampir 4 jam dia di sini, duduk menyendiri di di Kafe favoritenya bersama secangkir Matcha latte yang mungkin sekarang sudah dingin karena diabaikan. Entah apa yang sedang Gadis itu lakukan.
Setelah kejadian tadi, Nayra memang memutuskan untuk keluar rumah. Walaupun Sebenarnya hari ini dia malas sekali berada di luar. Apalagi di saat-saat seperti ini, ketika tubuhnya benar- benar butuh asupan energi. Tapi dia akan lebih malas jika harus kembali menghadapi Bianca.
Nayra Menatap jam tangannya. Angka Jarumnya menunjukkan pukul 8 Malam.
"Pulang gak ya?" Katanya seraya bertanya pada dirinya sendiri. Nayra mencoba mengendus aroma tubuhnya, bau tidak sedap yang kini melekat padanya membuat Gadis itu hampir mau muntah.
"Pulang aja deh ... "
Setelah Membayar bill, Nayra langsung bergegas keluar dari Kafe. Dia berjalan menerobos gerimis dan berteduh di depan Supermarket yang berada tidak jauh dari kafe.
Sambil Menunggu Taksi Online pesanannya datang, Nayra menyumpalkan Satu headsetnya di telinganya. Kemudian memutar lagu Through The Rain — Mariah Carey. Kedua tangannya dilipat di dada dengan kepala yang sengaja disenderkan ke tembok, Nayra memejamkan matanya menikmati irama lagu dan sesekali ia bersenandung.
When you get caught in the rain
With no where to run
When you're distraught and in pain without anyone
When you keep crying out to be saved
But nobody comes and you feel so far away
*That you just can't find your way home
You can get there alone..
It's okay, what you say is...
I can make it through the rain
I can stand up once again on* my own
And I know that I'm strong enough to mend
And every time I feel afraid
*I hold tighter to my faith
And I live one more day*
And I make it through the rain
*And if you keep falling down
Don't you dare give in*
*You will arise safe and sound
So keep pressing on steadfastly
And you'll find what you need to prevail..
And when the rain blows, as shadows grow close*..
"Nayra?"
Don't be afraid there's nothing you can't —
"Nay?"
" Eh! " Nayra tersentak mendengar seseorang memanggil namanya. Spontan dia melepaskan headset itu dari telinga, sepertinya Seseorang tengah berdiri di depannya.
Nayra mendongak, Iris matanya menatap lekat ke sumber suara. Dia kaget setengah mati mengetahui siapa yang mengajaknya bicara.
" Kenapa kok kaget gitu liat gue?"
Nayra menyeringai. " Ngapain lo di sini?"
" Lah elo ngapain berdiri di sini?"
" itu gaada urusannya sama lo" Jawab Nayra dengan nada juteknya, " Lo ngapain di sini?"
" Itu juga gaada urusannya sama lo, Nay"
Nayra Membelalak, 'kok kesel ya dibalikin gitu'
" kok lo Belum pulang?" Ujarnya seraya menatap Nayra dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Mungkin karena Nayra masih mengenakan seragam Sekolahnya.
Bukannya menjawab dia malah kembali menyumpalkan headsetnya di telinga. Alhasil orang di depannya ini geram dan menahannya.
" Apaansi Vi!? " Ketusnya.
" Ini udah malem"
"Nayra!" Dia meletakan kedua tangannya di pundak Nayra, "Lo harus pulang!"
"Gabaik, anak Sekolah keluyuran malam-malam gini. Mana Hujan, nanti kalo lo sakit gimana? " Ucapnya lagi.
"Eh!" Nayra memberontak, " lo siapa si?, Sok kenal pake pegang-pegang segala lagi"
" Pake sok perduli gue sakit, lo siapa sih?" Lanjut Nayra.
" Tadi lo udah nyebut nama gue, berarti Lo kenal dong sama gue?"
Nayra menautkan Alisnya, lalu menggeleng.
" Gue gak kenal, jangan modus deh lo ! "
" modus?"
