DARKLIFE

DARKLIFE
ALTHARA SI MENYEBALKAN



"Lo serius mau sekolah SMA bareng gue? " Tanya Althara yang duduk di sebelah Alice di pinggir kolam renang rumahnya,


"Why not? tepatnya sih bukan bareng lo ya, cuma sekolah nya sama aja" Sangkal Alice yang tidak mau pemuda itu merasa pede maksimal,


"Jahat banget lo, padahal gue ini tampan dan rich. Gak rugi lo deket gue yang sangat sempurna ini" Kata Althara dengan super percaya diri, sedangkan Alice memutarkan bola matanya jijik.


"Baru aja gue ngebatin" Kata hati Alice tanpa. menjawab kepedean Althara,


"Dah ah gue mau kerjain tugas gue dulu, bisa habis di bacok nih pala kalau sampai papah tau tugas gue belum selesai" Ucap Alice yang meninggalkan Althara sendiri,


"Tidak bisa di biarkan ini, woy ratu Alaska tunggu gueeeee" Teriak Althara seperti orang kesetanan ditinggalkan oleh Alice, memang sama sekali tidak berwibawa.


Kini kedua remaja itu duduk dengan raut muka yang jauh berbeda, yang satu sangat fokus terhadap buku yang menjadi pusat perhatiannya, sedangkan yang satu tengil melihat kecantikan yang dimiliki gadis di depannya.


"Lo fokus banget, kaya gak belajar setahun" Ucap Althara tanpa di balas oleh Alice,


"Lo belajar mulu gak gabut apa? " Tanya nya lagi, padahal Althara sendiri jika berkutat dengan buku dan peralatan belajarnya, dia akan lupa akan dunia. Terkecuali Alice tentunya,


"Ilmu itu penting, belajar itu perlu sampai akhir hayat. Sedangkan tugas adalah kewajiban yang perlu gue kerjakan" Balas Alice yang membuat pemuda itu berdecak sebal, karena tak mau mengganggu ke fokusan sahabatnya lebih jauh, Althara pun memilih untuk bermain game di ponselnya hingga dia merasa lelah dan tertidur di depan Alice yang masih berkutat dengan buku.


"Lucu juga dia tidur, mirip Koala" Batin Alice yang langsung membereskan buku dan langsung mengambil selimut serta bantal untuk sahabat lamanya itu.


"Lo kalau kaya gini manis, gak rese. Terimakasih udah temenin gue hingga saat ini baby Bear" Lirih Alice yang tidak mau mengganggu kenikmatan tidur sahabatnya itu.


Pukul 19:00


"Alice, dimana bocah nakal itu? " Tanya seorang pria yang berjalan menuju ke arah Alice yang tengah memasak bersama bibinya.


"Tuh, kayanya kecapean deh papa bear" Tunjuk Alice ke arah ruang belajar, di mana disana tempat Altahara tidur dengan nyenyak berteman bantal selimut dan kipas yang disiapkan Alice. Benar-benar wanita pengertian yang menjadi idaman,


"Huh... anak itu, selalu saja menyusahkan orang" Kata papa Bear menggelengkan kepalanya, walau hatinya merasa gemas akan buah hatinya yang selalu bertingkah konyol.


"Berapa jam dia tidur?" Tanya papa Bear kembali


"Mungkin sekitar hampir lima jam" Balas Alice yang membuat papa Bear merasa kasihan, dia tau anaknya itu sangat berjuang dan sibuk di sekolah,


"Ya sudah, biarkan saja dia menginap di sini. Nanti saya bawakan peralatan sekolahnya termasuk pakaiannya" Balas papa Bear yang dianggap oleh Alice, memang sabahat kecilnya itu sering sekali menginap seperti ini. Jadi itu membuat Alice tidak keberatan sama sekali,


"Ya sudah Alice sayang, papa Bear pulang dulu ya" Ucapnya yang langsung berlalu setelah bersalaman dengan Alice,


"Hati-hati papa, jangan sampe lecet" Ucap Alice terkikik setiap kali pria penyayang itu pergi,


Tak jarang juga jika dia merasa depresi, dia selalu menyakiti dirinya. Walau gadis itu berilmu dan bisa menempatkan diri dengan baik, tapi jauh di dalam dirinya dia tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Banyak sekali kekecewaan terhadap dirinya, hingga dia memutuskan untuk melakukan self harm secara diam-diam.


