
Mungkin untuk sebagian orang, hujan dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, Karena dapat menimbulkan suasana sejuk dan tenang. Tetapi bagi Nayra, hujan tidak berarti apa-apa.
Disatu sisi Nayra merasa dirinya begitu menyukai Hujan. Namun disisi lain Nayra merasa hujan adalah hal yang paling ia benci. Terutama karena hujan selalu menjadi penyebab utama tertundanya sebuah rencana.
Seperti saat ini, Nayra harus berteduh di Halte sendirian untuk menunggunya reda. Sangat menjengkelkan, apalagi ketika ia menyadari jarum di jam tangannya mengarah pada Pukul 07.10 WIB, yang menandakan dirinya sudah melewati batas waktu masuk Sekolah.
Nayra menghela nafasnya kasar, menatap air hujan yang kian deras. Dia tidak bisa kemana -mana sekarang. Seandainya saja Nayra tidak nekad berangkat sendiri, mungkin dia tidak akan terjebak dikeadaan seperti ini.
Tin tin Tiin tin
Suara kelakson mobil memecahkan lamunan Nayra. Nayra berdiri sambil menatap Kaca mobil di hadapannya yang perlahan-lahan terbuka.
" Nay, Lo ngapain di situ?" tanya seseorang yang berada didalam mobil.
" Lagi main pasir" Ceplos Nayra.
" Astaga, gue kira lo lagi neduh" Jawaban Abel membuat Nayra mengumpat pelan.
" Mau bareng gue ga?" Tanpa menunggu jawaban dari Nayra, Abel langsung membuka pintu mobil dan membiarkan Nayra masuk kedalam mobil.
" Udah berapa lama lo di situ?" Kata Abel ketika Nayra sudah duduk dikursi sebelahnya.
Nayra mengangkat kedua bahunya, membuat Abel menghela Nafas. "Apa susahnya si Nay lo berangkat bareng sama Bianca?"
Abel mulai lagi mengintrogasinya.
Nayra tahu Abel perduli kepadanya, tapi Nayra benar-benar tidak ingin sarapan pertanyaan pagi ini. Nayra hanya diam saat Abel terus mengoceh di telinganya.
" Nayra lo dengerin gue gak sih?"
" Gue denger"
" Apa?" Tanya Abel seolah memastikan bahwa Nayra benar - benar mendengarkannya.
" Gatau"
" Berarti lo gak dengerin gue dari tadi"
" iya mungkin"
Abel menghela nafasnya, untung stok kesabarannya masih banyak. Kalau tidak, mungkin Abel sudah mengusir Nayra dari mobilnya sejak awal. " Gue mau nanya lagi"
" Bel lo kenapasi banyak tanya? Kuping gue panas tau dari tadi dengerin lo ngoceh terus"
" Ya Sorry, gue kan perlu tahu banyak tentang lo"
" lo udah tahu semuanya tentang gue, bahkan lebih dari gue tahu diri gue sendiri. Ngapain sih mesti tanya - tanya lagi "
Abel menatap nanar ke arah Nayra, " Gue gatau apapun tentang lo yang sekarang Nay, Lo selalu tertutup sama gue, lo gak pernah kasih gue celah buat gue tahu apa yang lo rasain sekarang"
" Karena lo gak perlu tahu"
" Itulah kenapa gue mesti kepo"
" Kenapa sih itu penting banget buat lo?"
" Lo penting buat gue, karena lo sahabat gue" Ungkap Abel. " Dan gue gak mau lo terus ngerasa sendirian Nay"
Nayra mengehela napasnya kasar, " Gue benci harus ngerasa bersalah sama orang kaya lo"
Abel terkekeh.
" Tapi kayaknya lo harus berhenti perduli sama gue deh bel, Gue bisa ngecewain lo kapan aja"
" Lo gak akan ngecewain gue Nay, gak akan! " Kata Abel dengan sungguh - sungguh.
