Do You Love Me?

Do You Love Me?
Prolog



"Nay, lo ngapain disana?"


"Turun Nay, lo bisa cerita apapun


sama gue, jangan bertingkah yang aneh - aneh deh"


" Nayra hidup lo masih panjang, jangan mau mati muda !!! "


"Nay"


"Nayra please berpikir jernih!"


Mereka terlihat putus asa, sepertinya usahanya meyakinkan Nayra belum mendapatkan hasil. Lihat saja, gadis itu malah terus menerus bungkam di atas sana.


Nayra luviana, nama gadis itu tentu saja tidak asing lagi ditelinga murid SMA Dermata.Hampir semua anak mengenalnya bukan karena prestasi, justru dia lebih dikenal sebagai si pembuat onar.


Seperti pagi ini, pada jam pelajaran pertama dan kedua yang seharusnya digunakan para pelajar untuk belajar. Lain halnya dengan Nayra, ia justru memanfaatkan waktu ini untuk memulai percobaan bunuh dirinya. Alhasil itu membuat sekolah gagal melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Karena harus mengurus masalah hidupnya.


Dan sekarang semua orang sudah berkumpul di Lapangan belakang sekolah,mulai dari murid, guru, kepala sekolah, Satpam sekolah, bahkan tukang kebun sekolah sekalipun.


Namun, Nayra tidak memperdulikan siapapun yang mencegahnya, dan meneriakinya. Telinganya seperti tidak berfungsi. Sorotan matanya kosong menatap ke arah langit yang cerah. Langkahnya hampir sampai diujung lantai Gedung, membuat seluruh orang yang menontonnya dibawah tampak geram sekali.


"NAYRA STOP! GUE MOHON SAMA LO PLEASEE TURUN SEKARANG!!!"  Abel histeris, dengan sekuat tenaga ia mengeluarkan seluruh suaranya untuk Nayra.


"Ya tuhan, Nayra lo bisa mati!"   Sinta yang sedang merekam kejadian itu menggunakan ponselnya juga ikut histeris ketika melihat langkah Nayra hampir melewati batas lantai Gedung. Dan semua yang menyaksikannya seketika langsung menutup mata, seakan takut melihat kejadian berikutnya.


Satu kaki Nayra sudah sampai di udara. Tidak ada gema atau teriakan lagi yang ia dengar, selain isak tangis dirinya yang menyedihkan. Mata Nayra mulai memejam, membayangkan segala penderitannya akan berakhir mulai saat ini.


Jika Ara mati, Ara akan bertemu Papah.


Dimanapun itu, surga atau neraka


Jika Ara pergi, Ara tidak mau lagi kembali.


Dimanapun itu, Bumi atau penjara


Dikepalanya bergema puisi yang ia lafalkan ketika masih kecil. Suaranya lantang di antara ada dan tiada. Mungkin ini sudah saatnya, mungkin ini telah waktunya. Apapun itu Nayra benar - benar merasa siap.


Langkahnya yang satu kembali menyusul, sebelum sesuatu  menggenggam erat jari jemari tangannya. Gadis itu tidak perduli, meskipun Ia dapat merasakan deru nafas hangat mendengung di telinga kirinya.


" lo, ikut gue sekarang." suara itu tampak berat sekali.


Nayra tersentak ketika pemilik suara itu tiba-tiba menarik tangannya dan menuntunnya turun dari atas rooftop. Nayra merasa seperti tersihir, karena ia tidak memberontak sama sekali ketika manusia itu membawanya pergi dari sana.


Mereka menuruni anak tangga dengan tergesa - gesa, Sampai pada anak tangga dilantai terakhir. Nayra melihat sekilas seluruh orang di Lapangan itu tampak panik, Sepertinya mereka Semua mencari keberadaannya. 


Sementara Gadis itu kini seperti merasa ada pada keadaan nyata dan semu. Tangannya digenggam erat, dan di tuntun entah oleh siapa. Dan dia hanya bisa menurut, seperti lidahnya terasa amat kelu untuk berbicara.Mungkin itu efek dari kepalanya yang mulai pening, atau dirinya yang kini sudah mati.


Perlahan pandangannya yang kabur itu mulai jelas, dan Nayra kembali sadar. Bahwasanya ia masih dibumi, dan yang menuntunnya bukan malaikat.


"LO APA-APAANSI, LEPAS !" Nayra mulai memberontak ketika menyadari dirinya sudah berada di kantin sekolah.


" MAKSUD LO APA HAH !?" sambung Nayra tepat ketika lawan bicaranya itu melepas pergelangan tangannya.


Dia bersedekap " Maksud gue banyak, mau tahu?"


" LO GILA YA ?, NGAPAIN LO BAWA GUE KESINI !? "


" Gila? gue baru aja nyelametin nyawa lo" Katanya dengan nada bicara yang stabil.


" GUE GAK MINTA DISELAMATKAN SAMA LO ATAU SAMA SIAPAPUN !"


" Begitu cara lo berterimakasih?"