" Gatau ah, sana lo pergi ngapain coba berdiri di depan gue !? "
" Lo ngusir gue?"
" Ya "
" Emang lo siapa berani ngusir gue dari sini?"
" Ya terserah lo, ngomong aja sana sama tembok gausah ajak ngomong gue" Kata Nayra. Davian terkekeh mendengar ucapan Nayra yang jutek.
"Jadi sekarang apa?" Tanya Nayra sambil Melipat kedua tangannya di dada. Davian menautkan kedua alisnya.
" Iya sekarang mau lo apa?" Ulangnya. Davian yang mulai mengerti mengangguk- anggukan kepalanya. " Lo mau ngapain sampai lo pergi dari hadapan gue"
" Gue mau lo pulang ke Rumah"
" Siapa elo ngatur - ngatur hidup gue "
" Gue Davian, gue udah sebut berkali - kali. Apa perlu gue tulis nama gue di jidat lo?"
Nayra mendengus kesal, " Lo sinting "
" Makasih "
" Gue gak muji lo, gue ngatain !?"
" Makasih banyak" Katanya, Nayra semakin di buat kesal oleh ketidakjelasan orang di depannya.
" Sekarang lo ikut gue pulang ke Rumah" Tanpa menunggu respon Nayra, Davian langsung meraih pergelangan tangannya, dan kemudian membawanya ke dalam Mobil. Nayra terbelalak, Dan dia tidak bisa berbuat apa - apa Sangking bingungnya. Perlakuan dadakan yang dilakukan Davian membuatnya tak berkutik.
" Eh... Eh, Apa - apaan nih! Pemaksaan!" Ujar Nayra Saat Davian memakaikannya Seat belt.
Sepersekian detik kemudian Davian menyalakan mesin mobilnya. Dia tidak perduli Nayra memberontak, ngedumel, teriak - teriak bahkan ngetuk-ngetuk Kaca mobil minta diturunin. Toh niat Davian baik kok. Dia cuma tak ingin Nayra Kenapa-kenapa aja. Walaupun caranya salah.
" LO MAU APA SIH !? , LO MAU BAWA GUE KAMANA !?"
" Bawa lo pulang ke Rumah"
" GUE GAMAU KE RUMAH LO "
" Siapa yang mau ngajak lo ke Rumah gue "
" TERUS KE RUMAH SIAPA !? " Dia masih teriak - teriak. " TURUNIN GUE SEKARANG !?"
" Gue anter lo ke Rumah lo "
" TURUNIN GUE SEKARANG !? "
" LO GAK BUDEG KAN? LO PUNYA KUPING KAN? TURUNIN GUE CEPETAN !? "
" DAVIAN TURUNIN GUE SEKARANG !?"
Ciiit....
Davian menginjak pedal remnya secara mendadak. Hampir saja ia menabrak mobil yang ada didepannya, Davian menepikan mobilnya setelah mendapat klakson dari pengendara lain. Akhirnya suara decit mobil itu membuat Nayra bungkam seribu bahasa.
" Gue udah bilang sama lo Nay, kalo ngomong sama gue gausah pake teriak - teriak" Ungkap Davian, badannya seolah lemas semua.
" Ya Sorry"
" Sorry? Lo hampir bikin kita mati tau gak? Dan lo hampir bikin gendang telinga gue pecah "
" Ya habis lo budek , gue bilang berhenti gamau berhenti " Nayra menggigit bibir bawahnya.
" Gila ya jangan - jangan lo sengaja"
" Sengaja apaan?"
" Sengaja mau bikin gue mati, lo kalo mau mati jangan ngajak - ngajak gue dong"
Nayra melipat kedua tangannya di atas dada, matanya masih menatap kesal ke arah Davian, " Sinting ya lo, gak guna juga kali gue ngajak lo mati"
Davian tertawa.
" Dih pake ketawa lagi, udah cepetan jalan !"