" Gue janji akan selalu ada, walaupun lo gak pernah suka keberadaan gue"
Nayra terdiam sejenak, sampai kemudian ia menyeringai " Lo kenapa jadi Dramaqueen gini sih"
Abel terkekeh menyadari kecanggungan telah menguasai mereka berdua. " Lo yang mulai duluan"
"Eh btw, Semalem lo ngapain sama Davian Nay?"
Nayra terperanjat seketika. Dari mana Abel tahu kalau dia semalem sama Davian? Aneh juga kalau Nayra berpikir Abel mengintainya semalam. Atau mungkin Davian memberitahu Abel?. Tapi itu tidak masuk akal, Nayra meyakinkan dirinya untuk tidak bertanya kepada Abel. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi, dan memandang ke arah jalanan.
"Gue tau lo denger Nay" Cecar Abel tepat Ketika mobil mereka berhenti di depan Gerbang sekolah.
" Saya turun di sini aja pak" Nayra mengabaikannya, Abel sedikit tersentak mendengar permintaan Nayra yang tiba-tiba . Apa Nayra marah?
" Kalau turun di sini nanti basah bajunya Non, ini masih hujan" Kata pak Tito, supirnya Abel yang baik hati. " Nanti di dalam aja ya Non"
" Engga pak, saya turun di sini aja gapapa kok" kata Nayra, dia keras kepala.
" Lo seriusan Nay? " tanya Abel ketika melihat Nayra turun dari mobilnya.
" ini hujannya masih deras banget loh , mending masuk lagi aja deh"
"Gapapa" jawab Nayra, ia sedikit berteriak melawan suara hujan yang deras itu. Tubuh Nayra tiba-tiba menggigil, dan bajunya mulai basah. Nayra segera menutup pintu mobil Abel, dan memutar bola matanya ketika melihat Abel membuka kaca mobil. "Nay!"
" Apalagi?"
" Nayra lo bisa sakit hujan-hujanan, ayo ah masuk aja" ajak Abel. " lo marah sama gue?"
Nayra menggeleng cepat.
" Engga bel gue gak marah, gue mau jalan aja.Lagian udah deket kok, cuma masuk ke dalam doang gak akan kenapa - kenapa" Tetap saja Abel Khawatir, lapangan Sekolahnya kan cukup luas, kalau Nayra jalan dia bisa sakit beneran.
" Bel thanks ya udah kasih gue tumpangan" kata Nayra lalu berlari ke arah pohon besar di depan gerbang sekolahnya.
Nayra menggigil menatap mobil Abel yang mulai memasuki gerbang sekolahnya. Dia tahu Abel orang baik, Nayra hanya tidak ingin Bianca mengganggunya karena Abel terlalu baik kepadanya. Bianca bisa mengadukan ke Mama alasan Nayra tidak pernah mau bergabung satu mobil dengannya, dia tidak ingin Abel terlibat. Karena Mama akan percaya semua cerita tahayul buatan Bianca dibanding kejujuran Nayra.
Nayra segera berlari kedalam sekolah dengan telapak tangannya yang diadahkan ke atas kepala, Hujan benar-benar merepotkan.
" Nayra "
Gadis itu menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya di koridor. Dia tidak langsung berbalik untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Nayra" Nayra menghela Napasnya kasar dan segera menoleh ke sumber suara. Matanya melebar seketika, melihat seseorang sedang berlari ke arahnya.
" EH Eh BERHENTI !" teriakan Nayra berhasil menghentikan langkahnya. Dia menautkan kedua alisnya membuat Nayra memasang muka Horror
" Diem lo disitu, jangan mendekat" Davian yang hanya berjarak beberapa meter dari Nayra secara refleks mengangkat kedua tangannya ke atas, wajah bingungnya membuat Nayra hampir saja tersenyum.
"Oke " kata Avian sedikit tergagap.