"Alice, ayo makan malam. Masakannya sudah jadi" Ucap sang bibi yang membawa beberapa makanan ke meja makan,


"Sebentar ya bi Alice bangunin Althara dulu" Kata Alice yang langsung berlalu ke ruang belajar yang super megah berhadapan dengan dapur,


"Iya baiklah" Kata sang bibi yang mulai menata makanannya,


"Ni anak di bangunin kagak ya? kasihan juga dilihat-lihat. Tapi kalau lapar badannya takut lemas nanti, ah yaudah lah nanti aja" Ucap Alice menggerutu dengan memperhatikan setiap inci wajah sahabatnya yang tampan itu,


"Hayo loh, merhatiin gue lo kan? gue bilang apa pasti akan terkesima dengan ketampanan dewa Athena ini" Kata Althara yang masih mengucek-ngucek matanya,


"Dih... cuci muak sono anak curut. Mana ada ya gue terkesima sama modelan kaya lo" Sangkal Alice dengan pipinya yang memerah, jantungnya berdebar kencang karena kaget tiba-tiba Althara bangun. Padahal jelas-jelas tadi tidur sangat nyenyak, untung saja dia bisa mengendalikan dirinya dengan baik agar tidak terjengkang.


"Jam berapa ini? " Tanya Althara yang mulai terduduk dan menyenderkan kepalanya di pundak Alice,


"Sekitar jam tujuh malam, lebih" Kata Alice yang berhasil membuat Altahara terlonjak kaget,


"WADUHH, SERIUSAN LO BESTIE? KO GAK BANGUNINNN GUE SIHHHHHHHHH" Ucap Altahara panik tiba-tiba,


"Lah gue kan kasihan lihat lo kelelahan, makannya gue gak bangunin. Lagian ada acara penting apa sih? segitunya banget" Tanya Alice dengan seksama,


"Gak ada apa-apa sih, hehe... cuma belum nugas doang. Gue pasti nginep di sini, jadi nanti bantuin gue ya ngerjain tugas" Ucap Althara tanpa tahu malu, sedangkan Alice memutar bola matanya malas,


"Lo kan bentar lagi kelulusan, tugas apa lagi sih? ko masih ada tugas? " Heran Alice,


"Tugas mencintaimu ea...gak ada sih gue becanda... udah ah gue cuci muka dulu" Kata Althara yang langsung berlalu menuju kamar mandi dengan senyuman manis yang tak lepas dari wajahnya,


"Ish... nyebelin banget tuh anak. Awas aja gue jadiin tumbal tahu rasa " Kata Alice yang langsung membereskan alat tidur Althara dengan rapih,


"LANGSUNG KE MEJA MAKAN YA, KITA MAKAN MALAM WAHAI ANAK CURUT" Teriak Alice,


"IYA CACING ALASKAAAAA" balas Althara yang sempat-sempatnya bicara sambil menyikati giginya itu. Memang kumplit sekali rumah Alice ini, bahkan sikat gigi untuk sahabatnya itu sudah di siapkan dengan rapi termasuk peralatan mandinya,


"Ko papa bear belum datang bawa seragam ya?... kalau baju ganti sih ada" Tanya Alice pada diri sendiri. Dengan segera Alice pun menyiapkan baju ganti Althara ,dia memastikan... kalau pria itu sekarang hanya sekedar cuci muka.


"Mungkin mandi nya nanti, yaudah deh simpan di sini dulu" Gumam Alice sambil meletakan baju tersebut di sebuah lemari tempat penyimpanan baju yang sudah di setrika.


"Memang benar-benar Althara itu menyebalkan" Gerutu nya lagi mengingat sahabatnya itu selalu merecoki kehidupannya sejak kecil.