" Katanya lo mau turun"
" Gajadi, udah ah cepetan" Nayra maksa, dan Davian malah terkekeh mendengarnya. Ada apa dengan Gadis ini sebenarnya? Tadi ia ngotot minta turun, sekarang malah maksa buat lanjut. Aneh, Keputusanya mudah berubah - ubah.
Selama diperjalanan tidak ada yang mereka perbincangkan, Kecuali rute jalan ke Rumah Nayra. Baik Avian maupun Nayra sama-sama menutup mulut mereka rapat-rapat. Entah mengapa, Nayra merasa canggung dan tidak enak menerima perlakuan Davian.
" Lo gamau turun?" Tanya Davian ketika mereka sudah sampai dirumah Nayra.
Nayra yang tadi menatap Kaca mobil kini menoleh kearah Davian " Otak lo geser ya"
Bukannya jawab Dia malah ketawa, alhasil Nayra tambah kesal karena terlihat bodoh.
" Apaansi, jawaban lo gak nyambung banget Nay" Ucapnya disela- sela tawanya.
Nayra menghembuskan Napasnya gusar. Tanpa menghiraukan tawa Davian dia langsung membuka gagang pintu mobil. Namun Davian menahannya.
Nayra menatapnya sinis " Denger ya Nay! Gua gaada maksud apa-apa sama lo, Gue cuma mau nganterin lo pulang aja, Galebih dari itu " kata Davian
"Bodo amat, terserah lo!" Nayra melepaskan tangannya dari genggaman Davian, Kemudian ia melangkah keluar dari mobil.
Nayra berjalan lurus kearah Pintu rumah, tanpa memperdulikan Davian yang tengah memperhatikannya dari belakang.
" Kenapa lo belum pergi?" katanya seraya menghentikan langkahnya.
" Gue kira lo bakalan bilang sesuatu"
Kali ini Nayra menoleh "Bilang apa?"
Davian mengusap wajahnya gusar, " Gue juga gatau, udah lupain aja"
" Oh ya ! gue mau bilang, sorry buat kuping lo"
Davian terkekeh, " Kalo soal itu santai aja, Ada lagi yang mau lo ucapin ? "
" Gaada, udah sana lo pulang ! "
" Lo ngusir gue ? Romantis banget lo " Dia tersenyum, Nayra membalasnya dengan tatapan heran sekaligus jijik.
Kemudian Davian mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju pulang.
"Dih— Dasar Orang aneh" Gadis itu mengumpat ketika Mobil Davian meninggalkan halaman Rumahnya.
Nayra terpaku di depan pintu Rumahnya. Hembusan angin malam selepas hujan membuat tubuhnya menggigil hebat. Ditambah suasana Rumah yang kini terasa sangat mencekam. Sorot mata Nayra menjelajah melihat seluruh lampu di pekarangan rumahnya padam.
Dia hanya tersenyum simpul.
"Gaada perubahan"
Nayra menekan bel rumahnya dua kali, kemudian melangkah mundur, berusaha menjauh dari knop pintu yang terkunci itu. Selagi menunggu respon, Nayra beralih duduk di tangga teras depan rumah. Matanya menatap lekat langit malam sambil Mengingat-ingat Kejadian hari ini. Kemudian ia bergumam pelan.
"Gak Ada perubahan, gak ada keajaiban Semuanya masih sama aja"
Nayra merenung, Sampai satu nama terlintas dalam otaknya. Seseorang yang baru sepersekian menit yang lalu pergi itu , sekarang kembali memenuhi otak Nayra dengan tanda tanya lagi. Nayra tersenyum simpul saat mengingatnya. Entah mengapa kemudian, Sebagian diri Nayra menyadari ada yang berbeda pada Hari ini. Entah apa.
Malam ini dingin, hujan mulai turun lagi. Pintu masih tekunci, dan Nayra sendirian. Untungnya dia bukan pengecut. Nayra membiarkan dirinya sendiri ikut dalam jalan pikirannya yang mengembara, Entah kemana.
***