" Mau apa lo? "
" Jangan mendekat!" potong Nayra ketika melihatnya mulai melangkah lagi. Davian tersentak, dan melangkah mundur. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan merasa bingung. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang, Nayra galak.
Tanpa sadar Nayra tersenyum melihat tingkah Davian yang sangat lucu. Nayra sering melihat wajah-wajah ketakutan orang yang dibentaknya. Tapi cuma Davian yang bisa membuatnya tersenyum.
" Gue mau ngomong"
" Lo dari tadi juga udah ngomong" Cetus Nayra, kemudian berbalik dan mulai berjalan membelakangi Davian.
Davian mulai berlari menyusulnya,mencoba berada disisi Nayra. " Eh Nay! Nay!"
" Nayra!"
" Diem disitu gue bilang! ngapain pake deket-deket"
" Lo galak banget si" Davian mundur satu langkah dari Nayra
" iya gue galak kenapa emang? masalah buat lo?"
Davian menggeleng, dia tidak menyangka Nayra sejudes ini. Dari kemarin- kemarin Davian masih merasa Nayra tergolong Gadis yang jinak, sehingga Davian merasa tidak ada salahnya mendekati Gadis itu.
" Lo gak pantes galak - galak Nay"
Nayra mendengus. Dan mulai mengabaikan Davian, dia terus berjalan dan membiarkan manusia di sampingnya itu mengikutinya.
" Davian Stop it!" Nayra memekik, dia sudah tidak tahan lagi. Makhluk itu terus mengikutinya sampai hampir di depan kelasnya.
Davian tersenyum.
" Lo gak bisa buntutin gue terus"
" Why?"
" Karena gue mau masuk ke kelas"
"Gitu doang"
" Bukan cuma itu aja" Nayra geram, " Lo gak waras gue gatau lo kenapa"
Davian melipat tangannya di atas dada, " Gak waras?"
"Gue gatau lo siapa, karena gue gakenal lo sebelumnya. Gue gatau lo dari planet mana, dan makhluk jenis apa , mungkin lo kenal gue mangkanya tiba-tiba kemarin lo tolongin gue" Nayra nyerocos tanpa henti.
" —Jadi kalo misalkan lo ngerasa gue berhutang terimakasih sama lo, lo salah ! karena gue gak pernah merasa minta tolong sama lo atau siapapun. Tapi kalo cuma itu alasan lo deketin gue sekarang, gue ucapin Thanks buat yang kemarin dan yang semalam. Jadi sekarang lo bisa pergi kan?"
Bukannya pergi dia malah tertawa. Nayra memutar bola matanya, apa dia harus baca ayat kursi agar makhluk ini pergi?.
"Galucu" Cetus Nayra.
"Gue ga minta ucapan terimakasih dari lo"
" Mau lo apa hah?" Bentak Nayra.
" Gue cuma mau berteman sama lo" Nayra menggeleng cepat, dia tidak memiliki teman selama ini selain Abel. Rasanya aneh kalau ada orang yang mengajaknya berteman.
" Dan gue gak akan pergi sampai lo bilang lo mau temenan sama gue"
"Lo gabisa maksa - maksa gue"
"Bisa"
"Gak!" Nayra terus melangkah mendahului Davian, tapi dia terus membuntutinya sampai di depan pintu kelas.
Semua penghuni kelas mendadak menatap mereka. Ada yang bisik-bisik membicarakan Nayra dan Davian. Dan Nayra menemukan Abel yang tersenyum menatapnya.
Astaga ! Apalagi ini?
Nayra berbalik lagi menatap Davian di belakangnya yang sedang tersenyum kepadanya. Nayra muak menatapnya, Davian sepertinya membuat Image Nayra makin hancur di sekolah ini.
"Sampai lo bilang 'YA!' baru gue bisa pergi, inget?" Davian mengingatkan. Seandainya dia punya kekuatan super, Nayra akan tendang Makhluk ini keluar angkasa sekarang juga.