" GUE CUMA MAU MATI—" Nayra menggigit bibir bawahnya. Dia masih mencoba untuk kuat, meskipun matanya semakin memanas, dia takut sekali air matanya itu jatuh di depan manusia ini. " BISA GAK SIH LO GAK PERLU IKUT CAMPUR —"


" Gue cuma—"


" PLEASE STOP MERASA BANGGA KARENA UDAH NYELAMETIN NYAWA GUE—"


" KARENA GUE GAK AKAN PERNAH BERTERIMA KASIH, SAMA ORANG SOK BAIK KAYA LO. LO SAMA AJA KAYA MEREKA ....


" Nayra"


" KENAPA !? "


" APA LO JUGA MERASA PUNYA JIWA SOSIAL YANG TINGGI KAYA MEREKA?, MERASA PERDULI? ATAU MERASA KASIAN JUGA SAMA GUE!? "


" GUE CUMA MAU MATI, BISA GAK SIH LO NGERTI !?" kata Nayra lagi, kali ini air matanya juga ikut bicara. Mungkin ia sudah tidak tahan lagi membendungnya.


Lawan bicaranya terdiam seketika mendengar ucapan Nayra yang bertubi - tubi. Dia seperti merasakan luapan emosi yang mungkin tengah Nayra rasakan sekarang. Beberapa patah kata yang tadinya ingin di ucapkan seperti hilang begitu saja.


Kemudian secara tiba-tiba, tangannya tergerak untuk meraih tubuh Nayra dan mendekapnya erat. Nayra yang lusuh itu cukup kaget mendapat pelukan mendadak dari orang yang tidak dikenalnya. Dia tidak sekalipun memberontak, Gadis itu hanya merasa tenang seketika. Dan Ini pertama kalinya, setelah 12 tahun. Seorang manusia memeluknya.


" Lo siapa?"


" Davian" Ungkapnya, setelah ia melepaskan pelukannya dari Nayra.


Davian kemudian mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi yang ada di sisinya.


" Duduk Nay, lo gak perlu teriak - teriak sama gue"


" Kuping gue masih normal" Sambungnya.


" Lo pikir lucu?"


" Gue gak ngelawak, gue cuma nyuruh lo duduk"


" Kenapa lo tarik gue dari sana?" Tanya Nayra, dia mulai mengabaikan basa-basi Davian.


" Dan kenapa lo barusan pel—"


" Gue gamau lo mati" Potong Davian.


" Kenapa?"


" Karena gue mau lo tetap hidup"


Nayra mengerutkan keningnya sambil mencoba menghapus sisa air mata dipipinya. " Lo gajelas"


Davian tersenyum melihat Nayra yang kebingungan dengan jawabannya. Diam- diam ia mulai suka intonasi bicara Nayra yang mulai tenang, namun ngeggas. Setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Davian juga suka melihat kedua bola mata Nayra yang mulai teduh, Seperti tidak ditemukan tanda - tanda ia akan mengeluh lagi. Apakah itu terjadi hanya karena pelukan singkat darinya?.


Mungkin benar itulah yang sedang Nayra butuhkan sesungguhnya.


" Kalau lo merasa tenang, lo gak akan merasa harus ngelakuin hal kaya tadi kan?"


Nayra yang masih berdiri itu semakin kebingungan dengan ucapan Davian. Memang otaknya sulit diajak kompromi.


" Maksud lo?"


" Aksi lo di Rooftop tadi" Davian mengingatkan Nayra. Dia mengeluarkan benda pipih dari kantong celananya, dan menaruhnya di atas meja.


" — Kalau lo gak gunain emosi, lo gak mungkin berniat loncat dari sana kan?"


" Lo terlalu emosi, dan terobsesi untuk mati"


" Lo gak akan pernah tahu gimana rasanya ada di posisi gue"


" Gue tahu Nayra"


" GAK !, Gaada satupun yang tahu" Nayra membantah. Kedua matanya tajam ke arah Davian. Namun Davian hanya diam, seperti sudah mengerti karakter Nayra. " Bahkan mungkin kalaupun lo tahu, lo cuma pura- pura tahu aja"


" Iya Oke gue gak tahu" Davian mengalah.


" Tapi suatu saat nanti, gue bakal tahu semuanya. Dan saat gue tahu, lo gak akan lagi bilang ke semua orang gaada satupun yang tahu "


Nayra menyeringai mendengar kata-kata Davian yang di bolak-balik. Cukup sulit mencerna, namun ia seolah paham. Pada akhirnya mungkin akan ada seseorang yang tahu problematika yang dialami Nayra. Atau bahkan menolongnya keluar dari Depresi itu. Namun bagaimanapun nantinya, Gadis itu tetap tidak perduli.


Karena baginya tidak ada harapan, untuknya tidak ada lagi masa depan. Dan Nayra merasa harus siap mati kapan saja. Selama ini Gadis itu tak pernah berharap seseorang datang menolongnya, Mungkinkah setelah hari ini harapan itu akan timbul?