Dia menghela napasnya kasar, memastikan dirinya tetap terkontrol karena jika tidak Nayra bisa membuat kegaduhan pagi ini. Sebentar lagi bel masuk berbunyi, dia tidak mungkin membiarkan Davian membututinya sampai masuk kelas dan mengikuti jam pelajaran bersamanya. Orang-orang bisa menjadikannya trending topik di sekolah jika itu terjadi. Sudah cukup yang kemarin, sekarang dia tidak mau lagi.
"Oke— lo butuh gue jawab YA kan? "
Davian mengangguk. Nayra menghela nafasnya dalam-dalam sebelum mendekatkan bibirnya ketelinga Avian. Dia sedikit berjinjit karena tubuhnya yang kecil tidak cukup sampai ke telinga Avian.
" YA! YA! YA! YA!—" teriak Nayra ditelinga Avian tanpa henti. Dia sedikit tersentak, tapi Nayra tidak perduli. Suaranya yang cempreng mampu membuat Davian menutup telinganya dengan telapak tangannya.Nayra merasa puas, namun dia tidak juga pergi.
" Ya untuk apa?" tanyanya nyebelin. Tangannya masih di telingannya. Kalau dia perhatikan seperti sedang menjewer telinganya sendiri. Davian lumayan manis.
Nayra memutar bola matanya lagi.
Dia berdecak " Ya gue mau jadi temen lo"
" Gitu dong ah dari tadi, jadi sekarang kita temenan ya?"
" YA, udah sana pergi!!!"
" Oke gue akan pergi, lo belajar yang benar ya jangan tidur! " Davian menyeringai. Dia berbicara terlalu lantang hingga membuat semua penghuni kelas mendengarnya. Itu cuma hal biasa, semua orang bisa mengatakan itu kepada siapapun. Tapi mereka tidak akan menganggapnya biasa jika itu terjadi kepada Nayra.
Davian pergi setelah dia menepuk pundak Nayra dan tersenyum kepadanya. Memang aneh, tapi hal itu benar - benar terjadi.
Nayra melihat sebagian orang di kelas masih menontonnya. Dia merinding, membayangkan apa yang ada dipikiran mereka semua tentangnya. Tidak bisa dicegah, yang terjadi barusan bagi mereka adalah pertunjukan yang nyata. Walaupun tidak akan ada yang berani bertanya kepadanya kecuali Abel, Nayra tetap saja merasa sedang di introgasi mereka semua.
" Apa lo lihat-lihat?!" Bentak Nayra kepada semua siswa yang secara sengaja menatapnya. Mereka mendadak ciut ketika Nayra memasang muka Horrornya.
" Heh, biasa aja kali!" Kata Abel ketika Nayra sudah duduk dikursinya. Dia tersenyum, tentu saja sedang mengejek Nayra.
" Bel lo tau gue gak akan jawab kalo lo tanya-tanya tentang yang barusan" Nayra tidak bisa menyusun ucapannya dengan benar.
Abel mengangguk. Dan mulai menahan senyumnya, " Gue gak akan tanya apapun Nay, Lo tahu ga kenapa?"
"Gak"
" Karena gue udah tahu jawabannya"
Nayra sedang tidak ingin bicara, dia mengabaikan Abel yang sedang senyam - senyum sendiri.
" Ternyata ini alasan lo gamau bareng gue tadi" Bisik Abel sambil terkekeh.
Nayra melotot, dan menggigit bibir bawahnya pelan. Abel sudah salah paham. Nayra tidak meninggalkannya karena Davian. Bagaimana Nayra akan menjelaskan semuanya kepadanya?.
Hal ini sungguh tidak penting, baginya. Mereka hanya berteman, tidak lebih. Nayra tidak menganggap ucapannya serius tadi, karena dia hanya ingin Makhluk itu berhenti mengikutinya. Sepertinya akan menjadi celaka jika ia membiarkan Abel larut dalam salah pahamnya.
Namun Nayra harus bagaimana lagi?.